
Terikat Obsesi Sang Billionaire
"Kau punya dua pilihan, Lexy."
"Dengar baik-baik. Opsi pertama, aku menelepon polisi dan menuduhmu melakukan penguntitan serta percobaan pemerasan. Aku punya pengacara yang bisa memastikan kau membusuk di penjara sampai kau lupa bagaimana cara memegang kamera tuamu itu."
"Dan opsi kedua?" tanyanya dengan suara bergetar.
"Opsi kedua, kau ikut ke kantorku, kita akan buat kesepakatan, dan jadilah tunanganku selama enam bulan ke depan.”
"APA?! APA KAU SUDAH GILA? KENAPA AKU HARUS JADI TUNANGANMU?!”
Malam itu, di koridor Hotel Astoria yang sunyi, Lexy—seorang fotografer—menyaksikan pemandangan mengerikan yang bisa menghancurkan citra sempurna sang billionaire, Dante Maverick.
Di balik setelan jas mewahnya, Dante hanyalah monster yang tengah menghajar seseorang dengan brutal hingga darah mengotori tangannya. Kesalahan fatal terjadi saat kamera Lexy menangkap momen tersebut dalam satu jepretan tajam, membuat sang billionaire menyadari keberadaannya dan menjebaknya dalam cengkeraman kekuasaan yang tak mengenal belas kasihan.
Alih-alih menjebloskan Lexy ke penjara, Dante justru menawarkan kesepakatan gila yang tak masuk akal: menjadi istrinya.
Lexy awalnya menolak keras tawaran pria arogan tersebut, namun pertahanannya runtuh saat Dante menyebutkan nominal fantastis yang mampu membiayai transplantasi jantung adiknya, Leo, sekaligus menyelamatkan apartemennya dari penyitaan.
Terdesak oleh kenyataan pahit, Lexy terpaksa menandatangani kontrak yang mengikat kebebasannya demi nyawa sang adik.
Akankah gadis itu bertahan? Atau justru terjebak dalam dunia gila seorang Dante Maverick?
Read
Chapter: BAB 6: PELATIHAN SANG PERMAISURIRuang kerja Dante yang luas kini disulap berubah menjadi medan tempur. Di atas meja jati yang mahal, bertumpuk berkas profil anggota dewan komisaris Maverick Corp. Dante berdiri di depan jendela besar, sementara Lexy duduk dengan gelisah, membolak-balik foto-foto pria tua berjas formal."Hafalkan wajah-wajah ini, Lexy. Jangan sampai kau salah sebut nama," instruksi Dante tanpa menoleh."Ini seperti ujian sejarah, Dante! Kenapa aku harus tahu kalau Tuan Harrison hobi bermain golf?"Dante berbalik, menatapnya tajam. "Karena jika Harrison tahu kau memperhatikan Hal detail kecil itu, dia akan menganggapmu cerdas. Dan jika dia menganggapmu cerdas, dia tidak akan curiga bahwa pernikahan ini hanyalah sandiwara."Lexy melempar berkas itu ke meja. "Aku fotografer, bukan mata-mata!""Dan sekarang kau adalah keduanya," Dante mendekat, menarik kursi Lexy agar menghadapnya. "Coba kita tes. Siapa wanita di foto ketiga?""Uhmm... Marie Vance. Janda dari pendiri logistik Maverick. Dia menyukai k
Last Updated: 2026-05-03
Chapter: BAB 5: SATU RANJANG, DUA MUSUHDi kamar utama Dante, Lexy berdiri kaku di tengah karpet bulu, sementara pria itu dengan santai melepas dasi dan membuka dua kancing kemeja teratasnya."Sofa itu terlihat cukup empuk untukmu," Lexy menunjuk sofa panjang di sudut ruangan.Dante melirik sofa itu, lalu kembali menatap Lexy. "Itu sofa desainer, bukan tempat untuk tidur. Dan ibuku punya kebiasaan buruk memeriksa kamar anaknya di pagi buta. Kamu tetap tidur di ranjang.""Berdua denganmu? Jangan harap!""Ranjang ini ukurannya King Size, Lexy. Kita bahkan bisa meletakkan pembatas di tengahnya dan tidak akan bersentuhan," Dante melempar jam tangannya ke atas nakas dengan bunyi klunting yang mahal. "Kecuali jika dirimu tidak bisa menahan diri untuk menyentuhku."Lexy mendengus, melempar bantal hias ke arah Dante. "Dalam mimpimu, Maverick! Aku lebih memilih menyentuh kaktus daripada kau.""Baguslah. Simpan tenaga ejekanmu itu untuk besok pagi. Ibuku akan menginterogasimu seperti agen CIA." Dante berjalan menuju walk-in close
Last Updated: 2026-05-03
Chapter: BAB 4: TAMU TAK DIUNDANGLampu hias di langit-langit penthouse masih menyala terang di kediaman Maverick. Usai acara amal yang terasa mencekik, Lexy menendang heels-nya ke sembarang arah. Kakinya lecet, dan kepalanya berdenyut karena akting senyum selama empat jam di depan kamera."Tolong buka resleting ini, Dante. Aku tidak bisa bernafas," gerutu Lexy, membelakangi pria itu yang baru saja meletakkan kunci mobilnya di meja marmer.Dante meliriknya sekilas, lalu berjalan mendekat. Jemarinya yang dingin menyentuh kulit punggung Lexy saat ia menarik perlahan resleting gaun merah itu. Lexy menahan napas, bukan karena romantis, tapi karena aura dominan Dante yang selalu terasa mencekik baginya."Satu malam selesai. Sisa tujuh ratus dua puluh sembilan malam lagi," gumam Dante di dekat telinganya."Jangan mengingatkanku! Aku butuh mandi dan tidur sekarang."Tepat saat gaun itu melonggar di bahu Lexy, suara denting lift pribadi terdengar. Ting!Pintu terbuka, menampakkan seorang wanita paruh baya dengan gaun coutur
Last Updated: 2026-05-03
Chapter: BAB 3: SANDIWARA PERDANALantai marmer penthouse itu terasa dingin saat Lexy digiring menuju kamar rias. Ruangan itu terlihat lebih mirip butik kelas atas di Milan daripada sebuah kamar. Tiga orang berpakaian modis dan stylist sudah menunggu dengan kuas rias dan deretan gaun yang berkilau di bawah lampu kristal."Namanya Lexy. Pastikan dia terlihat seperti wanita yang baru saja memenangkan lotre cinta, bukan korban penculikan," titah Dante dingin di ambang pintu."Siap, Tuan Maverick," sahut seorang wanita paruh baya dengan aksen Prancis yang kental.Lexy menoleh tajam. "Kamu tidak perlu memerintah mereka seolah aku ini manekin, Dante!"Dante hanya melirik jam tangannya. "Satu jam empat puluh lima menit, Lexy. Jangan membuang waktu dengan protes kecil yang tidak akan mengubah apa pun."Klik!Pintu geser itu tertutup otomatis, memisahkan Lexy dari pria angkuh itu. Selama satu jam berikutnya, Lexy merasa seperti adonan kue yang diuleni. Rambutnya dicuci, wajahnya dipoles, dan tubuhnya dibalut gaun silk berw
Last Updated: 2026-05-03
Chapter: BAB 2: PENJARA BERLAPIS EMASLimosin hitam itu meluncur membelah jalanan kota London yang basah. Di dalamnya, keheningan terasa begitu berat, hanya dipecahkan oleh suara napas Lexy yang masih memburu. Dante duduk di hadapannya, sibuk dengan tablet di tangan, seolah-olah wanita yang baru saja ia culik itu hanyalah kursi kosong."Kau tidak bisa melakukan ini kepadaku, Dante." Ucap Lexy memecah kesunyian. "Ini penculikan. Aku bisa melaporkanmu ke polisi!"Dante tidak mengangkat wajahnya. Jari-jarinya tetap bergerak lincah di atas layar iPadnya. “Polisi?” Dante tertawa mengejek."Coba saja. Ponselmu ada di saku jasku, dan sopir ini digaji mahal untuk tidak mendengar apapun kecuali perintahku.""Dasar brengsek! Kau pikir uangmu bisa membeli segalanya?" Lexy semakin emosi dibuatnya.Dante akhirnya mendongak. Matanya yang dingin menatap Lexy datar. "Uangku tidak membeli segalanya, Lexy. Uangku membeli waktu dan hasil. Dan malam ini, aku butuh keduanya darimu."Beberapa menit kemudian, limosin itu berhenti di depan se
Last Updated: 2026-05-03
Chapter: BAB 1: HARGA SEBUAH KESALAHAN"Aku tidak suka mengulang ucapanku, David," gumam Dante sambil membenarkan letak jam tangan Rolex di pergelangan tangannya.Di bawah pendar lampu kristal yang redup, pria itu berdiri dengan ketenangan yang mengerikan. Suaranya tetap rendah, hampir seperti bisikan—jenis suara yang sanggup membuat nyali siapapun menciut di hadapannya. "Dimana data cadangan sialan itu? Bicaralah, selagi aku masih baik kepadamu.”"A—aku tidak–”BUGH!Dante melapangkan tinjunya tepat di wajah David, yang membuat pria itu terhuyung ke belakang.“Sudah kubilang, bukan? Aku tidak menyukai pengkhianat di dunia bisnisku. Katakanlah, sebelum peluru ini menembus ke kepalamu.”"A—aku tidak tahu, Tuan Maverick! Aku bersumpah, mereka mengambilnya dari mejaku!" David ambruk ke karpet beludru, nafasnya tersengal-sengal.BUGH!Dante kembali melapangkan tinjunya, kali ini tepat di ulu hati David, yang membuat pria itu hampir kehilangan kesadarannya.Beberapa meter di ujung lorong, seorang fotografer menelan ludah denga
Last Updated: 2026-05-03