author-banner
Tinta_Jojon
Tinta_Jojon
Author

Nobela ni Tinta_Jojon

Semua Wanita Menginginkan Sentuhannya

Semua Wanita Menginginkan Sentuhannya

Setelah dikhianati dan ditinggalkan karena di anggap mandul, Raka menemukan sebuah kitab warisan misterius yang mengubah hidupnya. Kitab itu berisi teknik dan pengetahuan yang mampu menyembuhkan, membangkitkan gairah, dan menghadirkan kenikmatan yang tak mudah dilupakan.
Basahin
Chapter: Chapter 106
Maharani tidak langsung menjawab usulan Raka. Ia justru menoleh kepada Pak Fajar seolah sedang mempertimbangkan sesuatu sebelum mengambil keputusan."Bagaimana menurut Anda, Pak Fajar?" tanya Maharani. "Apakah ruangan kosong itu cukup untuk melakukan latihan?""Kalau cuma untuk latihan ringan sebenarnya ruangan itu cukup," jawab Pak Fajar. "Tapi kalau kita mau melakukan evaluasi dan latihan di sini selama beberapa hari, saya tetap butuh beberapa perlengkapan. Alat ukur rentang gerak, alat ukur kekuatan otot, resistance band, balance pad, step box, matras, dan beberapa alat latihan dasar lainnya."Mendengar penjelasan Pak Fajar, Raka mulai memahami bahwa usulannya mungkin tidak semudah yang dibayangkan."Oke, baiklah." Maharani mengangguk pelan."Kalau memang nggak memungkinkan dilakukan di tempat ini, nggak apa-apa," ujar Raka. "Aku nggak mau membuat semuanya jadi rumit.""Diam dulu, Raka." Maharani tiba-tiba mengeluarkan ponselnya.Raka mengernyit. "Kamu mau apa, Maharani?""Katanya
Huling Na-update: 2026-09-26
Chapter: Chapter 105
Keesokan paginya, setelah Pak Fajar melakukan evaluasi dan mendampingi latihan ringan Kiera di fasilitas klub, ketiganya datang ke Panti Pijat Cakra Sehat tidak lama setelah Raka membuka tempat tersebut."Raka..." Kiera berjalan pelan menghampiri Raka dengan ekspresi murung yang membuat Ririn, Anin, dan Rania langsung memperhatikannya."Apa yang terjadi, Kiera?" tanya Raka khawatir.Kiera tidak menjawab. Ia hanya menggelengkan kepala pelan.Raka langsung menatap Pak Fajar, tetapi pria itu tidak menunjukkan ekspresi apa pun. Sementara Maharani justru memalingkan wajah seolah tidak ingin ditanya."Apa yang sebenarnya terjadi?" Raka semakin penasaran. "Kenapa ekspresi kalian seperti itu?""Sabar dulu," sahut Maharani. "Lebih baik kita duduk dan membicarakannya.""Benar juga." Raka akhirnya mempersilakan ketiganya duduk. "Ayo, kita duduk dulu."Setelah semuanya duduk, Raka langsung menatap ketiga orang di hadapannya."Jadi bagaimana?" tanyanya tidak sabar. "Cepat jelaskan. Jangan bikin ak
Huling Na-update: 2026-09-26
Chapter: Chapter 104
Raka kembali menempelkan kedua tangannya pada tubuh Kiera. Kali ini, ia tidak mengalirkan energi Cakra Asmara sebanyak saat terapi pertama mereka dahulu. Raka justru mengalirkannya secara perlahan menuju Nadi Kehidupan Kesepuluh dan Nadi Kehidupan Kesebelas yang menjadi sasaran pertamanya.Perlahan, kedua jalur tersebut dihubungkan menuju Nadi Kehidupan Kedua Belas. Raka berusaha menyelaraskan keduanya agar jalur saraf dan aliran menuju kaki kanan Kiera dapat kembali bekerja dalam irama yang sama.Kiera memejamkan mata. Ia sempat khawatir akan kembali mendesah akibat efek terapi Raka seperti yang pernah dialami sebelumnya. Namun, ternyata kekhawatirannya tidak terbukti. Sensasi yang dirasakannya kali ini justru lebih menenangkan."Kenapa rasanya berbeda?" tanya Kiera pelan. "Sekarang rasanya nyaman.""Tentu saja." Raka tersenyum tipis. "Karena sekarang aku mengatur efeknya secara bertahap. Waktu itu aku lebih fokus membuat kakimu kembali membaik secepat mungkin."Kiera diam-diam meras
Huling Na-update: 2026-09-25
Chapter: Chapter 103
Di dalam ruang terapi, Kiera sudah berbaring di atas ranjang terapi. Maharani berdiri di sisi kiri ranjang, sementara Pak Fajar duduk di bangku yang telah disediakan."Sekarang aku akan mulai melakukan pemeriksaan," ujar Raka sambil mengoleskan minyak pijat ke kedua telapak tangannya."Kenapa diperiksa lagi? Kamu kan sudah tahu kondisiku," tanya Kiera."Itu kan sudah cukup lama, Kiera." Raka tersenyum. "Biar semuanya berjalan lancar, biarkan aku melakukan pemeriksaan ulang pada kakimu.""Saya penasaran melihat bagaimana Anda memeriksa dan menangani kaki Kiera," sahut Pak Fajar.Raka mengangguk lalu mulai menyentuh kaki Kiera. Ia menekuk lutut kanan wanita itu secara perlahan, kemudian memberikan tekanan ringan pada beberapa bagian di sekitar lutut dan paha.Reaksi Kiera perlahan berubah. Alisnya sesekali mengernyit seperti sedang menahan rasa sakit.Raka kemudian menggunakan Teknik Kedua untuk memeriksa secara mendetail bagian-bagian yang dicurigainya memiliki masalah. Ia memindahkan
Huling Na-update: 2026-09-25
Chapter: Chapter 102
Pria itu mengenakan kemeja polo berlogo klub dan membawa sebuah map hitam di tangan kirinya. Begitu ketiganya masuk, Maharani langsung memperkenalkannya tanpa banyak basa-basi."Raka, perkenalkan," ujar Maharani. "Ini Pak Fajar, kepala fisioterapis klub kami."Raka tersenyum ke arah pria paruh baya itu. "Aku Raka, pemilik sekaligus terapis di tempat ini." Ia kemudian mengulurkan tangannya."Saya Fajar." Pria paruh baya itu menyambut uluran tangan Raka. "Saya sudah mendengar cerita tentang Anda. Apa yang saya dengar benar-benar luar biasa, Pak Raka."Sebelum percakapan mereka berlanjut ke pembahasan yang lebih serius, Bunda Laras bangkit dari tempat duduknya."Sepertinya kamu punya banyak pekerjaan hari ini," ujar Bunda Laras. "Kalau begitu, aku pamit dulu. Aku juga ada beberapa hal yang harus dikerjakan.""Baiklah, Bunda." Raka mengangguk. "Terima kasih atas informasinya. Hati-hati di jalan."Bunda Laras mengangguk lalu menoleh ke arah Anin yang sudah duduk di meja resepsionis bersama
Huling Na-update: 2026-09-24
Chapter: Chapter 101
"Kiera, aku pernah bilang kalau aku ingin kamu percaya pada keajaiban, kan?" ujar Raka. "Kalau aku bisa membuat keajaibanku dengan membantumu pulih, kamu juga bisa membuat keajaibanmu sendiri dengan bermain di pertandingan penentuan itu. Jadi kamu harus percaya diri, Kiera!"Kiera menatap Raka. Maharani pun melakukan hal yang sama, begitu juga Ririn, Anin, dan Rania yang sejak tadi mendengarkan percakapan mereka."Ta-tapi, Raka..." Kiera masih terlihat ragu."Ayolah, mana semangatmu?" Raka tersenyum meyakinkan. "Ini bisa menjadi waktu terbaik buat kamu kembali dan menunjukkan kemampuanmu. Aku akan membantumu mewujudkannya.""Raka, aku suka semangatmu," sahut Maharani. "Tapi bagaimana kalau ternyata nggak berhasil? Bukankah itu justru akan menjadi pukulan telak untuk Kiera?""Kalau nggak berhasil, ya sudah." Raka menjawab santai. "Setidaknya kita sudah berusaha. Lagi pula, kamu juga nggak punya banyak pilihan saat ini, kan?"Maharani terdiam mendengar jawaban tersebut."Raka benar." Ki
Huling Na-update: 2026-09-23
Rahasia Gelap Sang Dokter Cantik

Rahasia Gelap Sang Dokter Cantik

“Dewa sialan,” desis wanita itu dengan amarah yang tak mampu lagi disembunyikan. “Aku tidak akan patuh hanya karena hukuman ini.” Ia berendam tanpa sehelai benang pun. Tubuhnya tertutup lapisan es hingga ke bahu, namun nyala api biru terus merambat dari kulitnya, berdenyut pelan seolah ingin melahap tubuhnya sendiri. Siapakah sebenarnya wanita itu? Dan rahasia kelam seperti apa yang membuatnya harus menanggung hukuman dari para dewa?
Basahin
Chapter: Kelahiran Malaikat Maut
Aroma anyir darah tercium dari sudut-sudut aula utama yang kini telah berubah menjadi kuburan massal. Puluhan jasad prajurit istana yang melakukan bunuh diri massal terkapar tumpang tindih dengan sisa pasukan perbatasan yang gugur. Dalam waktu kurang dari satu hari, kemegahan Kerajaan Jayantara runtuh total, menyisakan keheningan yang mencekam dan pemandangan yang amat mengerikan.Putri Jayasari perlahan turun dari atas singgasana berdarah, melangkah gontai melewati genangan cairan merah yang membasahi lantai. Ujung gaunnya yang koyak terseret di atas lantai, sementara tangan kanannya masih menggenggam erat pedang yang telah merenggut nyawa ayahandanya. Langkah kakinya terhenti tepat di samping jasad Rangga Tirta yang kini telah terbujur kaku."Tunggu aku, Rangga... Dunia ini tidak lagi memiliki tempat bagi kita," bisik Putri Jayasari dengan suara lirih yang dipenuhi keputusasaan mendalam sembari menatap tubuh Rangga Tirta.Tanpa ragu sedikit pun, ia membalikkan arah hulu pedangnya da
Huling Na-update: 2026-07-14
Chapter: Amuk Badai Dendam
Putri Jayasari bergerak bagaikan hembusan angin malam yang mematikan, menebas leher dua prajurit pengawal yang mencoba mendekatinya hingga darah segar menyembur ke pilar batu. Tidak ada lagi kelembutan seorang putri di dalam dirinya, hanya ada seonggok raga yang digerakkan oleh kepedihan dan dendam mutlak.Tebasan demi tebasan ia layangkan tanpa ampun, merubuhkan setiap prajurit istana yang berani menghadang langkahnya menuju altar singgasana. Di sela-sela dentingan besi dan erangan sekarat korbannya, air mata terus mengalir membasahi pipinya yang tercoreng noda merah. Ia mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, menatap bilah baja itu dengan pandangan yang kosong sekaligus penuh luka."Lihatlah pedangku, Rangga Tirta..." bisik Putri Jayasari dengan suara parau yang menyayat hati di tengah riuhnya pertempuran. "Bukankah sekarang aku sudah mampu menyaingimu di medan perang?!" Air matanya menetes jatuh tepat di atas sabetan darah baru pada mata pedangnya, merefleksikan kepedihan mendalam ata
Huling Na-update: 2026-07-13
Chapter: Eksekusi Sang Kesatria
Surya Brama mengepalkan kedua tangannya hingga bergetar menyaksikan sang jenderal diperlakukan layaknya seorang kriminal rendahan. Amarahnya meluap melampaui batas kesabaran, merobek seluruh rasa hormatnya pada institusi kerajaan. Dengan gerakan tegas, ia melangkah maju dan melepaskan seluruh atribut militernya ke tanah berbatu alun-alun."Aku tidak sudi mengabdi pada kerajaan yang memperlakukan pahlawannya seperti binatang!" seru Surya Brama, tatapannya menembus langsung ke arah sepasang mata Patih Wiranegara. "Ikat aku dan bawa aku bersama Jenderal Rangga Tirta, karena aku tidak akan membiarkan beliau berjalan sendirian!""Sangat heroik, Surya Brama. Ikat pria bodoh ini bersama jenderalnya!" balas Patih Wiranegara sembari melambaikan tangan dengan nada meremehkan.Kedua tangan Surya Brama pun segera diikat erat menggunakan tali tambang tebal oleh para prajurit istana. Bersama Jenderal Rangga Tirta, ia digiring melewati koridor-koridor megah menuju aula utama di bawah kawalan ketat p
Huling Na-update: 2026-07-12
Chapter: Hadangan
Dua hari telah berlalu sejak Jenderal Rangga Tirta ditetapkan sebagai pengkhianat, dan situasi di Kerajaan Jayantara tampak kembali seperti biasa. Namun, keheningan itu mendadak pecah ketika dari kejauhan gerbang kota, kepulan debu tipis membubung ke udara. Tiga puluh lima orang prajurit mengendarai kuda dengan pakaian zirah yang hancur, dipimpin oleh Jenderal Rangga Tirta yang tubuhnya dipenuhi luka serta darah yang mengering.Rangga Tirta berhasil kembali dengan selamat, namun pasukan lainnya banyak yang telah gugur. Tepat ketika hampir sampai di gerbang istana, Jenderal Rangga Tirta turun dari kudanya diikuti oleh pasukan di belakangnya, lalu berjalan menuju pintu gerbang.Tepat ketika kaki mereka hendak menginjak ambang gerbang kota, beberapa tombak besar mendadak disilangkan di depan dada Rangga Tirta. Dua orang prajurit penjaga gerbang berdiri kokoh dengan tatapan dingin, sama sekali tidak menunjukkan rasa hormat kepada sang jenderal. Barisan pasukan di belakang Rangga Tirta sek
Huling Na-update: 2026-07-10
Chapter: Fitnah
Maharaja Jayawardhana masih duduk termenung di singgasananya, menatap kosong ke arah lantai batu. Guratan kesedihan yang mendalam tampak di wajahnya karena prajurit-prajurit terbaik yang dikirimkannya mungkin telah gugur.Kehadiran sang patih yang tiba-tiba membuat sang raja perlahan mengangkat kepalanya dengan raut wajah yang letih."Maharaja Jayawardhana, mohon ampun atas kelancangan hamba yang kembali secepat ini," ucap Patih Wiranegara sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Namun, hamba baru saja menerima sebuah laporan yang sangat mengejutkan mengenai kelakuan Jenderal Rangga Tirta di belakang Anda.""Laporan apa lagi yang kau bawa, Wiranegara?" tanya Maharaja Jayawardhana dengan nada suara berat yang dipenuhi rasa curiga. "Jangan membuatku semakin pusing dengan urusan yang tidak mendasar.""Ini mengenai kehormatan keluarga istana, Maharaja," jawab Patih Wiranegara. Ia sengaja menurunkan intonasi suaranya agar terdengar rahasia dan genting."Hamba mendapatkan bukti bahwa Jend
Huling Na-update: 2026-07-09
Chapter: Rencana Cadangan
Putri Jayasari berjalan tergesa-gesa menyusuri lorong istana. Langkahnya begitu cepat hingga prajurit yang baru saja menyampaikan laporan kepadanya harus berlari kecil untuk mengimbangi langkah sang putri. Wajah Jayasari memerah, sementara kedua tangannya mengepal erat, menahan amarah yang terus bergolak di dalam dadanya.Semakin dekat dengan aula utama, napas Putri Jayasari semakin memburu. Di dalam pikirannya saat ini hanyalah keselamatan Rangga Tirta yang kini bertarung di perbatasan tanpa bala bantuan.Pintu aula utama terbuka dengan keras. Putri Jayasari melangkah masuk tanpa memedulikan etiket kerajaan, membuat seluruh perhatian di dalam ruangan langsung tertuju kepadanya. Tatapannya segera mengunci Maharaja Jayawardhana yang duduk di atas singgasana, sementara Patih Wiranegara masih berdiri tidak jauh dari sang raja."Ayahanda, apa maksud dari semua keputusan ini?!" seru Putri Jayasari. Dadanya naik turun menahan emosi, sementara suaranya bergetar karena kemarahan yang sudah ti
Huling Na-update: 2026-07-06
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status