Beranda / Romansa / Selir Yang Terlupakan / Mahkota Yang Tak Terduga

Share

Mahkota Yang Tak Terduga

Penulis: Melati Lu
last update Tanggal publikasi: 2026-08-07 17:05:30

Bab 132

Transformasinya sempurna dan teliti. Sutra merah tua yang berat dan mewah menyelimuti tubuhku, sulaman benang emas berbentuk burung phoenix menangkap setiap kilatan cahaya lilin dan sinar matahari yang masuk, berkilauan di setiap gerakanku. Jepit rambut giok ditempatkan dengan presisi, menyusun rambutku menjadi gaya anggun yang memanjangkan leher dan membingkai wajahku dengan sempurna.

Akhirnya, pelayan yang memegang kalung mutiara berjalan maju. Ia mengalungkannya
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Selir Yang Terlupakan   Satu-Satunya Kebenaran

    Bab 147 Hongwu mendengar suara lembut yang lolos dari bibirku, dan seketika seakan segala kendali yang tersisa di dalam dirinya runtuh sepenuhnya. Ia sedikit menjauh agar dapat menatap wajahku lekat-lekat. Matanya yang pekat tampak berkilauan tak menentu, dadanya naik turun berat seiring napasnya yang memburu tak beraturan. "Kau tak pernah menyadari..." suaranya terdengar begitu serak dan berat, "...apa yang sesungguhnya kaulakukan kepadaku." Ia menggeser posisinya, menekan tubuhnya sedikit lebih erat menempel pada tubuhku. Tangannya kembali melingkar dari sela rambutku hingga turun ke pinggangku, jari-jarinya meremas lembut namun penuh kepemilikan seakan sedang berusaha menambatkan dirinya agar tak pernah terpisah dariku. Bibirnya kembali turun menyapu lembut kulit tepat di belakang telingaku yang paling peka, napasnya hangat dan berdesir di sana. "Empat tahun lamanya..." bisiknya pelan di kulitku yang seketika terasa membara, "...empat tahun

  • Selir Yang Terlupakan   Penyatuan Tanpa Kata

    Bab 146 Hongwu mengeluarkan suara rendah penuh kepuasan saat ia merasakan jemariku menyisir rambut hitamnya yang tebal. Sentuhanku seakan meruntuhkan pertahanan terakhir yang ia bangun begitu rapat selama bertahun-tahun. Tangannya melingkar semakin erat di pinggangku, menarikku menempel padanya seakan ingin menyatukan tubuh kita menjadi satu. Ciumannya perlahan berubah — dari lembut dan penasaran menjadi sesuatu yang jauh lebih mendesak, penuh kerinduan yang nyaris putus asa. Bibirnya menyusuri lembut garis bibirku, dan saat aku perlahan membukanya menyambutnya, ia membalasnya dengan rasa lapar yang begitu dalam hingga membuat seluruh tubuhku terasa lemas dan bergetar hebat. Ia sedikit menjauh sejenak, napasnya memburu dan terasa hangat menyapu pipiku yang memerah. "Kau... kau jauh lebih berbahaya daripada buku apa pun yang pernah ada..." suaranya terdengar serak, nyaris tak kukenali lagi. Tangannya meluncur lembut dari punggungku kembali ke p

  • Selir Yang Terlupakan   Sumpah Tanpa Janji

    Bab 145 Aku tersenyum lembut menatapnya. "Aku sungguh bersyukur mendengarnya." Hongwu mengembuskan napas panjang, seakan melepaskan segala beban yang selama bertahun-tahun ia tahan sendirian. Ketegangan yang selalu mengeras di rahangnya perlahan luruh, dan untuk sejenak, ia hanya menatapku lekat-lekat — benar-benar menatapku tanpa topeng kekuasaan sedikit pun. "Kau memang seharusnya begitu..." ucapnya pelan, senyum tulus yang tak pernah dilihat siapa pun kini tersungging lembut di sudut bibirnya. Senyum yang begitu sederhana namun hangat, seakan pemuda yang baru pertama kali jatuh cinta, bukan penguasa yang pulang dari medan perang yang penuh darah. Tangannya perlahan turun dari leherku, menyentuh pipiku lembut sebelum menyisir sehelai rambut ke belakang telingaku. "Di istana ini, hampir semua orang hanya berkata apa yang ingin kudengar..." gumamnya pelan. "Namun kau selalu berkata apa yang sungguh kau pikirkan. Dan sejujurnya... aku

