author-banner
GadisWaktu
GadisWaktu
Author

Novels by GadisWaktu

Regresi Garwa Padmi: Dinginnya Dendam Sedap Malam

Regresi Garwa Padmi: Dinginnya Dendam Sedap Malam

Enam tahun pernikahan membuat Puspa percaya bahwa Agastya mencintainya. Sampai seorang perempuan datang, menghancurkan segalanya, dan Puspa mati sebagai Garwa Padmi yang difitnah. Dua pelayannya dibunuh di hadapannya. Namun, ketika membuka mata, ia kembali ke masa lalu—lima bulan sebelum pernikahannya dimulai. Jika dulu Puspa hidup demi dicintai, maka di kehidupan kedua ini ... ia akan hidup demi berkuasa.
Read
Chapter: 53. Lelana yang Menyentuh Geopolitik Perdagangan
"Mutiara tidak selalu ada di kerang paling indah, Yang Mulia—Den Ajeng." Puspa mengatakannya tanpa menoleh sedikitpun. Mata indahnya terkunci kepada gadis pedagang yang tangannya tadi tertahan sepersekian detik dan melirik sebelum membungkuk hormat.Tilar dan Asri juga membungkuk hormat saat suara decak terdengar sangat kesal."Jangan panggil aku seperti itu!"Den Ajeng Bhanuresmi, Nimas dari Wastu Adipati Wiradaha, bernama kelahiran Hagni Adhisti Miratussany, keponakan agung yang paling dicintai Raja Adhiarjarabaskoro—penguasa kerajaan Mrasaruji saat ini.Puspa tidak pernah bertemu dengannya, tapi pernah sekali ia mendengar suara ini—hanya saja, suaranya tidak dibuat kekanakan dan mengolok seperti saat ini. Puspa ingat ia adalah gadis yang bijaksana, selalu bijaksana, tapi kali ini ... pasti ada sesuatu yang membuatnya sedikit merasa kesal.Ketika Puspa berbalik, ia melihat kain panjang berwarna merah tanah membelit tubuh Adishti hingga mata kaki, sederhana tanpa sulaman emas ataupun
Last Updated: 2026-09-07
Chapter: 52. Lebih Dalam Daripada yang Dirinya Sendiri Ketahui
"Memang seperti ini sejak saat itu Nyai Anom." Puspa menoleh seketika, menatap pria yang sedang memanaskan tembaga. "Kalian dimata-matai?" tanyanya. Pria itu, Dana, mengangguk pelan sambil mengembuskan napas pasrah. "Tapi tidak apa-apa, kami sudah biasa, kok. Susah hampir seminggu sejak pertama kali." Di saat Adi memejamkan mata karena kepolosan temannya yang mengaku kepada Puspa, Puspa sendiri terdiam, sambil berpikir, jika sudah hampir seminggu, maka kejadiannya pas setelah masalahnya dengan Agastya meledak. Ia terlambat menempatkan orang-orang untuk manjaga rahasia Wastu Gautama, juga tentu saja dirinya sendiri, dan ini tidak bisa dibiarkan. Bisa saja nanti saat pertemuan ia akan dipojokkan oleh mereka yang tahu. Tapi kenapa mereka memata-matai toko ini? Puspa menunduk. Pikirannya melayang ke mana-mana. Saat melihat ke tempat tadi seorang mata-mata bersembunyi, Puspa melihat kain cokelat jerami yang ia kenali dan malah menyeringai. 'Sepertinya harus bersiap-siap dengan masalah
Last Updated: 2026-08-07
Chapter: 51. Sudah Terbayang Akan Membuatkan Apa
"Ada apa?" Puspa menoleh dan menatap Agastya. Keningnya mengernyit karena berpikir, laki-laki ini tadi dikejar olehcalon selirnya, kenapa tiba-tiba sekarang sudah ada di kamarnya?"Aku tadi mencarimu ke ruangan Rama, ternyata kamu sudah kembali ke dalem ageng," kata Agastya sambil mendekat selangkah, tapi Puspa mundur dua langkah, hingga membuatnya bergeming lagi. "Yayi ...?""Kenapa mencariku?" tanya Puspa, keningnya semakin mengernyit, ia tidak nyaman berdekatan dengan Agastya.Agastya masih terpaku di tempatnya. Ia menatap Puspa dengan pandangan yang ... terlihat sangat sedih. "Apa suami perlu alasan untuk menemui istrinya?" Agastya balas bertanya, tapi karena tidak ada alasan ia berucap lagi, "Jangan marah lagi, Yayi, aku tahu aku salah. Aku tidak akan mengulanginya lagi."Puspa masih belum menjawab, ia justru menatap Agastya dengan mata nyalang yang menyelidiki, mencari apakah laki-laki ini tulus, atau justru ada yang sedang disembunyikan. Sementara Agastya sendiri masih berbica
Last Updated: 2026-08-05
Chapter: 50. Hyang Widhi Tidak Suka Membiarkannya Tenang Sedetik Saja
Ucapan terakhir Caraka terus mengalun di benak Puspa. Ia berjalan pelan dengan mata yang tertuju kepada lantai batu wastu. Angin berembus cukup kencang, langit juga mulai mendung.Musim hujan akan segera datang, sepertinya, dan Puspa selalu sedikit tidak suka musim itu. Sedap malam jarang ditemukan. Jikapun ada, kebanyakan kualitasnya tidak sebaik saat kemarau.Puspa Mengembuskan napas, ia membenahi selendangnya sejenak, menutupi bahunya yang terekspos. "Tilar dan Asri ... mereka sudah mencari orang-orang itu belum?" Ia bertanya kepada dirinya sendiri.Orang-orang itu, bukan dengan gegabah Puspa pilih. Di kehidupan pertama, merekalah yang membantu Puspa terbiasa dengan wastu ini. Bahkan saat ia difitnah lalu dihukum mati, mereka masih setia."Kali ini, aku akan membalas kebaikan itu." Ia berucap dengan pelan—doa, harapan, dan janji kepada dirinya sendiri.Puspa mengangguk pelan, dan entah kenapa ucapannya itu membuatnya sedikit lebih bersemangat. Langkahnya mulai melebar dan terasa sa
Last Updated: 2026-08-02
Chapter: 49. Bukan Seperti Barang Murahan
Ini dia.Drama lagi.Puspa mengembuskan napas pelan dan berbalik. Ia memasang senyum paling manis—sekaligus paling polos—saat menghadap wajah memerah ibu mertuanya tersebut."Apa maksud Saibu?" tanya Puspa. Nada suaranya pun dibuat seimbang dengan raut wajahnya.Bindani mendengkus, ia tidak menjawab pertanyaan Puspa yang menurutnya sudah sangat jelas. "Kupikir kau gadis polos," katanya. "Ternyata sama saja seperti ular berbisa!"Bindani langsung beralih menatap Caraka. "Arya, lihatlah ini! Belum seminggu dia memegang kunci wastu, dia sudah berlagak berkuasa dan mengganti seluruh penjaga. Dia ingin menguasai Wastu Gautama!"Caraka hanya memejamkan mata, dan Puspa tahu jika ayah mertuanya itu. Jika boleh jujur, Puspa tahu Bindani tidak pernah gegabah. Jika ibu mertuanya sepicik itu, di kehidupan lalu ia tidak mungkin mengalahkannya.Pun juga tidak mungkin menggelapkan dana sebesar itu tanpa diketahui Caraka. Namun, kali ini, hanya untuk membuat reputasinya turun di depan Caraka, ia tida
Last Updated: 2026-08-01
Chapter: 48. Pokoknya Kita Ke Pawon Dulu
Tilar ragu-ragu menerima selembar lontar itu. Asri ikut mengintip saat Tilar membacanya. Barisan nama pengawal wastu tertera. Sebagian besar bahkan tidak Tilar dan Asri kenal."Untuk apa ini, Nyai Anom?" tanya Tilar, dia mendongak menatap Puspa yang kembali melihat ke taman wastu.Meski Puspa sebelumnya sudah berkata mereka tahu apa yang dimaksud, tetap saja mereka butuh kepastian tentang apa yang harus mereka lakukan."Nyai Anom?" Asri maju selangkah, memanggil karena Puspa tak kunjung menjawab. Dia mengintip ekspresi Puspa dan malah kembali mundur saat nyonyanya itu mendengkus pelan. "Ada apa, Nyai Anom?""Tidak." Puspa masih menatap ke arah taman. "Ketiga wastu itu kuat, kan?"Tilar dan Asri kembali melirik satu sama lain. Pertanyaan dan permintaan Puspa semakin abu-abu. Mereka tidak bisa memikirkan hal yang pasti. Namun, kali ini, mereka harus menjawab. Mau atau tidak."Tentu saja, Nyai Anom," bisik Asri, tidak berani berucap dengan suara keras yang biasanya. "Meski Wastu Gautama
Last Updated: 2026-07-30
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status