LOGIN21+ --- Menjadi pengganti ranjang istri bosku selama awal pernikahan, siapa yang menolak? Demi tidak dipecat karena masa laluku sebagai narapidana terbongkar, Bos tempatku bekerja menawariku untuk memuaskan istrinya, Nyonya Rose. Sebagai karyawan, tentu aku harus patuh. Apalagi, istri bosku sangat cantik, tapi tidak pernah mendapat kepuasan batin selama pacaran hingga menikah. Namun yang tidak aku duga, ternyata istri bosku tahu itu adalah akal-akalan suaminya dan malah memintaku melanjutkan tugas yang harusnya hanya semalam saja. "Suamiku yang memintamu, kan? Tetaplah di sini karena aku memilihmu, bukan dia!"
View More“Gantikan aku di ranjang, tidurlah dengan istriku yang cantik itu, dan lima puluh juta sebagai bayaranmu di awal!” ucap seorang managar keuangan bernama Daniel.
“Bapak bercanda? Kayaknya, pendengaran saya agak bermasalah,” balas Julian. Suaranya bergetar menahan kaget.
Pasalnya, Julian hanyalah seorang petugas keamanan yang baru tiga bulan berjaga di gedung perkantoran ini. Berurusan langsung dengan manajer keuangan seperti Daniel saja sudah membuat perutnya mulas, apalagi setelah mendengar tawaran yang tak masuk akal itu.
Rasanya, telinganya langsung tuli.
Kalau Daniel menyuruhnya berjaga malam sampai pagi atau mengangkat puluhan kardus berkas, Julian pasti akan langsung mengangguk patuh.
Tapi ini? Meniduri istri atasannya sendiri?
Gila!
“Julian, telingamu itu masih normal dan kamu sama sekali nggak salah dengar,” sahut Daniel enteng.
Glek.
Julian menelan ludah dengan susah payah.
"Aku memang menyuruhmu tidur sama istriku. Masalah jadwal kapan kau harus menidurinya, semuanya ada di tanganku. Kamu akan dipanggil kapan pun aku butuh. Pastinya pekerjaan ini akan berlangsung panjang, bisa setahunan. Kau akan sering menghabiskan malam bersamanya."
Sebagai pria normal, Julian sangat sadar dengan pesona Rose, istri manajer keuangan di tempatnya bekerja.
Senyum wanita itu selalu terlihat tulus menyapa para staf. Cara berjalannya sangat elegan dan memancarkan wibawa kelas atas.
Sungguh sebuah kebodohan besar saat pria di depannya ini malah melempar wanita berharga itu kepada pria sembarangan.
Daniel mencondongkan tubuhnya ke depan sambil menumpukan kedua sikunya di atas meja. "Kau pasti pernah berpapasan dengan Rose di lobi bawah. Wajahnya sangat cantik dan tubuhnya sangat seksi. Kesempatan emas ini tidak akan datang dua kali. Kau bisa bercinta sepuasnya dan kau malah dibayar mahal. Apalagi yang kurang?"
"Tunggu sebentar, Pak," sela Julian cepat. "Saya ini cuma satpam rendahan. Rasanya sangat tidak pantas kalau saya harus menggantikan posisi Bapak di ranjang. Nyonya Rose juga pasti akan langsung menolak mentah-mentah kalau tahu dia harus disentuh oleh pria kotor seperti saya!"
Mendengar penolakan tersebut, Daniel justru tertawa meremehkan.
"Ck! Maka dari itu, jangan sampai dia tahu! Kau cukup menyusup masuk ke kamarku besok malam saat lampu sudah dimatikan total. Kunci mulutmu rapat-rapat. Jangan keluarkan suara sama sekali. Kau hanya perlu fokus menjamah tubuhnya sampai dia memohon ampun! Rose itu wanita yang sangat lugu. Dia tidak akan pernah bisa membedakan siapa yang sedang menggaulinya dalam kondisi gelap gulita."
"Ini benar-benar rencana gila, Pak! Risiko ketahuannya sangat besar. Saya bisa diseret ke penjara kalau sampai ketahuan meniduri istri orang!" sergah Julian dengan napas memburu.
"Semuanya aman terkendali. Aku sendiri yang akan menjamin keamananmu. Kita berdua juga punya postur tubuh yang nyaris persis," sanggah Daniel dengan nada menggampangkan.
"Mohon maaf yang sebesar-besarnya, Pak. Saya tetap tidak berani menerima tawaran ini. Silakan Bapak cari pria lain saja," tolak Julian dengan suara tegas.
Daniel sudah menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk menyeleksi kandidat pria yang cocok secara fisik, tinggi badan, sampai aroma maskulinnya. Sejauh ini, hanya Julian yang memenuhi kriteria tersebut dengan sempurna, apalagi waktunya sudah mepet dan dia enggan mencari kambing hitam lain.
Sambil mendengus kasar, Daniel menarik laci meja kerjanya. Tangannya mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal.
Brak!
"Ambil ini sebagai uang muka!" bentak Daniel dengan suara lantang. Amplop berisi tumpukan uang tunai seratus ribuan itu dilemparkan kasar hingga menghantam permukaan meja.
"Jangan sok suci di hadapanku, Julian! Aku tahu persis kau pernah tidur beralaskan lantai penjara yang dingin selama dua tahun, atas tuduhan pembunuhan berencana!"
Reaksi syok dari sang satpam membuat Daniel tersenyum penuh kemenangan. "Aku juga gak habis pikir, bagaimana mantan narapidana sepertimu bisa menembus seleksi perusahaan ini. Pasti sangat seru kalau pihak HRD mendengar informasi berharga ini dan kau pasti dipecat, saat ini juga!"
Daniel sengaja menghentikan ucapannya sesaat untuk membiarkan ketakutan merayapi benak Julian.
"Kau pasti sudah hafal kalau perusahaan raksasa ini dikuasai oleh keluarga Luis, dan asal kau tahu, aku juga bagian dari Luis! Posisi kerjaku memang belum berada di puncak tertinggi perusahaan ini. Tapi … kalau hanya memecat dan menjebloskan satpam kotor sepertimu kembali ke penjara, jelas hal yang sangat sepele buatku!"
Julian semakin tegang, matanya membulat. Tak disangka, ia akan diancam dengan cara seperti ini.
"Santai saja, Julian. Jangan menatapku seolah ingin menerkam begitu. Aku sedang berbaik hati memberikanmu pekerjaan paruh waktu yang sangat nikmat," goda Daniel dengan nada menjijikkan.
"Rose itu wanita berkelas. Tubuhnya sangat terawat dan bersih. Dia juga belum banyak disentuh oleh tangan lain. Kau tidak perlu khawatir tertular penyakit menular. Dia bersih seratus persen. Apalagi ketika kau melihat tubuhnya yang aduhai itu, sumpah demi apapun, kau tidak akan tahan untuk menggaulinya!"
Melihat Julian yang hanya diam, Daniel bangkit dari kursinya, berjalan memutari meja, lalu mendekati Julian.
"Aku sudah menyewa kamar tipe tertinggi di hotel bintang lima untuk tempat kalian bercinta besok malam. Kamu masuk saja saat kamarnya sudah gelap. Gantikan aku menidurinya di sana, sentuh semua bagian tubuhnya, terus buat dia keenakan sampai dia tidak punya waktu untuk mengadu pada orang tuanya soal pernikahan kami!"
Julian menghela napas berat. Dia benar-benar terpojok. Menolak perintah Daniel, sama artinya dengan kehilangan pekerjaan dan masa depannya.
"Ba-baik, Pak Daniel, tapi saya minta jaminan. Bapak harus membuatkan surat perjanjian tertulis. Saya mau kebebasan dari segala tuntutan hukum di masa depan. Rahasia masa lalu saya juga harus aman, terutama perihal penjara itu!"
"Pasti. Semuanya terjamin aman," sahut Daniel cepat. Wajahnya langsung berbinar lega. Dia menyetujui semua persyaratan Julian tanpa pikir panjang.
"Ada satu hal yang membuat saya penasaran," ucap Julian tiba-tiba.
Langkah Daniel terhenti tepat sebelum pria itu kembali duduk di kursinya. Dia menoleh dan menatap Julian.
"Kenapa Bapak setega ini melempar istri sendiri ke pelukan pria lain? Setahu saya, Nyonya Rose itu wanita yang sangat baik. Dia rajin sekali membawakan bekal makanan untuk Bapak ke kantor," tanya Julian terus terang.
"Alasannya sangat sederhana. Aku sama sekali tidak mencintainya. Harus berbagi ranjang dengan wanita kaku dan membosankan seperti dia, sungguh membuatku muak," jawab Daniel dengan nada dingin.
Srek.
Telinga Julian menangkap suara gesekan pelan dari arah gagang pintu di belakangnya. Pasti ada seseorang yang sedang berdiri di luar ruangan.
Julian belum sempat memberikan peringatan kepada atasannya, tetapi Daniel sudah terlanjur terbawa emosi. Suara lantang pria itu terus bergema di dalam ruangan, tanpa menyadari ada seseorang yang sedang mendengarkan di balik pintu.
"Pernikahan ini hanyalah transaksi bisnis buatku!" seru Daniel dengan suara tinggi. Dia merasa bebas memaki istrinya di depan Julian.
Di balik pintu kayu tersebut, Rose berdiri mematung. Kotak bekal makanan terasa berat, terlebih hatinya hancur berkeping-keping mendengarkan pengakuan terang-terangan dari sang suami.
"Aku sudah menikah berbulan-bulan dan aku sama sekali tidak bernafsu melihatnya. Berada di dekat wanita itu membuatku merasa dikurung di dalam penjara!" lanjut Daniel tanpa ampun.
Air mata mengalir deras membasahi pipi Rose. Semua kalimat Daniel menghancurkan harga dirinya sebagai seorang istri yang setia.
Pada akhirnya pertahanan Rose runtuh dan tangisnya seketika pecah. Dengan sisa tenaga yang ada, wanita itu mendorong gagang pintu sekuat tenaga.
Brak!
Rose sempat melirik Julian sekilas sebelum beralih ke Marta. “Boleh, terima kasih ya, Marta. Kayaknya memang masuk angin. Perutku memang agak mual.”Marta buru-buru membuatkan teh jahe andalannya di dapur. Sementara Julian di belakang sempat garuk-garuk kepala, merasa sedikit aneh dengan majikannya.“Kok rasanya akhir-akhir ini Nyonya sering mual? Apa beneran hamil? Ah, nggak mungkin. Kemarin kan udah dicek hasilnya negatif,” batin Julian heran, menerka-nerka sendiri.Tak lama kemudian, suara derap langkah sepatu yang tegas terdengar bergaung memantul dari arah tangga tengah.Daniel berjalan keluar dari sana dengan setelan kemeja yang sudah rapi dan wangi parfum mahal yang menyengat hidung. Pria itu langsung melangkah menghampiri istrinya saat mendengar percakapan sebelumnya.“Sayang, kamu kenapa? Sakit?” Daniel menempelkan punggung tangannya ke dahi Rose sekilas. “Masuk angin atau ... mau datang bulan?”Meski aslinya acuh tak acuh, Daniel termasuk hafal dengan kebiasaan istrinya. Ter
“Nyonya Rose, Mas! Nyonya Rose!” Vanya berbisik gemas, tangannya meremas lengan kursi plastik. “Di atas balkon belakang tadi … nyonya lagi asik main tumbuk-tumbukan!”Uhuk!Julian kesedak kopi yang baru saja disruputnya itu sampai muncrat. Lidahnya langsung melepuh perih.“Attahhh!” desis Julian sambil menaruh cangkirnya ke atas meja. Vanya buru-buru mengambil tisu bekas alas pisang goreng untuk menyeka dagu Julian yang basah kena semburan kopi.“Duh, Mas Julian ini kebiasaan deh, kopi masih panas bukannya ditiup dulu asal sruput aja!” omel Vanya. “Tapi wajar juga kalau kaget, aku tadi di belakang juga sampai gak bisa napas lihat nyonya main tumbuk-tumbukannya panas banget.”Makin seret lagi tenggorokan Julian. Jelas Vanya sempat tahu apa yang mereka lakukan di atas sana tadi.“Tumbuk-tumbukan gimana, Mbak? Nyonya lagi numbuk jamu di atas?” tanya Julian sambil terkekeh pelan.Vanya langsung merengut gemas, tangannya mengibas-ngibas di udara heboh. “Ih, Mas Julian mah polosnya kebange
