Chapter: Bab 135. Cinta Dan Benci 2#Langit sore yang mulai meredup menyisakan semburat jingga yang suram di atas atap deretan kontrakan sederhana itu. Lyra berjalan dengan langkah berat, jemarinya meraba kunci di dalam tas, berharap bisa segera merebahkan tubuhnya yang kian ringkih karena beban kehamilan yang mulai terasa nyata. Namun, tepat saat ia hendak memutar kunci pintu, seseorang mendadak muncul dari balik pilar dan langsung meraih pergelangan tangannya.Lyra tersentak. Ia mencoba menarik tangannya yang seketika terasa sakit, tapi pria itu mencengkeramnya dengan sangat erat, seolah tak membiarkan ada celah sedikit pun untuk lolos."Lepaskan, Pak Fiko! Ini sakit!" seru Lyra dengan suara bergetar.Fiko tidak bergeming. Ia justru mendekatkan wajahnya, menatap Lyra dengan tatapan meremehkan yang tajam. Aroma rokok yang pekat dari napasnya membuat Lyra mual."Pak lagi? Sial! Kau terlalu sombong, Lyra. Apa kau hanya mengharapkan Fandy dan bukan aku? Apa karena dia terlihat lebih punya masa depan dan bekerja di kanto
Zuletzt aktualisiert: 2026-03-18
Chapter: Bab 134. Cinta Dan Benci 1#Fandy mengantar Lyra kembali ke kontrakannya dengan langkah yang sengaja diperlambat. Jaraknya memang tidak seberapa jauh karena kontrakan petak yang dihuni Lyra dan rumah induk keluarga Fandy masih berada dalam satu halaman yang sama. Namun, suasana di antara mereka terasa begitu berat setelah ketegangan yang baru saja terjadi.Fandy menghentikan langkah tepat di depan pintu kayu bercat kusam milik Lyra. Ia menatap Lyra. "Lyra, tolong jangan masukkan ke hati ucapan Ibu dan Mas Fiko tadi. Aku benar-benar minta maaf atas kelakuan mereka," ujarnya.Lyra hanya mengangguk pelan. "Tidak apa-apa, Pak Fandy. Terima kasih sudah membantuku tadi," jawabnya lirih.Fandy mengangguk dan Lyra kemudian berbalik. Dia merogoh saku untuk mengambil kunci, hendak segera masuk. Namun, langkahnya tertahan saat Fandy kembali memanggil namanya."Lyra!"Lyra berbalik, menatap pria itu dengan kening berkerut. Fandy sempat terdiam selama beberapa detik, seolah ada banyak kata yang tertahan di kerongkong
Zuletzt aktualisiert: 2026-03-15
Chapter: Bab 133. Ayah Anakmu 3# Adhikara terdiam cukup lama, tahu bahwa dugaan Gisela memang tepat. Obsesinya telah menjadi kelemahan terbesarnya, dan Gisela tahu cara memanfaatkannya. Tanpa berkata-kata lagi, Adhikara mengeluarkan pena dan membubuhkan tanda tangannya di atas map tersebut. Gisela bertepuk tangan kecil dengan wajah antusias, seolah baru saja memenangkan lotre. "Luar biasa. Aku suka bekerja sama dengan orang yang tahu prioritas. Aku bersumpah kalau kau tidak akan pernah kecewa dengan hubungan rahasia kita ini," ujarnya. "Hubungan rahasia apanya? Kau membuatnya terdengar menjijikkan," ucap Adhikara sambil menyodorkan kembali map yang sudah ditandatangani itu. Gisela mengulurkan tangannya kepada Adhikara, senyumnya kini tampak lebih tulus—atau mungkin lebih licik. "Aku tidak pernah mengecewakan rekan bisnisku, Adhi. Kita punya tujuan masing-masing. Setidaknya kita cocok sebagai rekan bisnis," balasnya. "Abaikan formalitas tidak penting itu. Kau tidak bilang kalau hanya foto ini yang
Zuletzt aktualisiert: 2026-03-14
Chapter: Bab 132. Ayah Anakmu 2# Suasana restoran mewah itu terlihat tenang dan eksklusif. Di sebuah sudut yang paling tertutup, Gisela duduk dengan anggun, menyesap anggur merahnya sambil sesekali melirik jam tangan. Saat sosok Adhikara muncul dari kejauhan, Gisela segera melambaikan tangan dengan senyum yang tidak bisa ditebak maknanya. "Akhirnya kau datang, kukira kau akan terlambat karena kau bilang kalau kau baru tiba di bandara," ucap Gisela saat Adhikara akhirnya tiba di hadapannya. Adhikara tidak segera duduk. Ia menatap ruangan di sekitar mereka dengan waspada. "Kenapa harus tempat se-private ini?" tanyanya. "Agar kita bisa bicara dengan lebih leluasa tanpa perlu khawatir ada telinga yang tidak diinginkan. Kau tidak memiliki banyak saingan untuk menjadi penerus keluargamu, tapi tidak denganku. Kompetisi di keluargaku cukup ketat, apalagi aku anak perempuan," jawab Gisela enteng. Ia kemudian menyodorkan sebuah amplop cokelat tebal ke atas meja. Adhikara mengerutkan kening, menatap amplop i
Zuletzt aktualisiert: 2026-03-14
Chapter: Bab 131. Ayah Anakmu 1# Ruang VIP di sudut kafe itu terasa mendadak sempit saat Lyra harus duduk berhadapan dengan Jati dan Alesa. Untuk beberapa saat, keheningan yang menyesakkan menyelimuti mereka. Jati dan Alesa hanya diam, menatap Lyra dengan sorot mata yang sulit diartikan, sementara Lyra lebih memilih untuk menunduk. Jemarinya yang gemetar tampak canggung memutar-mutar botol minuman dingin di tangannya, membiarkan embun airnya membasahi telapak tangannya. Alesa adalah yang pertama memecah keheningan. "Lyra... bagaimana kabarmu?" Nada suaranya sedikit bergetar. Dia berusaha menahan diri, menjaga intonasi suaranya agar tidak membuat Lyra merasa tersudut atau tidak nyaman. Lyra perlahan mengangkat wajahnya. Memaksakan sebuah senyum tipis yang tampak getir di wajah pucatnya. "Aku baik-baik saja, Alesa. Maafkan aku karena tidak pernah memberi kabar padamu sama sekali selama ini," ucapnya lirih. Mendengar permintaan maaf itu, pertahanan Alesa runtuh. Matanya mulai berkaca-kaca. "Ka
Zuletzt aktualisiert: 2026-03-13
Chapter: Bab 130. Pertemuan Yang Tidak Terduga# Ruangan kantor itu terasa dingin oleh embusan pendingin udara yang maksimal, namun atmosfer di dalamnya tetap terasa kaku. Adhikara hanya melirik dalam diam saat Rendy, kakak sepupunya, meletakkan setumpuk map kulit berisi berkas-berkas penting di atas meja jati yang luas. "Berapa lama kau berencana tinggal di Batam, Adhi?" tanya Rendy sambil menyandarkan punggungnya ke kursi di depan Adhikara. Adhikara mengalihkan pandangannya ke jendela besar yang menampilkan pemandangan sibuk pelabuhan bongkar muat di kejauhan. "Aku akan berada di sini selama waktu yang diperlukan," jawabnya datar. Rendy mengangguk pelan, ada kilat kepuasan sekaligus rasa penasaran di matanya. "Baguslah. Aku senang kau memutuskan untuk mulai mengenal perusahaan keluarga kita dari bagian paling bawah. Walau bagaimanapun, pabrik-pabrik kita yang ada di Batam adalah tulang punggung yang tidak bisa diabaikan. Jika kau bisa menaklukkan operasional di sini, tidak akan ada yang berani meremehkanmu di Ja
Zuletzt aktualisiert: 2026-03-12