Chapter: 58 - Aset Yang TerbakarLucien mematikan panggilan. Ia melangkah cepat menuju lemarinya, menarik kemeja hitam pertama yang ia lihat, lalu memakainya.Pria itu mencoba memasukkan kancing pertama ke lubangnya, tetapi jarinya terus meleset. Ia mencoba lagi. Gagal. Napasnya mulai memburu, dadanya naik turun dengan kasar.Meira menghampiri Lucien, menepis kedua tangan pria itu dengan satu pukulan pelan."Singkirkan tanganmu," perintah Meira datar.Dengan gerakan cepat, Meira memasukkan kancing kemeja Lucien satu per satu dari atas ke bawah. Lucien berdiri kaku, matanya menatap lurus ke dinding di belakang kepala Meira.Setelah selesai dengan kancing terakhir, Meira berbalik menuju meja nakas, menyambar kunci mobil dan dompet Lucien."Berikan padaku, Mei."Meira menarik tangannya. "Tidak.""Meira..." geram Lucien. "Berikan kuncinya.""Tanganmu gemetar, Lucien. Kamu akan menabrak mobil lain sebelum kita keluar dari parkiran," potong Meira tajam. Ia berjalan melewati Lucien menuju pintu kamar. "Aku yang menyetir. At
Last Updated: 2026-08-06
Chapter: 57 - Malam Yang Tenang?"Percuma suhu ruangan dijaga kalau kamu bahkan tidak tahu cara membalik halaman tanpa merusak serat kertasnya!" Suara Profesor Rio menggelegar, mengalahkan suara musik tradisional yang mengalun pelan di sudut restoran. Pria itu menunjuk Henri dengan sumpit kayunya.Henri Moreau meletakkan cangkir tehnya sedikit levih keras."Aku selalu memakai sarung tangan sutra murni. Lagi pula aku tidak terus menerus menghabiskan waktuku yang berharga ini menatap debu di selembar kertas berjamur.""Debu? Jamur?!" Wajah Rio memerah. "Itu adalah jejak peradaban, Henri! Kamu itu hanya peduli pada nilai investasinya.""Itulah bedanya aku denganmu," potong Henri tajam. "Kamu mencari masa lalu, sementara aku membeli masa depan. Dan salah satu masa depan itu adalah memastikan menantuku hidup penuh kemewahan agar dia bisa fokus memberiku pewaris Moreau yang berkualitas.""Jadi kamu hanya menganggap putriku sebagai pencetak bayi?!""Bukan begitu! Memangnya kamu tidak mau punya cucu?!""Hah!" Rio membanting
Last Updated: 2026-08-05
Chapter: 56 - Makan Malam Keluarga Part 2Henri menyipitkan mata. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang sama sekali tidak bersahabat."Efisiensi, Profesor," jawab Henri, suaranya berat dan mengintimidasi. "Sebuah konsep dasar yang mungkin bisa dipahami oleh team arkeologi Anda... jika kalian tidak menghabiskan waktu menangis meminta perpanjangan dana riset padaku setiap enam bulan sekali."Rio mengangguk-angguk pelan, seolah hinaan itu hanyalah sapaan biasa."Itu kan dana investasi. Anda sendiri yang menandatanganinya," balas Rio enteng, menyendok acar lobak ke piringnya. "Makanya, terkadang saya heran. Anda ini salah satu pria terpintar di Elaris, tapi bisa-bisanya dibodohi untuk mendanai penggalian yang hasilnya belum pasti."Hening mendadak menyelimuti ruangan itu.Bahkan Nadia dan Sarah menghentikan obrolan mereka. Meira memejamkan matanya erat-erat. Ayahnya benar-benar tidak bisa menjaga ucapannya.Henri mencondongkan tubuhnya ke depan."Aku
Last Updated: 2026-08-04
Chapter: 55 - Makan Malam Keluarga Part 1Pintu mobil tertutup rapat. Meira langsung membuang pandangannya ke luar jendela, menatap deretan lampu jalan yang melesat mundur."Kamu bisa berhenti senyum-senyum tidak, Lucien?" desis Meira tanpa menoleh."Kenapa? Aku kan tidak mengganggumu," jawab Lucien, bersandar santai di jok sambil melonggarkan kerah kemejanya."Wajahmu menggangguku," balas Meira tajam. Ia melipat tangannya di dada. Lucien terkekeh pelan, "wajah yang kamu bilang menggairahkan ini? Mengganggumu?""Aku mengucapkan kata-kata itu tadi hanya untuk merendahkan Lily.""Tentu, Dr Antasya. Aku sangat percaya bahwa kamu sedang melakukan analisis psikologis pada Lily saat kamu membayangkan tubuhku setelah pulang dari cafe."Wajah Meira kembali memanas. Ia akhirnya menoleh, menatap suaminya. "Lucien.""Ya, Sayang?" "Satu kata lagi keluar dari mulutmu, aku akan benar-benar memastikan ayahku membakar meja makan besok malam."Senyum Lucien justru semakin lebar. "Ah, tentang itu. Kamu sudah menyiapkan strategi untuk mencega
Last Updated: 2026-08-04
Chapter: 54 - Tetap MenggairahkanMeira memutar keran wastafel. Air dingin mengalir, membilas ujung jari tangannya. Ia menatap pantulan dirinya di cermin besar toilet VIP.Pintu kemudian berderit terbuka. Lily masuk sambil melipat tangan di depan dada."Kamu pikir kamu menang?" Suara Lily menggema di ruangan sepi itu.Meira menarik selembar tisu. Ia mengeringkan tangannya dengan perlahan."Menang apa?" tanya Meira datar, berbalik menghadap Lily."Jangan pura-pura bodoh." Lily melangkah maju. "Satu juta dolar untuk vas rongsokan. Setengah juta dolar untuk kalung yang sudah kuincar sejak lama. Kamu sengaja menyuruh Lucien memborong semuanya untuk mempermalukanku.""Aku tidak menyuruhnya," jawab Meira. Ia menyandarkan pinggulnya di tepi wastafel. "Dia sendiri yang mengangkat plakatnya. Kalau kamu merasa semua ini tidak adil, protes saja pada panitia lelang."Lily mendengus keras. Ia berjalan mendekati cermin, berdiri tepat di sebelah Meira."Kamu terlihat menikmati sekali peranmu sebagai Nyonya Moreau, ya?" Lily menatap
Last Updated: 2026-08-03
Chapter: 53 - Harga Sebuah PernikahanMeira refleks mengepalkan jemarinya di balik lipatan gaun marunnya begitu mendengar kalimat terakhir dari bibir Lucien."Aku tidak menyembunyikanmu," balas Meira cepat, suaranya menjadi bisikan parau di tengah riuh tepuk tangan tamu yang menyambut pembukaan acara di atas panggung. "Jangan dramatis, Lucien."Lucien sedikit memiringkan kepala, menatap wajah istrinya. "Aku tidak dramatis, Sayang.""Pada akhirnya mereka tetap akan mengenalmu. Aku tidak mungkin menceraikanmu tanpa mengenalkanmu lebih dulu pada orang tuaku, kan?" "Hm." Lucien mengangguk pelan. "Jadi begitu cara berpikirmu.""Apanya?""Aku baru sadar. Bahkan saat memperkenalkanku pada orang tuamu, yang kamu pikirkan tetap perceraian kita."Meira mengembuskan napas kesal. "Karena memang itu kenyataannya, Lucien."Lucien tersenyum tipis. "Itu kenyataanmu," gumam Lucien.Meira mengernyit. "Maksudmu?""Tidak." Lucien mengalihka
Last Updated: 2026-08-02