Mag-log inDi tengah kejayaan Kerajaan Jayantara, seorang putri dengan julukan “Dewi Hidup dan Mati” harus menyaksikan cintanya dihancurkan oleh intrik kekuasaan—hingga satu tragedi berdarah mengubahnya menjadi makhluk abadi, terkutuk sebagai pencabut nyawa. Berabad-abad kemudian, ia hidup di dunia modern sebagai dokter terhormat, menyembuhkan sekaligus diam-diam menjemput kematian, sambil memikul dosa yang tak pernah usai. Namun ketika sosok dari masa lalunya kembali dalam wujud yang tak terduga, dan musuh lama bangkit dalam bentuk yang lebih mengerikan, takdir yang selama ini ia benci mulai retak. Di antara cinta, penebusan, dan perlawanan terhadap kehendak dewa, ia dihadapkan pada satu pilihan terakhir: tetap menjadi alat kematian… atau menghancurkan takdir itu sendiri—meski harus membayar dengan segalanya.
view more“Nona, berhenti. Jika tidak, aku akan melaporkannya kepada Ayah,” ucap Dirga; suaranya bergetar. Pandangannya terpaku pada pot-pot besar yang melayang, berputar pelan di udara, seolah menunggu aba-aba.“Cih… kau ternyata penakut,” balas Adeline dingin. Sudut bibirnya terangkat tipis. “Ayahmu tidak akan berani berkata apa pun. Yang ada, dia akan merelakanmu mati di tanganku.”Dirga terdiam. Bahunya turun sedikit, napasnya terlepas panjang. Kedua tangannya perlahan terangkat, telapak menghadap ke depan. “Baiklah… aku akan merelakan tubuh ini,” ujarnya pelan. “Tapi jika aku mati, tidak akan ada lagi yang mengurus semua hal di rumah sakit ini. Apakah kau ingin semua orang mengetahui rahasiamu?”Pot-pot itu bergetar lebih kuat sesaat, lalu berhenti. Adeline mengembuskan napas panjang, jemarinya mengendur.Satu per satu, pot kembali turun ke tempatnya. Tanah yang tercecer jatuh pelan, menyisakan garis kotor di lantai taman.“Benar juga,” gumamnya singkat. Ia menoleh sedikit. “Jadi, ada perl
"Lebih baik aku datang menemuinya untuk melaporkan situasi rumah sakit," gumam Dirga, masih menatap layar ponselnya. Ia mengusap pelipis sejenak, lalu menambahkan pelan, "Tapi sebelum itu, mari kita bereskan pekerjaan terlebih dahulu." Dirga bangkit dari sofa. Langkahnya mantap saat kembali ke meja kerja, jemarinya segera merapikan berkas yang berserakan. Layar monitor menyala, memantulkan sorot matanya yang mulai mengeras. Di lantai teratas rumah sakit, suasana yang berbeda terbentang. Sebuah taman pribadi terhampar sunyi. Langit senja meredup dalam cahaya keemasan yang pucat, jatuh diam di antara deretan bunga bermekaran. Adeline duduk diam di bangku taman. Ujung jarinya menyentuh kelopak bunga, menelusuri garis halusnya tanpa benar-benar melihat. Angin tipis menggerakkan rambutnya, namun pandangannya tak berpindah—terpaku pada satu titik yang tak benar-benar ia lihat. "Sudah 1.300 tahun berlalu… dan aku masih di dunia ini," gumamnya lirih. Senyum terukir di wajahnya—tip
Pintu lift belum sepenuhnya terbuka ketika kata-kata itu terlepas dari bibirnya.“Sepertinya aku harus bertanya langsung kepada Ayah,” gumam Dirga pelan. Tatapannya kosong, terpantul samar di dinding logam lift. “Apa yang sebenarnya terjadi pada masa lalu Nona Adeline…?”Begitu pintu terbuka, ia melangkah keluar tanpa ragu. Langkahnya cepat menyusuri lorong, seolah pikirannya sudah lebih dulu tiba di tujuan, sementara wajahnya kembali tenang, menyembunyikan kegelisahan yang sempat muncul.Sesampainya di ruangan, ia langsung menuju meja kerja. Laptopnya sudah menyala, menampilkan sistem rumah sakit yang terintegrasi dengan seluruh berkas pasien. Ia menggerakkan kursor, membuka data anak korban kecelakaan itu, dan deretan informasi pun muncul di layar. Ia menelusurinya dengan saksama; matanya bergerak cepat membaca setiap detail.Ia berhenti sejenak, lalu meraih gagang telepon dan menekan satu tombol dengan pasti.“Halo, selamat sore,” terdengar suara dari seberang. “Apakah ada yang bis
Air menetes dari ujung rambutnya saat Adeline melangkah keluar dari bathtub. Uap tipis masih bergelayut di udara, membungkus tubuhnya yang perlahan kehilangan kilau api biru. Namun ada satu hal yang berubah—rambutnya kini memutih, kontras dengan kulitnya yang pucat.Ia meraih pakaiannya satu per satu dan mengenakannya dengan gerakan tenang. Kancing terakhir terpasang, ia mengangkat dagu sedikit dan mengembuskan napas panjang ke udara. Hembusan itu seolah membawa sesuatu yang tak terlihat. Perlahan, warna putih di rambutnya memudar, ditelan gelap hingga kembali hitam seperti semula.Ia meraih ponsel di atas meja tanpa ragu. Layar menyala, dan dalam hitungan detik, panggilan terhubung.“Dirga, aku sangat lapar. Bawakan makanan kesukaanku seperti biasa.”“Nona… apakah Anda sudah pulih?” suara di seberang terdengar cepat, hampir memotong.Adeline memejamkan mata sejenak, lalu membukanya kembali. “Tentu saja,” jawabnya singkat. “Cepatlah. Tidak usah banyak bertanya.”“Baik, Nona,” sahut Di






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.