LOGINEnam tahun pernikahan membuat Puspa percaya bahwa Agastya mencintainya. Sampai seorang perempuan datang, menghancurkan segalanya, dan Puspa mati sebagai Garwa Padmi yang difitnah. Dua pelayannya dibunuh di hadapannya. Namun, ketika membuka mata, ia kembali ke masa lalu—lima bulan sebelum pernikahannya dimulai. Jika dulu Puspa hidup demi dicintai, maka di kehidupan kedua ini ... ia akan hidup demi berkuasa.
View More"Bibi ... ini tidak sedang bercanda, kan?"
Puspa langsung melonjak dari duduknya. Nada suaranya tegang, tapi matanya sudah berbinar-binar menatap Kemuning. "Benar-benar nyata, Nduk! Apanya yang bercanda?" Kemuning terkekeh pelan melihat reaksi keponakannya. "Utusan raja sendiri yang membawakan titahnya." Jantung Puspa langsung berdegup lebih cepat. "Aku benar-benar ... akan menikah dengan Kakang Agastya?" gumamnya, masih berusaha mencerna kenyataan itu. Langkah kuda dan gemerincing kereta utusan raja bahkan masih terdengar sayup dari balik gerbang, seolah mengonfirmasi bahwa semua yang terjadi barusan bukan mimpi. "Tilar! Asri! Kalian dengar?" Puspa berseru girang. Dia bangkit, ingin segera menghampiri dua pelayannya. "Aku akan pindah ke Wastu Gautama! Aku harus menyiapkan kebaya terbaik, aku harus—" Kain jarik yang menjuntai melilit pergelangan kakinya. Tidak ada waktu untuk meraih keseimbangan. Tidak ada waktu untuk siapa pun menahan— Kepala Puspa menghantam sudut meja jati. Keras sekali. "Puspa!" Kemuning menjerit histeris. Asri refleks berlari dengan wajah pucat pasi, sementara Tilar sudah lebih dulu jatuh berlutut di sisi tubuh Puspa. "Darah! Ambil kain! Panggil tabib sekarang!" Kemuning panik bukan main melihat cairan merah mulai mengalir dari kening Puspa. "Kakang Andara! KAKANG!" Kemuning langsung jatuh berlutut di sisi Puspa, jemarinya gemetar mencengkeram meraih tangan keponakannya itu. "Puspa? Bibi di sini, Nduk! Kamu dengar Bibi? PUSPA!" Puspa tidak menyahut. Telinganya berdenging hebat, mengubah suara panik di sekitarnya menjadi gumaman jauh yang patah-patah. Di balik kelopak matanya yang terpejam, kegelapan itu mendadak tersingkir oleh aroma Sedap Malam yang menusuk, bercampur anyir yang memuakkan. Pandangan Puspa tersentak ke sebuah ruang yang berbeda. Dia melihat Asri terkapar dengan leher berlumur darah, dan Tilar meraung sembari diseret paksa oleh pengawal. Di tubuhnya sendiri, jarik pemberian mendiang ibunya, kain terbaik yang sudah dia jaga dengan nyawa, kini kotor bersimbah darah. "Kakang ... tolong ...." Puspa memanggil dalam kehampaan. Namun, Agastya diam. Lelaki itu tidak membelanya, bahkan tidak sudi menatapnya. Napas Puspa terdengar memilukan. Jantungnya terasa diremas hingga ia tidak bisa menghirup udara lagi. Namun, detik itu juga dunianya berputar. Semua di sekitarnya kembali gelap gulita. "RADEN AYU! DARAHNYA SEMAKIN BANYAK!" Pekikan Asri di masa sekarang menarik kembali kesadaran Puspa. Saat ia luruh sepenuhnya di ubin pendapa, seisi ruangan meledak dalam teriakan histeris. "TIDAK! TIDAK! NIMAS!" · · · · ✦ · · · · Kelopak mata Puspa bergerak pelan. Nyeri di pelipisnya berdenyut sampai belakang mata. "Air ...." "Air! Asri, cepat ambil air!" Perintah Kemuning disusul langkah tergesa. Aroma Sedap Malam menyusup ke napas Puspa bersamaan dengan tangan yang menopang kepalanya perlahan. "Pelan-pelan, Nduk." Cangkir tanah liat menyentuh bibirnya. Air dingin mengalir turun ke tenggorokan yang terasa kering dan panas. Baru setelah itu Puspa membuka mata sepenuhnya. Dia menatap langit-langit kayu, ukiran bunga di sudut ruangan, dan lampu minyak yang masih menyala. Puspa membeku. Kemuning duduk di sampingnya dengan wajah pucat dan ternyata perempuan itu yang menopang kepalanya. Asri tampak hampir menangis. Tilar berdiri membawa bokor kuningan berisi kain bernoda darah. Di dekat tiang, Andara—paman kandungnya—berdiri dengan rahang menegang. Girindra kecil setengah bersembunyi di belakang ayahnya. "Nimas?" Asri langsung mendekat. "Kepala Nimas masih sakit?" Puspa memandang Asri lama sekali. Ia menatap leher pelayannya yang masih utuh dan bersih, tanpa genangan merah yang tadi sempat muncul di balik kelopak matanya. Air menggenang di pelupuk mata Puspa. Asri masih hidup. Napas Puspa mendadak terasa sesak. Sedangkan Asri mulai salah tingkah. "Nimas ... kenapa melihat saya begitu?" tanya Asri sambil menggeser tubuhnya. "Syukurlah darahnya sudah berhenti," celetuk Tilar dari arah meja. Puspa langsung menoleh terlalu cepat hingga kepalanya kembali berdenyut. "Nimas?" Tilar yang ditatap Puspa seperti dia menatap Asri mengernyit. Jemari Puspa naik ke lehernya sendiri tanpa sadar. Degup nadinya masih terasa. Hangat dan nyata. "Bibi," panggilnya tiba-tiba. Suaranya masih serak, tapi ada nada menuntut yang membuat Kemuning berhenti bergumam. "Iya, Nduk?" "Kita berada di warsa apa sekarang?" Wajah Kemuning seketika pucat pasi. Ia berdiri terlalu cepat hingga lututnya menghantam meja kecil. "Puspa? Kamu bicara apa, Nduk?" "Tahun berapa sekarang, Bibi?" ulang Puspa. Ruangan langsung sunyi. Meski hanya satu detik. "Panggil tabib kembali! Cepat!" Kemuning kembali berteriak panik ke arah pintu. "Nimasmu mengingau! Dia tidak ingat tahun!" Di tengah kepanikan itu, hanya Puspa yang membeku. Karena jauh di dalam dirinya, ada perasaan mengerikan yang mulai tumbuh perlahan: Semuanya pernah terjadi.Dua hari berikutnya berlalu, Puspa tidak lagi muntah, meskipun rasa mual sesekali masih datang. Ia juga sengaja tidak terlalu banyak membicarakan keadaannya agar orang-orang di Wastu tidak semakin yakin bahwa dirinya benar-benar mengandung.Sayangnya, usaha itu sia-sia. Seluruh Wastu Gautama sudah telanjur memperlakukannya seperti perempuan hamil. Sarapannya berubah. Pakaian yang disiapkan Tilar berubah. Bahkan Asri mulai memperhatikan apakah Puspa berjalan terlalu cepat."Kacau." Puspa bergumam, tapi tertawa sedetik setelahnya. "Selama mereka sibuk mengawasi tubuhku, tidak ada yang memperhatikan tanganku," katanya.Tidak ada yang tahu bahwa selama dua hari itu, ia justru sedang menghitung sesuatu yang jauh lebih penting—serapa banyak kekayaan Wastu Gautama yang sudah berhasil ia pindahkan."Nyai Anom, Garwa Ampil ingin menemui Anda."Suara Tilar menggema dari luar. Cara duduk Puspa menjadi sedikit tegang, tapi ia tetap berucap, "Persilakan Saibu masuk.""Marawa Puspa." Bindani meman
"Kenapa, Arya Muda?" Puspa mendongak. Tidak ada ada perasaan yang tampak di wajahnya. Hanya ketenangan. Tapi hatinya terasa sangat dingin. "Anda berpikir saya telah bermain kotor di belakang?""Tidak." Agastya cepat menjawab. Ia tahu jika Puspa sangat mencintainya, jadi istrinya itu mustahil melakukannya. Agastya mendekat perlahan kepada Puspa. "Katakan. Apa ada yang ingin mencelakaimu?"Tangan Puspa saling menguatkan karena sedang gugup. "Belum bisa dipastikan siapa, Arya Muda. Tapi jelas ... selalu ada. Saya putri saudagar, lalu kini menjadi Nyai Anom. Siapa yang tidak akan iri?" Puspa menunduk sedikit lebih dalam. "Bahkan seorang gadis desa ingin mencelakaiku."Hati Agastya tersentil mendengarnya. "Yayi ... maafkan aku," katanya.Puspa memalingkan wajah. Selalu begini. Meskipun ia sudah berkali-kali mengatakan kepada hatinya untuk berhenti mencintai Agastya, hati itu tidak bisa dipaksa. Ia sudah mencintainya selama hampir sepuluh tahun di kehidupan pertama itu.Benar-benar berhenti
Puspa mengangkat wajah. "Kenapa Anda datang?"Agastya berhenti di ambang pintu, menilik Puspa yang duduk di dipan dari atas hingga bawah. "Rama menyuruhku melihat keadaanmu."Puspa mengangguk kecil, dan mengembuskan napas pelan sambil menunduk. "Saya baik-baik saja," katanya, lalu mengangkat wajah. "Kenapa?""Tidak apa-apa."Puspa mengernyit mendengar jawaban itu. Ia menegakkan punggungnya. "Wajahmu aneh, Arya Muda."Agastya menyerah dengan ketelitian Puspa dan mengembuskan napas, lalu melangkah masuk, menghampiri istrinya. "Rama mengira kamu telah hamil."Puspa memejamkan mata lagi. "Asri sudah mengatakannya," bisik Puspa. "Dan sebelum Anda mengatakan apa pun ... saya tidak hamil.""Hmm. Aku tahu."Puspa membuka mata dan menatapnya tajam. "Bagus.""Tapi—""Jangan." Puspa memejamkan nata lagi. Mual yang dideranya kembali terasa."Aku hanya ingin bertanya—""Agastya.""Ya?""Aku sedang mual."Agastya langsung diam. Hening sebentar di antara mereka, sebelum Agastya duduk di samping Pusp
Asri langsung meletakkan kain-kain yang dibawa, ia berlari menuju Puspa. "Jangan berdiri!"Puspa mengerutkan kening. "Tidak akan—"Asri merasa lega mendengarnya dan segera memapah Puspa untuk kembali duduk, sebelum ia menoleh ke arah pintu dan berteriak, "Panggil tabib—!""Jangan." Puspa menahan tangan tangan Asri yang sudah hendak berbalik. Saat pelayannya tersebut menoleh, Puspa mengusap pelipis. "Aku hanya perlu beristirahat."Tilar yang baru masuk beberapa saat kemudian memandang Puspa, tapi hanya sedetik sebelum tatapannya beralih kepada Asri yang fokus kepada Puspa. Nyonya mereka itu kini membekap bibirnya karena masih merasa mual."Ha ... aku mau minum."Tilar segera bergegas ke dipan setelah mengambilkan air hangat untuk Puspa. Puspa meminumnya sedikit demi sedikit, sebelum di tegukan ketiga ia menyeka sudut bibirnya dan memejamkan mata sambil menyerahkan cangkir tanah liat itu kepada Tilar.Tilar menerimanya, sayang sebelum ia sempat merasa lega, Puspa kembali membekap mulutn
"Nimas Puspa dan Arya Muda Agastya ini ..." Mpu Panembahan mengusap jenggot putihnya. Ia mengeluarkan lembaran lontar berisi catatan weton. "Keduanya sama-sama membawa elemen api yang besar."Tangan Puspa tetap terlipat di pangkuan. Ekspresinya sangat terkontrol meski perasaannya bimbang, dia tetap
Keluarga Gautama akan datang setelah matahari condong ke arah barat.Seperti di kehidupan pertama, kain jarik sogan pemberian mendiang orang tuanya yang Puspa pakai, tapi bukan berarti ia adalah gadis yang menanti dengan harap.Puspa memakainya karena sekarang sudah tahu betul ke mana jalan ini ber
Besok ... acara yang ditunggu-tunggu seluruh wastu: Acara Sesan Nimas Dyah Puspanyidra. Wastu Lelana tidak pernah seberisik ini sejak Andara mendapatkan stempel resminya setahun lalu. Suara tumbukan alu di dapur bersahutan dengan teriakan Kemuning yang mengomando para pelayan. Namun, di tengah ke
Lembaran lontar tiba sore harinya, diantarkan Tilar dengan tatapan penuh keingintahuan. Puspa mengambilnya tanpa penjelasan dan menutup pintu kamarnya."Tujuh tahun kehidupan dirangkum." Puspa duduk di meja tulis, tangannya menyentuh pengrupak untuk menulis. "Akan sulit sekali," gumamnya pada diri


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews