LOGINEnam tahun pernikahan membuat Puspa percaya bahwa Agastya mencintainya. Sampai seorang perempuan datang, menghancurkan segalanya, dan Puspa mati sebagai Garwa Padmi yang difitnah. Dua pelayannya dibunuh di hadapannya. Namun, ketika membuka mata, ia kembali ke masa lalu—lima bulan sebelum pernikahannya dimulai. Jika dulu Puspa hidup demi dicintai, maka di kehidupan kedua ini ... ia akan hidup demi berkuasa.
View More"Menjadi Nyai Anom, menjadi Garwa Padmi, semua itu melelahkan." Memayu melangkah ke arah dipan. Matanya sendu menatap langit yang awalnya cerah perlahan mendung dari arah timur."Kedudukan ini membawa begitu banyak penderitaan," katanya, sambil duduk dan menyembuskan naps. "Jika Shankara kembali, Agastya turun dari kedudukan pewaris, dan aku bisa terbebas dari jabatan ini."'Penderitaan'Tilar dan Asri menunduk. Bukan lagi hanya karena merasa benar, mereka yang melihatnya sendiri. Puspa bahkan belum sempat menikmati kebahagiaan sebagai seorang ibu, bayi itu sudah pergi sebelum sempat melihat dunia.Ternyata, bahkan seorang bayi yang baru memiliki detak jantung tidak aman bersama Nyai Anom—Garwa Padmi.Sungguh kejam. Neraka dunia."Kalian berdua menunduk untuk apa?"Tilar dan Asri tersentak, keduanya sama-sama mendongak, menatap Puspa yang keningnya mengernyit saat sedang menilai"Tidak apa-apa, Nyai Anom," kata Tilar. Sementara Asri di sampingnya hanya mengangguk pelan sebelum menundu
Puspa tidak menjawab pertanyaan tersebut. Sebaliknya, ia bertanya, "Kau mengenalnya?"Adi terdiam. Ia merasa pertanyaan sederhana bisa menjadi sesuatu yang begitu sulit dijawab. Sebab selama ini, ia sendiri belum tahu siapa dirinya.Lalu sekarang, perempuan yang bahkan tidak bisa ia pahami mengapa selalu mengusik pikirannya itu datang membawa sebuah nama yang terasa familier.Nama yang mungkin bisa menjelaskan segalanya, atau ... justru menghancurkan semua yang selama ini dipercayainya."Saya tidak mengenalnya.""Begitukah?" Puspa menunduk, menatap batu-batu dan cincin yang Adi poles. "Tapi namamu juga Adiwilaga, benar?""Nama yang sama tidak membuat seseorang sama." Adi menyapu semua hal yang ada di mejanya, ia memang tidak suka seseorang melihat apa yang sedang ia lalukan.Puspa tersenyum. Tentu saja ia tahu itu, tapi ketika melirik dada kiri Adi, di mana lambang bintang itu terpampang dengan jelas, ia menarik napas pelan dan berbisik, "Aku tahu kau tidak percaya, tapi tanda itu sam
Dana lelah. Helaan napasnya terdengar pelan. "Adi, rendam kepalamu dalam bakul es dulu agar kau bisa fokus." "Aku fokus," jawab Adi, setelah tadi menjatuhkan palu dan menyenggol batu yang akan ia poles. Sudah jelas, Dana mendengkus, tapi tak acuhkan sajalah, api di hadapannya lebih penting daripada apa yang sedang berkecamuk di kepala rekan bekerjanya itu. Asal pesanan dan permintaan yang masuk selesai dengan baik, semuanya pun baik-baik saja, bukan? Tak berapa lama, Adi berganti kegiatan, ia mulai menghaluskan tepian sebuah cincin, dan detik itu juga aroma sedap malam menyentuh indra penciumannya. Tangannya berhenti. Aroma itu begitu dikenalnya. Bukan karena sering tercium di tokonya, melainkan karena pemiliknya pernah berdiri di hadapannya, memilih perhiasan dengan ketelitian yang tidak biasa. Adi mengangkat wajah. Ia melihat langsung jika Puspa sudah berada di ambang pintu, ditemani Tilar dan Asri. Entah mengapa, dadanya terasa lebih lapang ... lega. Perasaan itu datang beg
"Tidak ada," ujar Adi, ia mengembuskan napas pelan, sambil memainkan cincin di ibu jarinya.Di kegelapan malam, hijau di batu nyaris tak kentara, tapi masih bisa dibedakan dengan remang-remang damar.Asih berdeham sekilas, dan tetap menatapnya lama. "Kau bertemu seseorang?" tanyanya tiba-tiba.Adi langsung mengangkat wajah. Tidak ada pernyataan yang keluar dari bibirnya, tapi tatapan itu adalah pertanyaan itu sendiri.Asih tersenyum kecil, lalu menepuk kain yang dikenakan. "Nah."Adi mengernyit. Ia tidak suka dengan kepekaan ibunya jika begini. "Nah apa?""Berarti memang ada." Asih tersenyum makin lebar, hingga wajahnya yang berkerut karena menua mulai tampak lebih cerah.Adi menghindari tatapan ibunya itu. "Tidak ada," katanya."Kamu bahkan menjawab terlalu cepat."Adi terdiam mendengarnya, ia tidak sadar sudah melakukan hal itu, dan wajahnya jelas membuat Asih tertawa kecil, tapi tak lama, kemudian wanita itu kembali bersandar."Siapa?" tanya Asih. "Siapa namanya?"Adi tidak menjawa
"Nimas Puspa dan Arya Muda Agastya ini ..." Mpu Panembahan mengusap jenggot putihnya. Ia mengeluarkan lembaran lontar berisi catatan weton. "Keduanya sama-sama membawa elemen api yang besar."Tangan Puspa tetap terlipat di pangkuan. Ekspresinya sangat terkontrol meski perasaannya bimbang, dia tetap
Keluarga Gautama akan datang setelah matahari condong ke arah barat.Seperti di kehidupan pertama, kain jarik sogan pemberian mendiang orang tuanya yang Puspa pakai, tapi bukan berarti ia adalah gadis yang menanti dengan harap.Puspa memakainya karena sekarang sudah tahu betul ke mana jalan ini ber
Besok ... acara yang ditunggu-tunggu seluruh wastu: Acara Sesan Nimas Dyah Puspanyidra. Wastu Lelana tidak pernah seberisik ini sejak Andara mendapatkan stempel resminya setahun lalu. Suara tumbukan alu di dapur bersahutan dengan teriakan Kemuning yang mengomando para pelayan. Namun, di tengah ke
Lembaran lontar tiba sore harinya, diantarkan Tilar dengan tatapan penuh keingintahuan. Puspa mengambilnya tanpa penjelasan dan menutup pintu kamarnya."Tujuh tahun kehidupan dirangkum." Puspa duduk di meja tulis, tangannya menyentuh pengrupak untuk menulis. "Akan sulit sekali," gumamnya pada diri


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews