Istri Kontrak Sang Miliarder
Diusir dari rumah bibinya dan dipecat dari pekerjaan, Clara Anindita nekat mengadu nasib ke Jakarta. Namun, hari pertamanya berakhir bencana saat ia tidak sengaja menabrak seorang pria angkuh di sebuah lobi mewah. Karena sedang kalut, Clara menolak minta maaf dan justru memarahi pria itu habis-habisan.
Keesokan harinya, jantung Clara hampir copot saat melamar kerja di perusahaan raksasa, AXW Group. Pria yang ia semprot kemarin ternyata adalah Adrian Xavier Wijaya, CEO miliarder penguasa gedung tersebut.
Bukannya memecat Clara, Adrian justru menyodorkan sebuah dokumen gila yaitu Kontrak Pernikahan.
"Kau butuh uang, dan aku butuh istri pajangan. Satu tahun, dan kau bebas."
Mampukah Clara bertahan menjadi istri kontrak dari bos paling dingin dan posesif? Atau justru kontrak itu yang akan menjerat hatinya selamanya?
Read
Chapter: Ada apa dengan makam orang tua?Suasana koridor lantai atas yang remang-remang mendadak terasa mencekam bagi Clara. Niat hatinya hanya ingin mengajak Adrian beristirahat karena jarum jam sudah melewati angka dua belas, namun langkahnya terhenti tepat di depan pintu jati ruang kerja pria itu.Suara bariton Adrian terdengar berat dan penuh emosi dari balik celah pintu yang sedikit terbuka."Sudah saya katakan, jangan sampai wanita itu menyentuh makam mendiang orang tua Clara! Apa kamu tuli, hah?" bentak Adrian pada lawan bicaranya di telepon.Jantung Clara mencelos. Makam ibu dan bapak? Kenapa Adrian harus menjaga makam orang tuanya dari seseorang? Dan siapa wanita yang dimaksud Adrian?"Apa ada hal yang tidak aku ketahui?" bisik Clara pelan, tangannya menutup mulut karena terkejut.Saat Clara mencoba beranjak pergi agar tidak ketahuan, ujung piama satinnya menyenggol sebuah pot bunga porselen kecil di atas meja nakas.Prang!Suara pecahan itu menggema di lorong yang sunyi."Siapa?!" suara Adrian menggelegar dari dala
Last Updated: 2026-03-30
Chapter: Tentang AdrianAroma steak yang dimasak sempurna dengan siraman saus kental, kentang panggang, dan potongan wortel segar kini tersaji di atas meja marmer. Namun, selera makan Clara seolah menguap, tertutup oleh rasa penasaran yang membuncah."Silakan dinikmati, Nyonya," ucap Bi Fatma dengan nada bicara yang sangat santun.Clara, yang sejak tadi duduk termenung memperhatikan setiap gerak-gerik Bi Fatma, akhirnya mengangkat suara. "Bi... di mana Adrian?"Bi Fatma menggeleng pelan sambil merapikan letak sendok dan garpu. "Mungkin sedang mengurus sesuatu di ruang kerja atau di balkon, Nyah. Pak Adrian kalau sedang banyak pikiran biasanya tidak ingin diganggu."Saat Bi Fatma hendak berbalik menuju dapur, Clara dengan cepat menahan pergelangan tangan wanita paruh baya itu. Ada kilat keseriusan di mata Clara yang membuat Bi Fatma tertegun."Bi Fatma sudah bekerja di sini berapa tahun?" tanya Clara pelan.Bi Fatma sempat menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan tidak ada orang lain—terutama Adrian—yang men
Last Updated: 2026-03-30
Chapter: Clara terlukaSuasana di dalam kamar utama itu mendadak terasa begitu sempit dan panas. Uap air dari kamar mandi masih menyelimuti kulit Clara, namun pelukan Adrian yang tiba-tiba dari belakang terasa jauh lebih membakar. Aroma sabun maskulin yang segar bercampur dengan wangi maskulin khas menyerbu indra penciuman Clara."Tolong, jangan benci saya seperti dunia membenci saya," bisik Adrian. Suaranya rendah, parau, dan menyimpan getaran kerapuhan yang belum pernah Clara dengar sebelumnya. Clara seketika tersentak, tubuhnya kaku di balik balutan handuk putih yang tipis. "A-apa maksud Bapak?"Adrian tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru membalikkan tubuh Clara dengan gerakan yang menuntut namun tidak kasar. Tatapan mereka bertemu. Mata Adrian yang biasanya sedingin es, kini terlihat berkabut, seolah ada badai yang sedang ia tahan di dalamnya."Sudah saya bilang, panggil nama atau sayang," koreksi Adrian tegas, wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari wajah Clara."Tapi kan panggilan sayang han
Last Updated: 2026-03-29
Chapter: Fitting gaun pengantinSuasana di dalam butik kelas atas itu terasa begitu kontras dengan ketegangan yang menyelimuti Clara. Aroma parfum mewah dan jajaran gaun sutra yang berkilauan seharusnya membuat wanita mana pun merasa seperti putri, namun hati Clara justru terasa berat.Adrian tidak lagi memegang pinggangnya. Pria itu bahkan tidak mengantarnya sampai ke dalam pintu butik. Sikapnya kembali membeku, jauh lebih dingin daripada saat mereka pertama kali bertemu."Sekretaris saya sudah menyiapkannya. Jika kamu tidak suka, tukar saja yang baru," ucap Adrian pendek sebelum membuang muka. Clara hanya bisa mengangguk pelan dan melangkah masuk ke dalam butik Anjani Exclusive. Di sana, sang pemilik butik, Bu Anjani, sudah menyambutnya dengan senyuman yang sangat ramah."Halo, Ibu Clara," sapa Bu Anjani sopan. "Sekretaris Pak Adrian sudah menyiapkan pakaian mahal untuk Anda. Mari, kita fitting gaun pengantin ini. Ini adalah koleksi paling mewah yang pernah kami buat."Clara tersenyum tipis, mencoba tetap profesi
Last Updated: 2026-03-29
Chapter: Fakta atau kebetulan?Suasana panas di ruangan itu seketika mendingin saat ketukan di pintu terdengar. Clara terperanjat, napasnya masih terengah-engah dengan wajah yang memerah padam. Ia segera mendorong bahu Adrian—kali ini dengan kekuatan penuh karena rasa malu yang luar biasa. "A-Adrian... Cepat pakai kemejamu," bisik Clara gugup. Tangannya yang gemetar berusaha mengancingkan kembali kemeja atasnya yang sudah terbuka berkat ulah Adrian tadi. Adrian mendengus kesal, rahangnya mengeras karena interupsi yang tidak tepat waktu itu. Namun, ia adalah profesional sejati. Pria itu bangkit dari atas tubuh Clara, menyugar rambutnya yang sedikit berantakan, lalu menatap tajam ke arah pintu seolah ingin menembus kayu jati itu dengan matanya. "Siapkan meeting dalam lima menit. Semua harus sudah siap, saya akan ke sana," perintah Adrian dengan suara bariton yang berat pria itu sedikit gugup,namun,sama sekali tidak menunjukkan bahwa sedetik lalu ia baru saja kehilangan kendali atas dirinya sendiri. "Baik, Pak,
Last Updated: 2026-03-28
Chapter: Tamu tak di undangBegitu pintu kaca besar ruangan kerja Adrian terbuka, udara dingin dari air conditioner langsung menyambut mereka. Namun, suasana di dalam ternyata tidak kosong. Seorang staf bernama Bobby sudah berdiri tegak dengan wajah sedikit tegang. "Maaf, Pak Adrian. Bu Maya mencari Anda sejak tadi, dan saya memintanya menunggu Anda di ruangan ini," lapor Bobby dengan sopan. Adrian hanya mengangguk singkat. Tangannya masih menggandeng erat lengan Clara, menuntunnya menuju area sofa ruang tunggu yang mewah. Di sana, seorang wanita paruh baya dengan pakaian formal yang sangat kaku sudah duduk menanti. "Selamat pagi, Pak Adrian," sapa Bu Maya. Senyum profesional yang tadi menghiasi bibirnya mendadak lenyap seketika saat matanya menangkap sosok Clara yang berdiri anggun di samping Adrian. "Selamat pagi juga, Bu Maya," sahut Adrian dingin sambil mendudukkan dirinya di sofa utama, lalu menoleh pada Bobby. "Apa kontrak perusahaan kita ada masalah? Bukankah kerja sama sudah terjalin dengan baik?"
Last Updated: 2026-03-27