Jangan Berhenti Mencintaiku!
Faradilla Agatha punya segalanya, kecuali satu: Angga Prasetya. Dulu, Dilla membuang Angga karena status sosial yang tak setara. Kini, saat ia menyadari bahwa hanya ketulusan Angga yang ia cari, sebuah cincin emas di jari manis pria itu menghancurkan harapannya.
Angga bukan lagi pemuja yang mudah ditaklukkan. Ia membentengi hatinya dengan sebuah pertunangan sandiwara, lelah hanya dijadikan pelarian. Namun, kehilangan kemewahan dan diusir dari rumah justru membakar obsesi Dilla. Di sebuah rumah kecil pinggiran kota, sang mantan influencer ini bertekad merebut kembali miliknya.
Dilla tak peduli dicap egois atau menjadi orang ketiga. Baginya, Angga adalah dosa yang sengaja ia pilih. Sanggupkah Dilla meruntuhkan benteng Angga, atau justru ia yang hancur oleh sandiwara yang ia percayai?
読む
Chapter: Bab 7: Sandiwara Cinta yang Belum Usai“Halo semuanya,” ucapnya di depan layar ponsel yang menghadap ke wajahnya, suaranya stabil meskipun matanya sembab “Saya Faradilla Agatha, ingin mengklarifikasi mengenai foto yang beredar. Benar itu adalah saya sedang dalam keadaan mabuk, dan itu murni kesalahan saya karena tidak bisa mengontrol emosi di tengah tekanan pribadi. Namun di dalam foto itu bukan seperti yang dikabarkan oleh banyak orang, karena saat itu saya dalam keadaan mabuk, dan pria yang ada di dalam foto tersebut adalah teman lama saya yang berniat menolong saya agar saya sampai di rumah dengan selamat, kami tidak pernah memiliki hubungan spesial, selain pertemanan. Saya memohon maaf atas kebingungan dan kekacauan yang telah terjadi. Dan dengan ini juga saya mengumumkan bahwa saya akan mengambil waktu jeda dari media sosial, untuk beristirahat dan belajar menjadi pribadi yang bertanggungjawab.” Setelah menekan tombol post, Dilla merasa seolah sebuah rantai tak kasat mata baru saja terlepas. Ia menatap Angga denga
最終更新日: 2026-03-14
Chapter: Bab 6: Maafkan Aku, AnggaAngga memarkirkan mobil di bawah pohon trembesi yang menghadap langsung ke danau kota, pantulan cahaya lampu jalan di permukaan air menciptakan suasana tenang. Di kursi yang menghadap ke danau, Dilla duduk diam dengan air mata yang masih membasahi pipinya, ditemani hembusan angin malam yang dingin menusuk kulitnya.Angga menyusul Dilla masih dengan tetap menjaga jarak. Ia duduk di bangku seberang yang jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat wanita itu berada. Terdiam dalam keheningan yang menghanyutkan, Angga menyadari, bahwa ada jarak semakin lebar di antara mereka, bukan lagi karena status sosial yang, melainkan karena cincin yang melingkar di jari manisnya ini.“Kenapa kamu diam saja Ngga?” tanya Dilla tiba-tiba, suaranya parau. Ia menoleh ke arah Angga “kamu lihat sendiri kan, Papi menghinamu karena kita tidak setara. Tapi kenapa kamu ngak marah?”Angga menatap permukaan danau yang tenang, ia refleks memutar cincin yang ada di jari manisnya, cincin yang seharusnya menjadi benteng
最終更新日: 2026-03-14
Chapter: Bab 5: Melangkah di Atas Puing KehancuranPapi mengambil ponsel di saku celananya, Dilla sudah menebak jika ayahnya hendak menghubungi rekan bisnisnya untuk membicarakan perjodohan ini. Tetapi ia dan Angga hanya terdiam mematung seakan tak mampu menahan keputusan Papi.“Papi… mungkin bisa dipikir-pikir lagi, jangan ambil keputusan karena emosi Pi” Mami berusaha menenangkan Papi yang sudah terbawa emosi.“Lalu? Mama ingin Dilla kembali melakukan kecerobohan yang sama lagi?! Sudah cukup dia mempermalukan martabat keluarga kita dengan mabuk-mabukan. Kalau dia tidak bisa memilih pria yang benar, maka saatnya Papi yang harus turun tangan!” tegas PapiSuasana ruang tamu semakin memanas, Papi tidak mengindahkan omongan Mami, jempolnya bergerak cepat di atas layar ponsel, mencari kontak rekan bisnisnya.Di tengah panasnya suasana ruang tamu, Angga berdiri dan beranjak dari sofa “sepertinya sudah tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, karena Om sudah sepakat untuk mengurus semua ini sendiri. Kalau begitu saya izin pamit” Mami dan Pap
最終更新日: 2026-03-14
Chapter: Bab 4: Badai di Tengah KemegahanDilla melangkah masuk ke ruang tamu rumah orang tuanya dengan jantung yang bertalu hebat. Marmer dingin di bawah kakinya seolah memancarkan aura ketegangan yang merambat ke seluruh ruangan. Di sana, di atas sofa jati ukiran Jepara yang megah, Ayahnya duduk dengan punggung tegak dan wajah yang kaku seperti batu karang.Namun, yang membuat napas Dilla tercekat adalah sosok pria yang duduk di hadapan Ayahnya. Angga.Pria itu tampak tenang, meski Dilla tahu ada beban berat di pundak yang biasanya santai itu. Ia masih mengenakan kemeja yang sama dengan semalam, hanya saja kini tampak sedikit kusut."Pi, Mi... ini semua salah paham!" seru Dilla sebelum Ayahnya sempat membuka suara. Ia berjalan cepat, berdiri di antara Angga dan orang tuanya. "Angga cuma nolongin Dilla. Dia sahabat Dilla dari SMA, Papi tahu itu, kan? Nggak ada apa-apa di antara kami. Foto-foto itu cuma ulah netizen yang berlebihan!"Mami Dilla menghela napas panjang, matanya sembab. Beliau mengenal Angga sejak remaja. Angga
最終更新日: 2026-03-14
Chapter: Bab 3: Cinta di Balik RahasiaWajah Dilla hanya berjarak beberapa senti dari Angga. Aroma parfum mahal bercampur sisa alkohol tipis menguar di antara mereka, menciptakan ketegangan yang menyesakkan ruang sempit di dalam mobil itu. Namun, bukannya sambutan hangat yang ia harapkan, Angga justru memalingkan wajah dengan gerakan kaku. Ia mengangkat tangan kanannya—menunjukkan sebuah cincin emas yang berkilau dingin di bawah temaram lampu jalanan yang masuk melalui celah kaca mobil."Aku nggak bisa, Dill. Aku nggak bisa ninggalin dia," ucap Angga pelan namun tajam. Setiap kata seperti sembilu yang menyayat ego Dilla. "Maafkan aku."Dilla terpaku. Penolakan itu seperti tamparan fisik yang seketika mendinginkan darahnya. Untuk menutupi rasa malu yang membakar ulu hati dan rasa perih yang mengancam akan tumpah melalui air mata, Dilla mendadak meledak dalam tawa. Tawa yang terdengar sumbang, pecah, dan sangat dipaksakan."Hahaha! Ya ampun, Angga! Kamu pikir aku serius?" Dilla memukul pelan bahu Angga sambil terus tertawa n
最終更新日: 2026-03-14
Chapter: Bab 2: Siapa Sangka Dia Berubah?Malam itu, club eksklusif di kawasan Jakarta Selatan dipenuhi lampu neon yang berpendar liar. Dilla melangkah masuk dengan gaun silk berwarna zamrud yang memeluk tubuhnya sempurna. Wangi parfum mahalnya seolah menegaskan dominasi. Setiap mata tertuju padanya, namun mata Dilla hanya mencari satu titik.Ia segera menghampiri Maya, teman sebangkunya dulu yang menjadi otak di balik reuni ini."Dilla! Akhirnya Sang Ratu turun gunung!" seru Maya antusias, memeluknya singkat.Dilla tertawa kecil, meski telinganya tidak benar-benar mendengarkan ocehan Maya tentang siapa saja yang datang. Matanya beredar, menyisir setiap sudut ruangan yang remang-remang itu. Ia mencari sosok yang belakangan ini menghantui tidurnya. Pria yang dulu selalu ada di radius satu meter darinya, siap membawakan tas atau sekadar membelikan air mineral.Lalu, ia melihatnya.Angga berdiri di dekat meja panjang, sedang tertawa bersama beberapa teman cowok kelas mereka dulu. Angga terlihat jauh lebih matang; kemeja hitam ya
最終更新日: 2026-03-14