登入Enam tahun pernikahan membuat Puspa percaya bahwa Agastya mencintainya. Sampai seorang perempuan datang, menghancurkan segalanya, dan Puspa mati sebagai Garwa Padmi yang difitnah. Dua pelayannya dibunuh di hadapannya. Namun, ketika membuka mata, ia kembali ke masa lalu—lima bulan sebelum pernikahannya dimulai. Jika dulu Puspa hidup demi dicintai, maka di kehidupan kedua ini ... ia akan hidup demi berkuasa.
查看更多"Bibi ... ini tidak sedang bercanda, kan?"
Puspa langsung melonjak dari duduknya. Nada suaranya tegang, tapi matanya sudah berbinar-binar menatap Kemuning. "Benar-benar nyata, Nduk! Apanya yang bercanda?" Kemuning terkekeh pelan melihat reaksi keponakannya. "Utusan raja sendiri yang membawakan titahnya." Jantung Puspa langsung berdegup lebih cepat. "Aku benar-benar ... akan menikah dengan Kakang Agastya?" gumamnya, masih berusaha mencerna kenyataan itu. Langkah kuda dan gemerincing kereta utusan raja bahkan masih terdengar sayup dari balik gerbang, seolah mengonfirmasi bahwa semua yang terjadi barusan bukan mimpi. "Tilar! Asri! Kalian dengar?" Puspa berseru girang. Dia bangkit, ingin segera menghampiri dua pelayannya. "Aku akan pindah ke Wastu Gautama! Aku harus menyiapkan kebaya terbaik, aku harus—" Kain jarik yang menjuntai melilit pergelangan kakinya. Tidak ada waktu untuk meraih keseimbangan. Tidak ada waktu untuk siapa pun menahan— Kepala Puspa menghantam sudut meja jati. Keras sekali. "Puspa!" Kemuning menjerit histeris. Asri refleks berlari dengan wajah pucat pasi, sementara Tilar sudah lebih dulu jatuh berlutut di sisi tubuh Puspa. "Darah! Ambil kain! Panggil tabib sekarang!" Kemuning panik bukan main melihat cairan merah mulai mengalir dari kening Puspa. "Kakang Andara! KAKANG!" Kemuning langsung jatuh berlutut di sisi Puspa, jemarinya gemetar mencengkeram meraih tangan keponakannya itu. "Puspa? Bibi di sini, Nduk! Kamu dengar Bibi? PUSPA!" Puspa tidak menyahut. Telinganya berdenging hebat, mengubah suara panik di sekitarnya menjadi gumaman jauh yang patah-patah. Di balik kelopak matanya yang terpejam, kegelapan itu mendadak tersingkir oleh aroma Sedap Malam yang menusuk, bercampur anyir yang memuakkan. Pandangan Puspa tersentak ke sebuah ruang yang berbeda. Dia melihat Asri terkapar dengan leher berlumur darah, dan Tilar meraung sembari diseret paksa oleh pengawal. Di tubuhnya sendiri, jarik pemberian mendiang ibunya, kain terbaik yang sudah dia jaga dengan nyawa, kini kotor bersimbah darah. "Kakang ... tolong ...." Puspa memanggil dalam kehampaan. Namun, Agastya diam. Lelaki itu tidak membelanya, bahkan tidak sudi menatapnya. Napas Puspa terdengar memilukan. Jantungnya terasa diremas hingga ia tidak bisa menghirup udara lagi. Namun, detik itu juga dunianya berputar. Semua di sekitarnya kembali gelap gulita. "RADEN AYU! DARAHNYA SEMAKIN BANYAK!" Pekikan Asri di masa sekarang menarik kembali kesadaran Puspa. Saat ia luruh sepenuhnya di ubin pendapa, seisi ruangan meledak dalam teriakan histeris. "TIDAK! TIDAK! NIMAS!" · · · · ✦ · · · · Kelopak mata Puspa bergerak pelan. Nyeri di pelipisnya berdenyut sampai belakang mata. "Air ...." "Air! Asri, cepat ambil air!" Perintah Kemuning disusul langkah tergesa. Aroma Sedap Malam menyusup ke napas Puspa bersamaan dengan tangan yang menopang kepalanya perlahan. "Pelan-pelan, Nduk." Cangkir tanah liat menyentuh bibirnya. Air dingin mengalir turun ke tenggorokan yang terasa kering dan panas. Baru setelah itu Puspa membuka mata sepenuhnya. Dia menatap langit-langit kayu, ukiran bunga di sudut ruangan, dan lampu minyak yang masih menyala. Puspa membeku. Kemuning duduk di sampingnya dengan wajah pucat dan ternyata perempuan itu yang menopang kepalanya. Asri tampak hampir menangis. Tilar berdiri membawa bokor kuningan berisi kain bernoda darah. Di dekat tiang, Andara—paman kandungnya—berdiri dengan rahang menegang. Girindra kecil setengah bersembunyi di belakang ayahnya. "Nimas?" Asri langsung mendekat. "Kepala Nimas masih sakit?" Puspa memandang Asri lama sekali. Ia menatap leher pelayannya yang masih utuh dan bersih, tanpa genangan merah yang tadi sempat muncul di balik kelopak matanya. Air menggenang di pelupuk mata Puspa. Asri masih hidup. Napas Puspa mendadak terasa sesak. Sedangkan Asri mulai salah tingkah. "Nimas ... kenapa melihat saya begitu?" tanya Asri sambil menggeser tubuhnya. "Syukurlah darahnya sudah berhenti," celetuk Tilar dari arah meja. Puspa langsung menoleh terlalu cepat hingga kepalanya kembali berdenyut. "Nimas?" Tilar yang ditatap Puspa seperti dia menatap Asri mengernyit. Jemari Puspa naik ke lehernya sendiri tanpa sadar. Degup nadinya masih terasa. Hangat dan nyata. "Bibi," panggilnya tiba-tiba. Suaranya masih serak, tapi ada nada menuntut yang membuat Kemuning berhenti bergumam. "Iya, Nduk?" "Kita berada di warsa apa sekarang?" Wajah Kemuning seketika pucat pasi. Ia berdiri terlalu cepat hingga lututnya menghantam meja kecil. "Puspa? Kamu bicara apa, Nduk?" "Tahun berapa sekarang, Bibi?" ulang Puspa. Ruangan langsung sunyi. Meski hanya satu detik. "Panggil tabib kembali! Cepat!" Kemuning kembali berteriak panik ke arah pintu. "Nimasmu mengingau! Dia tidak ingat tahun!" Di tengah kepanikan itu, hanya Puspa yang membeku. Karena jauh di dalam dirinya, ada perasaan mengerikan yang mulai tumbuh perlahan: Semuanya pernah terjadi."Nimas Puspa dan Arya Muda Agastya ini ..." Mpu Panembahan mengusap jenggot putihnya. Ia mengeluarkan lembaran lontar berisi catatan weton. "Keduanya sama-sama membawa elemen api yang besar."Tangan Puspa tetap terlipat di pangkuan. Ekspresinya sangat terkontrol meski perasaannya bimbang, dia tetap berpikir positif jika yang terjadi hanya akan sebatas membahas—"Jika pernikahan dilakukan enam bulan lagi, itu tepat di puncak musim kemarau. Api bertemu api di puncak panas."Napas Puspa tertahan begitu saja. Sementara Andara yang baru saja menoleh kepada Puspa langsung bertanya dengan wajah serius, "Lalu, apa risikonya, Mpu?""Wastu kalian bisa 'terbakar'. Hubungan ini tidak akan mendingin, Raden Lelana. Musim hujan adalah satu-satunya penawar agar api menjadi cahaya, bukan abu.""Maka waktu apa yang pas, Mpu?" Suara Bindani masuk dengan pertanyaannya yang membuat Puspa nyaris mengepalkan tangannya."Hanya air dari langit yang bisa menjinakkan api mereka menjadi cahaya yang berkah." Mpu
Keluarga Gautama akan datang setelah matahari condong ke arah barat.Seperti di kehidupan pertama, kain jarik sogan pemberian mendiang orang tuanya yang Puspa pakai, tapi bukan berarti ia adalah gadis yang menanti dengan harap.Puspa memakainya karena sekarang sudah tahu betul ke mana jalan ini berujung dan memilih untuk berjalan di atasnya dengan kepala yang tegak."Namas, mari saya bantu pasang kalungnya sekarang!" Asri menyengir sambil siap membantu Puspa.Puspa tersenyum, ia merapikan duduk dan memerintah, "Pasangkanlah."Asri maju sambil kegirangan. Setelah kalung itu terpasang, batu delimanya sedikit tersembunyi di antara kain jarik, tapi rantai emasnya sangat indah di leher jenjang Puspa."Wah." Asri mendesah pelan. Ia menatap Puspa sangat dalam hingga memiringkan kepala. "Nimasku memang yang paling cantik di ibu kota ini."Puspa mendengkus pelan, ia duduk lebih tenang dan mengabaikan Asri yang kelihatannya ingin bertepuk tangan karena senang. Sementara Tilar memeriksa kain sek
Besok ... acara yang ditunggu-tunggu seluruh wastu: Acara Sesan Nimas Dyah Puspanyidra. Wastu Lelana tidak pernah seberisik ini sejak Andara mendapatkan stempel resminya setahun lalu. Suara tumbukan alu di dapur bersahutan dengan teriakan Kemuning yang mengomando para pelayan. Namun, di tengah keramaian itu Puspa justru menarik diri sampai hari kembali malam. Di kepalanya, kata itu terus berputar dan tidak mau berhenti: Dyah Bindani menanyakan kamu. Selama tujuh tahun yang sudah ia jalani dengan mencintai Agastya, mengatur selir yang masuk, dan menjaga Wastu Gautama, Bindani tidak pernah menanyakannya. Lalu kenapa sekarang bertanya? Pasti ada alasannya, tapi Puspa belum bertemu dengan wanita itu, alasannya tidak bisa dia pecahkan sekarang. Puspa bangkit dari tikar dan membuka pintu kamarnya. "Tilar," panggilnya. Tilar langsung mendongak. "Nimas?" "Panggil Asri. Bantu dia bangun. Aku ingin kalian ke gudang belakang. Bawa semua peti sesan tambahanku dari gudang belakang ke kamar
Lembaran lontar tiba sore harinya, diantarkan Tilar dengan tatapan penuh keingintahuan. Puspa mengambilnya tanpa penjelasan dan menutup pintu kamarnya."Tujuh tahun kehidupan dirangkum." Puspa duduk di meja tulis, tangannya menyentuh pengrupak untuk menulis. "Akan sulit sekali," gumamnya pada diri sendiri.Namun Puspa tetap harus melakukannya. Kehidupan keduanya ini tidak boleh berakhir tragis di lantai batu yang bersimbah darah.Puspa mengangkat pengrupak yang dari tadi dia mainkan. Lalu pengrupak itu pelan-pelan menggores permukaan lembaran lontar yang mulus.'Dyah Bindani.'Tangan Puspa berhenti sebentar di nama yang di kehidupan pertama penuh dengan ingatan buruk. Lalu melanjutkan.'Garwa Ampil Arya Caraka Gautama. Ibu kandung Agastya. Cara kerja: sabar, tersembunyi, tidak pernah frontal. Selalu menggunakan orang lain sebagai alat.''Dyah Manika. Garwa Ampil Arya Muda Agastya Gautama. Datang enam bulan setelah pernikahan.'Puspa ingat cara Manika pertama kali masuk ke Wastu Gautam






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.