Chapter: Bab 11 Mau Lagi, Om?Sepanjang jalan, Dina tidak bisa diam. Tubuhnya terus menggeliat gelisah, sesekali melirik tonjolan di selangkangan Burhan sambil menggigit bibir bawahnya. Gadis itu sudah kepalang basah, tak sabar ingin merasakan rasanya ditiduri pria kota yang tampan dan gagah.Tapi mobil yang dikemudikan Burhan justru berhenti di persimpangan jalan tak jauh dari rumah Dina.“Loh, Om ... kok berhenti di sini sih?” sungut Dina heran, bibirnya langsung maju mengerucut manja. “Katanya tadi mau ngajak Dina main di kasur empuk kamar Om? Kok malah belok ke arah rumah Dina?”“Om baru ingat, sore ini ada janji mendadak sama orang kecamatan buat urusan tanah kebun teh. Main di kasurnya besok-besok aja, ya?” sahut Burhan, sambil mengusap kepala Dina dengan telapak tangannya.Mendengar Burhan lagi-lagi menghindar, wajah Dina makin kusut. Gadis itu menatap Burhan curiga, matanya mulai berkaca-kaca menahan kecewa.“Om bohong, ya? Om cuma menghindar, kan?” cicit Dina lirih, suaranya bergetar sedih.Ulu hati Burha
Last Updated: 2026-09-22
Chapter: Bab 10 Mau Lagi, Om?“Dina?” ulang Burhan, alis tebalnya bertaut tajam menatap pria tua di hadapannya.“Iya, Den. Raden kenal sama Neng Dina? Tapi kayaknya, saya baru tahu wajah Raden di desa ini?” tanya Pak Kardi penasaran.“Kemarin gadis itu yang nunjukin arah rumah Pak Budi ke saya pas mobil saya nyasar di jalan kebun,” jawab Burhan datar, menjaga intonasi suaranya tetap tenang.Mendengar nama pemilik lahan perkebunan teh disebut, mata Pak Kardi sontak membulat paham.“Oalah ... Raden ini yang dari kota itu ya? Orang yang diutus Pak Budi buat ngurus jual beli kebun teh?”Burhan hanya manggut-manggut saja, sengaja tidak menjelaskan kalau dirinya ini cucu kandung Kakek Budi. Selain tidak penting untuk diumbar, Burhan juga malas kalau orang-orang desa mendadak jadi segan dan menjaga jarak dengannya. Dia cuma ingin membaur dengan tenang selama berada di desa ini.“Iya, Pak,” sahut Burhan singkat, lalu langsung memotong sebelum obrolan melebar ke mana-mana. “Jadi kenapa sama Dina tadi, Pak? Kenapa Bapak sa
Last Updated: 2026-09-21
Chapter: Bab 9 Mau Lagi, Om?Guncangan di bodi belakang Jeep seketika menyentak Burhan ke alam nyata. Keringat dingin langsung membasahi pelipisnya.“Sialan, ada yang nabrak!” desis Burhan panik, berniat menarik daster Dina untuk menutupi tubuh gadis itu.Namun Dina justru bertindak di luar dugaan. Bukannya merapikan pakaian, jemari lentiknya malah dengan cepat meloloskan tali daster dan bra dari kedua lengannya. Kain tipis itu meluncur jatuh ke lantai kabin, memamerkan tubuh bagian atasnya yang kini benar-benar telanjang bulat tanpa sehelai benang pun.“Dina! Jangan gila, ya?!” semprot Burhan tertahan.Krosok ... krosok ...Suara langkah kaki yang menyeret sandal di atas kerikil terdengar mendekat ke arah pintu kemudi.Mata Burhan membelalak. Tanpa berpikir panjang, tangan kekarnya langsung mendorong tubuh mungil Dina ke bawah, ke celah sempit di bawah dasbor dan kolong kemudi. Burhan sendiri langsung melompat naik ke jok supir, buru-buru menaikkan resleting celananya yang sempat melorot dan mengatur napasnya y
Last Updated: 2026-09-20
