Fake Dating Dengan Bosku
Freya dan bosnya, Marcellino, sepakat untuk membalas dendam pada mantan kekasih masing-masing dengan berpura-pura berpacaran.
Namun rencana itu perlahan menjadi bumerang ketika perasaan palsu yang mereka mainkan mulai berubah menjadi nyata.
Selama dua tahun, Freya Larasati Ruiz bekerja sebagai sekretaris Marcellino Pradana, seorang miliarder sukses dan berpengaruh.
Bagi Marcellino, Freya tak lebih dari rekan kerja yang selalu tampil konservatif, dengan rambut dikepang rapi dan sikap profesional yang patuh pada setiap perintahnya.
Tetapi segalanya berubah ketika hati Freya hancur akibat cinta pertamanya, sementara Marcellino berjuang menahan diri untuk tidak terlibat kembali dengan Ivanka—mantan kekasihnya yang kini menjadi istri salah satu kliennya.
Dalam keputusasaan, mereka sepakat untuk saling membantu dengan berpura-pura menjalin hubungan. Toh, seberapa sulit sih berpura-pura jatuh cinta?
Read
Chapter: bab 43. sikap manis MarcellinoFreya merasa lega setelah menutup telepon.Ia masih teringat bagaimana sikap dingin Marcellino saat meninggalkan penthouse pada Sabtu pagi. Pria itu tidak menghubunginya sepanjang akhir pekan, seolah menjaga jarak. Hal itu sempat membuatnya berpikir bahwa Marcellino mulai kehilangan minat padanya, dan itu cukup mengganggu.Ia terus memikirkan pertengkaran mereka. Kata-kata yang saling menyakiti masih terngiang di kepalanya.Karena itu, panggilan tadi terasa seperti angin segar. Marcellino adalah orang terakhir yang ingin ia jadikan musuh.Akhir pekannya pun berjalan seperti biasa.Sabtu pagi ia mencuci dan menyetrika pakaian. Siang harinya dihabiskan dengan mengobrol lama bersama orang tuanya melalui telepon, lalu membaca cerita di Good Novel. Malamnya, ia menonton film di Netflix ditemani popcorn karamel atau keju cheddar.Hari Minggu ia pergi ke gereja, makan siang dengan porsi besar, berjalan-jalan di pusat perbelanjaan, membeli beberapa kaus, mencetak foto dari Instagram, dan berb
Last Updated: 2026-05-22
Chapter: bab 42. keinginan untuk berhubungan intimMarcellino merasa perlu menenangkan diri dan menata kembali pikirannya. Semua ini tidak berjalan sebagaimana mestinya. Baru dua minggu sejak kontrak itu ditandatangani, tetapi ia sudah merasa melanggarnya.Dengan jelas tertulis bahwa tidak boleh ada hubungan apa pun antara dirinya dan Freya. Namun kenyataannya, ia justru mulai memikirkan hal-hal yang seharusnya tidak ia pikirkan termasuk keinginan untuk berhubungan intim dengannya.Ia sadar, ia tetaplah seorang pria. Sulit baginya untuk tidak tertarik pada Freya, seorang wanita yang bukan hanya cantik, tetapi juga memiliki kepribadian yang hangat dan menyenangkan.Freya adalah salah satu orang paling baik dan penuh perhatian yang pernah ia temui.Marcellino menikmati setiap momen kebersamaan mereka. Freya membuatnya tertawa, membuatnya merenung tentang arti hidup, membuka sisi lembut dalam dirinya, dan yang paling mengganggu sekaligus menenangkan, Freya membuatnya bahagia. Bahkan hanya duduk di samping wanita itu tanpa melakukan apa p
Last Updated: 2026-05-20
Chapter: bab 41. mencari foto NaufalMata Freya terasa sangat berat saat bangun tidur. Ia memaksa matanya untuk terbuka sedikit dan menyesuaikan diri dengan sinar matahari. Kemudian ia menyadari ada sesuatu yang hilang yang membuatnya membuka mata lebih lebar.Bingkai foto besar di depan tempat tidurnya hilang! Di mana? Siapa yang mengambilnya?Ya Tuhan... siapa lagi kalau bukan Marcellino!Tidak, tidak... Ia tidak boleh kehilangannya. 'Kumohon, Tuhan.'Freya akhirnya keluar dari kamar dan berhenti ketika melihat pintu ruangan misteri itu, yang belum pernah dibuka sejak ia tiba di sini, sedikit terbuka. Cahaya matahari menyelinap dari dalam, menciptakan garis terang di lantai.Ia terkejut, bingung, dan jantungnya berdebar kencang. Siapa yang membuka pintu? Marcellino pulang tadi malam dan ia sendirian di rumah ini.Perlahan, Freya berjalan menuju ruangan itu, dan membuka pintu lebih lebar. Seketika ia terkejut saat memasuki ruangan itu. Ia pikir itu gudang. Ternyata itu ruangan yang sangat besar - kamar tidur utama!Frey
Last Updated: 2026-05-19
Chapter: bab 40. menahan diri dari godaan"Ya Tuhan, Lino... lebih keras... lebih keras. Ohhh aku suka itu, lebih cepat... ya Tuhan... jangan berhenti, jangan berhenti... ohhh ya... ya... ya!"Freya ambruk di sofa dengan ekspresi sangat puas. Matanya terpejam, tersenyum sambil bertanya. "Lino... Kenapa kamu begitu manis?"Manis? Alis Marcellino sedikit terangkat. Tidak ada yang pernah menyebutnya manis sebelumnya. Jika saja mereka tahu siapa dirinya sebenarnya, apa yang berkecamuk di dalam pikirannya, bagaimana cara ia memandang dunia, mereka tidak akan pernah menggunakan kata itu.Ia benar-benar sekeras batu.Erangan dan jeritan Freya membuat Marcellino mendambakan pelepasan. Tubuhnya memerah dan ia berkeringat deras.Marcellino menatap Freya lama, setiap detail wajah dan tubuh gadis itu, yang sedang meregangkan tubuh di sofa seperti anak kucing dengan piyama tipis berwarna peach itu. Sial! Ia sangat ingin melepaskan piyama itu darinya, saat itu juga.Marcellino seperti banteng di dalam arena yang menghadapi matador, bernapa
Last Updated: 2026-05-18
Chapter: bab 39. pijatan 7 jutaKegembiraan Freya lenyap seketika saat matanya menangkap sosok pria berambut hitam kecoklatan yang terasa begitu familiar di dekat kios popcorn. Di sampingnya berdiri seorang wanita dengan wajah yang tidak benar-benar ia kenali secara langsung, tetapi pernah ia lihat berkali-kali di Instagram, berdampingan dengan pria itu. Naufal.Pria itu berbalik, dan dalam satu momen yang terasa melambat, mata mereka bertemu.Keduanya terdiam, sama-sama terkejut.Rasa nyeri langsung menghantam dada Freya dengan tajam, tiba-tiba, dan begitu kuat hingga membuatnya nyaris kehilangan keseimbangan. Ini pertama kalinya ia melihat Naufal bersama wanita itu secara langsung. Foto-foto di Instagram saja sudah cukup menyakitkan, tetapi melihat mereka berdiri bersama di dunia nyata, rasanya jauh lebih menghancurkan.“Kamu suka rasa apa?”Suara Marcellino menariknya kembali. Freya menoleh, berusaha menjawab, tetapi tak satu kata pun keluar dari bibirnya. Ia ingin menangis. Ingin berteriak. Ingin melarikan diri
Last Updated: 2026-05-16
Chapter: bab 38. bertemu Naufal saat di bioskop“Tunggu, jangan bergerak,” kata Marcellino tiba-tiba. Ia mengambil serbet dan dengan lembut menyeka keju yang menempel di sudut bibir Freya. “Nah, sudah.”Percakapan mereka mengalir begitu saja tentang makanan, musik, film, hobi, hingga perjalanan.“Kalau kamu bisa pergi ke mana saja sekarang, kamu mau ke mana?” tanya Freya, matanya berbinar penasaran.Marcellino sempat terdiam. Ia sudah mengunjungi banyak tempat di dunia, hampir semua yang pernah ia impikan sejak mendapatkan kesuksesan pertamanya.“Saat ini? Aku tidak tahu,” jawabnya sambil mengangkat bahu. “Aku cukup senang di tempatku sekarang. Kamu?”Freya tersenyum, seolah membayangkan sesuatu yang indah. “Aku ingin sekali ke Maladewa. Berjemur di bawah matahari, minum koktail, dan melihat matahari terbenam.”“Kalau begitu aku akan ikut denganmu.”Freya tertawa, lalu tanpa sadar mengambil soda milik Marcellino dan menyesapnya.Hal kecil itu justru membuat Marcellino berpikir lebih jauh. Ia teringat pada kesepakatan bisnis yang se
Last Updated: 2026-05-15