author-banner
vivi
Author

Novels by vivi

Godaan Brondong Anak Magangku

Godaan Brondong Anak Magangku

"Nama?" "Arka. Arka Biru." "Kamu salah ruangan." "Saya tau, Bu. Tapi boleh saya duduk lima menit aja?" Satu kesalahan sistem. Keputusan sepihak. Dan Keira Victory Adiwangsa, direktur muda yang bahkan ditakuti ayahnya sendiri, tiba-tiba punya asisten pribadi baru, anak panti asuhan yang bahkan tak mampu membeli sepatu kerja yang layak.
Read
Chapter: BAB 8 — Latihan Pacaran
Jumat malam, pukul delapan kurang sepuluh, lantai lima puluh sudah hampir kosong. Hanya lampu ruanganku dan lampu meja asisten di luar yang masih menyala. "Arka. Masuk. Tutup pintunya." Dia berdiri di ambang pintu sambil memeluk dua bungkus nasi goreng yang jelas baru dibeli dari gerobak di bawah, uapnya masih mengepul di balik plastik. "Maaf, Nona. Saya belum makan dari siang, jadi saya beli dua. Satu buat Nona, kalau mau." "Saya tidak makan nasi goreng gerobak." "Siap. Berarti dua-duanya buat saya." "Taruh di meja." Dia menaruhnya. Aku mengambil satu bungkus tanpa melihatnya dan menyimpannya di laci, jauh lebih cepat dari yang seharusnya untuk seseorang yang tidak makan nasi goreng gerobak. "Rapat evaluasi," kataku. "Tidak lama." "Jam delapan malam?" "Jam rapat paling efisien. Tidak ada yang mengganggu." Dia duduk di kursi seberang mejaku dengan punggung lurus. Aku menarik napas. "Minggu malam, jam tujuh, di rumah ayah saya. Selain ayah saya dan Bu Minah, ada s
Last Updated: 2026-10-07
Chapter: BAB 7 — Dikenalkan
Dia masih berdiri mematung, mulutnya setengah terbuka seperti mau protes tapi tidak tahu harus mulai dari mana. Teh di cangkirku yang tadi dia minum masih tersisa setengah, dan entah kenapa aku tidak ingin menyingkirkannya. "Nona serius?" "Saya tidak pernah bercanda soal keputusan penting." Aku menyandarkan punggung ke kursi, mencoba terdengar setenang mungkin meski jantungku sendiri berdetak lebih cepat dari biasanya. "Kemarin kita kefoto di butik. Ayah saya lihat." "Terus?" "Terus ayah saya nyuruh saya bawa pasangan saya pulang. Secepatnya. Subuh tadi saya telepon balik dan menawar waktunya jadi Minggu malam, bukan malam ini." Dia menatapku lama, mencerna kalimat demi kalimat, lalu matanya melebar seperti baru menyambungkan semua titik yang belum sempat dia pikirkan. "Jadi saya 'kekasih' Nona... gitu aja?" "Lebih rumit dari itu." Aku memilih kata-kataku hati-hati. Aku belum siap menjelaskan soal Wirawan, soal pertunangan yang sedang disusun diam-diam di balik p
Last Updated: 2026-10-07
Chapter: BAB 6 — Kekasih Saya
Dia tidak langsung menjawab. Cangkir di tangannya berhenti di udara, lalu perlahan diletakkan ke meja, sangat pelan, seolah cangkir itu bisa pecah kalau dia bernapas terlalu keras. "Nona... Nona bicara soal apa?" "Kebakaran di panti asuhan. Enam tahun lalu." Aku menatapnya lurus, tidak berniat melunakkan kalimatku. "Katanya kamu saksi kunci. Tapi ada juga yang bilang kamu pelakunya." Wajahnya berubah. Bukan marah, bukan panik, sesuatu yang lebih berat dari keduanya, seperti beban lama yang baru saja diangkat kembali dari tempat yang sudah lama dia kubur. Untuk sepersekian detik, aku bertanya-tanya, untuk pertama kalinya dalam hidupku, apakah aku terlalu frontal. Tapi dia tersenyum kecil, senyum yang tidak sampai ke matanya. "Saya bukan sedih karena Nona curiga. Jadi jangan ngerasa bersalah." Dia menarik napas. "Api itu tiba-tiba muncul, Nona. Dan ngerenggut nyawa orang yang ngurus saya sejak bayi." Dia menatap jendela, bukan aku, saat melanjutkan. Jari-jarinya meremas lip
Last Updated: 2026-10-07
Chapter: BAB 5 — Kriminal
Sarah datang pagi-pagi sekali, sebelum jadwal Arka tiba, wajahnya serius dengan map tipis di tangan.Aku sudah ada di kantor sejak pukul enam. Tidurku semalam terdiri dari empat jam setengah, dengan satu mimpi buruk tentang ayahku mengirim fotoku ke semua grup WhatsApp keluarga besar.Aku sudah membaca ulang laporan kuartal tiga kali dan tidak ingat satu angka pun."Nona, saya nemu sesuatu." Sarah menutup pintu rapat-rapat sebelum melanjutkan, bahkan memutar kuncinya. "Arka Biru. Nggak ada orang tua, dari bayi di Panti Kasih Bunda."Sampai sejauh itu, bukan hal yang mengejutkan. Aku sudah menduganya dari jawaban dia kemarin. Tapi Sarah belum selesai."Enam tahun lalu, panti itu kebakaran. Satu pengasuh meninggal." Dia menurunkan suaranya lebih lagi. "Dan, Nona... sepertinya Arka yang dituduh jadi penyebabnya." Aku diam, mencerna kalimat itu lebih lama dari biasanya."Dituduh siapa?""Sebagian warga sekitar. Tidak ada putusan pengadilan, kasusnya menggantung begitu saja. Tapi di klip
Last Updated: 2026-10-07
Chapter: BAB 4 — Selera Kamu
Aku menatap kupon itu, lalu menatapnya."Maksudnya pijat pundak, Nona!" Dia buru-buru menjelaskan, tangannya terangkat seperti menyerah pada polisi. "Saya nggak mungkin kasih Nona barang macem-macem, tapi dari tadi saya liat pundak Nona kayak... tegang banget. Naik gitu, deket telinga. Jadi saya kepikiran itu aja yang bisa saya kasih.""Saya tidak tegang.""Nona nahan napas tiga kali di butik.""Itu karena kamu menahan napas lebih dulu."Dia membuka mulut, menutupnya, lalu menunduk menatap sepatunya yang kini lebih bagus dari pagi tadi. Aku menerima kertas itu, melipatnya, menyimpannya di laci tanpa komentar banyak.Tidak akan kupakai, pikirku. Aku punya langganan pijat sendiri, orang yang sudah menangani pundakku selama tiga tahun dengan teknik yang jauh lebih profesional daripada janji di atas kertas HVS.Tapi aku menyimpannya juga, bukan membuangnya. Aku tidak sempat memikirkan kenapa.Dalam lima tahun terakhir, aku sudah menerima jam tangan, tas, dan wine berusia empat puluh tahu
Last Updated: 2026-10-07
Chapter: BAB 3 — Kupon Pijat
"NO—Nona!" Arka mundur satu langkah lagi, tangannya refleks melindungi kancing kemejanya sendiri. "Saya, saya belum pernah—maksud saya, di kantor—belum pernah—" Aku nyaris tertawa melihat wajahnya yang merah sampai ke telinga. Nyaris. Yang keluar hanya senyum kecil yang kutahan setengah mati. Dia menatapku, matanya penuh kepanikan campur sesuatu yang mirip pasrah, lalu, entah dapat keberanian dari mana, tangannya bergerak ke kancing teratas. "Nona," katanya, suaranya bergetar tapi mencoba terdengar tenang, "ajarin saya, ya?" "HAHAHA..." Aku tidak bisa menahan tawa kali ini. Keluar begitu saja, pendek tapi jujur, suara yang bahkan asing di telingaku sendiri. "Maksud saya," kataku, berusaha mengatur napas, "saya mau lihat ukuran baju kamu. Asisten pribadi direktur itu cerminan saya sebagai direktur. Kamu harus pakai yang pantas." Wajahnya, yang tadinya sudah merah, sekarang terlihat seperti mau meledak. "Saya kira Nona..." Dia tidak melanjutkan kalimatnya, memilih menunduk dalam
Last Updated: 2026-10-07
You May Also Like
Aku Menyerah Menjadi Istrimu, Mas!
Aku Menyerah Menjadi Istrimu, Mas!
Romansa · Aura_Aziiz16
307.0K views
Terjebak Gairah Si Bos Mesum
Terjebak Gairah Si Bos Mesum
Romansa · SweetWater
306.9K views
Jerat Gairah Paman Kekasihku
Jerat Gairah Paman Kekasihku
Romansa · Creative Words
306.6K views
Malam Tanpa Noda
Malam Tanpa Noda
Romansa · Nannys0903
305.2K views
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status