Perut Rose melilit lagi, seperti diaduk-aduk dari dalam. Rasa panas yang membuat enek langsung menjalar naik ke dada.“Huk!”Rose buru-buru membekap mulutnya rapat-rapat. Dia mati-matian menahan cairan pahit yang mendesak ingin keluar dari tenggorokan.Julian yang baru selesai merapikan seragam satpamnya langsung menoleh. Sepasang mata tajamnya menyipit melihat wajah Rose pucat pasi dalam sekejap.“Kamu kenapa, Rose?” Julian melangkah mendekat, menatap penuh selidik.Rose menggeleng cepat. Dia menarik napas dalam-dalam, berusaha menormalkan debaran dadanya yang tidak karuan. “Enggak, aku nggak apa-apa. Mungkin ... agak masuk angin. Ini gara-gara kamu sih, mainnya malah di balkon terbuka gini.”Julian terkekeh pelan. Suara baritonnya terdengar santai tanpa beban. Tangan besarnya yang kasar bergerak maju, mengusap lembut helai rambut Rose yang sedikit basah oleh keringat. Tanpa aba-aba, kedua lengan kekarnya langsung menyusup ke bawah tubuh Rose, membopong wanita itu untuk dibawa masu
Tak sabar bergosip dengan Julian di depan, Vanya langsung berbalik. Berjalan mengendap-endap dengan posisi paha yang sedikit rapat karena bagian selangkangannya masih terasa basah dan berkedut aneh. “Aduh, ini ngapain masih kedut-kedut sih! Padahal udah nggak sabar mau ngegosip, ah!” batin Vanya.Baru saja kakinya hendak berbelok menuju arah lorong untuk menyelinap keluar ke pos satpam, sepasang mata tajam sudah mengintainya dari ambang pintu dapur.“Van! Ngapain kamu jinjit-jinjit begitu kayak maling jemuran?!”Deg!Vanya tersentak kaget sampai hampir melompat. Dia langsung membalikkan badan dan mendapati ibunya, sudah berdiri berkacak pinggang menatapnya penuh selidik.“I-Ibu ... bikin kaget aja,” sahut Vanya sambil tersenyum kaku.“Kamu itu ya, buang sampah kok lama bener! Ditungguin dari tadi malah mondar-mandir gak jelas. Ngapain aja sih? Terus itu kamu mau ke mana? Dapur di kiri, kamu malah mau nyelonong ke arah depan!” semprot Marta beruntun dengan logatnya yang khas.Jantung
Tenggorokan Julian rasanya makin seret mendengar permintaan sang nyonya yang begitu blak-blakan. Matanya langsung melirik waswas ke arah CCTV yang terpasang di sudut langit-langit, juga ke arah rekan-rekan satpam lain yang mulai kasak-kusuk di ujung lobi.“Nyonya, ini kantor ... banyak orang yang l
“Kalau begitu, saya mulai ya, Nyonya,” ucap Julian pelan.Tangannya bergerak mantap melepas kemeja yang sejak tadi sudah terbuka. Begitu terbuka, tubuh Julian langsung terpampang dengan jelas, jauh lebih berisi dan maskulin dibanding Daniel.Rose sampai tak sengaja menelan ludah, matanya seolah ter
Jam kerja Julian akhirnya berakhir hari itu, tepat ketika jarum jam menunjuk angka enam. Ketika dia ingin meninggalkan loker, ponsel di saku celananya bergetar.Sebuah pesan masuk dari nomor tanpa nama."Jadwal berubah. Datanglah ke Kamar 1001 Hotel JK malam ini. Gunakan pintu belakang staf untuk m
Brak!Pintu langsung terbuka lebar. Rose berdiri dengan napas memburu."Apa maksud omonganmu barusan?" teriak Rose memecah keheningan.Daniel terlonjak di kursi hingga rokok di sela jarinya nyaris terlepas. Wajah angkuhnya mendadak pucat saat melihat istrinya berdiri dengan mata nyalang dan pipi ba






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore