Chapter: Kelahiran Malaikat MautAroma anyir darah tercium dari sudut-sudut aula utama yang kini telah berubah menjadi kuburan massal. Puluhan jasad prajurit istana yang melakukan bunuh diri massal terkapar tumpang tindih dengan sisa pasukan perbatasan yang gugur. Dalam waktu kurang dari satu hari, kemegahan Kerajaan Jayantara runtuh total, menyisakan keheningan yang mencekam dan pemandangan yang amat mengerikan.Putri Jayasari perlahan turun dari atas singgasana berdarah, melangkah gontai melewati genangan cairan merah yang membasahi lantai. Ujung gaunnya yang koyak terseret di atas lantai, sementara tangan kanannya masih menggenggam erat pedang yang telah merenggut nyawa ayahandanya. Langkah kakinya terhenti tepat di samping jasad Rangga Tirta yang kini telah terbujur kaku."Tunggu aku, Rangga... Dunia ini tidak lagi memiliki tempat bagi kita," bisik Putri Jayasari dengan suara lirih yang dipenuhi keputusasaan mendalam sembari menatap tubuh Rangga Tirta.Tanpa ragu sedikit pun, ia membalikkan arah hulu pedangnya da
Last Updated: 2026-07-14
Chapter: Amuk Badai DendamPutri Jayasari bergerak bagaikan hembusan angin malam yang mematikan, menebas leher dua prajurit pengawal yang mencoba mendekatinya hingga darah segar menyembur ke pilar batu. Tidak ada lagi kelembutan seorang putri di dalam dirinya, hanya ada seonggok raga yang digerakkan oleh kepedihan dan dendam mutlak.Tebasan demi tebasan ia layangkan tanpa ampun, merubuhkan setiap prajurit istana yang berani menghadang langkahnya menuju altar singgasana. Di sela-sela dentingan besi dan erangan sekarat korbannya, air mata terus mengalir membasahi pipinya yang tercoreng noda merah. Ia mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, menatap bilah baja itu dengan pandangan yang kosong sekaligus penuh luka."Lihatlah pedangku, Rangga Tirta..." bisik Putri Jayasari dengan suara parau yang menyayat hati di tengah riuhnya pertempuran. "Bukankah sekarang aku sudah mampu menyaingimu di medan perang?!" Air matanya menetes jatuh tepat di atas sabetan darah baru pada mata pedangnya, merefleksikan kepedihan mendalam ata
Last Updated: 2026-07-13
Chapter: Eksekusi Sang KesatriaSurya Brama mengepalkan kedua tangannya hingga bergetar menyaksikan sang jenderal diperlakukan layaknya seorang kriminal rendahan. Amarahnya meluap melampaui batas kesabaran, merobek seluruh rasa hormatnya pada institusi kerajaan. Dengan gerakan tegas, ia melangkah maju dan melepaskan seluruh atribut militernya ke tanah berbatu alun-alun."Aku tidak sudi mengabdi pada kerajaan yang memperlakukan pahlawannya seperti binatang!" seru Surya Brama, tatapannya menembus langsung ke arah sepasang mata Patih Wiranegara. "Ikat aku dan bawa aku bersama Jenderal Rangga Tirta, karena aku tidak akan membiarkan beliau berjalan sendirian!""Sangat heroik, Surya Brama. Ikat pria bodoh ini bersama jenderalnya!" balas Patih Wiranegara sembari melambaikan tangan dengan nada meremehkan.Kedua tangan Surya Brama pun segera diikat erat menggunakan tali tambang tebal oleh para prajurit istana. Bersama Jenderal Rangga Tirta, ia digiring melewati koridor-koridor megah menuju aula utama di bawah kawalan ketat p
Last Updated: 2026-07-12
Chapter: HadanganDua hari telah berlalu sejak Jenderal Rangga Tirta ditetapkan sebagai pengkhianat, dan situasi di Kerajaan Jayantara tampak kembali seperti biasa. Namun, keheningan itu mendadak pecah ketika dari kejauhan gerbang kota, kepulan debu tipis membubung ke udara. Tiga puluh lima orang prajurit mengendarai kuda dengan pakaian zirah yang hancur, dipimpin oleh Jenderal Rangga Tirta yang tubuhnya dipenuhi luka serta darah yang mengering.Rangga Tirta berhasil kembali dengan selamat, namun pasukan lainnya banyak yang telah gugur. Tepat ketika hampir sampai di gerbang istana, Jenderal Rangga Tirta turun dari kudanya diikuti oleh pasukan di belakangnya, lalu berjalan menuju pintu gerbang.Tepat ketika kaki mereka hendak menginjak ambang gerbang kota, beberapa tombak besar mendadak disilangkan di depan dada Rangga Tirta. Dua orang prajurit penjaga gerbang berdiri kokoh dengan tatapan dingin, sama sekali tidak menunjukkan rasa hormat kepada sang jenderal. Barisan pasukan di belakang Rangga Tirta sek
Last Updated: 2026-07-10
Chapter: FitnahMaharaja Jayawardhana masih duduk termenung di singgasananya, menatap kosong ke arah lantai batu. Guratan kesedihan yang mendalam tampak di wajahnya karena prajurit-prajurit terbaik yang dikirimkannya mungkin telah gugur.Kehadiran sang patih yang tiba-tiba membuat sang raja perlahan mengangkat kepalanya dengan raut wajah yang letih."Maharaja Jayawardhana, mohon ampun atas kelancangan hamba yang kembali secepat ini," ucap Patih Wiranegara sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Namun, hamba baru saja menerima sebuah laporan yang sangat mengejutkan mengenai kelakuan Jenderal Rangga Tirta di belakang Anda.""Laporan apa lagi yang kau bawa, Wiranegara?" tanya Maharaja Jayawardhana dengan nada suara berat yang dipenuhi rasa curiga. "Jangan membuatku semakin pusing dengan urusan yang tidak mendasar.""Ini mengenai kehormatan keluarga istana, Maharaja," jawab Patih Wiranegara. Ia sengaja menurunkan intonasi suaranya agar terdengar rahasia dan genting."Hamba mendapatkan bukti bahwa Jend
Last Updated: 2026-07-09
Chapter: Rencana CadanganPutri Jayasari berjalan tergesa-gesa menyusuri lorong istana. Langkahnya begitu cepat hingga prajurit yang baru saja menyampaikan laporan kepadanya harus berlari kecil untuk mengimbangi langkah sang putri. Wajah Jayasari memerah, sementara kedua tangannya mengepal erat, menahan amarah yang terus bergolak di dalam dadanya.Semakin dekat dengan aula utama, napas Putri Jayasari semakin memburu. Di dalam pikirannya saat ini hanyalah keselamatan Rangga Tirta yang kini bertarung di perbatasan tanpa bala bantuan.Pintu aula utama terbuka dengan keras. Putri Jayasari melangkah masuk tanpa memedulikan etiket kerajaan, membuat seluruh perhatian di dalam ruangan langsung tertuju kepadanya. Tatapannya segera mengunci Maharaja Jayawardhana yang duduk di atas singgasana, sementara Patih Wiranegara masih berdiri tidak jauh dari sang raja."Ayahanda, apa maksud dari semua keputusan ini?!" seru Putri Jayasari. Dadanya naik turun menahan emosi, sementara suaranya bergetar karena kemarahan yang sudah ti
Last Updated: 2026-07-06
Chapter: Chapter 99"Tu-tunggu." Raka terdengar gugup. "Tanggung jawab apa?"Tawa kecil terdengar dari belakangnya."Tadi kamu bilang nggak mau melakukannya karena masih menganggapku orang asing, kan?" ucap Maharani menggoda.Raka tetap berdiri membelakangi Maharani. Entah kenapa, jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya. Bahkan dalam beberapa situasi canggung bersama wanita lain sebelumnya, ia masih bisa mengendalikan dirinya dengan cukup baik."I-iya. Terus kenapa?" tanya Raka.Suara langkah kaki perlahan terdengar mendekat. Belum sempat Raka bereaksi, sepasang tangan tiba-tiba melingkar di perutnya. Maharani memeluknya dari belakang."Setelah apa yang barusan kamu lihat..." Maharani sengaja menggantung kalimatnya beberapa saat. "Masih pantas menganggapku orang asing?"Raka bisa merasakan kehangatan tubuh Maharani dari balik pakaiannya. Kedekatan itu membuatnya semakin sulit mempertahankan ketenangan."Maharani, lepaskan." Raka mencoba melepaskan kedua tangan Maharani dari perutnya.Namun, Maharan
Last Updated: 2026-09-22
Chapter: Chapter 98Raka membeku. Ia menatap Maharani selama beberapa detik, berusaha menebak apa sebenarnya yang sedang ada di dalam kepala wanita di hadapannya."Kenapa diam?" tanya Maharani ketika Raka tidak kunjung memberikan jawaban."Kamu... serius bilang begitu?" Bukannya menjawab, Raka justru balik bertanya."Kenapa nggak?" Maharani menjawab santai. "Kita punya kondisi yang sama, dan aku juga sudah lama nggak melakukannya."Raka mengembuskan napas panjang sambil mengusap wajahnya."Kamu benar-benar wanita yang sulit ditebak, ya." Raka menggeleng pelan. "Kamu masih mau dengar jawabanku?""Iya," jawab Maharani singkat."Karena kamu orangnya suka blak-blakan, aku juga bakal jawab langsung ke intinya." Raka menatapnya mantap. "Nggak. Aku nggak mau!"Maharani mengangkat sebelah alis."Kenapa?" Ia sengaja membusungkan dadanya. "Memangnya aku kurang menarik?"Raka tertawa singkat mendengar pertanyaan itu. Namun, beberapa detik kemudian ia kembali memperhatikan wanita di hadapannya dengan lebih serius."
Last Updated: 2026-09-22
Chapter: Chapter 97"Karena kalau dilanjutkan, aku yakin akhirnya cuma akan jadi penyesalan," jawab Raka. "Bukannya tadi kamu sendiri yang bicara soal profesionalisme?"Maharani masih menatap Raka dengan kesal. Namun, setelah mendengar pertanyaan itu, raut wajahnya perlahan melunak."Kamu benar juga." Maharani tertawa pahit. Tanpa diminta, ia kemudian bangkit dan duduk di sisi ranjang terapi."Kamu mau ke mana?" tanya Raka."Aku cuma mau duduk." Maharani tidak menatapnya. "Aku juga mau kamu duduk sekarang."Raka tidak membantah setelah melihat perubahan sikap Maharani. Ia menarik kursi lalu duduk berhadapan dengannya."Jadi bagaimana? Kamu udah percaya dengan alasanku?" tanya Raka. "Selain karena alasan tadi, aku juga udah berjanji kepada mendiang ayahku untuk merahasiakan kemampuan ini."Maharani menatap Raka. Senyum tipis muncul di wajahnya sembari menganggukkan kepala pelan, tetapi beberapa saat kemudian tatapannya kembali jatuh ke lantai."Ada apa, Maharani?" tanya Raka melihat sikap Maharani yang se
Last Updated: 2026-09-21
Chapter: Chapter 96"Oke, tunggu sebentar." Raka menuangkan minyak pijat secukupnya ke telapak tangannya, lalu menggosok kedua tangannya perlahan. "Kamu bisa tengkurap sekarang."Maharani menurut. Ia membalikkan tubuhnya dan mengambil posisi tengkurap yang nyaman dengan kedua tangan menopang dagu."Maaf, Maharani. Sebelum kita mulai, aku harus membuka resleting jubah terapinya," ujar Raka."Buka saja, nggak apa-apa." Maharani menjawab santai tanpa sedikit pun terlihat canggung. "Yang penting kamu bisa tetap profesional.""Sejauh ini aku masih bisa profesional," jawab Raka tenang.Raka meraih resleting di bagian belakang jubah terapi Maharani lalu membukanya perlahan. Semakin resleting itu turun, semakin terlihat kulit punggung Maharani yang mulus dan sangat terawat. Nyaris tidak terlihat noda sedikit pun pada kulitnya.Namun, Raka tidak membiarkan pandangannya berlama-lama. Ia kembali memusatkan perhatian pada terapi yang akan dilakukan."Aku mulai, ya?" ujar Raka memberi aba-aba."Hmmm," jawab Maharani
Last Updated: 2026-09-21
Chapter: Chapter 95Raka terdiam mendengar permintaan Maharani. Ia bahkan sempat melirik Kiera untuk memastikan dirinya tidak salah dengar.Kiera hanya mengangguk singkat, membenarkan apa yang baru saja didengarnya. Raka pun kembali menatap Maharani."Anda serius?" tanya Raka."Iya, aku serius." Maharani mengangguk. "Tapi bisa nggak kamu ubah gaya bicaramu itu? Aku nggak suka bicara terlalu formal."Raka menatap Maharani beberapa saat. Ia cukup kesulitan menebak karakter wanita di hadapannya. Sosoknya terlihat dingin dan tegas, tetapi justru tidak menyukai formalitas. Benar-benar perpaduan yang tidak biasa."Kenapa?" Maharani mengangkat sebelah alis ketika melihat Raka hanya diam. "Ada masalah?""Nggak kok," jawab Raka akhirnya. "Tapi sebelum itu, aku minta maaf. Kemampuan yang aku punya bukan untuk membuktikan sesuatu. Aku menggunakannya untuk membantu orang yang memang punya keluhan."Maharani sedikit mengernyit. Ia baru pertama kali bertemu dengan seseorang seperti Raka. Tidak ada sedikit pun kesombon
Last Updated: 2026-09-20
Chapter: Chapter 94Pintu kaca Panti Pijat Cakra Sehat terbuka. Ririn yang menyadari kedatangan dua wanita itu langsung mengenali salah satunya."Mas Raka, itu Kak Kiera datang," seru Ririn.Kiera masuk lebih dulu dengan senyum lebar. Di belakangnya berjalan seorang wanita yang belum pernah Raka lihat sebelumnya.Raka yang sedang berdiri di depan meja resepsionis segera menoleh ke arah pintu masuk. Tatapannya semula tertuju pada Kiera, sebelum akhirnya beralih kepada wanita yang berjalan di belakangnya.Wanita itu tampak dewasa dan anggun dengan setelan jas berwarna merah muda yang membalut tubuhnya. Sepasang anting kecil di telinganya sesekali berkilau terkena cahaya matahari sore yang menerobos dari balik pintu kaca.Tatapan wanita itu bertemu dengan Raka.Wajah cantiknya tidak memperlihatkan banyak ekspresi. Langkahnya teratur dan penuh ketenangan. Matanya sempat menyapu seluruh ruang tunggu sebelum kembali berhenti pada Raka.Raka segera mengalihkan perhatiannya kepada Kiera yang berjalan mendekat."
Last Updated: 2026-09-19