Chapter: 6. Dimana Hatimu, Mah?Dadanya terasa makin terhimpit sesak. Dia merasa telah mengkhianati dirinya sendiri. Kotor, hina, dan tidak pantas lagi disebut manusia terhormat. Dia baru saja menjual kebebasannya demi uang, mengubur dalam-dalam tawaran Landy untuk hidup normal. Elsa merasa hampir gila dengan keputusan di luar nalar ini. Malamnya, Elsa kembali ke rumah. Dia turun dari mobil dengan langkah gontai dan tubuh yang teramat lelah. Perasaannya hancur, harapannya resmi sirna. Bram menepati janji dengan mengirimkan uang satu milyar itu langsung ke rekening ibunya. Elsa setidaknya merasa beruntung karena malam ini Bram harus pergi ke luar kota karena urusan mendadak. Jika tidak, dia mungkin sudah berada di dalam neraka jahanam itu sekarang. "Kamu sudah pulang?" Suara Landy tiba-tiba memecah lamunannya. Pria itu berdiri di depan pagar rumah dengan pakaian kerja yang masih lengkap, menandakan dia mungkin sudah menunggu sejak petang. Seketika hati Elsa mencelos miris. Rasa bersalah yang teramat besar la
Last Updated: 2026-07-07
Chapter: 5. Kita Butuh Satu Milyar, Elsa!"Hiks! Kamu lebih baik bunuh aku daripada seperti ini! Kenapa kamu enggak berhenti bikin masalah, Mas? Kenapa?!" Ibu meringkuk di atas lantai dengan kertas-kertas yang bertebaran di sekitarnya. Riasan di wajah paruh bayanya hancur total tersapu air mata. Di depannya, Ayah memegangi dahi dengan raut frustrasi dan penuh rasa bersalah. Elsa melangkah mendekat dengan dada berdebar kencang. Drama atau malapetaka apa lagi yang harus dia saksikan kali ini? "Elsa, kamu tahu? Papahmu ini sudah kalah judi! Dia punya utang besar yang harus kita bayar dalam waktu dekat! Dari mana kita bisa dapat uang sebesar itu, Pah?!" Ibu memekik nyaring, suaranya parau karena tangis yang pecah. Ayah tertunduk lesu tanpa berani menatap putrinya. "Ma-maafin Papah, Mah. Papah benar-benar enggak tahu kalau akan kalah sebanyak itu." "Hiks… Sudah gila kamu, Mas! Di mana kita bisa dapat uang satu miliar dalam satu hari?!" Ibu terisak, m
Last Updated: 2026-07-07
Chapter: 4. Secercah harapan di Tengah Badai.Ibu menarik rambut panjang Elsa dengan kasar, membuat wanita itu meringis kesakitan. "Ah!" Elsa berusaha memegangi tangan ibunya demi mengurangi rasa sakit di kulit kepala, sementara air mata kembali membanjiri wajahnya yang memanas. "Mamah enggak pernah merasa cukup sama semua yang Elsa kasih... Elsa enggak akan lupa sama semua kebaikan Mamah, jasa-jasa Mamah karena sudah membesarkan Elsa sampai detik ini, hiks..." Elsa tercekat, suaranya patah oleh isak tangis. "Tapi enggak gini caranya, Mah." Ibu melepaskan cengkeramannya dengan sentakan kasar. Dia menegakkan tubuh, lalu menyilangkan tangan di depan dada dengan angkuh, seolah kekerasan yang baru saja dia lakukan adalah hal yang wajar. "Transfer uang yang Mamah minta, berhenti menangis, dan jangan banyak ngeluh." Elsa terpekur dengan lelehan air mata yang membasahi wajah. Semua pengorbanan yang dia lakukan selama delapan tahun ini ternyata tidak ada artinya. Tidak ter
Last Updated: 2026-07-07
Chapter: 3. Siksaan dari Ibu."Maksud kamu?" Dua kata dari ibu yang membuat jantung Elsa terasa melompat keluar. Dia hampir merasa gila karena berani melawan. Namun, rasa sakit dan lelah atas keadaan ini membuat adrenalinnya terpacu untuk keluar dari tekanan. "Elsa ingin berhenti kerja, Mah. Elsa capek! Elsa akan kasih apapun yang Mamah mau, Mamah boleh ambil apa aja. Asal Elsa bisa berhenti dari pekerjaan itu. Elsa udah nggak kuat, Mah," Dia berujar lirih, penuh permohonan. Kalimat sama yang selalu terucap dari bibirnya yang masih terlihat memar. Ibu berkacak pinggang dengan gigi bergemeletuk menahan kesal. "Memang kamu punya apa? Apa yang bisa Mama ambil dari kamu? Uang kamu? Berapa banyak uang yang kamu punya? Cukup nggak buat menghidupi keluarga kita setahun kedepan?" Tanya ibu, suaranya terdengar dingin. Sarat akan kemarahan yang tertahan. Lagi-lagi Wanita itu mengabaikan keadaan putrinya sendiri yang jelas-jelas terluka.
Last Updated: 2026-07-07
Chapter: 2. Orang-orang Yang Membawa Luka.Malam yang panjang itu akhirnya berlalu, Elsa mendatangi Meri Mucikari paruh baya, Bos Elsa di club dengan pakaian seadaanya. Tidak ada riasan mewah atau pakaian sexy mencolok yang biasa dia kenakan. Wanita itu mengenakan celana jeans juga sweater berhoodie untuk menutupi kepalanya. "Mami, aku mohon. Jauhkan aku dari Bram, aku udah nggak kuat." Ujar wanita itu dengan suara lirih penuh permohonan, kepalanya masih tertutup Hoodie abu sementara setengah rambutnya yang panjang menjuntai keluar. Meri sedang duduk di sofa di ruang pribadinya di club. Wanita paruh baya itu menatap Elsa sembari memutar bola matanya malas. "Mami udah kasih kamu izin tiga hari untuk istirahat. Kok kamu udah ngebet banget balik ke sini, sih?" Sahut wanita itu sembari mengabsen buku jarinya yang merah. Elsa menggeleng frustasi. "Aku udah bilang, aku nggak mau layani Bram lagi Mam. Aku
Last Updated: 2026-07-07
Chapter: 1. Keinginan Hati Yang di Tolak Ibu.Plak! Suara tamparan itu terdengar nyaring, meninggalkan bekas kemerahan yang terasa perih. "Kamu itu harus ingat! Kamu lahir dari perut Mamahmu, membalas budi segitu aja kamu ngeluh. Pake bilang mau berhenti segala. Elsa, kamu kira nyari duit itu mudah? Kamu harusnya bersyukur masih dapat penghasilan besar dari pekerjaan itu." Elsa memegangi pipinya yang terasa berdenyut. Rasa sakit fisik itu tidak seberapa dibanding remukan di hatinya. Delapan tahun menjalani profesi sebagai Ladies Companion, selama itu pula dia menjadi tulang punggung yang memenuhi seluruh kebutuhan orang tua dan adiknya. Wanita dua puluh delapan tahun itu menggigit bibir sekuat tenaga, menahan sesak yang membakar dada. Ingin sekali dia menumpahkan seluruh keluh kesah, namun baginya, tidak ada tempat yang aman untuk menampung kesedihan itu. "Elsa cuma ingin pindah kerja aja, Mah. Elsa akan tetap ngasih Mamah uang. Elsa janji," bela wa
Last Updated: 2026-07-07