Regresi Garwa Padmi: Dinginnya Dendam Sedap Malam

Regresi Garwa Padmi: Dinginnya Dendam Sedap Malam

last update最後更新 : 2026-05-17
作者:  GadisWaktu連載中
語言: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
評分不足
8章節
4閱讀量
閱讀
加入書架

分享:  

檢舉
作品概覽
目錄
掃碼在 APP 閱讀

故事簡介

Wanita Kuat

Misteri

Cantik

Kuat

Pintar

Pengkhianatan

Menantu Tertindas

Membalikkan Keadaan

Enam tahun pernikahan membuat Puspa percaya bahwa Agastya mencintainya. Sampai seorang perempuan datang, menghancurkan segalanya, dan Puspa mati sebagai Garwa Padmi yang difitnah. Dua pelayannya dibunuh di hadapannya. Namun, ketika membuka mata, ia kembali ke masa lalu—lima bulan sebelum pernikahannya dimulai. Jika dulu Puspa hidup demi dicintai, maka di kehidupan kedua ini ... ia akan hidup demi berkuasa.

查看更多

第 1 章

01. Bercampur Anyir yang Memuakkan

"Bibi ... ini tidak sedang bercanda, kan?"

Puspa langsung melonjak dari duduknya. Nada suaranya tegang, tapi matanya sudah berbinar-binar menatap Kemuning.

"Benar-benar nyata, Nduk! Apanya yang bercanda?" Kemuning terkekeh pelan melihat reaksi keponakannya. "Utusan raja sendiri yang membawakan titahnya."

Jantung Puspa langsung berdegup lebih cepat. "Aku benar-benar ... akan menikah dengan Kakang Agastya?" gumamnya, masih berusaha mencerna kenyataan itu.

Langkah kuda dan gemerincing kereta utusan raja bahkan masih terdengar sayup dari balik gerbang, seolah mengonfirmasi bahwa semua yang terjadi barusan bukan mimpi.

"Tilar! Asri! Kalian dengar?" Puspa berseru girang. Dia bangkit, ingin segera menghampiri dua pelayannya. "Aku akan pindah ke Wastu Gautama! Aku harus menyiapkan kebaya terbaik, aku harus—"

Kain jarik yang menjuntai melilit pergelangan kakinya. Tidak ada waktu untuk meraih keseimbangan. Tidak ada waktu untuk siapa pun menahan—

Kepala Puspa menghantam sudut meja jati. Keras sekali.

"Puspa!"

Kemuning menjerit histeris. Asri refleks berlari dengan wajah pucat pasi, sementara Tilar sudah lebih dulu jatuh berlutut di sisi tubuh Puspa.

"Darah! Ambil kain! Panggil tabib sekarang!" Kemuning panik bukan main melihat cairan merah mulai mengalir dari kening Puspa. "Kakang Andara! KAKANG!"

Kemuning langsung jatuh berlutut di sisi Puspa, jemarinya gemetar mencengkeram meraih tangan keponakannya itu. "Puspa? Bibi di sini, Nduk! Kamu dengar Bibi? PUSPA!"

Puspa tidak menyahut.

Telinganya berdenging hebat, mengubah suara panik di sekitarnya menjadi gumaman jauh yang patah-patah. Di balik kelopak matanya yang terpejam, kegelapan itu mendadak tersingkir oleh aroma Sedap Malam yang menusuk, bercampur anyir yang memuakkan.

Pandangan Puspa tersentak ke sebuah ruang yang berbeda.

Dia melihat Asri terkapar dengan leher berlumur darah, dan Tilar meraung sembari diseret paksa oleh pengawal. Di tubuhnya sendiri, jarik pemberian mendiang ibunya, kain terbaik yang sudah dia jaga dengan nyawa, kini kotor bersimbah darah.

"Kakang ... tolong ...."

Puspa memanggil dalam kehampaan. Namun, Agastya diam. Lelaki itu tidak membelanya, bahkan tidak sudi menatapnya. Napas Puspa terdengar memilukan. Jantungnya terasa diremas hingga ia tidak bisa menghirup udara lagi.

Namun, detik itu juga dunianya berputar. Semua di sekitarnya kembali gelap gulita.

"RADEN AYU! DARAHNYA SEMAKIN BANYAK!"

Pekikan Asri di masa sekarang menarik kembali kesadaran Puspa. Saat ia luruh sepenuhnya di ubin pendapa, seisi ruangan meledak dalam teriakan histeris.

"TIDAK! TIDAK! NIMAS!"

· · · · ✦ · · · ·

Kelopak mata Puspa bergerak pelan. Nyeri di pelipisnya berdenyut sampai belakang mata.

"Air ...."

"Air! Asri, cepat ambil air!"

Perintah Kemuning disusul langkah tergesa. Aroma Sedap Malam menyusup ke napas Puspa bersamaan dengan tangan yang menopang kepalanya perlahan.

"Pelan-pelan, Nduk."

Cangkir tanah liat menyentuh bibirnya. Air dingin mengalir turun ke tenggorokan yang terasa kering dan panas.

Baru setelah itu Puspa membuka mata sepenuhnya. Dia menatap langit-langit kayu, ukiran bunga di sudut ruangan, dan lampu minyak yang masih menyala.

Puspa membeku.

Kemuning duduk di sampingnya dengan wajah pucat dan ternyata perempuan itu yang menopang kepalanya. Asri tampak hampir menangis. Tilar berdiri membawa bokor kuningan berisi kain bernoda darah.

Di dekat tiang, Andara—paman kandungnya—berdiri dengan rahang menegang. Girindra kecil setengah bersembunyi di belakang ayahnya.

"Nimas?" Asri langsung mendekat. "Kepala Nimas masih sakit?"

Puspa memandang Asri lama sekali. Ia menatap leher pelayannya yang masih utuh dan bersih, tanpa genangan merah yang tadi sempat muncul di balik kelopak matanya.

Air menggenang di pelupuk mata Puspa. Asri masih hidup. Napas Puspa mendadak terasa sesak. Sedangkan Asri mulai salah tingkah. "Nimas ... kenapa melihat saya begitu?" tanya Asri sambil menggeser tubuhnya.

"Syukurlah darahnya sudah berhenti," celetuk Tilar dari arah meja.

Puspa langsung menoleh terlalu cepat hingga kepalanya kembali berdenyut.

"Nimas?" Tilar yang ditatap Puspa seperti dia menatap Asri mengernyit.

Jemari Puspa naik ke lehernya sendiri tanpa sadar. Degup nadinya masih terasa. Hangat dan nyata. "Bibi," panggilnya tiba-tiba. Suaranya masih serak, tapi ada nada menuntut yang membuat Kemuning berhenti bergumam.

"Iya, Nduk?"

"Kita berada di warsa apa sekarang?"

Wajah Kemuning seketika pucat pasi. Ia berdiri terlalu cepat hingga lututnya menghantam meja kecil. "Puspa? Kamu bicara apa, Nduk?"

"Tahun berapa sekarang, Bibi?" ulang Puspa.

Ruangan langsung sunyi. Meski hanya satu detik.

"Panggil tabib kembali! Cepat!" Kemuning kembali berteriak panik ke arah pintu. "Nimasmu mengingau! Dia tidak ingat tahun!"

Di tengah kepanikan itu, hanya Puspa yang membeku. Karena jauh di dalam dirinya, ada perasaan mengerikan yang mulai tumbuh perlahan:

Semuanya pernah terjadi.

展開
下一章
下載

最新章節

更多章節

致讀者

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

暫無評論。
8 章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status