Chapter: 80. Alasan Selalu AdaFilm perdana Naya rilis hari ini, untuk pertama kalinya di Bioskop seluruh Indonesia. Jujur, perempuan itu sedikit gugup. Meski sebelumnya punya kepercayaan diri yang cukup, sekarang nyali perempuan itu sedikit ciut.Dia takut aktingnya buruk dan 'merusak' keseluruhan alur serta feel dari film-nya. Terlebih, judul dari film itu adalah 'Love Talk'. Sudah jelas dari judulnya saja, penonton pasti berekpektasi tinggi tentang nuansa romantis dan scene manis lainnya.Sedangkan bagian Naya, jelas saja lebih banyak bernuansa 'gelap'. Syukurnya, setelah sehari penayangan, beberapa review dan postingan kesan penonton mulai bermunculan. Naya memantau setiap pendapat mereka tentang film dan aktingnya tentu saja.Namun, tidak seperti yang ia pikirkan, sebagian besar justru memuji peran perdananya itu. Hal yang lebih membuat Naya terkejut, followers instagram dan subscribe youtube-nya pun meningkat pesat."Leticia! Kau sudah akan berangkat?" Panggilan Bagas yang sudah berdiri di ambang pintu kamar
Last Updated: 2025-08-29
Chapter: 79. Kenapa Dia Membuangku?"KAU GILA, LETICIA?!" Teriakan penuh amarah lelaki tua dalam rumah besar dan megah itu menggema.Bukannya takut, Naya malah tersenyum sambil menelengkan kepala. Persis seperti senyum psycopath gila yang siap membunuh mangsanya."Kau baru sadar, ya?" tanya perempuan itu sambil tertawa jenaka.Lelaki tua itu melotot terkejut. Tubuhnya mulai gemetar ketakutan, sedangkan Naya berjalan mundur sambil mengangkat sesuatu yang sedari tadi digenggamnya.Sebuah korek api."Mungkin Tuhan bisa memaafkanmu, Tuan Geovano. Tapi aku tidak. Ini hadiah spesial dariku karena kau sudah membantai seluruh keluargaku; satu-satunya hal yang dulu kupunya."Berikutnya, Naya menyalakan korek itu dan melemparnya ke lantai yang sudah ia beri bensin sebelumnya. Dalam sekejap, api menjalar dan seolah berlari mengejar Geovano.Naya berjalan keluar dengan santai kemudian mengunci pintu besar itu. Tepat setelah itu, suara ledakan besar terdengar. DUARRR!Naya tersenyum manis ke arah kamera. Dengan latar belakang rumah
Last Updated: 2025-08-29
Chapter: 78. Perempuan yang Tidak Tergapai"Kau ada jadwal di pelatnas juga besok?" Neo bertanya guna memecah hening di antara mereka.Namun, Naya tidak menggubris sama sekali. Perempuan itu hanya fokus menatap ke luar jendela mobil dengan cebikan sebal. Neo menghela napas berat."Aku bertanya untuk menyesuaikan jadwalmu, agar kau tidak pulang selarut ini besok." Neo menyahut lagi yang tetap tidak ditanggapi Naya.Neo yang geram sendiri akhirnya tidak berbicara lagi. Sepertinya Naya memang sedang tidak mood untuk berbicara dengannya. Dia maklumkan saja, yang penting perempuan itu tidak pulang sendiri selarut ini."Aku mau telur gulung." Setelah beberapa lama terdiam, perempuan itu bersuara.Hal yang sejenak membuat Neo berpikir bahwa dia salah dengar. "Hah?" tanya pria sipit itu memastikan."Aku tiba-tiba ingin makan telur gulung. Di mana aku bisa mendapatkannya sekarang?" tanya perempuan itu di luar dugaan.Neo mengerjap sejenak, tampak takjub. "Mana ada yang menjual itu jam segini, Nay." Naya mengangguk menyetujui. "Benar j
Last Updated: 2025-08-28
Chapter: 77. Anak yang Tidak Diinginkan"Syuting hari ini sudah selesai, kalian sudah bisa pulang!" Seruan dari seorang crew membuat Naya menghela napas lega.Akhirnya, kegiatan melelahkan ini selesai juga. Rasanya bahkan lebih melegakan daripada latihan tambahan yang sering dilakukannya mendekati hari pertandingan saat masih menjadi atlet dulu."Kau sudah makan?" Sergio, salah satu pemeran utama sekaligus orang yang dicintainya (dalam drama) bertanya.Naya menoleh kemudian menggeleng. "Rencananya aku akan makan di rumah saja," jawab perempuan itu sambil meregangkan beberapa bagian tubuhnya yang terasa pegal."Mau makan bersama?" tanya pria itu tiba-tiba.Naya mengerjap terkejut. Tidak menyangka aktor senior yang dikenal menjaga jarak dari perempuan di luar lokasi syuting ini mengajaknya makan bersama."Di mana?" tanya Naya balik."Aku tahu restaurant makanan korea yang enak di dekat sini. Kau mau? Kau juga kan tidak membawa kendaraan, nanti biar sekalian kuantar pulang!" ajak pria dengan lesung pipit itu semangat.Naya bar
Last Updated: 2025-08-28
Chapter: 76. Melihatmu Bahagia"Neo sudah tidur?" tanya Abia begitu melihat Naya turun dan berjalan menuju dapur.Naya menoleh kemudian mengangguk pelan. Tanpa bersuara lagi, perempuan itu masuk ke dapur dengan wajah linglung. Melihat keanehan dalam raut wajah Naya, Abia mengernyit bingung."Sepertinya mereka bertengkar lagi," gumam Abia sambil menghela napas lesu."Sepertinya lebih buruk dari bertengkar," koreksi Arya begitu melihat Naya berjalan keluar dapur nyaris menabrak kusen pintu. Perempuan itu benar-benar terlihat tidak fokus."Bunda ... Ayah ... aku pamit pulang dulu, takutnya Nara mencariku. Tadi kan dia menitip obat," pamit Naya begitu sampai di depan Abia dan Arya.Abia sudah akan mencegah kalau saja Arya tidak memberi kode untuk diam. "Kalau begitu, biar Ayah mengantarmu!" putus pria tua itu cepat sambil bangkit berdiri.Baru saja akan menolak, Arya langsung memotong. "Tidak ada penolakan." Membuat Naya hanya bisa pasrah.Abia segera memeluk Naya erat sambil memberikan beberapa pesan seperti 'jangan l
Last Updated: 2025-08-25
Chapter: 75. Seperti Kembali ke Rumah"Lihat siapa yang datang!" ucap Abia heboh begitu dia dan Naya memasuki rumah.Naya meringis sambil tersenyum kikuk pada dua pria yang duduk di ruang tengah dengan wajah terperangah. Setelah dibujuk mati-matian oleh Abia, Naya akhirnya berakhir di sini.Rumah Neo, rumah Arya dan Abia yang dulu juga sempat menjadi rumahnya. Rasanya masih saja sama, meski Naya sudah meninggalkan tempat ini sekian lama."Daddy, apa aku terlalu memikirkannya sehingga sekarang aku seolah melihat Naya berdiri di depanku?" bisik Neo dengan bodohnya pada Arya.Ketimbang meladeni pertanyaan bodoh putranya, Arya malah berdiri dan segera memeluk Naya. Hal yang sejenak membuat perempuan itu terperanjat kaget dengan perlakuan tiba-tiba mantan ayah mertua sekaligus sahabat ayahnya."Aku tidak percaya kau mau datang menemui Ayah," ucap Arya lirih yang membuat Naya sedikit merasa bersalah.Padahal, dulu saat memutuskan berpisah dengan Neo, Arya dan Abia berpesan agar Naya tetap menemui mereka sesekali. Tapi, malah Na
Last Updated: 2025-08-25
Chapter: My Little Anyelir [Extra Part]"Pokoknya nggak mau tau! Nggak mau makan kalau nggak diseduhin mie instan!" Teriakan cempreng dari sang putri bungsu, membuat Anyelir berkacak pinggang. Perempuan itu mendengkus kesal sebelum kemudian beralih ke dapur."Azura! Jangan bikin Mama marah! Kata Papa, Mama lagi mode singa betina," bisik Elynca---sang putri sulung yang sayangnya tidak mirip bisikan. Karena Anyelir bahkan mampu mendengar 'bisikan' gadis kelas 1 SMP itu. Azura menoleh pada sang kakak kemudian memasang wajah memelas."Mintain mie instan ke Papa kalau gitu. Sana teleponin Papa, Kak Elyn!" Azura meminta sambil menarik-narik ujung baju kakaknya. Gadis yang saat ini duduk di bangku kelas 4 SD tersebut bahkan hampir menangis hanya karena sebungkus mie instan."Lagian kamu sih! Makan mie mulu, dimarahin Papa tau rasa deh," omel Elynca membuat Azura menggeleng protes."Aku nggak makan mie banyak kok sekarang. Cuma 2 kali sehari," cerita Azura yang dibalas dengusan sebal Elynca."Itu banyak namanya, Zuraaa! Papa aja
Last Updated: 2025-02-11
Chapter: Kamu Terlalu Memabukkan [Tamat]"Hei, Anak kecil! Makan dulu baru main! Ya Ampun, kok susah banget nurutnya sih?!" omel Anyelir pada gadis berambut sebahu yang berlari keluar dari dapur.Meninggalkan sang Ibu yang kini sudah berkacak pinggang di pintu utama rumah. Elynca menyengir lebar begitu melihat kekesalan yang terpeta di wajah awet muda sang Mama. Tapi, bukannya takut, gadis 5 tahun itu justru semakin berlari hendak keluar gerbang kalau saja tidak menubruk tubuh seseorang.Bruk ...."Aduuh ...." Elynca meringis sambil mengusap-usap keningnya tengan tangan mungilnya.Tapi, begitu mengenali celana orang yang ditabraknya, perempuan itu mendongak antusias dan menemukan wajah Damian tengah tersenyum sama sepertinya."Hei, Nona Adisthy kecil. Kamu ngapain Mamamu lagi sekarang sampai dia semarah itu, hm?" tanya Damian sambil menggendong sang putri dengan begitu ringan.Anyelir yang melihat kepulangan suaminya, semakin mendengkus kesal. "Oh ... inget rumah ternyata? Kirain lupa alamat terus nggak tau mau pulang lewat
Last Updated: 2025-02-11
Chapter: Seharusnya Pura-pura TidurAnyelir duduk berpangku tangan serius sambil memandangi pria di depannya yang memasak wajah ngeri. Berbanding terbalik dengan wajah sang suami di sampingnya yang sudah seperti hendak menerkam orang."Dia nggak bisa itu, Nye! Mending kamu liat aku makan pedes aja daripada dia. Dia mah cemen!" saran Damian masih tak mau menyerah membujuk istrinya.Anyelir mendesis kesal. Merasa fokusnya memandang wajah Angga terganggu oleh rengekan Damian."Ish, diem dulu, Om! Lagi serius ini!" kesal Anyelir begitu melihat Angga mulai membuka cup mie instan pedas yang dibelikan Anyelir khusus untuknya.Meski disuruh diam, Damian tetap mendumel sebal. Masih tidak terima karena Anyelir lebih tertarik pada wajah kepedasan Angga daripada wajah cool-nya."Apa hebatnya sih liat wajah Angga makan pedes dariapa liat wajah ganteng suami kamu ini?!" tanya Damian masih tidak mengerti."Kalau Om kan bisa makan pedes, dia mah nggak bisa. Jadi ya lucu aja ekspresinya gitu," jawab Anyelir sambil cekikikan geli.Damian
Last Updated: 2025-02-11
Chapter: Korban Ngidam MantanAnyelir berbaring telentang di lantai keramik dingin ruang tengah. Tanpa alas, tanpa bantal, juga tanpa niat bangkit meski Damian sudah menyorotnya tajam dari lantai atas tepat di ujung tangga."Woi!" teriak Damian yang ditanggapi Anyelir dengan tatapan malas.Melihat Anyelir yang tidak berpindah posisi sama sekali, Damian kontan berlari turun tangga. Anyelor yang melihatnya, menggeleng-geleng."Jangan lari-lari di tangga! Dasar anak kecil!" peringat Anyelir menirukan kalimat sang suami saat mengomelinya.Damian mendengkus sebal. Tanpa berucap apapun, pria itu mendekat pada Anyelir yang terlihat seperti paus terdampar. Damian mengangkat tubuh sang istri santai. Seolah tidak keberatan padahal perut Anyelir mulai terlihat lebih menonjol karena kehamilannya yang menginjak usia 5 bulan."Jangan rebahan di lantai tanpa alas! Dasar anak kecil!" balas Damian sambil membaringkan perempuan itu di sofa panjang ruang tengah.Anyelir menghela napas berat. Seolah habis melakukan kegiatan melelahka
Last Updated: 2025-02-06
Chapter: Jauh Lebih Banyak"Om?" Anyelir terpaku melihat Damian berdiri di sampingnya dengan payung yang bahkan belum tertutup. Pria itu menyorotnya dengan pandangan tak terbaca. Seperti ... sorot kecewa?"Tadi niatnya mau jemput kamu, mau perbaikin hubungan kita juga. Tapi, kayaknya nggak guna. Kamu udah punya Angga."Selesai mengatakan hal itu, Damian melangkah meninggalkan Anyelir menuju mobilnya yang entah pria itu parkir dimana. Menyadari kesalah pahaman yang terjadi, Anyelir bangkit berdiri dan berlari menembus hujan mengejar Damian.Tapi, langkah lebar dan cepat Damian tidak berhasil membuatnya mengejar pria itu. Anyelir yang lincah dalam hal berlari tidak menyerah tentu saja.Sedangkan Angga, memperhatikan dalam diam di kursi depan minimarket. Sejenak, senyum getir menghiasi wajah pria tampan itu. Menyadari kesempatannya yang sudah nihil juga Anyelir yang sepertinya terlihat begitu mencintai suaminya."Om! Tunggu dulu!" teriak Anyelir begitu berhasil menarik ujung jaket sang suami yang kontan ikut basa
Last Updated: 2025-02-06
Chapter: Anyelir MenghilangAnyelir mendelik begitu menemukan dua garis merah dari benda di genggamannya. Perempuan itu menggigit bibir bawah gusar. Masih tidak percaya dengan apa yang tengah dilihatnya saat ini.Dia hamil. Anyelir akan menjadi seorang Ibu. Rasanya ... terlalu cepat dan tiba-tiba.“Masak aku hamil sih?” tanya Anyelir pada dirinya sendiri.Perempuan itu hanya menggigit bibir bawah gelisah. Tidak mengerti harus menanggapi hal ini dengan reaksi apa. Dia ... masiih terlalu muda untuk menjadi seorang Ibu kan, ya?Mengabaikan test pack di tangannya, Anyelir segera keluar dari kamar mandi dan berjalan ke ruang tengah, hendak pulang. Tadi, sehabis mampir ke apotek, dia memang memilih pulang ke sini, ke rumah Papa. Rencananya ingin membuat Damian panik dan akhirnya mencarinya ke sini, lebih tepatnya cari perhatian. Tapi, hingga pukul 8 malam, pria itu bahkan tidak mencarinya sama sekali.Dalam hati, Anyelir merasa sedikit kecewa. Dia pikir Damian bakal peduli padanya. Tapi, jangankan mencari, pria itu ba
Last Updated: 2025-02-04
Chapter: Jangan Terlalu Manis"Jadi, kamu beneran hamil?" Arsen bertanya tidak percaya. Hari ini, dia dan Aileen memang pergi ke rumah sakit guna memeriksakan dugaan Arsen. Syukurnya, hasil lab dari Dokter menjawab semua. Aileen benar-benar hamil. Usia kandungannya masih sangat muda. "Kita bakal punya anak, Aileen." Arsen menegaskan sekali lagi sambil memeluk tubuh mungil istrinya yang masih mematung tidak percaya. Rasanya ... terlalu tiba-tiba. Aileen belum siap. Dia benar-benar tidak siap. "Tapi aku masih terlalu muda buat punya anak, Mas." Aileen menyuarakan sesuatu yang sedari tadi mengganjal di hatinya. "Loh? Tapi kamu kan udah punya anak. Tuh, si Ayres," jawab Arsen sambil terkekeh geli. "Itu beda. Ayres kan udah gede, enggak perlu kulahirin dulu. Ini beda lagi. Aku ... nggak berani melahirkan," jelas Aileen jujur. Arsen memandang Aileen lekat. Bingung dengan pola pikir sang istri. Setahunya, perempuan yang sudah menikah paling ingin punya anak. Biasanya, mereka bahkan melakukan berbagai macam cara a
Last Updated: 2025-07-23
Chapter: Morning Sickness?"Sekarang udah berani sama Mama Ai lagi?" Arsen bertanya begitu malam ini ia menemani Ayres tidur.Bocah sipit yang akhirnya mengetahui siapa dalang di balik semua teror yang didapatinya, hanya mengangguk. Tapi, Ayres tidak terlihat berniat menemui Aileen sama sekali.Padahal, semuanya sudah selesai. Bi Rindi sudah keluar dari rumah mereka. Rindu juga sudah meminta maaf atas perlakuan sang Bunda.Arsen bahkan juga bertanya apa Rindu benar masih menyukainya seperti dulu. Dan jawaban mengejutkan perempuan itu, sejenak membuat Arsen memikirkannya hingga detik ini."Seharusnya Pak Sakya tahu. Perasaan aku sama Bapak masih sama kayak dulu. Meski aku bilang udah enggak sekali pun, yakin aja aku pasti lagi bohong."Begitulah kalimat yang Rindu ucapkan padanya tadi siang di kantor. Tepat setelah perempuan itu menyerahkan proposal juga meminta maaf mewakili Bundanya.Arsen tidak pernah berpikir bahwa Rindu akan berkata demikian. Melihat dari sikap perempuan itu yang profesional dan normal dala
Last Updated: 2025-07-23
Chapter: Sosok di Balik Masalah"Apa aku sebaiknya pergi dari rumah aja, ya?" Aileen bertanya pada Arsen.Arsen yang malam ini hampir terlelap karena sudah luar biasa mengantuk, kontan saja terbangun dan melotot galak. "Kamu gila?!" bentak Arsen sebal.Aileen menggeleng yakin. "Enggak. Seharusnya aku emang pergi sejak awal. Kalau kayak gitu, mungkin Ayres enggak bakal diteror lagi. Dia juga enggak mungkin takutin apapun lagi setelah ini," jelas Aileen memaparkan spekulasinya jika sampai ia benar-benar pergi dari rumah ini."Kamu pikir cuma Ayres aja yang bisa butuh kamu? Saya juga bisa! Apa selama ini kamu tinggal di rumah ini buat Ayres aja?" tanya Arsen tidak habis pikir.Mendengar omelan suaminya, Aileen jadi merasa bersalah. Perempuan itu kemudian berbaring membelakangi Arsen sambil mengusap air mata yang diam-diam mengalir dari sudut mata."Bukan gitu. Aku cuma enggak tahan liat Ayres ketakutan di rumahnya sendiri. Aku enggak bisa liat dia nangis terus-terusan kayak gitu gara-gara aku. Dia keliatan takut banget
Last Updated: 2025-04-09
Chapter: Orang DalamAileen tidak tahu apa yang salah dengan putranya. Tapi, sejak ia menemukan bocah itu sudah kembali di rumah mereka, kenapa Ayres malah jadi takut padanya?Ada apa? Apa sebelumnya Aileen sempat melakukan kesalahan? Apa Ayres hanya sedang marah pada Aileen karena semalam Aileen berhenti mencarinya dan memilih tidur di rumah?"Sayang ... kamu enggak mau makan? Mau Mama bikinin atau beliin sesuatu?" tanya Aileen untuk kesekian kalinya.Mencoba mengajak bocah sipit berbicara. Tapi, lagi dan lagi, bocah itu tetap tidak mau menyahutinya. Yang dilakukan Ayres hanya bersembunyi di pelukan Papanya. Ayres seolah tidak berani dekat-dekat dengan Aileen."Udah, kamu balik aja sana ke kamar dulu. Ntar kalau udah tenang dan mau cerita, mungkin dia mau bicara sama kamu. Kamu istirahat aja, kalau saya butuh sesuatu nanti saya panggil Bi Rindi." Arsen menegur sambil mengelus punggung tangan istrinya.Pada akhirnya, Aileen menjawab dengan satu anggukan. Perempuan itu juga kasihan dengan Ayres yang terus
Last Updated: 2025-04-08
Chapter: Percaya Sama SayaAileen menggigit kuku jemarinya gusar. Perempuan itu terus memandangi sekitar jalanan panik. Sedangkan Arsen, hanya menggenggam sebelah tangan Aileen erat. Berniat menenangkan sang istri sekaligus dirinya sendiri."Apa kita balik ke kebun binatang aja ya, Mas? Kita cari di sana sekali lagi. Mungkin aja dia masih di sana cuma kita belum cari yang bener aja," pinta Aileen yang dibalas Arsen dengan gelengan."Di sana udah ada yang jaga. Lagian gerbang kebun binatangnya juga udah dikunci, biar enggak ada yang bisa keluar masuk lagi. Kalau emang Ayres ketemu di sana, pasti mereka hubungin kita." Arsen menjelaskan yang dalam hati dibenarkan Aileen.Perempuan itu kemudian menatap jalan yang mereka lewati lagi. Takut jika sampai sang putra malah tidak tertangkap matanya."Kita pulang dulu, ya? Ini udah larut banget. Kamu juga belum makan, kan?" tanya Arsen yang ditanggapi Aileen dengan gelengan."Enggak," jawab Aileen final. Terdengar tidak ingin dibantah atau bernegosiasi lagi."Kalau gitu k
Last Updated: 2025-04-07
Chapter: Ayres Hilang"Udah bawa botol minumnya, kan?" Aileen bertanya sekali lagi.Ayres mengangguk. "Udah, Mama. Udah bawa bekal juga. Terus aku juga bawa wortel mentah," jawab bocah sipit itu tanpa mau melunturkan senyumnya.Aileen mengernyit bingung. "Kamu buat apa bawa wortel mentah? Kalau mau lauk wortel, Mama masakin aja." Perempuan pendek itu bertanya heran."Emang kapan aku suka wortel, Mama? Aku kan mau kasih makan kelinci. Pasti di kebun binatang ada kelinci," sahut Ayres yang dibalas Aileen dengan cubitan gemas di pipi gembul putranya."Yaudah sana! Berangkat sama Papa ke sekolah. Inget loh ya, jangan jauh-jauh dari Bu Guru!" peringat Aileen sambil mengaitkan tas bocah itu di punggungnya.Ayres menempelkan tangan di pelipis; memasang posisi hormat. Berikutnya, bocah itu berlari keluar diikuti Aileen dari belakang.Tapi, begitu sudah membuka pintu mobil, bocah itu malah berbalik dan berlari lagi menuju sang Mama. Aileen mengernyit. Apa lagi?"Kamu ketinggalan sesuatu?" tanya Aileen begitu Ayres
Last Updated: 2025-04-06