ログインElsa sudah delapan tahun diperas menjadi LC dan tulang punggung keluarga, tetapi ibunya melarang keras dia berhenti. Di tengah rasa muak itu, sang ayah justru kalah judi satu miliar rupiah hingga menyeret Elsa ke dalam jeratan Bram—pria kaya raya dengan fetish seksual sadis yang suka mencambuk dan memasung tubuhnya. Demi menyelamatkan rumah dari lintah darat, Elsa terpaksa pasrah menjadi budak nafsu demi menghidupi keluarga yang tidak tahu diri. "Jangan bertingkah seolah kamu paling menderita, Elsa! Bram memenuhi semua permintaan Mamah, dia bahkan berniat menikahi kamu."
もっと見るPlak!
Suara tamparan itu terdengar nyaring, meninggalkan bekas kemerahan yang terasa perih. "Kamu itu harus ingat! Kamu lahir dari perut Mamahmu, membalas budi segitu aja kamu ngeluh. Pake bilang mau berhenti segala. Elsa, kamu kira nyari duit itu mudah? Kamu harusnya bersyukur masih dapat penghasilan besar dari pekerjaan itu." Elsa memegangi pipinya yang terasa berdenyut. Rasa sakit fisik itu tidak seberapa dibanding remukan di hatinya. Delapan tahun menjalani profesi sebagai Ladies Companion, selama itu pula dia menjadi tulang punggung yang memenuhi seluruh kebutuhan orang tua dan adiknya. Wanita dua puluh delapan tahun itu menggigit bibir sekuat tenaga, menahan sesak yang membakar dada. Ingin sekali dia menumpahkan seluruh keluh kesah, namun baginya, tidak ada tempat yang aman untuk menampung kesedihan itu. "Elsa cuma ingin pindah kerja aja, Mah. Elsa akan tetap ngasih Mamah uang. Elsa janji," bela wanita itu dengan mata penuh permohonan. Kelelahan yang amat sangat—atau lebih tepatnya rasa muak—terpancar jelas di sana. "Kamu pikir, ada pekerjaan yang bisa gaji kamu sebanyak itu dalam waktu singkat? Cicilan apartemen, perawatan Mamah, kuliah adek kamu? Papa juga butuh mobil baru karena yang lama sudah ketinggalan zaman. Di mana kamu bisa dapat uang untuk semua itu, Elsa?!" Diana, ibu dari Elsa memekik nyaring, suaranya bagai racun yang mengikis seluruh rasa percaya diri wanita itu. Dia lelah. Ingin rasanya berlari menjauh, kembali pada dunia normal dan hidup sebagai wanita bebas. Namun, tuntutan tidak masuk akal yang dibebankan sang ibu seolah menghipnotis dan mengurung pikirannya. "Elsa akan cari pekerjaan lain, Mah. Elsa cuma butuh keluar dari dunia itu, Elsa udah enggak kuat..." ujarnya lirih, nyaris merintih sarat kesakitan. Plak! Tamparan kedua yang lebih keras runtuh, membuat air mata yang sejak tadi tertahan akhirnya jatuh membasahi pipinya yang kian memerah. Elsa terisak pasrah. Suaranya tenggelam oleh rasa sakit yang membuncah, memaksa dirinya untuk kembali berpura-pura kuat. "Pekerjaan layak mana yang mau menerima wanita kayak kamu? Hah? Elsa, kita butuh uang untuk bertahan hidup!" bentak ibunya lagi dengan kemarahan yang memuncak. Elsa bungkam. Ucapan itu telak menghantam harga dirinya. Mungkin benar kata ibunya, tidak ada tempat di dunia normal bagi wanita dengan sayap patah sepertinya. Seorang janda yang bekerja sebagai LC—sebuah label kelam yang tak pernah diinginkan wanita mana pun. Dia memilih mundur, melangkah terseok ke kamar. Setelah pintu ditutup rapat, tubuhnya merosot di atas lantai marmer yang dingin. Elsa memeluk kedua lututnya, menangis dalam diam demi menyembunyikan kerapuhannya dari dunia yang kejam. Uang dan kemewahan yang selama ini dikirimnya ke rumah ternyata tidak pernah membawa ketenangan. Elsa hanya ingin bersimpuh, berdoa, dan memohon ampun. Namun, setiap kali ingin berbalik arah, tuntutan orang tuanya selalu memaksa Elsa kembali berkhianat