  • Selir Yang Terlupakan   Nyata Di Antara Bayangan

    Bab 144 Aku menelan ludah pelan, lalu menjawab dengan suara yang masih bergetar halus. "Entahlah... namun rasanya sungguh sudah begitu lama." Tangan Hongwu yang bertumpu lembut di pipiku seketika menegang pelan. Tatapannya tertuju lekat-lekat padaku, seakan ada sesuatu yang berat dan tak terucap tertahan di sana. Lalu terdengar tawanya — rendah, penuh rasa takjub sekaligus kesedihan yang samar. "Sungguh jauh lebih lama daripada yang kau bayangkan..." ucapnya pelan sambil menggelengkan kepala perlahan. "Kau tak pernah tahu. Empat tahun lamanya... setiap hari aku melihatmu dari seberang halaman, bertanya-tanya dalam hati: apakah kau menyadari keberadaanku di sini?" Ia kembali mendekatkan wajahnya, hingga bibirnya menyentuh lembut sudut bibirku yang masih terasa hangat. "Aku melihatmu duduk sendirian di taman sambil membaca buku. Aku melihatmu melangkah di lorong-lorong istana dengan tenang... seakan kau tak terikat pada tempat mana pun, namun se

  • Selir Yang Terlupakan   Antara Ilmu & Rasa

    Bab 143 Hongwu menghela napas, terdengar setengah tertawa namun penuh haru. Ia tak menjauh sedikit pun. Sebaliknya, ia justru mencondongkan tubuh semakin dekat, dadanya nyaris menyentuh sandaran kursi, memelukku dalam kehangatan yang menyelimuti — beraroma kayu cendana bercampur ketegasan yang mendalam, sejuk namun membara. "Sungguh menyenangkan mendengarnya..." gumamnya pelan, matanya tak lepas dari wajahku. "Karena aku lebih suka melihatmu mempraktikkannya untuk pertama kalinya bersamaku, daripada sekadar membacanya dari lembaran buku seolah kau sedang belajar di ruang pelajaran yang jauh dan dingin." Tangannya perlahan turun dari pergelangan tanganku hingga melingkar lembut namun teguh di pinggangku, menarik tubuhku sedikit saja semakin dekat ke arahnya — jarak yang nyaris tak terlihat namun terasa begitu penuh makna. "Kau gemetar, Lianhua..." ucapnya pelan, bukan sebagai pertanyaan. Suaranya tenang dan jelas, namun tersembunyi di balik ket

  • Selir Yang Terlupakan   Antara Cerita & Rasa Malu

    Bab 142 "Mereka tidak pernah menyentuh tubuhku, jadi sebenarnya tidak terlalu menjadi masalah. Jika saja mereka berani menyentuhku secara langsung... barulah itu berbeda." Mata Hongwu seketika menggelap mendengar ucapanku. Kilatan amarah yang dalam sekilas melintas di wajahnya, bercampur dengan rasa ingin melindungi yang begitu kuat hingga seakan memenuhi seluruh ruangan di antara kami. Ia menarikku mendekat, kedua tangannya melingkar dari bahuku hingga ke punggungku, merapatkan tubuhku ke dadanya yang tegap dan hangat. "Bukan begitu cara memahaminya, Lianhua..." suaranya turun menjadi nada rendah yang penuh peringatan namun lembut. "Mereka tak perlu menyentuh kulitmu untuk menyakitimu. Ucapan yang tajam, membiarkanmu kesepian, segala cara yang menyakitkan hati... semuanya adalah senjata yang dirancang untuk mengikis keteguhanmu perlahan-lahan dari dalam." Ia menunduk pelan, bibirnya hampir menyentuh telingaku, napas hangatnya menyapu lembut k

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status