Chapter: Bab 146. Kau Segalanya Untukku 2#Dari balik kaca mobil yang gelap, Adhikara mengamati dari kejauhan bagaimana Lyra turun dari mobil yang dikemudikan Jati. "Itu dia," gumamnya pelan.Mobil hitam yang Adhikara tumpangi sengaja diparkir agak jauh di seberang jalan, bersembunyi di balik bayang-bayang pepohonan agar kehadirannya tidak disadari oleh siapa pun. Pandangannya tidak terlepas sedikit pun dari sosok Lyra."Bagaimana dia bisa seperti itu pada orang lain tapi tidak kepadaku?" Dia merasa iri.Saat Lyra tersenyum lembut membalas ucapan Alessa sebelum menutup pintu mobil, dada Adhikara terasa berdenyut nyeri."Ternyata... kau juga bisa terlihat sangat indah dan cantik saat tersenyum ceria seperti itu," gumam Adhikara lirih pada kesunyian di dalam mobilnya sendiri.Sudut bibirnya terangkat tipis, namun matanya memancarkan kepedihan yang teramat sangat. "Sudah sangat lama aku tidak melihat senyum itu. Sayang sekali, senyum itu tidak tertuju untukku." Dia seakan sedang menyesal tapi tidak sepenuhnya terlihat seperti
Última atualização: 2026-07-17
Chapter: Bab 145. Kau Segalanya Untukku 1#Jalanan aspal yang basah oleh sisa hujan semalam memantulkan cahaya matahari pagi saat mobil yang dikemudikan Jati membelah jalan raya yang mulai ramai."Aku tidak menyangka kalau kau masih akan kembali ke sana. Aku sudah memperingatkan Fandy dan Syila untuk tidak lagi membawa-bawa urusan pribadi ke kantor. Kalau ada yang mencoba mengganggumu nanti, kau bisa mengatakannya padaku," ujar Jati.Di kursi belakang, Lyra duduk dengan tenang sembari menatap map kertas cokelat di pangkuannya. Di dalamnya terdapat surat pengunduran diri yang telah ia persiapkan sejak kemarin. Hari ini, ia harus menyelesaikan satu urusan terakhirnya di Batam sebelum benar-benar kembali ke Jakarta seperti keinginan Malika dan juga Sri Rukmini."Kak Jati sudah repot-repot membantuku dan bahkan mengantarku, terima kasih banyak," balas Lyra."Itu kewajibannya, dia kan bos di perusahaan itu. Padahal aku ingin dia memecat saja orang-orang yang mengganggumu saat kau bekerja di sana," ujar Alessa.Lyra mengernyitkan
Última atualização: 2026-07-17
Chapter: Bab 144. Cahaya Dalam Hidupku#Adhikara menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan sembari menatap ibunya. "Mama datang hanya untuk menyampaikan hal itu? Terasa tidak seperti Mama sama sekali," ucapnya. Sebuah senyum tipis, yang lebih menyerupai guratan getir, terukir di sudut bibirnya yang pucat. "Kau hanya tidak mengenal mama dengan baik," ucap Malika."Memangnya Mama juga mengenalku dengan baik? Aku rasa tidak," balas Adhikara.Malika menarik napas panjang."Pokoknya, itulah yang Lyra inginkan. Apa kau sudah menyiapkan nama untuk anak kalian?" tanyanya. Dia merasa kalau perdebatan kecil mereka mungkin akan berubah menjadi panjang jadi dia dengan cepat mengembalikan pembahasan ke semula."Nama? Jadi, dia benar-benar ingin aku yang memberi nama karena aku pernah bilang tidak menginginkan anak itu?" gumam Adhikara, suaranya terdengar parau.Malika menatap putranya dengan tatapan datar seakan kekecewaan sudah tidak cukup lagi menggambarkan seberapa besar keterkejutannya atas sikap putranya sendiri.
Última atualização: 2026-07-16
Chapter: Bab 143. Ini Yang Kuinginkan# Aroma cairan antiseptik yang tajam mengambang di udara, berbaur dengan kesunyian yang menggantung di dalam kamar rawat inap itu sementara Lyra membaca dengan seksama semua berkas di pangkuannya. Lembaran putih di hadapannya adalah berkas untuk mengurus akta nikah, sebuah dokumen legal yang harus ditandatanganinya agar bayi laki-laki yang baru saja dilahirkannya diakui dan memiliki hak yang jelas secara hukum. "Dia benar-benar menyetujui semuanya dan bahkan sudah menandatanganinya lebih dulu," ujarnya pelan memecah keheningan. Nyonya Malika yang duduk di sisi ranjang menghela napas pendek. "Adhikara menyetujui semua syarat yang kau ajukan, Lyra. Dia tidak akan pernah mengganggu atau menemuimu lagi. Dia tidak akan muncul di hadapanmu selama kau tidak menginginkannya," ucapnya menegaskan. Lyra menghentikan gerakan jemarinya di atas lembar kertas yang kaku itu. "Dia benar-benar menyetujuinya tanpa syarat?" "Ya, dia menandatanganinya tanpa membantah," jawab Malika dengan nada
Última atualização: 2026-07-16
Chapter: Bab 142. Obsesi Yang Rumit#Deru angin malam di sekitar Jembatan Barelang bertiup kencang, membawa aroma garam yang pekat dari laut lepas yang terhampar gelap di bawahnya. Jati memperlambat laju kendaraannya, menepikan mobil tepat di bahu jalan saat lampu sorotnya menangkap siluet sebuah sedan mewah yang diparkir sembarangan. Di dekat bemper depan mobil tersebut, Adhikara duduk dengan sebelah kaki menekuk, bersandar lesu pada bodi mobilnya sendiri. "Aku sudah menemukannya, Tante. Tenang saja, aku akan membawanya kembali ke hotel nanti," ujar Jati di headset nirkabel yang tersambung ke ponselnya. Dia lalu mematikan panggilan yang sejak tadi terhubung ke ponselnya.Penampilan Adhikara saat itu berantakan, jauh dari kesan angkuh yang biasanya melekat erat pada dirinya."Adhikara," panggil Jati dari dalam mobil.Dia mematikan mesin, lalu melangkah keluar menemui sahabatnya itu."Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Jati.Belum sempat pertanyaannya mendapat jawaban, indra penciuman Jati langsung menangkap aroma m
Última atualização: 2026-07-15
Chapter: Bab 141. Cinta Dan Benci 8# Ucapan Neneknya membuat Adhikara terdiam seketika. Ruangan itu mendadak menjadi sangat sunyi hingga detak jarum jam di dinding terdengar jelas. "Apa yang kau lakukan pada Lyra seharusnya membuatmu dihukum di penjara, bahkan meski itu karena kau mencintainya. Hanya saja, Lyra terlalu baik dan Nenekmu ini lebih baik mati daripada harus melihatmu berada di balik jeruji besi. Kau tahu itu semua dengan jelas, bukan, Adhi?" Kali ini Sri Rukmini menatap cucunya dengan tatapan memerah. Adhikara menunduk semakin dalam. "Jadi ini hukuman?" tanya Adhikara pelan. Dia terdengar putus asa. Andai bisa memilih, dia tidak masalah dipenjara asal Lyra tidak pernah meninggalkannya lagi. Tapi masalahnya semua selalu berjalan tidak sesuai dengan keinginannya dan itu membuatnya merasa putus asa untuk pertama kalinya. Membayangkan kehilangan Lyra jauh lebih menakutkan untuknya dibandingkan dengan kehilangan segalanya. "Ini yang diinginkan oleh Lyra," ujar Sri Rukmini. Saat itu, Sri Rukmini sebenarnya
Última atualização: 2026-07-15