Chapter: Bab 101 Liam MorettiDi tempat yang jauh dari hiruk-pikuk apartemen Rose, atmosfer dingin menyergap sebuah ruangan semi-gelap berbau mesiu dan rokok.Victor baru saja menurunkan ponsel dari telinganya. Begitu sambungan terputus, sisa kehangatan sebagai seorang kakak menguap tanpa bekas. Matanya kembali menajam, sedingin es, menatap lurus ke arah beberapa anak buahnya yang berdiri tegap.“Sudah bisa melacak keberadaan bosnya?” tanya Victor. Suaranya berat, menuntut kepatuhan mutlak.“Informasinya ini, Komandan,” sahut salah satu anak buahnya, maju selangkah lalu menyodorkan map berisi berkas data diri hasil sadapan intelijen.Victor menyambar map tersebut. Matanya menelisik cepat, membaca setiap baris informasi rahasia yang tertera di sana.“Lian Moretti. Umurnya masih muda, tiga puluh dua tahun, tapi sudah bisa memimpin geng mafia sebesar ini,” gumam Victor pelan.Dia terdiam sesaat, menatap tajam dokumen di tangannya. Jarinya mengetuk-ngetuk permukaan meja kayu dengan ritme konstan yang mengintimidasi. S
Last Updated: 2026-06-21
Chapter: Bab 100 Testpack“P-paham, Kak,” sahut Rose cepat, buru-buru menguasai suaranya agar tidak terdengar gugup.“Bagus. Oh, tadi kamu mau bicara apa?” tanya Victor, mengingat adiknya ini tidak mungkin menghubunginya hanya untuk menanyakan urusan remeh.“Em, itu… nanti saja, Kak. Aku lupa masih belum kirim dokumen ke papa. Sudah dulu.”Rose langsung mematikan telepon. Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan debaran di dadanya yang belum sepenuhnya normal akibat peringatan sang kakak. Namun, sisa ketegangan itu mendadak buyar dalam sekejap.Brak!Pintu utama apartemen dibuka kasar dari luar.Julian berdiri di ambang pintu dengan napas memburu dan pelipis basah keringat. Tampangnya kusut masai seperti habis lolos dari kejaran massa, tapi tangan kanannya dengan bangga mengangkat sebuah kantong plastik putih jumbo yang nyaris robek karena keberatan muatan.“Nyonya… saya sudah beli lima puluh biji dari sepuluh merek!” seru Julian sambil melangkah masuk, mengangkat kantong plastik itu tinggi-tinggi.R
Last Updated: 2026-06-21
Chapter: Bab 99 PeringatanRose langsung menyambar bantal sofa terdekat dan melayangkannya dengan emosi jiwa. “JULIAN! PERGI SEKARANG!”“Eh, iya, Nyonya! Kabur!”Julian terbahak, buru-buru membuka pintu dan melesat keluar sebelum bantal itu sukses mendarat di wajah tampannya. Sambil melangkah lebar menuju parkiran, batinnya kembali bergejolak membayangkan rencana gila mereka ke depan.“Gila ... kalau sampai beneran garis dua, nasib Pak Daniel gimana ya?” batin Julian menyeringai puas di dalam lift.Tapi sungguh, Julian sebenarnya penasaran setengah mati. Sebagai pria lajang yang belum berpengalaman menikah, tentu saja pengetahuannya tentang alat pengecekan kehamilan seperti test pack benar-benar nol besar.Sambil menyetir mencari apotek terdekat, dia memutuskan menghubungi salah satu kenalannya, Om Doni — seorang pria paruh baya yang rekornya sudah punya sepuluh anak. Tidak mungkin juga dia bertanya pada Morgan yang nasibnya sama-sama bujang lapuk dan buta soal ginian.“Om, lagi sibuk?” tanya Julian begitu tel
Last Updated: 2026-06-20
Chapter: Bab 98 Hamil Satu Kompi“Loh … loh, Nyonya kenapa? Mual? Mau muntah?” tanya Julian, panik melihat wajah Rose yang mendadak berubah pucat pasi.Rose cuma geleng-geleng tak mampu menjawab. Sedetik kemudian, wanita itu langsung loncat turun dari konter dan lari tunggang-langgang ke toilet, lalu langsung memuntahkan isi perutnya dengan heboh.Julian termenung sejenak, menatap nanar ke arah pintu toilet yang tertutup rapat.“Kenapa tuh Nyonya? Kok mendadak muntah?" gumamnya bingung.Julian refleks mengangkat telapak tangan ke depan mulut, lalu mengembuskan napas kuat-kuat untuk mengetes baunya.“Nggak bau, kok. Perasaan tadi sebelum main gua udah gosok gigi dua kali pakai odol mint,” batinnya heran.Masih penasaran, Julian menunduk, gantian mengendus ketiak kanan dan kirinya. Wangi badannya juga ternyata masih aman.“Napas aman, badan wangi segar. Terus kenapa dia mual pas mau kucium? Sialan, masa pesona ku sudah luntur?”Julian menggaruk kepalanya yang tidak gatal, merasa agak tengsin sendiri. Karena suara Rose
Last Updated: 2026-06-20
Chapter: Bab 97 Mual masuk angin, atau ?Rose mendengus, tetapi rona merah di pipinya tidak bisa berbohong. Ia melangkah mendekat sambil merebut botol air dari tangan Julian, lalu meneguknya sedikit sebelum bersandar manja di tepian konter dapur.“Kamu emang pinter banget ngeles. Bilang aja sengaja nungguin aku keluar biar bisa modus lagi, kan?” sindir Rose manis. Matanya mengerling manja menatap Julian dari balik bulu matanya yang basah.Julian tertawa pelan. Ia memangkas jarak, merebut kembali botol mineral tersebut dan menaruhnya asal keatas konter, tanpa melepaskan pandangan dari manik mata Rose yang mulai meredup sayu.“Tapi kayaknya, saya nggak butuh adem-adem yang begini deh,” bisik Julian rendah.Sebelum Rose sempat membalas, tangan kekar Julian sudah menyusup ke pinggang wanita itu, menyentak tubuhnya yang masih hangat sehabis mandi hingga menempel intim pada dada bidangnya. Julian merunduk, menenggelamkan wajahnya untuk mengecup dalam-dalam ceruk leher Rose yang masih lembap oleh sisa air mandi.Sensasi hangat dar
Last Updated: 2026-06-19
Chapter: Bab 96 Membasmi TikusSementara itu, di markas Morgan, suasana masih terasa canggung dan agak pengap setelah audio live dari bos mereka mendadak terputus senyap.Morgan berdehem keras, mencoba memungut kembali harga diri dan wibawanya yang sempat tercecer akibat ikut mendengarkan desahan tadi. Ia menggebrak meja dengan wajah sok garang, membuat peta gudang tempat Regan disekap sedikit bergeser.“Sudah! Otak kalian jangan mesum terus! Kuping dikondisikan!” gertak Morgan, menatap anak buahnya satu per satu dengan pandangan melotot.“Bos Julian punya caranya sendiri mengatasi stres, dan itu bukan urusan kita. Fokus ke sini!”Pria kekar yang tadi sempat refleks menyilangkan tangan ke bawah langsung menegakkan tubuh. Wajah sangarnya mendadak kelihatan konyol karena daun telinganya masih merah.“Siap, Bos! Tapi asli, Bos Julian kalau urusan stamina emang gak ada obat. Jadi ... gimana soal gudang tempat Regan?”Morgan menunjuk satu titik merah di peta, mencoba mengalihkan isu agar obrolan mereka tidak makin melan
Last Updated: 2026-06-19