LOGINLyra Renata Valmont harus bertemu lagi dengan cinta pertamanya, Adhikara Bramantya yang sudah hampir dia lupakan setelah ibunya menikah lagi. Nyatanya hidupnya berubah menjadi mimpi buruk sepenuhnya setelah sebuah kecelakaan yang merenggut Dipta Bramantya, suami baru ibunya sekaligus ayah dari Adhikara. Di bawah atap yang sama dengan Adhikara Bramantya, ia harus hidup dalam ancaman, dendam, dan hasrat yang tak seharusnya ada. Adhikara membencinya namun dia juga belum bisa sepenuhnya menghapus perasaan yang sulit untuk dia kendalikan. Satu rahasia, ancaman, dan kesalahan di masa lalu mengikat mereka dalam hubungan gelap yang semakin sulit dilepaskan.
View More#
Rumah keluarga Bramantya tempat jenazah Dipta Bramantya disemayamkan untuk terakhir kalinya tidak pernah terasa sesunyi ini sebelumnya. Semua yang hadir seakan menahan napas saat melihat kondisi jenazah yang meninggal akibat kecelakaan tersebut. Beberapa luka tidak pernah benar-benar bisa ditutupi oleh perias jenazah terbaik sekalipun.Putra Dipta Bramantya, yaitu Adhikara Bramantya, tampak berdiri mematung di samping peti matinya.
Sementara itu, Lyra hanya bisa menatap Adhikara dari kejauhan. Dia tidak memiliki keberanian untuk mendekat kakak tirinya tersebut, apalagi untuk mengucapkan salam perpisahan dari dekat kepada almarhum ayah tirinya.
"Kau tidak ke sana?" tanya Alesa, sahabat Lyra. Lyra menggeleng pelan. "Tidak," jawabnya pendek sebelum akhirnya melangkah menjauh. Setahun yang lalu, ibu kandung Lyra menikahi Dipta Bramantya yang baru saja bercerai dari istri pertamanya, ibu kandung dari Adhikara Bramantya.Sayangnya, perjalanan bulan madu yang sempat tertunda sebelumnya, malah menjadi bencana setelah kecelakaan merenggut nyawa Dipta Bramantya. Sementara itu, Ratna Puspita, ibu kandung Lyra, terbaring koma dalam kondisi kritis di Rumah Sakit.
"Kau yakin?" tanya Alesa. Dia tahu betapa Lyra menyayangi almarhum ayah tirinya tersebut. Lyra mengangguk pelan. "Ayo, aku antar kau keluar," ujarnya sambil menggandeng lengan sahabatnya itu. Alesa hanya bisa menarik napas panjang dan menuruti Lyra. Sayang sekali dia tidak bisa lebih lama berada di tempat, kalau tidak, dia pasti akan memilih untuk tetap menemani Lyra. Bau dupa bercampur hujan yang belum kering menempel di udara. Karangan bunga memenuhi ruang tamu, tapi tak satu pun bisa menghapus duka keluarga Bramantya. Lyra berdiri kaku di dekat pintu setelah mengantar Alesa, jemarinya saling mengunci, gaun hitam yang dipinjamkan Alesa kepadanya terasa terlalu sempit. “Jangan berdiri di situ.” Suara itu dingin tanpa emosi. Lyra menoleh. Kakak tirinya, Adhikara Bramantya berdiri beberapa langkah darinya, jas hitamnya rapi, rahangnya mengeras. Tidak ada mata sembab, tidak ada suara bergetar. Hanya tatapan tajam yang seolah sedang menilai setiap kesalahannya. “Aku hanya—” “Pergi ke dalam. Jangan merusak acara ini dengan kehadiranmu yang tidak seharusnya!” potong Adhikara. Dia kemudian mendekat dan berbisik pelan. "Ini rumah keluargaku, bukan rumahmu. Dan yang meninggal adalah Papaku, bukan Papamu." Lyra menelan ludah. Dia ingin bilang kalau ini juga rumahnya, tapi kalimat itu seakan tersangkut di tenggorokannya sebelum sempat keluar. Bagaimanapun dia tahu kalau baik dirinya maupun ibunya tidak pernah benar-benar diterima di rumah ini karena pernikahan ibunya yang tidak direstui oleh keluarga Bramantya, termasuk Adhikara sendiri. "Lihat sekelilingmu. Tidak ada yang mengharapkanmu di sini, anak gundik." Adhikara kembali berbicara. Di matanya, ibu kandung Lyra adalah penyebab kedua orang tanya bercerai, meski kenyataannya ayahnya menikah dengan ibu kandung Lyra setelah bercerai beberapa bulan. Di dalam, beberapa kerabat berbisik. Nama ayah Adhikara disebut dengan nada duka, lalu nama ibunya Lyra—Ratna Puspita—diseret pelan, seakan itu adalah noda yang menodai kesucian keluarga Bramantya yang terhormat. “Istrinya masih koma?” seseorang bertanya lirih. “Iya. Kasihan anaknya,” sahut yang lain, lalu suara mereka merendah saat menyadari Lyra ada di sana. Lyra menunduk. Ia sudah terbiasa dengan tatapan seperti itu sejak menerima kabar kecelakaan ibunya bersama dengan ayah tirinya, ditambah kabar kematian ayah tirinya, Dipta Bramantya menyusul beberapa jam kemudian. Adhikara mendorong bahu Lyra. “Kau tuli? Kenapa masih di sini?” tanyanya. Dia masih menatap Lyra tajam. Lyra mendongak. Adhikara berdiri tepat di depannya sekarang. “Om Dipta baru meninggal,” ucap Lyra pelan. “Aku hanya ingin—” Kalimat itu kembali menggantung saat bertemu dengan tatapan Adhikara. “Ingin apa? Berpura-pura berduka? Munafik.” Adhikara menyeringai tipis. Kalimat itu menghantam lebih keras dibanding sebuah tamparan bagi Lyra. “Aku juga menyayangi Om Dipta. Selama ini Om Dipta selalu baik padaku,” balas Lyra. Suaranya bergetar meski ia berusaha menahannya. “Om Dipta juga Papaku karena beliau suami Mamaku.” “Dan sejak Mamamu masuk ke hidup kami, keluargaku hancur! Begitu maksudmu?!” Nada suara Adhikara sedikit meninggi. Dia kehilangan kendali dirinya. Beberapa kepala menoleh. Neneknya, Sri Rukmini Bramantya, muncul di ambang pintu ruang tengah. Tatapannya tajam, penuh penilaian. “Adhikara,” tegurnya singkat. Adhikara tidak memalingkan wajah ke arah Neneknya. “Nenek tahu kan kenapa aku membiarkan Lyra tinggal di sini? Meski begitu bukan berarti dia memiliki hak yang sama dengan anggota keluarga Bramantya. Bagiku dia tetap orang luar!” tegas Adhikara. Hening. Lyra merasa dadanya sesak. “Kak—” “Jangan panggil aku begitu! Aku bukan kakakmu dan tidak akan pernah sudi menjadi kakakmu.” Kalimat itu mematikan. Tidak ada sisa remaja SMA yang dulu tersenyum kikuk saat menawarkan diri untuk mengantarnya pulang. Yang berdiri di hadapannya sekarang adalah pria asing dengan mata penuh kebencian. "Sudah cukup! Kalau kau tidak ingin aku berada di rumah ini, aku akan keluar dari sini. Aku hanya ingin melihat Om Dipta untuk terakhir kalinya," balas Lyra. Dia tidak tahan lagi. “Kau tidak akan pergi ke mana pun sampai aku mengizinkannya” lanjut Adhikara, suaranya rendah. “Apa maksudmu?” tanya Lyra, napasnya memburu. Adhikara mendekat, cukup dekat hingga Lyra bisa mencium aroma hujan di jas yang Adhikara kenakan. “Aku tahu apa yang terjadi di malam kecelakaan itu dan aku punya bukti yang bisa menyeret Tante Ratna ke penjara. Selain itu, kalau kau masih ingin biaya pengobatan Tante Ratna ditanggung oleh keluarga Bramantya, kau harus belajar mendengarkanku,” bisiknya. Dunia Lyra seakan runtuh mendengar itu. “Kau bohong,” ucapnya lemah. “Satu langkah keluar dari rumah ini,” Adhikara menegakkan tubuhnya, suaranya kembali datar. Senyum kemenangan menghiasi wajahnya. “Dan ibumu tidak akan pernah bangun sebagai pasien koma—tapi sebagai tersangka. Atau, pilihan lainnya, aku bahkan bisa menghentikan semua alat pendukung hidupnya dan membiarkan dia mati sebelum sempat sadar. Kau yang memilih,” lanjut Adhikara, masih dengan suara pelan namun cukup untuk didengar oleh Lyra. Lyra menggigil. Di belakang mereka, Sri Rukmini memejamkan mata mengabaikan perlakuan kasar cucunya pada Lyra. Lyra hanya anak bawaan dari wanita yang dinikahi oleh putranya tanpa persetujuannya. Sama seperti semua orang, Sri Rukmini percaya kalau ibu Lyralah yang membawa kesialan untuk putranya dan keluarga Bramantya.#Malika duduk terdiam di ruang tengah kediaman keluarga Bramantya, matanya tak lepas dari layar ponsel yang masih menunjukkan deretan pesan tanpa balasan. Sudah dua hari nomor Lyra tidak aktif. Setiap kali ia mencoba menghubungi, hanya suara operator yang menyambutnya, tanda kalau Lyra tidak mengaktifkan ponselnya. Meski Adhikara berulang kali meyakinkannya bahwa Lyra hanya sedang butuh waktu di rumah seorang teman, insting Malika sebagai seorang ibu tidak bisa dibohongi. Ada sesuatu yang tidak beres, sebuah firasat buruk yang terus membayangi pikirannya."Haruskah aku mencari dan menemuinya di rumah temannya itu?" gumam Malika pelan.Padahal, Malika ingin berbicara langsung dengan Lyra mengenai rencananya. Itulah alasan mengapa Malika rela menginap di rumah keluarga Bramantya di tengah jadwal kerjanya yang sangat padat kali ini."Lyra," gumam Malika pelan, suaranya nyaris hilang ditelan kesunyian ruangan tersebut. Dia sebenarnya hanya tidak ingin Lyra mengalami apa yang dulu suda
#Lampu kamar yang temaram masih menyala, membiaskan cahaya redup yang menyentuh wajah Adhikara. Di sisi tempat tidur, Lyra berdiri mematung. Ia sudah mengenakan pakaian lengkap, sebuah blus sederhana dengan jaket tipis yang membungkus tubuh ringkihnya. Di tangan kanannya, ia menggenggam erat sebuah tas kecil yang berisi barang-barang miliknya yang tidak akan pernah bisa dia tinggalkan. Salah satunya foto keluarganya.Lyra menunduk, menatap Adhikara yang masih terlelap dengan napas yang teratur. Selama beberapa saat, matanya beralih pada lantai kamar. Pakaian mereka berserakan di sana, menjadi saksi bisu betapa kacaunya gairah keduanya beberapa jam yang lalu. Aroma percintaan mereka, campuran antara wangi maskulin Adhikara dan aroma tubuhnya sendiri, masih tertinggal pekat di udara, masuk ke dalam paru-parunya dan membuat dada Lyra terasa sesak. Ia menggigit bibirnya pelan. "Ini benar-benar yang terakhir," gumam Lyra, suaranya nyaris tidak terdengar, hilang ditelan kesunyian kama
#Malam itu, ruang tengah apartemen terasa begitu sunyi, hanya diisi oleh suara rendah dari tayangan televisi yang sebenarnya tidak benar-benar mereka tonton. Adhikara duduk di sofa besar, merengkuh tubuh Lyra dalam pelukannya. Ini adalah momen langka. Selama hubungan mereka terjalin, ketenangan seperti ini hampir tidak pernah ada. Biasanya hanya ada ketegangan, air mata, atau gairah yang meledak karena amarah. Namun setelah makan malam tadi, suasana mendadak melunak.Adhikara menyisir rambut Lyra yang halus dengan jemarinya, gerakan yang sangat protektif sekaligus posesif. Ia menghirup aroma sampo dari puncak kepala gadis itu, mencoba meresapi kedamaian yang terasa asing ini."Apa kau sudah merasa lebih baik sekarang?" tanya Adhikara dengan suara rendah, nyaris berbisik.Lyra yang sejak tadi hanya menyandarkan kepalanya di dada Adhikara perlahan mendongak. Matanya terlihat lelah, namun ia memaksakan sebuah lengkungan tipis di bibirnya. "Aku sudah tidak apa-apa, Kak," balasnya sing
#Deru mesin mobil sport Adhikara memecah keheningan jalanan menuju kompleks apartemennya. Dia mencengkeram kemudi dengan buku-jari tangannya yang memutih. Amarah dan ketakutan bercampur aduk di dadanya sejak ia mendengar kabar bahwa neneknya, Sri Rukmini, telah menemui Lyra secara sepihak. Dia mengetahui itu dari sopir yang baru saja mengantar neneknya pulang."Sialan," umpat Adhikara sambil menyalip kendaraan di depannya dengan kasar.Meski petugas apartemen sudah memastikan pada Adhikara kalau Lyra sudah kembali ke apartemen meski sempat terlihat keluar dari gedung itu sebelumnya, dia tetap saja tidak bisa menghapuskan rasa khawatirnya.Matanya melirik sebuah kotak beludru kecil yang tergeletak di dashboard mobilnya. Cincin itu seharusnya baru akan ia berikan setelah peringatan empat puluh hari kematian Ratna Puspita. Ia ingin melamar Lyra setelah masa berduka selesai. Namun, campur tangan neneknya mengubah segalanya. Adhikara merasa terdesak. Ia membutuhkan ikatan yang lebih ku
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews