Chapter: Seratus Dua Puluh LimaMendengar suara panggilan itu, Keanu seketika menghentikan langkah kakinya. Tubuhnya menegang sebelum akhirnya dia membalikkan badan dan menoleh kembali ke arah Carmen dengan tatapan mata yang dipenuhi rasa tidak percaya sekaligus haru.“Kamu juga berhak bahagia,” ucap Carmen dengan tulus. Setelah mengucapkan kalimat bermakna pengampunan itu, Carmen langsung membalikkan tubuhnya sendiri membelakangi pria itu, mendekap putrinya lebih erat dan bersandar pada dada Arkha. Dia tidak mau melihat wajah Keanu lagi, bukan karena dendam, melainkan karena dia ingin menegaskan bahwa masa lalu mereka telah selesai sepenuhnya di detik ini.Hari ini, Keanu sebenarnya baru saja resmi ke luar dari rumah tahanan setelah menyelesaikan masa hukumannya. Dia tampak memakai sebuah tas punggung hitam yang sudah agak usang, berisi seluruh pakaian dan barang pribadinya selama berada di balik jeruji besi. Mendengar ucapan pengampunan dari Carmen yang begitu berjiwa besar, air mata Ke
Last Updated: 2026-07-30
Chapter: Seratus Dua Puluh Empat(Lima tahun kemudian)Waktu terus bergulir tanpa terasa, membawa banyak perubahan manis dalam kehidupan keluarga kecil mereka. Setelah melewati berbagai momen penuh kebahagiaan, tidak terasa sudah lima tahun berlalu sejak kepulangan mereka dari Switzerland.Hari ini, suasana sore terasa begitu cerah dan meneduhkan. Carmen membawa putri kecilnya yang kini telah menginjak usia empat tahun untuk pergi bermain di sebuah taman bermain publik yang cukup ramai. Di sudut area taman, Arkha tampak sedang berdiri dengan wajah serius namun tetap tenang, fokus menerima panggilan telepon penting yang tampaknya berasal dari salah seorang kerabat jauhnya di luar kota.Sementara itu, perhatian Carmen seutuhnya tersedot pada sang buah hati. Putri kecil mereka yang berwajah sangat lucu dan menggemaskan itu tampak begitu aktif berlarian ke sana kemari di atas hamparan rumput taman, tertawa riang menikmati kebebasannya.Carmen dengan penuh kasih sayang terpak
Last Updated: 2026-07-29
Chapter: Seratus Dua Puluh Tiga“Mi, enggak apa-apa hanya mual biasa, mungkin cuma masuk angin,” jawab Carmen seraya menyiram toilet itu sekali lagi hingga bersih. Dia mengambil selembar tisu bersih, menyeka bibirnya yang basah dengan perlahan, lalu dengan langkah yang masih sedikit goyah dia berjalan ke luar dari bilik toilet.Melihat menantunya tampak begitu lemas, Ibu Arkha dengan sigap merangkul pundak Carmen, membantunya berjalan menuju ke ruang guru yang terletak tidak jauh dari sana. Beliau membimbing Carmen untuk duduk di salah satu sofa panjang yang nyaman. Guru-guru lain yang berada di dalam ruangan itu pun langsung ikut panik, dengan cekatan salah seorang guru bergegas membuatkan secangkir teh manis hangat, sementara yang lain memberikan sebotol minyak kayu putih kepada Carmen.Carmen menerima botol tersebut, menuangkan sedikit cairan hangat itu ke telapak tangannya, lalu mulai mengoleskannya di bagian perutnya yang masih terasa bergolak tidak nyaman. Melihat hal itu, Ibu Arkha
Last Updated: 2026-07-28
Chapter: Seratus Dua Puluh DuaHari ini adalah hari pertama Carmen menginjakkan kaki di sekolah yayasan mertuanya sebagai tenaga pengajar baru. Dengan senyum ramah yang merekah, Carmen menyapa para murid kecil yang akan diajarinya hari itu.Untuk sementara waktu, sebagai langkah adaptasi awal, dia diposisikan untuk menjadi guru pendamping di taman kanak-kanak kelas B. Murid-murid di kelas ini sudah tergolong cukup besar, yakni anak-anak yang berada di kisaran usia lima sampai enam tahun, sehingga mereka sudah memiliki karakter dan pola tingkah laku yang beragam dan lebih mudah diarahkan.Carmen tampak sangat cantik dan segar dengan memakai apron berwarna kuning cerah di atas pakaian kerjanya, senada dengan atmosfer kelas yang penuh warna. Saat ini, jam pelajaran sedang memasuki jadwal makan cemilan bersama.Carmen yang rambut hitam panjangnya diikat rapi menjadi satu itu tampak dengan sabar membantu seorang anak laki-laki yang sejak tadi masih terlihat kesulitan memakan makanan cemilannya sen
Last Updated: 2026-07-27
Chapter: Seratus Dua Puluh Satu(Mature content 21+ harap bijak membacanya)Dipegang tangan Arkha membuat Arkha mengernyitkan kening, lalu dipeluk tangan itu hingga menyentuh benda kenyal miliknya. Arkha hanya terdiam ketika Carmen meremas tangannya dan mengarahkan di gundukan itu. Arkha seolah mengerti apa yang diinginkan Carmen, dia meremasnya pelan, Carmen menggigit bibirnya dan memejamkan mata. Arkha menjadi tidak bisa konsentrasi bekerja, dia meremas lagi dengan sedikit lebih keras. Lenguhan Carmen terdengar jelas membuatnya berhasrat.“Enggak apa-apa seperti ini?” tanya Arkha dengan tangan yang terus bergerak di bagian sensitif tubuh istrinya. Carmen mengangguk dan membuka matanya, “lebih dari ini pun boleh, aku sudah siap,” ucap Carmen. Arkha menggeser meja lipatnya, membungkukkan tubuh dan mengecup bibir sang istri.Selama sebulan tinggal bersama Arkha, di pagi hari dia selalu mendapati bagian bawah tubuh sang suami menegang, membuatnya terkadang penasaran, baga
Last Updated: 2026-07-26
Chapter: Seratus Dua Puluh(Satu bulan kemudian)Setelah satu bulan penuh tinggal di tempat ini, Carmen sudah mulai terbiasa dan memiliki rutinitas harian sendiri. Lingkungan pedesaan Swiss yang tenang dan damai ternyata menjadi obat terbaik untuk memulihkan kondisi jiwanya yang sempat terguncang.Setiap pagi hari, setelah matahari terbit dan menyinari hamparan rumput serta puncak gunung yang bersalju, Carmen akan menghabiskan waktu di dapur untuk memasak bersama Aunty Marrie, asisten rumah tangga lokal yang disewa Arkha untuk membantu mereka. Aunty Marrie adalah wanita paruh baya yang sangat ramah. Bersamanya, Carmen tidak hanya belajar mengolah masakan barat, tetapi juga banyak mengobrol dan tertawa, hal yang membuat kemampuan bahasa dan rasa percaya dirinya meningkat pesat.Setelah urusan dapur selesai dan hari beranjak siang, Carmen mulai melakukan aktivitas favoritnya, yaitu melukis di halaman belakang rumah. Dengan berbekal kanvas, palet,
Last Updated: 2026-07-25