Chapter: 94 - Aku Menyesal IkutMeira terdiam. Ia mengerjap beberapa kali."Kenapa kamu tidak bilang kalau sudah kembali ke Elaris?!" seru wanita itu lagi. "Kenapa kamu ada di area dapur? Kalian berdua sedang bernostalgia?"Rafael, yang berdiri kaku di ujung meja langsung membuang buku catatan di tangannya. Ia berlari kecil menghampiri wanita itu."Kak Jean, hentikan." Rafael menarik tangan wanita itu agar melepaskan bahu Meira. "Jangan buat keributan di sini."Jean menepis tangan adiknya. "Aku tidak sedang buat keributan, Rafael. Aku hanya senang melihat Meira lagi setelah sekian lama. Jadi, kalian pacaran lagi?"Keheningan menyelimuti ruangan. Para staff menghentikan pekerjaannya dan menatap ke arah Lucien."Siapa yang berpacaran dengan siapa?" tanya Lucien sambil menghampiri Meira.Jean beralih menatap Lucien dari atas ke bawah. Alis wanita itu berkerut tipis."Tentu saja Meira dan Rafael," jawab Jean dengan ketus. Ia menunjuk wajah adiknya
Last Updated: 2026-09-16
Chapter: 93 - Cokelat Asam Yang ManisPintu ruang kerja Rafael tertutup rapat. Meira kini duduk sendirian di atas sofa. Ia mengangkat tangan dan menyentuh pipi kanannya secara refleks. Ia menatap karpet berbulu kasar di bawah sepatunya, lalu mengalihkan pandangan ke meja kerja Rafael. Otaknya langsung membayangkan maksud kalimat Lucien tadi.Bulu kuduk Meira meremang.Ia langsung melompat dari sofa dan menepuk-nepuk celana bagian belakangnya. Ia menatap sofa, meja, dan karpet itu bergantian dengan tatapan jijik."Si bajingan tampan itu!" rutuk Meira sambil menyambar tasnya dari atas meja.Ia keluar dari ruangan dan langsung menuruni tangga menuju lantai satu.Suara mesin pendingin dan denting loyang logam terdengar sangat jelas. Meira melewati lorong dan mendorong pintu kaca pembatas area dapur.Beberapa staff berseragam koki sibuk bekerja di meja masing-masing.Di ujung meja paling besar, Lucien dan Rafael berdiri berhadapan. Rafael memegang sebuah termometer besar."Ovenmu ini panasnya tidak merata," kata Lucien."Ini
Last Updated: 2026-09-13
Chapter: 92 - Ruang Kerja Pria LainBeberapa saat kemudian, mereka tiba di Virelune, sebuah bangunan bergaya Eropa.Meira langsung membuka pintu ruang kerja Rafael di lantai dua tanpa mengetuk. Wanita itu berjalan ke arah sofa di sudut ruangan dan menghempaskan tubuhnya di sana.Rafael yang sedang mengecek tumpukan kertas pesanan di meja kerjanya langsung mengangkat kepala."Lucien," sapa Rafael. Pria berseragam koki itu menaruh pensilnya di atas meja. "Dan, Meira?""Dia sedang tidak mau jauh-jauh dariku hari ini." Lucien menjawab tatapan bingung Rafael.Meira mendelik dari sofa.Rafael tertawa kecil melihat interaksi mereka. "Oke. Jadi, bagaimana soal dapur?""Aku butuh sewa seluruh area dapurmu untuk minggu depan.""Seluruhnya? Tidak bisa, Lucien. Pesananku sedang padat minggu ini," tolak Rafael."Aku akan bayar tiga kali lipat dari pendapatan harianmu.""Tapi aku punya pelanggan yang akan mengamuk jika tidak dilayani.""Aku akan berikan kompensasi untuk semua pelangganmu," tawar Lucien tanpa ragu.Rafael menggeleng.
Last Updated: 2026-09-09
Chapter: 91 - Pakai Pengaman!Lucien menatap Meira datar. Ia menghembuskan napas pelan."Bukankah aneh kalau aku memang menyimpan kondom di rumah ini?"Wajah Meira bertambah pucat. "Kamu... kamu mengeluarkannya di dalam?" tanya Meira."Aku tidak ingat. Sepertinya iya."Meira memegang kepalanya. Tangannya yang sebelah lagi mencengkeram erat lilitan selimut di dadanya."Berapa kali kita melakukannya?" tanya Meira. Suaranya melengking menahan panik.Lucien menyandarkan pinggulnya ke tepi meja dan melipat kedua tangan di dada. "Aku tidak menghitungnya.""Lucien, jawab yang benar! Sekali? Dua kali? Tiga kali?!" seru Meira."Aku tidak ingat angka pastinya, Meira," kata Lucien. "Yang jelas lebih dari sekali."Meira melangkah mundur hingga punggungnya menabrak pintu kulkas. Ia memejamkan mata rapat-rapat. Pikirannya berputar liar.Lucien memperhatikan setiap gerakan panik Meira. Wajahnya tetap datar, tetapi rahangnya menegang."Aku bisa gila. Bagaimana kalau aku hamil?" gumam Meira. Ia menepuk dahinya sendiri berkali-kal
Last Updated: 2026-09-06
Chapter: 90 - Bukan MimpiDetik itu juga, Lucien tidak lagi menahan diri. Ia langsung mencium bibir Meira.Meira tersentak. Aroma wine masih terasa dari napas Lucien. Lidah Lucien kemudian menerobos masuk. Ciuman itu membuatnya lupa bahwa ia masih mengira semua ini hanya mimpi. Tangan Meira refleks mencengkeram rambut Lucien dan menarik pria itu semakin dekat. Lucien mengerang. Satu tangannya mencengkeram rahang Meira, tangan lainnya menarik pinggang wanita itu ke atas hingga tubuh mereka menempel tanpa celah.Meira memukul bahu Lucien dengan napas tersengal, kehabisan oksigen.Lucien melepaskan ciumannya. "Siapa aku?"Meira mengerutkan kening."Apa?""Sebut namaku, Meira." Ibu jari Lucien menekan bibir bawah istrinya. "Siapa yang sedang menciummu saat ini? Aku ingin mendengarnya darimu."Meira tersenyum tipis. "Suamiku yang menyebalkan. Lucien."Lucien kembali menunduk dan menyerang leher Meira. Ia menghisap dan menggigit kulit sensitif itu."Ahh..." Meira mendesah panjang.Tangan kiri Lucien membuka kancing
Last Updated: 2026-09-05
Chapter: 89 - Bukan VitaminPintu lift terbuka."Sudah sampai di depan pintu," kata Zayn santai. "Terima kasih, Zayn. Maaf merepotkanmu seharian ini.""Aku tidak merasa direpotkan." Zayn mengangkat bahu. "Tapi, Meira, sebaiknya kamu segera menyelesaikan masalahmu dengan Lucien."Meira mengerutkan kening. "Kami tidak punya masalah, Zayn."Zayn tersenyum tipis. "Tentu." Ia menekan tombol lift. "Kalau begitu, aku pulang dulu. Selamat malam, Meira."Meira kemudian masuk ke dalam penthouse. Ia melihat Lucien masih mengenakan setelan jas dan duduk di sofa ruang tamu sambil memegang tabletnya.Meira menghela napas panjang lalu berjalan menghampiri sofa. Ia mengambil satu botol kaca dari dalam tasnya dan meletakannya di meja di hadapan Lucien."Vitamin dari Mama. Minum sebelum tidur."Lucien tidak merespons. Matanya tetap fokus pada layar tablet. "Lucien.""Iya, aku dengar," jawab Lucien singkat tanpa menoleh."Kalau begitu jawab dengan benar." Meira melipat kedua tangan di depan dada. "Jangan mengabaikanku. Kamu bers
Last Updated: 2026-09-04