Chapter: Bab 8 Mau Lagi, Om?Dina menatap lekat mata Burhan, menunggu jawaban dengan bibir basah merekah dan napas yang memburu.Ditatap sedekat itu, kepala Burhan secara sadar menggeleng-geleng pelan mencoba menolak. Nuraninya berteriak keras menyuruhnya menarik tangan. Tapi tangannya justru berkhianat. Kesepuluh jemarinya malah bergerak aktif meremas gundukan padat yang membal kenyal di balik kain daster Dina.Dina yang melihat mulut Burhan sok menolak tapi tangannya justru makin getol meremas dadanya malah tertawa kecil.“Tuh kan... Om geleng-geleng, tapi tangan Om doyan banget remas punya Dina,” goda Dina lirih, matanya berbinar nakal saat merasakan remasan kuat itu.“Ssstt! Kecilkan suaramu... nanti ada yang denger dari luar. Kalau kita ketahuan gimana?” bisik Burhan parau dengan napas terengah-engah.“Biarin aja ketahuan! Justru kalau ketahuan sama orang desa, aku bisa nikah sama Om, nggak jadi dijodohin. Dina maunya sama Om aja!” sahut Dina enteng tanpa rasa takut sedikit pun.Breeemmm! Bremmm!Suara knalp
Last Updated: 2026-09-19
Chapter: Bab 7 Mau Lagi, Om?REV BAB 7“Pasti burungnya Om Burhan bangun gara-gara Dina jilatin ya? Kayaknya burung Om juga gede. Mau Dina jilat juga ngak, Om?”Mata Burhan melotot lebar. Jakunnya naik-turun menahan napas yang mendadak tercekat di tenggorokan.Dipancing dengan posisi duduk mengangkang di atas pangkuan dan tawaran sefrontal itu di siang bolong, pria normal mana yang darah lelakinya tidak mendidih hebat? Si Joni di balik celana levisnya sontak berkedut liar, menegang keras menekan kain tebal yang kini terasa sangat sempit dan menyiksa.Belum sempat Burhan merespon sikap Dina, jemari lentik Dina sudah meluncur turun. Telapak tangan mungil itu mendarat mulus di selangkangan Burhan, meraba gundukan padat yang menonjol kokoh, lalu mulai mengelus dan meremasnya perlahan naik-turun. “Ya ampun Om, burung Om beneran gede. Padahal masih di celana gini, tapi udah kerasa gagah banget,” celetuk Dina takjub, matanya mengerjap polos melihat ke bawah sana. “Ini kalau masuk gimana rasanya ya, Om? Pasti bakal pen
Last Updated: 2026-09-18
Chapter: Bab 6 Mau Lagi, Om?“Yaudah kalau Om gak mau dibayar pake cara yang aneh-aneh ... Dina bayar pake cara lain.”Burhan yang tangannya masih memegang setir langsung mengernyitkan dahi. Matanya menyipit tajam menatap gadis di sampingnya.“Cara lain apaan?” tanya Burhan curiga, nada suaranya terdengar menyelidik. “Jangan bikin Om mikir macam-macam, ya. Cepat jawab!”“Ih, Om Burhan kepo banget! Pokoknya nanti Dina tunggu pas Om pulang. Dina punya sesuatu yang enak buat Om!”“Sesuatu yang enak apaan? Dina—”Belum sempat Burhan menuntaskan kalimatnya, Dina sudah membuka pintu, melompat turun dengan lincah, lalu menyambar keranjang bambunya di bak belakang. Dari tepi jalan pasar, Dina sempat melambaikan tangannya sambil tersenyum lebar tanpa dosa sebelum akhirnya menghilang di antara kerumunan pedagang.Burhan mematung di balik kemudi. Napasnya terbuang kasar lewat hidung.“Sesuatu yang enak? Sialan, anak itu beneran bikin pusing,” gumam Burhan sambil memijat pelipisnya.Mengingat waktu sudah menunjukkan jam buk
Last Updated: 2026-09-17
Dihina Berandalan, Istri Bos Malah Ketagihan!
21+ --- Menjadi pengganti ranjang istri bosku selama awal pernikahan, siapa yang menolak?
Demi tidak dipecat karena masa laluku sebagai narapidana terbongkar, Bos tempatku bekerja menawariku untuk memuaskan istrinya, Nyonya Rose.
Sebagai karyawan, tentu aku harus patuh.
Apalagi, istri bosku sangat cantik, tapi tidak pernah mendapat kepuasan batin selama pacaran hingga menikah.
Namun yang tidak aku duga, ternyata istri bosku tahu itu adalah akal-akalan suaminya dan malah memintaku melanjutkan tugas yang harusnya hanya semalam saja.
"Suamiku yang memintamu, kan? Tetaplah di sini karena aku memilihmu, bukan dia!"
Read
Chapter: Bab 129 Dicuekin NyonyaRose sempat melirik Julian sekilas sebelum beralih ke Marta. “Boleh, terima kasih ya, Marta. Kayaknya memang masuk angin. Perutku memang agak mual.”Marta buru-buru membuatkan teh jahe andalannya di dapur. Sementara Julian di belakang sempat garuk-garuk kepala, merasa sedikit aneh dengan majikannya.“Kok rasanya akhir-akhir ini Nyonya sering mual? Apa beneran hamil? Ah, nggak mungkin. Kemarin kan udah dicek hasilnya negatif,” batin Julian heran, menerka-nerka sendiri.Tak lama kemudian, suara derap langkah sepatu yang tegas terdengar bergaung memantul dari arah tangga tengah.Daniel berjalan keluar dari sana dengan setelan kemeja yang sudah rapi dan wangi parfum mahal yang menyengat hidung. Pria itu langsung melangkah menghampiri istrinya saat mendengar percakapan sebelumnya.“Sayang, kamu kenapa? Sakit?” Daniel menempelkan punggung tangannya ke dahi Rose sekilas. “Masuk angin atau ... mau datang bulan?”Meski aslinya acuh tak acuh, Daniel termasuk hafal dengan kebiasaan istrinya. Ter
Last Updated: 2026-07-22
Chapter: Bab 128 Pucat dan mual“Nyonya Rose, Mas! Nyonya Rose!” Vanya berbisik gemas, tangannya meremas lengan kursi plastik. “Di atas balkon belakang tadi … nyonya lagi asik main tumbuk-tumbukan!”Uhuk!Julian kesedak kopi yang baru saja disruputnya itu sampai muncrat. Lidahnya langsung melepuh perih.“Attahhh!” desis Julian sambil menaruh cangkirnya ke atas meja. Vanya buru-buru mengambil tisu bekas alas pisang goreng untuk menyeka dagu Julian yang basah kena semburan kopi.“Duh, Mas Julian ini kebiasaan deh, kopi masih panas bukannya ditiup dulu asal sruput aja!” omel Vanya. “Tapi wajar juga kalau kaget, aku tadi di belakang juga sampai gak bisa napas lihat nyonya main tumbuk-tumbukannya panas banget.”Makin seret lagi tenggorokan Julian. Jelas Vanya sempat tahu apa yang mereka lakukan di atas sana tadi.“Tumbuk-tumbukan gimana, Mbak? Nyonya lagi numbuk jamu di atas?” tanya Julian sambil terkekeh pelan.Vanya langsung merengut gemas, tangannya mengibas-ngibas di udara heboh. “Ih, Mas Julian mah polosnya kebange
Last Updated: 2026-07-13
Chapter: Bab 127 Garis dua?Perut Rose melilit lagi, seperti diaduk-aduk dari dalam. Rasa panas yang membuat enek langsung menjalar naik ke dada.“Huk!”Rose buru-buru membekap mulutnya rapat-rapat. Dia mati-matian menahan cairan pahit yang mendesak ingin keluar dari tenggorokan.Julian yang baru selesai merapikan seragam satpamnya langsung menoleh. Sepasang mata tajamnya menyipit melihat wajah Rose pucat pasi dalam sekejap.“Kamu kenapa, Rose?” Julian melangkah mendekat, menatap penuh selidik.Rose menggeleng cepat. Dia menarik napas dalam-dalam, berusaha menormalkan debaran dadanya yang tidak karuan. “Enggak, aku nggak apa-apa. Mungkin ... agak masuk angin. Ini gara-gara kamu sih, mainnya malah di balkon terbuka gini.”Julian terkekeh pelan. Suara baritonnya terdengar santai tanpa beban. Tangan besarnya yang kasar bergerak maju, mengusap lembut helai rambut Rose yang sedikit basah oleh keringat. Tanpa aba-aba, kedua lengan kekarnya langsung menyusup ke bawah tubuh Rose, membopong wanita itu untuk dibawa masu
Last Updated: 2026-07-12
Chapter: Bab 126 Adonan PisangTak sabar bergosip dengan Julian di depan, Vanya langsung berbalik. Berjalan mengendap-endap dengan posisi paha yang sedikit rapat karena bagian selangkangannya masih terasa basah dan berkedut aneh. “Aduh, ini ngapain masih kedut-kedut sih! Padahal udah nggak sabar mau ngegosip, ah!” batin Vanya.Baru saja kakinya hendak berbelok menuju arah lorong untuk menyelinap keluar ke pos satpam, sepasang mata tajam sudah mengintainya dari ambang pintu dapur.“Van! Ngapain kamu jinjit-jinjit begitu kayak maling jemuran?!”Deg!Vanya tersentak kaget sampai hampir melompat. Dia langsung membalikkan badan dan mendapati ibunya, sudah berdiri berkacak pinggang menatapnya penuh selidik.“I-Ibu ... bikin kaget aja,” sahut Vanya sambil tersenyum kaku.“Kamu itu ya, buang sampah kok lama bener! Ditungguin dari tadi malah mondar-mandir gak jelas. Ngapain aja sih? Terus itu kamu mau ke mana? Dapur di kiri, kamu malah mau nyelonong ke arah depan!” semprot Marta beruntun dengan logatnya yang khas.Jantung
Last Updated: 2026-07-12
Chapter: Bab 125 Kedut enak“Siapa itu? Masa iya Pak Daniel? Tapi jam segini ngapain di atas goyang-goyang begitu? Gerakannya aneh lagi, kayak oplet mogok lagi diengkol. Penasaran deh, mending aku intip dikit kali ya … siapa tau malah lagi ritual pesugihan.”Dirundung rasa penasaran yang sudah di ubun-ubun, Vanya mencoba mendekat sambil menggenggam erat kresek sampahnya. Dia bergeser beberapa langkah lagi ke tengah halaman, menyusup di bawah bayangan rimbunnya daun pohon mangga agar posisinya aman tidak terlihat dari atas.Semakin dekat dia melangkah, suara dari arah balkon justru terdengar semakin absurd dan nyaring di telinganya. Bukan cuma gerakan aneh di atas sana, tapi juga suara ceplakan basah yang amat jelas.Celpak! Plak! Celpak! Plak!“Buset, senam malam macam apa sampai bunyi klepek-klepek begitu? Apa Pak Daniel lagi nepokin nyamuk pakai paha?” batin Vanya, mendadak merinding sendiri dengan imajinasinya.Begitu jaraknya makin dekat, jantung Vanya seketika berdegup kencang. Siluet di atas balkon itu mul
Last Updated: 2026-07-11
Chapter: Bab 124 Jangan Muncrat!“Ah, persetan. Nikmati saja yang di depan mata dulu. Barang bagus begini gak boleh kalau dianggurin, mubazir!” batin Julian.Sentuhan bibir Rose di ujung pusakanya benar-benar luar biasa, menghisap seluruh kewarasan Julian. Tapi karena tak mau muncrat duluan sebelum ronde dimulai, Julian mencengkeram lembut rambut Rose lalu menarik kepala wanita itu menjauh dari selangkangannya.Flop.Bunyi basah yang seksi itu terlepas ke udara. Rose seketika mendongak resah, menatap tidak rela dengan bibir yang sedikit terbuka karena permennya direbut secara paksa.“Kenapa dilepas?” protes Rose dengan suara parau yang sarat akan tuntutan.“Nanti muncrat duluan, Sayang. Kalau si Diky tumbang di awal, pemanasannya bisa lama lagi,” kilah Julian,Mata Rose langsung menyipit tajam. Dia tahu betul satpam pribadinya ini cuma beralasan untuk menggodanya.“Bohong! Kemarin saja kamu sanggup tiga ronde gak pakai jeda, nggak ada ceritanya si Diky loyo. Malah makin gagah dan keras, tuh!” tagih Rose, sama sekali
Last Updated: 2026-07-11