LOGINLyra Renata Valmont harus bertemu lagi dengan cinta pertamanya, Adhikara Bramantya yang sudah hampir dia lupakan setelah ibunya menikah lagi. Nyatanya hidupnya berubah menjadi mimpi buruk sepenuhnya setelah sebuah kecelakaan yang merenggut Dipta Bramantya, suami baru ibunya sekaligus ayah dari Adhikara. Di bawah atap yang sama dengan Adhikara Bramantya, ia harus hidup dalam ancaman, dendam, dan hasrat yang tak seharusnya ada. Adhikara membencinya namun dia juga belum bisa sepenuhnya menghapus perasaan yang sulit untuk dia kendalikan. Satu rahasia, ancaman, dan kesalahan di masa lalu mengikat mereka dalam hubungan gelap yang semakin sulit dilepaskan.
View More#Langit sore yang mulai meredup menyisakan semburat jingga yang suram di atas atap deretan kontrakan sederhana itu. Lyra berjalan dengan langkah berat, jemarinya meraba kunci di dalam tas, berharap bisa segera merebahkan tubuhnya yang kian ringkih karena beban kehamilan yang mulai terasa nyata. Namun, tepat saat ia hendak memutar kunci pintu, seseorang mendadak muncul dari balik pilar dan langsung meraih pergelangan tangannya.Lyra tersentak. Ia mencoba menarik tangannya yang seketika terasa sakit, tapi pria itu mencengkeramnya dengan sangat erat, seolah tak membiarkan ada celah sedikit pun untuk lolos."Lepaskan, Pak Fiko! Ini sakit!" seru Lyra dengan suara bergetar.Fiko tidak bergeming. Ia justru mendekatkan wajahnya, menatap Lyra dengan tatapan meremehkan yang tajam. Aroma rokok yang pekat dari napasnya membuat Lyra mual."Pak lagi? Sial! Kau terlalu sombong, Lyra. Apa kau hanya mengharapkan Fandy dan bukan aku? Apa karena dia terlihat lebih punya masa depan dan bekerja di kanto
#Fandy mengantar Lyra kembali ke kontrakannya dengan langkah yang sengaja diperlambat. Jaraknya memang tidak seberapa jauh karena kontrakan petak yang dihuni Lyra dan rumah induk keluarga Fandy masih berada dalam satu halaman yang sama. Namun, suasana di antara mereka terasa begitu berat setelah ketegangan yang baru saja terjadi.Fandy menghentikan langkah tepat di depan pintu kayu bercat kusam milik Lyra. Ia menatap Lyra. "Lyra, tolong jangan masukkan ke hati ucapan Ibu dan Mas Fiko tadi. Aku benar-benar minta maaf atas kelakuan mereka," ujarnya.Lyra hanya mengangguk pelan. "Tidak apa-apa, Pak Fandy. Terima kasih sudah membantuku tadi," jawabnya lirih.Fandy mengangguk dan Lyra kemudian berbalik. Dia merogoh saku untuk mengambil kunci, hendak segera masuk. Namun, langkahnya tertahan saat Fandy kembali memanggil namanya."Lyra!"Lyra berbalik, menatap pria itu dengan kening berkerut. Fandy sempat terdiam selama beberapa detik, seolah ada banyak kata yang tertahan di kerongkong
# Adhikara terdiam cukup lama, tahu bahwa dugaan Gisela memang tepat. Obsesinya telah menjadi kelemahan terbesarnya, dan Gisela tahu cara memanfaatkannya. Tanpa berkata-kata lagi, Adhikara mengeluarkan pena dan membubuhkan tanda tangannya di atas map tersebut. Gisela bertepuk tangan kecil dengan wajah antusias, seolah baru saja memenangkan lotre. "Luar biasa. Aku suka bekerja sama dengan orang yang tahu prioritas. Aku bersumpah kalau kau tidak akan pernah kecewa dengan hubungan rahasia kita ini," ujarnya. "Hubungan rahasia apanya? Kau membuatnya terdengar menjijikkan," ucap Adhikara sambil menyodorkan kembali map yang sudah ditandatangani itu. Gisela mengulurkan tangannya kepada Adhikara, senyumnya kini tampak lebih tulus—atau mungkin lebih licik. "Aku tidak pernah mengecewakan rekan bisnisku, Adhi. Kita punya tujuan masing-masing. Setidaknya kita cocok sebagai rekan bisnis," balasnya. "Abaikan formalitas tidak penting itu. Kau tidak bilang kalau hanya foto ini yang
# Suasana restoran mewah itu terlihat tenang dan eksklusif. Di sebuah sudut yang paling tertutup, Gisela duduk dengan anggun, menyesap anggur merahnya sambil sesekali melirik jam tangan. Saat sosok Adhikara muncul dari kejauhan, Gisela segera melambaikan tangan dengan senyum yang tidak bisa ditebak maknanya. "Akhirnya kau datang, kukira kau akan terlambat karena kau bilang kalau kau baru tiba di bandara," ucap Gisela saat Adhikara akhirnya tiba di hadapannya. Adhikara tidak segera duduk. Ia menatap ruangan di sekitar mereka dengan waspada. "Kenapa harus tempat se-private ini?" tanyanya. "Agar kita bisa bicara dengan lebih leluasa tanpa perlu khawatir ada telinga yang tidak diinginkan. Kau tidak memiliki banyak saingan untuk menjadi penerus keluargamu, tapi tidak denganku. Kompetisi di keluargaku cukup ketat, apalagi aku anak perempuan," jawab Gisela enteng. Ia kemudian menyodorkan sebuah amplop cokelat tebal ke atas meja. Adhikara mengerutkan kening, menatap amplop i
#Cahaya matahari pagi yang pucat menerobos masuk melalui celah gorden rumah sakit, menyinari lantai putih yang tampak dingin. Lyra membuka matanya perlahan. Aroma disinfektan yang tajam segera menyambut indranya, mengingatkannya bahwa dia masih terjebak di tempat ini. "Rumah sakit," gumamnya pe
#Malika melangkah melewati pintu rumah keluarga Bramantya dengan ekspresi dingin, melewati lorong panjang menuju ruang kerja Sri Rukmini. Ia tidak mengetuk pintu. Malika langsung mendorong pintu ruang kerja Sri Rukmini dan menemukan ibu mertuanya sedang duduk tenang di balik meja besarnya, menyes
#Udara siang itu terasa gerah, namun Lyra lebih memilih duduk di bangku taman kampus yang dinaungi pohon mahoni besar daripada harus berada di dalam perpustakaan yang pengap. "Melamun lagi?"Lyra tersentak. Ia hampir saja menjatuhkan bukunya saat sosok tinggi Rivan tiba-tiba berdiri di depannya.
#Lorong rumah sakit itu selalu terasa dingin, membawa aroma antiseptik yang menusuk hidung. Aroma yang sebenarnya terasa begitu memuakkan bagi Lyra tapi dia menahannya.Saat ini, Lyra tengah melangkah gontai, bahunya sedikit merosot di bawah beban tas pakaian berisi baju ganti ibunya yang dia bawa






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews