LOGIN"Jangan terlalu percaya diri! Ini bukan pernikahan, tapi transaksi bisnis bagiku." ______ Demi menyelamatkan perusahaan mamanya yang berada di ambang kebangkrutan, Alea menikahi putra tunggal keluarga Zelardo. Siapa sangka, dalam semalam kehidupannya berubah menjadi neraka. Antares Zelardo tidak memperlakukan Alea seperti seorang istri, melainkan wanita bayaran yang bisa dipakainya sesuka hati. Pernikahan mereka bahkan tidak didasari cinta. Satu-satunya hal yang membuat suaminya pulang ke rumah mereka adalah tubuh Alea. Dan Alea sama sekali tidak mengerti; apa alasan Ares mengurungnya dalam surga yang terasa seperti neraka itu?
View MoreChapter One: A Child
Sophia.
“I swear, this insignificant thing will betray you. Why aren’t you listening to me, Elena?” I ask, pointing at the child she is holding. “I don’t trust him. I have a hunch he’s going to turn on you.”
“No, he won’t,” Elena responds emphatically. She strokes the child’s face softly. “I trust him, and I know he won’t do me any harm.”
“What the hell, Elena?” I say incredulously. “Don't tell me you trust him over me. You put your trust in a stranger over your friend?”
“Sophia, pay attention to what I’m saying,” Elena yells. “I’m not sure what’s wrong with you.”
“Elena, please listen to me.”
“How do you come to dislike this little guy? Why, for the love of the goddess, do you despise him? It’s been weeks since we met him, and you still despise this helpless child?”
I look her in the eye, desperate for her to believe me. “Trust me,” I reply emphatically. “Not only will he betray you, but the entire Shadow Pack. He is not one of us, and he will never be. We should get rid of him before he creates any problems for us.”
She is shocked by what I say. It is written on her face. Do I go too far? Do I talk too much and hurt her?
“Betrayed?” she wonders. “You keep telling me he’s going to betray me. You continue to accuse him even though you have yet to witness him do anything improper. This little one you’re referring to is just ten years old. How can he possibly betray me? How can he possibly betray us? How do you know he will turn against the pack?”
“But…,” I stammer. “But… Elena.”
I can’t think of the perfect words to express how I feel, so I simply stutter incoherently answering her query.
She lets out a sigh. “Sophia, please stop and pay attention to what I’m saying. I’ve had my fill of you. I’m not sure why you despise him so much, but I trust him and know he won’t hurt me or my people.”
“Elena.”
“Hey,” she yells as she raises her hand to silence me. “I’m tired of your allegations. We’re leaving right now.”
Before I can say anything else, she turns and leaves the room with Mark in her arms. A knot forms in my gut when I realize I spoke so harshly to her. If I talk softly to her, maybe she will listen to me.
*****
My name is Sophia Stewart, and I am the third child of the Shadow Pack’s Gamma. Elena Lena is the Alpha's most beloved only daughter and my best friend. She lost her mom in the rogue's attack. Everyone in the pack loves her because she is pure and a kind-hearted girl.
We are out of our pack’s territory to get something in town when Elena spots a little boy putting on a rag. She takes pity on him and feeds him, and when it is time for us to leave, however, the little one refuses to let her go and insists on coming with us as her slave. He insists on following her. He cries and says he is okay, even if she turns him into her slave. He’s fine as long as he’s with her. I hate the idea. How can we allow a stranger into the pack? For goodness' sake, we don’t even know him. Although it makes me angry that he can suggest becoming her slave just to stay with us, we can’t just let any stranger into our pack.
“Hey Elena, we can’t bring him with us to the pack,” I say firmly. “You can't.”
“What are you talking about, Sophia?”
“I know you are having strange thoughts about bringing him along with us. I won’t support you in this decision - we don’t know his origin! How can you trust someone you don’t know and bring him into the pack? Are you not scared he’ll betray us? Don’t you think he’s our enemy spy sent by them?”
“Easy love, don’t you see he is pitiful?” she asks. “He has nowhere to go or live. Why don’t we bring him along with us? Let him live with us.”
“No, we can’t just allow anyone into the pack just because you’re too kind, and who tells you he has nowhere to live?” I question. "Where does he stay before he meets us? How will you allow someone you don’t know into the pack?”
Elena laughs until her eyes are full of tears at my questions. “What the hell are you thinking, Sophia? He is just a kid. How can he possibly betray me or the pack? Stop thinking like this. It’s not good for your health! Anyway, he has no wolf, so there is no way he can betray us!”
“But!”
“No, but Sophia. He’s staying. I’m going to talk to my dad to accept him as one of us.”
I’m speechless. Is she really doing this? I hope she won’t regret this decision one day.
She turns to him. “What is your name, little one?” she asks.
“Mark. My name is Mark,” he whispers softly.
“Mark,” she calls. “You have a nice name. Welcome to the shadow pack. I’ll be adopting you as my brother. The brother I never have.”
“What!” I scream. “Brother? He’s not just staying here, but also as your brother?”
She smiles sweetly at me before responding, “Yes, my darling Sophia. Starting from today, Mark is my brother.”
“Huh, I hope you won’t regret your decision. Accepting and bringing him into the pack isn’t enough for you. Turning a stranger you just met into your brother is something I pray you won’t regret.”
“I won’t regret my decision,” she replies. “Sophia, honey, I have never regretted anything in my life. We need to go back. I need to show him to our father.”
“We have managed to survive by staying out of sight and not getting involved with other werewolf packs. Why are you insisting on bringing him?”
“I don't care. He's staying.”
Elena leaves with a smile. She is very happy with her decision. Why am I angry? Am I jealous of Mark? Am I angry with him because he steals my best friend from me?
No, he can’t stay in the pack. I won’t allow him. I have the feeling that he’s a bad guy. I must find out his purpose and send him out of the pack as soon as possible. I will talk to him and try to find out what he wants. If I don’t get a satisfactory answer, I will have to take the necessary steps to ensure the safety of the pack. I won’t let anyone threaten it.
"Nyonya, Tuan Ares pulang!" Alea yang sore itu mendapat informasi dari sang pelayan sontak menoleh terkejut. Perempuan yang tengah berkutat di dapur itu sontak menghentikan kegiatan kemudian mencuci tangan."Kenapa cepat sekali? Bukankah seharusnya dia pulang minggu depan?" gumam Alea bingung.Sebelum pertanyaannya sempat terjawab oleh spekulasi yang berkeliaran di kepala, suara derap langkah yang memasuki dapur membuyarkan isi kepala Alea. Di ambang pintu dapur, Ares sejenak terpaku menyadari kehadiran istrinya yang masih mengenakan pakaian kerja formal berbalut apron; pertanda perempuan itu tengah memasak."Kenapa sudah pulang?" tanya Alea spontan.Ares melangkah menuju kulkas kemudian membukanya tanpa suara. Pria itu bahkan mengambil gelas di rak perabot dekat Alea kemudian menuangkan sebotol air dingin ke dalam gelas. Tampak tidak berniat menjawab pertanyaan istrinya sama sekali.Alea yang tidak suka diabaikan tentu saja memegangi lengan kekar suaminya yang menggenggam gelas. "Ap
"Dia pikir aku peduli?!"Alea memaki sambil menghempaskan tubuh di atas ranjang king size kamarnya. Begitu ucapan Aluna kembali melintas di benak, perempuan itu sontak berbaring tengkurap dan berteriak sebal. Dari gelagatnya saja, seluruh benda mati dalam kamar luas itu pun tahu Alea tengah berbohong pada dirinya sendiri.Sejujurnya, ia lebih dari peduli. Ia sangat memikirkan ucapan Aluna tadi."Bukankah semalam suamimu menginap di rumahku?" Pertanyaan bernada penuh ejekan itu lagi-lagi melintas di benaknya.Dan Alea sama sekali tidak mengerti kenapa sekarang dia merasa begitu murka."Ares sialan! Kau pikir aku peduli dengan siapa saja kau tidur?" gumam perempuan itu sambil meremas bantal yang berhasil tangannya gapai."Aku punya kekasih. Jika ingin, aku juga bisa tidur dengan pria lain!" maki Alea sambil bangkit dan berlalu menuju kamar mandi.Sepertinya ia harus menyegarkan pikiran. Supaya bayangan Ares dan Aluna yang memadu kasih di kepala segera enyah.Siapa peduli Ares berbohong
"Hari ini ada syuting film artis agensi kita di dekat kantor. Ada yang mau pergi menonton?" Pak Tama bertanya pada timnya yang sore ini terlihat merapikan meja, bersiap-siap untuk pulang."Aku mau pergi!" Aira, salah satu karyawan magang berponi rata menyahut antusias.Perempuan itu bahkan mengangkat tangan kelewat tinggi, membuat Alea dan Rindi terkekeh geli dengan tingkahnya."Kalian pergilah, aku masih ada urusan dengan tim pemasaran." Bu Naya selaku kepala tim humas pamit dan berlalu keluar ruangan."Aku juga akan ikut menemani Aira," sahut Rindi sambil merangkul karyawan magang yang lebih muda darinya tersebut."Kak Alea, kau juga ikut, ya?" ajak Aira semangat yang tentu saja diangguki Alea tak kalah antusias.Setidaknya ia tidak pulang cepat hari ini. Lagipula, Ares juga sedang di luar negeri. Perempuan itu bisa bermain sesuka hati sampai kapan pun. Apalagi sekarang ia sudah punya supir pribadi.Setelah Pak Tama pamit sambil menitipkan beberapa berkas padanya, ketiga perempuan d
"Ares ...."Panggilan dari ambang pintu membuat pria yang malam ini mengenakan pakaian kerja lengkap perlahan menoleh. Begitu mendapati presensi sang istri dengan pakaian yang lebih rapi darinya, Ares sontak menyunggingkan senyum.Senyum yang diam-diam membuat Alea menunduk gugup.Di ambang pintu ruang kerja Ares yang berada di lantai dua, Alea berdiri dengan setelan kemeja putih ketat serta rok selutut. Tampak normal sebenarnya, tapi mengingat apa yang akan mereka lakukan malam ini, membuat penampilan perempuan itu terlihat berbeda.Tidak seperti hari biasanya, lipstick perempuan itu bahkan berwarna merah menyala. Sedang rambutnya terkuncir satu cukup tinggi. Jangan lupakan buah dada Alea yang tampak seolah akan meledak keluar dari kancing kemejanya yang ketat.Rok hitam yang sama sempit itu bahkan membuat lekuk pinggul istrinya terlihat jelas. Dengan pakaian serapi itu, Ares bahkan bisa membayangkan tubuh telan jang Alea di balik pakaian."Pakaiannya terlalu kecil ...," komentar Ale
"Dia benar-benar tidak pulang ...." Alea menggumam pelan sambil memandangi halaman kediaman Ares yang luas.Lily yang melihat majikannya tengah berdiri di ambang pintu utama dengan baju tidur berbahan satin berwarna soft pink, sontak berlari menghampiri dengan panik."Nyonya Alea kenapa berdiri di
"Pilihlah!"Alea mendongak bingung menatap suaminya yang pagi ini melempar beberapa map di atas ranjang. Pria yang masih sibuk memasang dasi sambil berdiri itu tidak memberikan penjelasan lagi meski Alea menunggunya bersuara lagi."Baca itu, bodoh!" maki Ares gemas sambil menunjuk map yang berserak
"Perintahkan seluruh pelayan untuk mengosongkan rumah malam ini! Mereka tidak boleh masuk ke sana sampai aku meminta."Mendengar ucapan suaminya yang entah menelepon dengan siapa, tubuh Alea seketika menegang kaku. Berarti, tidak ada siapa pun di rumah besar itu saat mereka kembali ke sana nanti.H
"Apa yang terjadi padamu?!"Alea membuang muka begitu pertanyaan super terkejut sang kekasih terlontar setelah melihatnya. Perempuan itu bahkan bersedekap dada guna melindungi tubuhnya yang hanya berbalut kemeja putih kebesaran.Tidak ada pelindung lain di dalam sana. Entah celana dalam ataupun b*r


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.