pada dirinya sendiri dan Tuhan. "Ya Allah, izinkan aku melangkah. Izinkan hambamu yang penuh dosa ini berubah. Yang Maha Kuat, Maha Bijaksana, berilah kekuatan, berilah jalan terbaik," bisik Elsa lirih sembari meremas dadanya yang kian sesak. Walau merasa tak pantas, jauh di lubuk hati, dia tahu Tuhan adalah satu-satunya tempat ia bersandar. Namun pada akhirnya, Elsa kembali kalah oleh kenyataan. Air mata dan doanya malam itu menguap begitu saja, tenggelam oleh rentetan beban yang didiktekan sang ibu. Mau tidak mau, sayapnya yang patah harus dipaksa mengepak lagi. Malam berikutnya, di depan cermin ruang rias yang benderang, Elsa memulas bedak lebih tebal demi menutupi bekas tamparan yang masih menyisakan linu. Begitu kakinya melangkah keluar menuju aula, dunianya langsung berubah seratus delapan puluh derajat. Dia sudah berada di tempat kerja yang kini mulai terasa asing baginya. Lampu strobo warna-warni yang berputar membuat kepalanya pening. Asap rokok mengepul, berbaur dengan bau alkohol yang menyengat dari setiap tubuh yang menari di bawah temaram lampu. Di tengah dentuman house music yang memekakkan telinga, semua terasa hampa bagi Elsa. Tidak ada lagi euforia atau rasa antusias, bahkan saat tamu memberinya tips besar. Hanya ada kekosongan yang makin dalam. Seperti malam-malam biasanya, hari Elsa selalu diakhiri dengan sebuah dosa yang membuatnya merasa malu bahkan pada dirinya sendiri. Namun malam ini berbeda. Ini adalah malam penyiksaan bagi Elsa, dimulai dari kedatangan seorang pria empat puluh tahunan bernama Bram yang punya fetish mengerikan. Ketakutan Elsa menjadi nyata. Udara di dalam kamar hotel yang dingin terasa mencekik lehernya, seolah menjadi akhir dari dunianya. Penyiksaan berkedok pelampiasan nafsu ini terasa begitu jahanam. Elsa menahan isakan yang keluar dari belahan bibirnya yang mulai memar. Matanya ditutup kain hitam rapat-rapat. Kedua tangan diikat ke atas kepala, sementara kakinya dipasung di sisi ranjang. Meski pakaian tidurnya masih utuh, pecutan dari cambuk kecil di tangan Bram membuat sekujur tubuhnya menjerit kesakitan. Dia merasa ternodai dan kehilangan seluruh harga diri. "Hiks!" Sebuah isakan akhirnya lolos karena rasa sesak yang tak lagi tertampung. Dulu, Elsa pernah mengadukan kegilaan ini pada Tante Meri. Namun, mucikari paruh baya itu selalu abai. Jumlah uang fantastis yang digelontorkan Bram selalu sukses membungkam rasa kemanusiaan mereka. Elsa tahu, malam ini dia benar-benar sendirian. Dan rintihan sekecil apa pun justru akan membuat pria di hadapannya semakin beringas. "Bagus! Gitu dong, masa manusia enggak ada suaranya. Kamu bukan boneka, sayang! Kamu wanita cantik yang aku bayar mahal untuk melakukan semua ini," ujar Bram dengan seringai puas. Suara tangis Elsa justru menjadi bahan bakar yang memuaskan dahaga liarnya. Bersamaan dengan tawa meledak pria itu, suara desing udara kembali terdengar. Ctar! Cambuk kecil di tangan Bram kembali menghantam lekuk tubuh Elsa dengan kejam, kali ini jauh lebih keras hingga memercikkan rasa perih yang membakar. Di balik kegelapan kain hitam yang menutup matanya, kesadaran Elsa mulai menipis, dan dia hanya bisa berharap malam ini tidak menjadi malam terakhir bagi nyawanya.Dadanya terasa makin terhimpit sesak. Dia merasa telah mengkhianati dirinya sendiri. Kotor, hina, dan tidak pantas lagi disebut manusia terhormat. Dia baru saja menjual kebebasannya demi uang, mengubur dalam-dalam tawaran Landy untuk hidup normal. Elsa merasa hampir gila dengan keputusan di luar nalar