author-banner
GadisWaktu
GadisWaktu
Author

Romances de GadisWaktu

Regresi Garwa Padmi: Dinginnya Dendam Sedap Malam

Regresi Garwa Padmi: Dinginnya Dendam Sedap Malam

Enam tahun pernikahan membuat Puspa percaya bahwa Agastya mencintainya. Sampai seorang perempuan datang, menghancurkan segalanya, dan Puspa mati sebagai Garwa Padmi yang difitnah. Dua pelayannya dibunuh di hadapannya. Namun, ketika membuka mata, ia kembali ke masa lalu—lima bulan sebelum pernikahannya dimulai. Jika dulu Puspa hidup demi dicintai, maka di kehidupan kedua ini ... ia akan hidup demi berkuasa.
Ler
Chapter: 49. Bukan Seperti Barang Murahan
Ini dia.Drama lagi.Puspa mengembuskan napas pelan dan berbalik. Ia memasang senyum paling manis—sekaligus paling polos—saat menghadap wajah memerah ibu mertuanya tersebut."Apa maksud Saibu?" tanya Puspa. Nada suaranya pun dibuat seimbang dengan raut wajahnya.Bindani mendengkus, ia tidak menjawab pertanyaan Puspa yang menurutnya sudah sangat jelas. "Kupikir kau gadis polos," katanya. "Ternyata sama saja seperti ular berbisa!"Bindani langsung beralih menatap Caraka. "Arya, lihatlah ini! Belum seminggu dia memegang kunci wastu, dia sudah berlagak berkuasa dan mengganti seluruh penjaga. Dia ingin menguasai Wastu Gautama!"Caraka hanya memejamkan mata, dan Puspa tahu jika ayah mertuanya itu. Jika boleh jujur, Puspa tahu Bindani tidak pernah gegabah. Jika ibu mertuanya sepicik itu, di kehidupan lalu ia tidak mungkin mengalahkannya.Pun juga tidak mungkin menggelapkan dana sebesar itu tanpa diketahui Caraka. Namun, kali ini, hanya untuk membuat reputasinya turun di depan Caraka, ia tida
Última atualização: 2026-08-01
Chapter: 48. Pokoknya Kita Ke Pawon Dulu
Tilar ragu-ragu menerima selembar lontar itu. Asri ikut mengintip saat Tilar membacanya. Barisan nama pengawal wastu tertera. Sebagian besar bahkan tidak Tilar dan Asri kenal."Untuk apa ini, Nyai Anom?" tanya Tilar, dia mendongak menatap Puspa yang kembali melihat ke taman wastu.Meski Puspa sebelumnya sudah berkata mereka tahu apa yang dimaksud, tetap saja mereka butuh kepastian tentang apa yang harus mereka lakukan."Nyai Anom?" Asri maju selangkah, memanggil karena Puspa tak kunjung menjawab. Dia mengintip ekspresi Puspa dan malah kembali mundur saat nyonyanya itu mendengkus pelan. "Ada apa, Nyai Anom?""Tidak." Puspa masih menatap ke arah taman. "Ketiga wastu itu kuat, kan?"Tilar dan Asri kembali melirik satu sama lain. Pertanyaan dan permintaan Puspa semakin abu-abu. Mereka tidak bisa memikirkan hal yang pasti. Namun, kali ini, mereka harus menjawab. Mau atau tidak."Tentu saja, Nyai Anom," bisik Asri, tidak berani berucap dengan suara keras yang biasanya. "Meski Wastu Gautama
Última atualização: 2026-07-30
Chapter: 47. Udang Sudah Terperangkap di Bubu. Kita Adalah Udangnya
"Mari lihat, apa yang akan terjadi selanjutnya." Senyum merekah di wajah tegas Adi. Ia berhenti mengukir dan berbalik, mengulurkan tangannya kepada Dana di dekat perapian. "Panaskan kuningan ini lagi, Dana."Dana meraihnya tanpa menoleh, dia sibuk menjaga kestabilan panas api, tapi sedikit banyak dia tahu jika di sekitar wilayahnya sedang berada dalam pengawasan. Sayangnya dia tidak tahu apakah itu baik, buruk, atau justru sebaliknya."Kita harus cepat-cepat selesai membuat kunci," kata Dana. Nadanya pelan, hampir lenyap dimakan suara membara api. "Aku tidak suka situasinya ini."Jika perasaan berkaitan dengan bangsawan rasanya seperti ini, Dana lebih rela jika toko kerajinan peraknya dan Adi hanya berputar di lingkaran rakyat.Dana nyaris mengangguk ketika dia mendengar Adi berucap, "Aku tahu perasaanmu.""Apa?" Dana langsung menoleh. Keningnya mengerut akan ketidakpercayaan, meski dia tahu seperti apa Adi.Ketika Adi menoleh, Dana menahan napas. Lelaki tersebut tampak sangat serius.
Última atualização: 2026-07-27
Chapter: 46. Membawa Badai ke Mana Pun Kakinya Melangkah
Tudingan tersembunyi yang dilontarkan Agastya menggantung sejenak di udara pagi yang sejuk.Puspa meletakkan cangkir tehnya ke atas nampan dengan gerakan yang tenang. Di dalam kepalanya, Puspa menyusun potongan teka-teki dengan sangat rapi.Manika.Siapa lagi di Wastu ini yang hobi mengadu jika bukan gadis desa yang kemarin menangis meratap di pendapa belakang?Manika juga tahu jika setiap ke pasar ia selalu ke tempat Adi, jadi dia buru-buru membisikkannya ke telinga Agastya demi menjatuhkan harga dirinya.'Benar-benar ular kecil yang ceroboh,' batin Puspa dingin.Namun, Puspa tidak terburu-buru mempercayai dugaannya. Jika benar Manika yang berbicara, berarti gadis itu telah mengawasinya sejak di pasar. Atau ... ada orang lain yang juga mulai memperhatikannya.Pikiran itu hanya melintas sesaat sebelum Puspa mengangkat wajahnya. Senyum tipis kembali menghiasi bibirnya, seolah tidak ada sesuatu pun yang mengusik benaknya."Arya Muda," katanya lembut. "Sejak kapan Anda mulai tertarik den
Última atualização: 2026-07-26
Chapter: 45. Mengunci Rapat-Rapat Rahasia yang Kau Sembunyikan?
Kereta kuda melaju membelah gerbang Wastu Gautama saat sinar matahari mulai condong ke barat. Namun, belum sempat Puspa menginjakkan kaki di pendapa tengah, ketenangan kediaman itu sudah koyak oleh suara jeritan dan makian yang melengking dari arah pelataran samping.Puspa menghentikan langkahnya. Isyarat tangannya menahan Asri dan Tilar agar berhenti melangkah dan diam di belakang."Dasar abdi tidak tahu diuntung!"Suara Bindani bergema kencang. Puspa mengernyit, ia pertajam wajahnya dan menilik ke balik pilar kayu ukir. Bindani berdiri di baliknya dengan wajah merah padam.Di hadapannya, Sari berlutut gemetar di atas lantai batu, menunduk dalam-dalam sembari menahan isak tangis. Mata Puspa melebar ketika Bindani membanting sebuah wadah kuningan ke lantai, dan hampir mengenai Sari."Siapa yang memberimu makan dan tempat berteduh di Wastu ini, hah?! Aku!" bentak Bindani sambil menunjuk dada Sari dengan telunjuknya yang gemetar emosi."Tapi kau malah makin berani melirik ke Dalem Ageng
Última atualização: 2026-07-25
Chapter: 44. Dipenuhi Ketegangan yang Membakar Kewarasannya
Matahari mulai terbenam ketika Puspa akhirnya kembali ke dalam dalem agengnya yang wangi Sedap Malam.Setelah menyuruh Asri dan Tilar berjaga di luar, Puspa berjalan menuju meja riasnya. Ia membuka sebuah kotak kayu kecil yang terkunci rapat di balik lipatan kain.Dari dalam kotak itu, Puspa mengeluarkan selembar kain tipis yang terlipat rapi. "Karena masalah, rencananya tertunda."Ia membukanya perlahan di atas meja. Di samping sketsa wajah bayi yang manis tersebut, terdapat daftar ciri fisik yang ditulis Puspa sendiri. Beberapa di antaranya sudah dicoret centang halus dengan arang."Alis tebal tajam. Rahang tegas bergaris kuat." Puspa duduk perlahan di depan meja riasnya. "Rambut hitam pekat, sedikit bergelombang. Bibir tebal di bagian bawah dengan raut dingin."Puspa menatap sketsa itu lama. Jemari lentiknya mengusap garis yang ia buat senfiri di atas kain tersebut dengan tatapan mata yang sulit diartikan—perpaduan antara kecurigaan yang tajam dan ketertarikan."Empat ciri sudah co
Última atualização: 2026-07-24
Você também pode gostar
Selir Medis Penguasa Langit
Selir Medis Penguasa Langit
Zaman Kuno · Juni
5.3M visualizações
Aduh Jenderal Tak Tahan
Aduh Jenderal Tak Tahan
Zaman Kuno · Shana
4.7M visualizações
Duke Dirian, Nyonya Ingin Bercerai!
Duke Dirian, Nyonya Ingin Bercerai!
Zaman Kuno · Raisaa
400.7K visualizações
Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati
Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati
Zaman Kuno · Emilia Sebastian
256.6K visualizações
Terlahir Kembali: Menolak Cinta Putra Bangsawan
Terlahir Kembali: Menolak Cinta Putra Bangsawan
Zaman Kuno · Citra Lestari
250.0K visualizações
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status