Chapter: 09. Bukankah Terlalu Megah?Puspa tidak sedang pergi jauh. Ia sedang berjalan menuju tempat paling berbahaya yang pernah ia sebut rumah. Namun, melihat mata bulat Girindra yang mulai berkaca-kaca, Puspa menelan semua kepahitan itu sendirian.Puspa berlutut, memeluk sepupu kecilnya erat-erat. "Tidak jauh, Giri. Hanya di seberang sungai," bisik PuspaJarak Wastu Lelana ke Wastu Gautama memang cuma terpisah oleh aliran sungai besar, tapi perjalanan yang ditempuh sebenarnya memakan waktu sembilan jam lebih menggunakan kereta kuda."Tapi jika Giri mau, Yu Puspa akan selalu pulang."Girindra segera berbinar. "Janji?"Puspa mengangguk lembut lalu mengunci kelingkingnya di jemari kelingking Girindra. "Janji," katanya. "Sekarang di luar mulai dingin, ayo kita masuk ke kamar. Yu Puspa mau tunjukkan sesuatu," ajak Puspa setelahnya.Mendengar kata sesuatu, kesedihan Girindra yang berkurang tadi seketika menguap. Anak laki-laki itu langsung semangat dan mengekor di belakang Puspa saat mereka melangkah menuju dalem ageng.Beg
Last Updated: 2026-06-17
Chapter: 08. Terancam Runtuh Sebelum Sempat Berdiri"Nimas Puspa dan Arya Muda Agastya ini ..." Mpu Panembahan mengusap jenggot putihnya. Ia mengeluarkan lembaran lontar berisi catatan weton. "Keduanya sama-sama membawa elemen api yang besar."Tangan Puspa tetap terlipat di pangkuan. Ekspresinya sangat terkontrol meski perasaannya bimbang, dia tetap berpikir positif jika yang terjadi hanya akan sebatas membahas—"Jika pernikahan dilakukan enam bulan lagi, itu tepat di puncak musim kemarau. Api bertemu api di puncak panas."Napas Puspa tertahan begitu saja. Sementara Andara yang baru saja menoleh kepada Puspa langsung bertanya dengan wajah serius, "Lalu, apa risikonya, Mpu?""Wastu kalian bisa 'terbakar'. Hubungan ini tidak akan mendingin, Raden Lelana. Musim hujan adalah satu-satunya penawar agar api menjadi cahaya, bukan abu.""Maka waktu apa yang pas, Mpu?" Suara Bindani masuk dengan pertanyaannya yang membuat Puspa nyaris mengepalkan tangannya."Hanya air dari langit yang bisa menjinakkan api mereka menjadi cahaya yang berkah." Mpu
Last Updated: 2026-05-17
Chapter: 07. Tidak Seharusnya Mengenang Rasa SakitKeluarga Gautama akan datang setelah matahari condong ke arah barat.Seperti di kehidupan pertama, kain jarik sogan pemberian mendiang orang tuanya yang Puspa pakai, tapi bukan berarti ia adalah gadis yang menanti dengan harap.Puspa memakainya karena sekarang sudah tahu betul ke mana jalan ini berujung dan memilih untuk berjalan di atasnya dengan kepala yang tegak."Namas, mari saya bantu pasang kalungnya sekarang!" Asri menyengir sambil siap membantu Puspa.Puspa tersenyum, ia merapikan duduk dan memerintah, "Pasangkanlah."Asri maju sambil kegirangan. Setelah kalung itu terpasang, batu delimanya sedikit tersembunyi di antara kain jarik, tapi rantai emasnya sangat indah di leher jenjang Puspa."Wah." Asri mendesah pelan. Ia menatap Puspa sangat dalam hingga memiringkan kepala. "Nimasku memang yang paling cantik di ibu kota ini."Puspa mendengkus pelan, ia duduk lebih tenang dan mengabaikan Asri yang kelihatannya ingin bertepuk tangan karena senang. Sementara Tilar memeriksa kain sek
Last Updated: 2026-05-17
Chapter: 06. Selalu Lebih Siap Dari Siapa PunBesok ... acara yang ditunggu-tunggu seluruh wastu: Acara Sesan Nimas Dyah Puspanyidra. Wastu Lelana tidak pernah seberisik ini sejak Andara mendapatkan stempel resminya setahun lalu. Suara tumbukan alu di dapur bersahutan dengan teriakan Kemuning yang mengomando para pelayan. Namun, di tengah keramaian itu Puspa justru menarik diri sampai hari kembali malam. Di kepalanya, kata itu terus berputar dan tidak mau berhenti: Dyah Bindani menanyakan kamu. Selama tujuh tahun yang sudah ia jalani dengan mencintai Agastya, mengatur selir yang masuk, dan menjaga Wastu Gautama, Bindani tidak pernah menanyakannya. Lalu kenapa sekarang bertanya? Pasti ada alasannya, tapi Puspa belum bertemu dengan wanita itu, alasannya tidak bisa dia pecahkan sekarang. Puspa bangkit dari tikar dan membuka pintu kamarnya. "Tilar," panggilnya. Tilar langsung mendongak. "Nimas?" "Panggil Asri. Bantu dia bangun. Aku ingin kalian ke gudang belakang. Bawa semua peti sesan tambahanku dari gudang belakang ke kamar
Last Updated: 2026-05-17
Chapter: 05. Sabar, Tersembunyi, Tidak Pernah FrontalLembaran lontar tiba sore harinya, diantarkan Tilar dengan tatapan penuh keingintahuan. Puspa mengambilnya tanpa penjelasan dan menutup pintu kamarnya."Tujuh tahun kehidupan dirangkum." Puspa duduk di meja tulis, tangannya menyentuh pengrupak untuk menulis. "Akan sulit sekali," gumamnya pada diri sendiri.Namun Puspa tetap harus melakukannya. Kehidupan keduanya ini tidak boleh berakhir tragis di lantai batu yang bersimbah darah.Puspa mengangkat pengrupak yang dari tadi dia mainkan. Lalu pengrupak itu pelan-pelan menggores permukaan lembaran lontar yang mulus.'Dyah Bindani.'Tangan Puspa berhenti sebentar di nama yang di kehidupan pertama penuh dengan ingatan buruk. Lalu melanjutkan.'Garwa Ampil Arya Caraka Gautama. Ibu kandung Agastya. Cara kerja: sabar, tersembunyi, tidak pernah frontal. Selalu menggunakan orang lain sebagai alat.''Dyah Manika. Garwa Ampil Arya Muda Agastya Gautama. Datang enam bulan setelah pernikahan.'Puspa ingat cara Manika pertama kali masuk ke Wastu Gautam
Last Updated: 2026-05-17
Chapter: 04. Tidak Akan Lagi Meminta Izin Untuk Berkuasa"NIMAS! JANGAN KERAMAS!"Pekikan Asri melesat menembus pintu kayu kamar mandi yang tipis, membuat Puspa tersentak hingga gayung yang dicengkeram sedikit goyang."Nimas ingat keningnya luka! Kalau airnya masuk ke luka, nanti perihnya sampai ke ubun-ubun! Nanti kalau lukanya busuk bagaimana? Kalau kening Nimas jadi korengan bagaimana? Nimas tidak akan cantik lagi, Arya Muda Agastya nanti bisa dongkol melihatnya!"Puspa tertegun dengan tangan masih menggantung di udara.Di kehidupan lalu Puspa akan menangis ketakutan jika Asri bilang ia tidak akan cantik di depan Agastya, tapi mendengar nama pria itu disandingkan dengan urusan 'koreng' sekarang, Puspa malah merasa mual."Aku tidak akan keramas, Asri! Diamlah!""Tadi suara gayungnya sudah mau bunyi byur begitu, Nimas! Saya tahu Nimas kalau sudah pundung pasti main siram saja! Kayak waktu sawah kita kena hama dulu, Nimas sampai mandi tiga kali sehari gara-gara kesal padinya gagal dijual!" Asri tidak menyerah di balik pintu. "Tilar, bawakan
Last Updated: 2026-05-17