เข้าสู่ระบบAsma meminta cerai padaku setelah aku menagih hutangnya. Bukankah hutang memang wajib dibayar? Kenapa dia harus marah saat ditagih? Dasar istri durhaka.
ดูเพิ่มเติมAurora’s POV
“Little girl…” Soft whispers of my name flowed into my ears and I groaned softly, rolling in the sheets. My eyes opened slowly, to see the man who plagued my dreams every night hovering over me. “Wake up, my little girl…” He whispered, placing a kiss on the side of my lips. The warmth of his lips caused me to crave more of his kisses and I nudged my lips toward him, silently begging him for more. And he didn't hesitate... His lips hovered over mine at first but then, he pressed on mine harder. I slowly locked my arms around his neck, sucking on his lips and tasting the sweetness of his mouth, while I moaned in between kisses. “Little girl, did you miss me?” He broke the kiss as his body descended on mine. It was at this moment I realized he was naked, and so was I. I was in a different room than mine, his room, on his large bed with my legs spread wide open. “Answer me!” He nudged me with a love bite on my exposed shoulder, leaving his mark. His lips trailed downward slowly and he captured my nipple in his warm mouth, flicking his tongue over it. “Yes…” A gasp escaped my lips, alongside a moaning sound. “Yes, Kieran, I miss you.” I whimpered. “I have waited for you to be back and now…hmm…” My words were cut short when he bit onto my nipple and set his hard member at my already wet entrance. A rippling pleasure caused me to arch my body toward his while I wrapped my legs around his waist. “Now, I am back, Aurora. You won’t have to miss me anymore…” He whispered, and this time, he looked straight into my eyes. I could see the intense emotions and the desire he had for me. It made my heart purr and my insides rumble in need of him. “I want you inside me, Kieran,” I demanded, my eyes staring at him longingly. “Naughty girl…” He grinned, mischievously but then proceeded to suck harder on my chest while he pushed against my wet entrance. “Ohh…” I moaned out loud, closing my eyes in anticipation. I expected him to thrust harder into me but something unexpected happened. “Aurora!!” A sharp voice flowed into my ears and my eyes snapped open sharply. I realized that Kieran was gone and I was in my bedroom. My sheets were soaked from sweat and my wetness. But Kieran was nowhere to be found. In fact, he shouldn't be found since he had been at the war front against the rogues for several months now. But every night, I found myself craving and missing him. Before he left, he would always call me little girl and look at me with a smile he never showed anyone else but the smile would only last a minute. I was naive, falling for him without any precautions and seeking more of his gaze on me. I disregarded the fact that he was my Alpha and my foster uncle. Even with all those restrictions, I found myself secretly admiring him since I was 19, and now, three years had passed and I was still engulfed in my little bubble. My one-sided feelings had grown so much, that my wolf was now absorbed in the thoughts of Kieran. But now, my bubble was threatening to get busted. If the Pack ever discovered the thoughts I harbored toward their Alpha, I was likely going to be banished especially when I was just an adopted kid. And with my foster parents dead, Alpha Kieran was now my guardian. “Aurora! Get out of that bed this instant!” My best friend, Camilla’s voice rang out again. “We are going to be late. It’s Alpha Kieran’s welcoming party and I know you want to see him!” “Right!” I gasped as my brain clocked that. Alpha Kieran was coming home and as his niece, I should be there to welcome him. Swiftly, I shot up to my feet and discarded my wet clothes. I let Aurora in and she quickly helped me with my makeup and clothes while she talked on and on about how the Alpha’s physique would be now. My mind couldn't help but wander to the dream I had. I was now ecstatic to see what Kieran would look like. His body in my dreams was already hot enough, how hot would it be now? One hour later… Camilla and I were dressed up and the ball had begun. We were just a few inches away from the entrance when I stopped. My sweaty hands clutched my red dress. I was nervous. I would be seeing Alpha Kieran and even my wolf, Sienna was nervous. “Are you nervous?” Camilla asked. “Obviously.” I rolled my eyes. But then I looked worried, “Do you think I look beautiful? Will Alpha Kieran look my way or just ignore me before everyone?” As I spoke, I looked down at the red dress I wore that accentuated my boobs, and showed off my sexy back. “I chose everything you are wearing today, Aurora. You should trust my judgment! Your fair skin matches perfectly with this red dress! You look like a goddess!” Camilla praised but I couldn't help but think her words were exaggerated. But I had seen myself in the mirror earlier, and I didn’t look like the little girl Alpha Kieran would remember. I had become a sexy woman! “That’s it! I like that daring look in your eyes! The Alpha will not be able to resist you!” Camilla praised which boosted my confidence. After a few more girl talks, we walked majestically into the ballroom. Our appearance drew attention from the crowd. Camilla was all smiles, waving at almost everyone while I ignored everyone in my path. I wanted to see just one person… And when I saw him, it was like the whole world stopped. Sienna bubbled with excitement within me, and I could hear her purring contentedly. He was the only one we could see, with his hot body clad in a dark green suit. A few buttons of his white inner shirt were loosened, showing off his chest muscles. He looked tanned and even more sexy now. My dreams would definitely get an upgrade! However, I couldn't control my feet as I started to approach him. But then, my nose picked up a familiar scent, and I could feel my wolf stirring within me in irritation. “Where are you going, babe?” A thick masculine voice called out from behind and I felt my body being dragged backward."Mami! Papi! Sudah siang bangun dong, kita harus ke Bandara."Adam mengeliat mendengar teriakan di depan pintu. Bukan hanya teriakan tapi juga ketukan, dia melingkarkan tangan di pingganga istrinya dan mengigit daun telinga Asma pelan."Putrimu memanggil Papi, Mami. Pasti dia sedang mengiginkan sesuatu, lihat dulu mau apa anak itu."Asma menghempaskan tangan suaminya, lalu mencari baju tidur yang entah lari kemana. Mereka sudah menikah cukup lama, tapi gairah itu bukan surut makin meningkat saja.Setelah memakai baju tidurnya, Asma segera membuka pintu. Matanya terbuka lebar, saat anak bungsunya hendak masuk ke kamar menemui papanya."Hai ...papa sedang tidur. Kau butuh apa biar mama yang bantu?"Asma mendorong anak bungsunya lalu menutup pintu agar anak gadis itu tak nelihat kalau papanya tidur dalam keadaan bugil."Mama dan papa pasti habis."Raina memainkan alisnya membuat Asma menepuk jidat putrinya. Anak berusia 19 tahun itu tertawa melihat mamanya tersipu."Minta uang Ma, besok m
"Kenapa kau harus meninggal seperti ini Lam? Kita baru saja mau serius bertobat. Kau tinggalkan aku demi menolong mantanmu itu."Asma menarik napas, saat mendengar ucapan Raisa di makan Alam. Wanita itu membelakanginya, jadi tak tau kalau dia dan Adam datang ke makam Alam."Kalau begini apa yang akan aku lakukan, Lam. Hidup akan semakin sulit tanpamu, anak itu harus bagaimana aku besarkan nanti?"Asma mengerutkan kening lalu menatap Adam. Pria itu juga sama sepertinya, bingung dengan maksud ucapan Raisa barusan."Anak apa maksudmu, Sa?"Raisa terkejut mendengar pertanyaan Asma, dia menyingkir untuk memberi jalan bagi pasangan suami-istri itu."Kau belum menjawab pertanyaanku, Sa? Apa yang kau maksud dengan anak itu? Katakan mungkin kami bisa bantu."Asma kembali bertanya setelah selesai tabur bungga dan berdoa."Bukan urusanmu Ma, jadi jangan sok baik di depanku. Kau pasti senang karena Alam meninggal, jadi tak ada yang akan mengganggumu."Asma kembali menarik napas panjang. Raisa bel
"Assalamu'alaikum, Sayang. Sudah lima hari, betah banget tidurnya, bangun dong kagen nih."Aku mencium tangan mas Adam, hari ini dokter bilang kalau alat bantu pernapasannya sudah bisa dilepas. Awalnya aku heran tapi Dokter bilang Mas Adam sudah bisa bernapas tanpa alat bantu, tentu saja aku senang mendengarnya."Hari ini anak-anak mau ikut menjenguk Mas, tapi ibu tak mengijinkannya. Mereka sangat merindukanmu Mas, bangunlah."Aku membelai wajah mas Adam, berharap dia merasakan sentuhan tanganku dan membuatnya bangun. Aku tersenyum melihat bibirnya yang mulai merona, tidak pucat seperti beberapa hari ini."Aku mencintaimu Mas, bangunlah agar kita bisa hidup bersama dan bahagia."Aku mendekati wajah mas Adam dan mencium bibirnya. Masih dengan harapan dia bangun, setelah merasakan sentuhan di bibirnya. Namun aku terkejut saat merasakan hisapan kuat di bibirku."Tidak mungkin kau masih koma kan Mas? Kenapa bisa membalas ciumanku?"Aku menatap tajam wajah mas Adam. Tak terlihat pergerakan
"Suami saya tidak bersalah Pak, saya punya buktinya kalau wanita itu yang menjebaknya. Sekarang saya akan melaporkan balik wanita itu, pengacara saya akan mengurus semuanya."Asma menyerahkan bukti yang dia miliki. Naura terlihat pucat saat polisi memeriksa bukti yang diberikan Asma."Itu tidak mungkin pak polisi, CCTV ruangan itu sudah dimatikan."Semua orang terkejut mendengar pengakuan Naura. Wanita itu membekap mulutnya agar tidak bersuara, namun sayang semua sudah terjadi, banyak orang yang mendengar ucapannya.Plak ....Naura terdiam saat Asma menamparnya. Hingga membuat kepalanya menoleh ke samping. Wanita itu tak menyangka, mendapatkan itu dari wanita yang dia kira lemah."Kau memang wanita tak tau diri. Tega menjebak pria yang sudah baik pada keluarga dan anakmu, apa kau tak tau perbuatanmu hampir menghancurkan keluargaku. Tenang saja sebentar lagi kau akan bertemu dengan rekan kerjamu."Naura terlihat ketakutan sepertinya dia sangat takut pada rekan kerjanya. Terlihat dari ra
"Dimana dia berada?"Asma berlari menghampiri Carisa dan Bagus. Kedua orang itu terlihat duduk di depan kamar pasien, Carisa bingung melihat keadaan Asma, sehingga berusaha untuk menenangkan wanita itu."Dimana Mas Adam!?"Asma berteriak membuat Carisa bingung dan menujuk ke arah kamar di depannya. Asm
"Sebaiknya kau tak perlu tau, pulanglah temui dan jaga suamimu. Biar semua masalah ini mas yang menghadapinya, soal wanita itu kita antar saja ke rumah jompo. Tak mungkin kan kita membawanya pulang ke rumah ini, karena di sini sudah ada mama Sekar. Soal papa nanti kita bicarakan dengan mama Sekar, k
"Aku tak tau apa yang terjadi sebenarnya Mas, hari itu aku marah karena perbuatan Lidya, keras kepalanya membuatku emosi. Setelah menjatuhkan talak satu aku memberinya kesempatan lagi. Sayang dia justru menguji lagi kesabaranku, karena dia mengunjungi mama Riska. Saat pulang dia kembali memaki mbak
POV : Author."Kakak mau yang mana? lihat sini sama mama."Anak perempuan itu mengeser kursinya, namun tak lama kemudian dia dan Alkafi justru berlari keluar kafe, sembari memanggil seseorang."Papi ...papi ...papi ....!"Adam dan Asma terpaku, namun dengan cepat Asma tersadar dan mengejar kedua anaknya












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
คะแนน
ความคิดเห็นเพิ่มเติม