MasukLyra Renata Valmont harus bertemu lagi dengan cinta pertamanya, Adhikara Bramantya yang sudah hampir dia lupakan setelah ibunya menikah lagi. Nyatanya hidupnya berubah menjadi mimpi buruk sepenuhnya setelah sebuah kecelakaan yang merenggut Dipta Bramantya, suami baru ibunya sekaligus ayah dari Adhikara. Di bawah atap yang sama dengan Adhikara Bramantya, ia harus hidup dalam ancaman, dendam, dan hasrat yang tak seharusnya ada. Adhikara membencinya namun dia juga belum bisa sepenuhnya menghapus perasaan yang sulit untuk dia kendalikan. Satu rahasia, ancaman, dan kesalahan di masa lalu mengikat mereka dalam hubungan gelap yang semakin sulit dilepaskan.
Lihat lebih banyak#Lyra mengerutkan dahi. Selama ini, ia mengira Syila hanyalah rekan kerja senior yang berwatak keras dan tidak menyukai kehadirannya sebagai karyawan baru di kantor."Diam kau!" teriak Fandy, suaranya naik satu oktav, wajahnya kini pucat pasi.Lyra hanya bisa tertunduk. Kini ia mengerti sepenuhnya kenapa Syila selalu bersikap sinis dan penuh kebencian kepadanya. Wanita itu pasti salah paham dengan interaksi dirinya dengan Fandy di kantor. "Untung saja suami Syila tidak tahu akan hal itu sampai sekarang," lanjut Fiko dengan nada memprovokasi yang semakin tajam. Ia mengamati perubahan ekspresi Fandy penuh kepuasan. "Tapi aku pikir hubungan Syila dan dirimu tidak akan mungkin bisa benar-benar berakhir begitu saja, kan?" sindirnya.Fandy mengepalkan tinju, urat-urat di lehernya menonjol, hampir saja mendaratkan pukulannya ketika suara Lyra yang dingin menghentikan mereka berdua."Cukup! Hentikan semuanya!" teriak Lyra. Suaranya tidak keras, namun penuh dengan rasa muak yang mendalam.
# Langit sore yang mulai meredup menyisakan semburat jingga yang suram di atas atap deretan kontrakan sederhana itu. Lyra berjalan dengan langkah berat, jemarinya meraba kunci di dalam tas, berharap bisa segera merebahkan tubuhnya yang kian ringkih karena beban kehamilan yang mulai terasa nyata. Namun, tepat saat ia hendak memutar kunci pintu, seseorang mendadak muncul dari balik pilar dan langsung meraih pergelangan tangannya. Lyra tersentak. Ia mencoba menarik tangannya yang seketika terasa sakit, tapi pria itu mencengkeramnya dengan sangat erat, seolah tak membiarkan ada celah sedikit pun untuk lolos. "Lepaskan, Pak Fiko! Ini sakit!" seru Lyra dengan suara bergetar. Fiko tidak bergeming. Ia justru mendekatkan wajahnya, menatap Lyra dengan tatapan meremehkan yang tajam. Aroma rokok yang pekat dari napasnya membuat Lyra mual. "Pak lagi? Sial! Kau itu benar-benar terlalu sombong, Lyra. Apa kau hanya mengharapkan Fandy dan bukan aku? Apa karena dia terlihat lebih punya masa depan
#Fandy mengantar Lyra kembali ke kontrakannya dengan langkah yang sengaja diperlambat. Jaraknya memang tidak seberapa jauh karena kontrakan petak yang dihuni Lyra dan rumah induk keluarga Fandy masih berada dalam satu halaman yang sama. Namun, suasana di antara mereka terasa begitu berat setelah ketegangan yang baru saja terjadi.Fandy menghentikan langkah tepat di depan pintu kayu bercat kusam milik Lyra. Ia menatap Lyra. "Lyra, tolong jangan masukkan ke hati ucapan Ibu dan Mas Fiko tadi. Aku benar-benar minta maaf atas kelakuan mereka," ujarnya.Lyra hanya mengangguk pelan. "Tidak apa-apa, Pak Fandy. Terima kasih sudah membantuku tadi," jawabnya lirih.Fandy mengangguk dan Lyra kemudian berbalik. Dia merogoh saku untuk mengambil kunci, hendak segera masuk. Namun, langkahnya tertahan saat Fandy kembali memanggil namanya."Lyra!"Lyra berbalik, menatap pria itu dengan kening berkerut. Fandy sempat terdiam selama beberapa detik, seolah ada banyak kata yang tertahan di kerongkong
# Adhikara terdiam cukup lama, tahu bahwa dugaan Gisela memang tepat. Obsesinya telah menjadi kelemahan terbesarnya, dan Gisela tahu cara memanfaatkannya. Tanpa berkata-kata lagi, Adhikara mengeluarkan pena dan membubuhkan tanda tangannya di atas map tersebut. Gisela bertepuk tangan kecil dengan wajah antusias, seolah baru saja memenangkan lotre. "Luar biasa. Aku suka bekerja sama dengan orang yang tahu prioritas. Aku bersumpah kalau kau tidak akan pernah kecewa dengan hubungan rahasia kita ini," ujarnya. "Hubungan rahasia apanya? Kau membuatnya terdengar menjijikkan," ucap Adhikara sambil menyodorkan kembali map yang sudah ditandatangani itu. Gisela mengulurkan tangannya kepada Adhikara, senyumnya kini tampak lebih tulus—atau mungkin lebih licik. "Aku tidak pernah mengecewakan rekan bisnisku, Adhi. Kita punya tujuan masing-masing. Setidaknya kita cocok sebagai rekan bisnis," balasnya. "Abaikan formalitas tidak penting itu. Kau tidak bilang kalau hanya foto ini yang
#Cahaya matahari pagi yang pucat menerobos masuk melalui celah gorden rumah sakit, menyinari lantai putih yang tampak dingin. Lyra membuka matanya perlahan. Aroma disinfektan yang tajam segera menyambut indranya, mengingatkannya bahwa dia masih terjebak di tempat ini. "Rumah sakit," gumamnya pe
#Malika melangkah melewati pintu rumah keluarga Bramantya dengan ekspresi dingin, melewati lorong panjang menuju ruang kerja Sri Rukmini. Ia tidak mengetuk pintu. Malika langsung mendorong pintu ruang kerja Sri Rukmini dan menemukan ibu mertuanya sedang duduk tenang di balik meja besarnya, menyes
#Udara siang itu terasa gerah, namun Lyra lebih memilih duduk di bangku taman kampus yang dinaungi pohon mahoni besar daripada harus berada di dalam perpustakaan yang pengap. "Melamun lagi?"Lyra tersentak. Ia hampir saja menjatuhkan bukunya saat sosok tinggi Rivan tiba-tiba berdiri di depannya.
#Lorong rumah sakit itu selalu terasa dingin, membawa aroma antiseptik yang menusuk hidung. Aroma yang sebenarnya terasa begitu memuakkan bagi Lyra tapi dia menahannya.Saat ini, Lyra tengah melangkah gontai, bahunya sedikit merosot di bawah beban tas pakaian berisi baju ganti ibunya yang dia bawa












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan