Share

Resepsi

Author: Senja
last update publish date: 2026-04-14 21:59:48

Aula dengan aura elegan. Lampu kristal yang menggantung di langit-langit gedung memancarkan cahaya keemasan, memantul pada deretan gelas kristal dan dekorasi bunga lily yang memenuhi setiap sudut ruangan. Alunan musik klasik dari kelompok orkestra menambah kesan prestisius pada malam yang sakral ini.

Adrian dan Clara melangkah perlahan menuju tengah lantai dansa untuk melakukan First Dance mereka sebagai suami istri. Adrian melingkarkan tangannya dengan posesif di pinggang ramping Clara, sement
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Istri Kontrak Sang Miliarder    Clara hamil dan kecurigaan Adrian

    Suara langkah kaki Adrian menggema di sepanjang koridor mansion.Napasnya masih memburu setelah bergegas pulang dari kantor.Begitu tiba di depan kamar, ia langsung melihat dokter keluarga, beberapa pelayan, dan Victoria berdiri di luar dengan wajah yang sulit diartikan."Dokter."Suara Adrian terdengar tegang."Ada apa dengan Clara?"Dokter itu menoleh lalu mengangguk hormat."Tuan Adrian, kondisi Nyonya Clara sudah mulai stabil."Adrian mengembuskan napas lega."Syukurlah.""Namun..." Dokter berhenti sejenak."Ada kabar yang perlu saya sampaikan."Adrian mengernyit."Apa itu?"Dokter tersenyum tipis."Selamat, Tuan.""Nyonya Clara kemungkinan besar sedang hamil."Deg!Adrian membeku.Matanya membelalak."H-hamil?"Dokter mengangguk pelan."Hasil pemeriksaan awal mengarah ke sana. Besok kami perlu melakukan pemeriksaan lanjutan untuk memastikan usia kehamilan dan kondisi janinnya."Namun Adrian seolah tidak lagi mendengar penjelasan dokter.Pikirannya mendadak kosong.Hamil...?Anak

  • Istri Kontrak Sang Miliarder    Kabar mengejutkan

    Ruang makan keluarga pagi itu terasa jauh lebih sunyi dibanding biasanya.Sudah satu minggu berlalu sejak insiden yang mengubah segalanya.Satu minggu penuh Adrian mencoba memperbaiki keadaan.Mengirim bunga.Membelikan makanan favoritnya.Bahkan pulang lebih awal hanya untuk makan malam bersama.Namun hasilnya tetap sama.Clara tidak lagi mengusirnya.Tidak lagi menangis saat melihatnya.Tetapi juga tidak memberinya kesempatan untuk mendekat.Sikap wanita itu sopan.Terlalu sopan.Dan justru itu yang membuat Adrian semakin tersiksa.Karena Clara memperlakukannya seperti orang asing.Seperti rekan kerja.Bukan suami.Di ujung meja makan, Victoria menyaksikan semuanya dalam diam.Selama seminggu ini ia memang tidak membuat masalah.Tidak ada sindiran.Tidak ada jebakan.Tidak ada pertengkaran.Namun bukan berarti kebenciannya terhadap Clara berkurang.Justru semakin besar.Setiap kali melihat Adrian yang selalu memperhatikan Clara, dadanya dipenuhi rasa tidak suka.Menurutnya, semua in

  • Istri Kontrak Sang Miliarder    Kecewanya Adrian

    Adrian membeku.Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tidak tahu harus berkata apa. Semua penjelasan, semua permintaan maaf, terasa tidak berguna di hadapan tatapan Clara yang begitu asing.Wanita itu masih berada di hadapannya, namun terasa sangat jauh.Jauh lebih jauh dibandingkan saat mereka belum saling mengenal."Pak Adrian..."Panggilan itu kembali menghantamnya.Biasanya Clara memanggil namanya dengan lembut, kadang dengan nada kesal yang membuat Adrian diam-diam ingin mendengarnya lebih lama. Namun sekarang, dua kata sederhana itu terdengar seperti garis pemisah yang tidak bisa ia lewati.Adrian menelan ludah."Baik," ucapnya lirih.Clara tampak terkejut. Ia tidak menyangka Adrian akan menyerah semudah itu.Pria itu perlahan turun dari ranjang. Tatapannya jatuh pada bekas cambukan yang masih terlihat di lengan Clara.Dadanya kembali sesak.Ia adalah penyebab semua luka itu."Dokter akan datang sebentar lagi," katanya pelan. "Aku tidak akan masuk lagi tanpa izinmu."Clara ti

  • Istri Kontrak Sang Miliarder    Janji yang ternoda

    Cambuk kulit di tangan Adrian terlepas begitu saja, jatuh ke lantai marmer dengan suara berdebam yang memecah keheningan kamar. Pria yang biasanya berdiri angkuh penuh otoritas itu seketika luruh. Lututnya menghantam lantai, berlutut tepat di samping tempat tidur tempat Clara meringkuk ketakutan."Clara... demi Tuhan, maafkan saya... maafkan saya, Clara," suara Adrian bergetar hebat, air mata yang jarang sekali menetes kini mulai mengalir membasahi wajahnya yang tegang.Ia mencoba meraih ujung gaun Clara yang robek, namun Clara menyentak tubuhnya menjauh, semakin merapatkan diri ke sudut dinding. Tatapan mata Clara kosong, namun tersirat trauma yang sangat mendalam."Jangan mendekat... tolong, jangan pukul lagi..." rintih Clara dengan suara yang hampir habis. Setiap kata yang keluar dari bibir Clara seperti belati yang menghujam tepat di jantung Adrian."Tidak, Clara! Tidak akan pernah lagi! Aku monster, aku bodoh!" Adrian memukul kepalanya sendiri dengan keras, merutuki kebodohannya

  • Istri Kontrak Sang Miliarder    Tuduhan Untuk Clara

    Suasana aula yang tadinya dipenuhi kemewahan kini berubah menjadi mencekam dan dingin. Sirine ambulans yang meraung di luar gedung seolah menjadi latar belakang pengadilan dadakan di tengah aula. Adrian berdiri dengan napas memburu, tangannya menggenggam erat sebuah botol kaca kecil yang ditemukan di dalam tas tangan satin milik Clara."Clara... jelaskan padaku kenapa racun ini ada di tasmu?" desis Adrian. Matanya yang tadi menatap penuh gairah, kini hanya menyisakan kilatan kemarahan dan kekecewaan.Clara yang baru saja mencoba mencerna situasi mengerikan ini langsung tersentak kaget. Wajahnya yang cantik kini pucat pasi seputih gaun pengantinnya."A-apa?" tanya Clara dengan suara bergetar, ia benar-benar bingung dengan apa yang baru saja terjadi."JELASKAN INI!" bentak Adrian, suaranya menggelegar menghancurkan keheningan aula. Ia melangkah maju, memperpendek jarak hingga napasnya yang panas menerpa wajah Clara."Ibuku memang tidak menyukaimu, Clara! Dia mungkin jahat padamu, tapi k

  • Istri Kontrak Sang Miliarder    Victoria keracunan

    Suasana Pesta masih menyisakan keriuhan di aula utama, namun Adrian seolah tidak peduli lagi dengan para tamu pentingnya. Ia menarik tangan Clara dengan langkah lebar, membawa istrinya menuju sebuah ruangan privat yang tenang di bagian belakang gedung. Begitu pintu tertutup rapat, suasana sunyi seketika menyergap, hanya menyisakan deru napas mereka berdua.Adrian menyudutkan Clara ke dinding pintu, mengurung tubuh mungil wanita itu dengan kedua lengan kokohnya. Tatapannya yang gelap dan intens seolah ingin melahap Clara saat itu juga."Kamu luar biasa tadi," bisik Adrian, suaranya rendah dan serak, mengirimkan getaran aneh ke seluruh tubuh Clara. "Cara kamu membungkam wanita itu... benar-benar menunjukkan siapa Nyonya Wijaya yang sebenarnya."Tangan Adrian naik, menyelipkan anak rambut Clara ke belakang telinga, lalu jemarinya turun mengelus rahang istrinya dengan sangat posesif."Tapi sekarang," lanjut Adrian sambil mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka bersentuhan, "aku ingin m

  • Istri Kontrak Sang Miliarder    Malam pernikahan

    Langkah kaki Clara di atas karpet beludru merah itu terasa begitu ringan namun pasti. Setiap pasang mata di ruangan itu tertuju padanya, namun Clara hanya fokus pada satu titik,Adrian. Pria itu berdiri tegak di ujung altar, mengenakan setelan tuksedo hitam yang sangat pas, menatap Clara dengan tata

  • Istri Kontrak Sang Miliarder    Altar

    "Pernikahan ini tidak boleh terjadi! Adrian dengarkan Ibu! Dia bukan wanita baik, kamu harus menikah dengan orang yang setara dengan kita!" teriak Victoria histeris. Suasana di dalam gedung yang tadinya tenang dan khidmat seketika pecah menjadi kekacauan. Suara teriakan Victoria menggema, memantul

  • Istri Kontrak Sang Miliarder    Survei Gedung

    Langkah kaki Adrian yang tegas menggema di Anak tangga,meninggalkan suasana mencekam yang seolah membekukan udara di sekitarnya. Clara menyusul dari belakang sambil sibuk merapikan pakaiannya yang kusut. Hatinya bergejolak, di satu sisi ia merasa terlindungi oleh sikap Adrian yang begitu protektif,

  • Istri Kontrak Sang Miliarder    Sial di hari pertama

    "Keluar dari rumah ini! Sekarang!" Suara cempreng Bibi Sari menggelegar di ruang tamu yang sempit itu. koper tua itu dilempar kasar hingga mendarat tepat di depan kaki Clara Anindita. Pakaian-pakaian yang sudah memudar warnanya menyembul keluar dari resleting yang rusak. Clara menatap nanar ko

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status