ini. Malamnya, Elsa kembali ke rumah. Dia turun dari mobil dengan langkah gontai dan tubuh yang teramat lelah. Perasaannya hancur, harapannya resmi sirna. Bram menepati janji dengan mengirimkan uang satu milyar itu langsung ke rekening ibunya. Elsa setidaknya merasa beruntung karena malam ini Bram harus pergi ke luar kota karena urusan mendadak. Jika tidak, dia mungkin sudah berada di dalam neraka jahanam itu sekarang. "Kamu sudah pulang?" Suara Landy tiba-tiba memecah lamunannya. Pria itu berdiri di depan pagar rumah dengan pakaian kerja yang masih lengkap, menandakan dia mungkin sudah menunggu sejak petang. Seketika hati Elsa mencelos miris. Rasa bersalah yang teramat besar la
"Hiks! Kamu lebih baik bunuh aku daripada seperti ini! Kenapa kamu enggak berhenti bikin masalah, Mas? Kenapa?!" Ibu meringkuk di atas lantai dengan kertas-kertas yang bertebaran di sekitarnya. Riasan di wajah paruh bayanya hancur total tersapu air mata. Di depannya, Ayah memegangi dahi dengan raut frustrasi dan penuh rasa bersalah. Elsa melangkah mendekat dengan dada berdebar kencang. Drama atau malapetaka apa lagi yang harus dia saksikan kali ini? "Elsa, kamu tahu? Papahmu ini sudah kalah judi! Dia punya utang besar yang harus kita bayar dalam waktu dekat! Dari mana kita bisa dapat uang sebesar itu, Pah?!" Ibu memekik nyaring, suaranya parau karena tangis yang pecah. Ayah tertunduk lesu tanpa berani menatap putrinya. "Ma-maafin Papah, Mah. Papah benar-benar enggak tahu kalau akan kalah sebanyak itu." "Hiks… Sudah gila kamu, Mas! Di mana kita bisa dapat uang satu miliar dalam satu hari?!" Ibu terisak, m
Ibu menarik rambut panjang Elsa dengan kasar, membuat wanita itu meringis kesakitan. "Ah!" Elsa berusaha memegangi tangan ibunya demi mengurangi rasa sakit di kulit kepala, sementara air mata kembali membanjiri wajahnya yang memanas. "Mamah enggak pernah merasa cukup sama semua yang Elsa kasih... Elsa enggak akan lupa sama semua kebaikan Mamah, jasa-jasa Mamah karena sudah membesarkan Elsa sampai detik ini, hiks..." Elsa tercekat, suaranya patah oleh isak tangis. "Tapi enggak gini caranya, Mah." Ibu melepaskan cengkeramannya dengan sentakan kasar. Dia menegakkan tubuh, lalu menyilangkan tangan di depan dada dengan angkuh, seolah kekerasan yang baru saja dia lakukan adalah hal yang wajar. "Transfer uang yang Mamah minta, berhenti menangis, dan jangan banyak ngeluh." Elsa terpekur dengan lelehan air mata yang membasahi wajah. Semua pengorbanan yang dia lakukan selama delapan tahun ini ternyata tidak ada artinya. Tidak ter
"Maksud kamu?" Dua kata dari ibu yang membuat jantung Elsa terasa melompat keluar. Dia hampir merasa gila karena berani melawan. Namun, rasa sakit dan lelah atas keadaan ini membuat adrenalinnya terpacu untuk keluar dari tekanan. "Elsa ingin berhenti kerja, Mah. Elsa capek! Elsa akan kasih apapun yang Mamah mau, Mamah boleh ambil apa aja. Asal Elsa bisa berhenti dari pekerjaan itu. Elsa udah nggak kuat, Mah," Dia berujar lirih, penuh permohonan. Kalimat sama yang selalu terucap dari bibirnya yang masih terlihat memar. Ibu berkacak pinggang dengan gigi bergemeletuk menahan kesal. "Memang kamu punya apa? Apa yang bisa Mama ambil dari kamu? Uang kamu? Berapa banyak uang yang kamu punya? Cukup nggak buat menghidupi keluarga kita setahun kedepan?" Tanya ibu, suaranya terdengar dingin. Sarat akan kemarahan yang tertahan. Lagi-lagi Wanita itu mengabaikan keadaan putrinya sendiri yang jelas-jelas terluka.






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.