LOGINBab 134
Napas Hongwu tercekat pelan, suara itu nyaris tak terdengar di antara desir angin. Kedekatannya memabukkan — aroma tubuhnya yang bercampur wangi bunga taman menyusup lembut ke dalam napasku. Tangannya perlahan beralih dari pipiku ke tengkukku, jari-jarinya menyisir lembut rambutku di sana."Penaklukan yang tak menuntut setetes darah pun," bisiknya, suaranya merendah menjadi nada yang dalam dan penuh keinginan. "Yang tak memerlukan perang, tak perlu merebut tanah deBab 137 Hongwu terdiam sejenak, terpaku oleh pujian yang begitu sederhana namun terasa begitu hangat. Rona merah perlahan menjalar dari lehernya naik hingga ke pipi yang biasanya tampak dingin dan tegas — pemandangan yang tak seorang pun di seluruh kekaisaran ini berani membayangkan pernah ada. Ia tertawa pelan, napasnya masih sedikit terengah, sambil menggelengkan kepala seakan ingin memastikan bahwa semua ini sungguh nyata. Bukan sebagai Kaisar yang ditakuti jutaan orang, melainkan sebagai seorang pria yang berdiri di hadapan wanita yang dicintainya. "Tampan?" ulangnya pelan, suaranya masih terdengar berat dan serak sambil bersandar lembut pada kedua telapak tangannya di belakang tubuhku. Matanya terpejam sejenak seakan menikmati setiap sentuhan jari-jariku di wajahnya. "Lianhua... aku adalah pria yang bertahun-tahun hidup di medan perang, berlumuran debu dan darah. Tubuhku penuh bekas luka yang membuat kebanyakan wanita berpaling ngeri." Ia
Bab 136 "Baiklah," ucapku pelan sambil merenggangkan jari-jariku di atas senar, lalu mulai memainkan lagu yang telah kusiapkan. Nada pertama meluncur lembut namun jernih, membelah keheningan aula seketika. Melodinya mengalun berliku — menceritakan kerinduan yang tak terucap, kesabaran yang tak pernah patah, dan ketangguhan yang tersembunyi di balik senyap. Udara di ruangan yang luas itu seakan menahan napas, terhanyut dalam alunan yang menyentuh kalbu. Saat jari-jariku menari di atas senar, ketegangan yang semula memenuhi ruangan perlahan mencair. Para tamu yang duduk berjejer satu per satu mencondongkan tubuh ke depan, terpaku. Bahkan para selir yang sejak tadi menatap sinis pun tak kuasa menahan diri, mata mereka terbelalak terpaku pada guzheng dan jari-jariku yang bergerak lincah. Hongwu duduk diam di sampingku. Ia tak menoleh ke kanan maupun ke kiri. Tak memandang penari, tak memandang pejabat. Sepenuhnya ia menatapku — tatapannya begitu d
Bab 135 Tawa Hongwu terdengar tulus kali ini — suara yang hangat dan bergema pelan, seakan membuat burung-burung di pohon willow ikut terdiam. Ia menatapku, benar-benar menatapku, dan di matanya terpancar kepastian yang teguh dan indah, sepenuhnya percaya pada janji yang baru saja terucap. "Hati-hati, Lianhua," katanya sambil tersenyum geli. "Dunia di luar taman ini tak selembut tempat ini. Mereka akan berbisik di belakang punggung. Mereka akan menyusun rencana. Mereka akan berusaha mencari celah di setiap perbuatanmu." Ia mengulurkan tangan, menyelipkan helaian rambut ke belakang telingaku. Sentuhannya lembut namun terasa membekas di kulit. "Namun biarlah mereka mencoba," tambahnya, secercah kilatan tajam dan berbahaya kembali menyala di matanya. "Aku justru ingin melihat siapa yang berani mencoba menghalangi langkahmu." Hongwu menegakkan tubuh kembali, namun tangannya tak pernah melepaskan genggamanku. Momen kelembutan yang sunyi i
Bab 134 Napas Hongwu tercekat pelan, suara itu nyaris tak terdengar di antara desir angin. Kedekatannya memabukkan — aroma tubuhnya yang bercampur wangi bunga taman menyusup lembut ke dalam napasku. Tangannya perlahan beralih dari pipiku ke tengkukku, jari-jarinya menyisir lembut rambutku di sana. "Penaklukan yang tak menuntut setetes darah pun," bisiknya, suaranya merendah menjadi nada yang dalam dan penuh keinginan. "Yang tak memerlukan perang, tak perlu merebut tanah demi tanah." Tatapannya menatapku lekat-lekat, menyala dengan kerinduan yang jauh lebih besar daripada sekadar hasrat fisik. Ia memiringkan kepalanya pelan, bibirnya hanya berjarak sehelai rambut dariku. "Aku ingin menaklukkan hatimu, Lianhua. Setiap rahasia yang kau simpan, setiap ketakutan yang kau sembunyikan, setiap kebahagiaan yang kau pendam selama empat tahun ini. Aku ingin semuanya. Tak ada yang tersisa." Ia berhenti sejenak, matanya meneliti wajahku, mencari
Bab 133 Lady Xiwu tetap berdiri mematung di tempatnya. Matanya tertuju padaku — bukan dengan rasa hormat, melainkan dengan kebencian yang sedingin es dan penuh perhitungan yang membuat udara di ruangan itu seakan menegang. Hongwu menyadarinya. Tak satu pun hal kecil di hadapannya luput dari perhatian. "Nyonya Xiwu," suaranya terdengar datar, dingin, tanpa secercah kehangatan pun. Tubuh Xiwu menegang kaku. Dagu sedikit terangkat sebelum ia membungkuk — namun gerakannya dangkal, sekadar formalitas yang tak tulus sama sekali. "Yang Mulia?" "Sepertinya kau lupa tempatmu," ucap Hongwu. Bukan pertanyaan. Sebuah pernyataan yang berat dan tak terbantahkan. "Sidang telah dibubarkan. Silakan ikut yang lain pergi." Rahang Xiwu mengeras. Tatapannya kembali melesat ke arahku — satu kali pandangan yang penuh ancaman janji kesulitan di masa mendatang — sebelum ia berbalik. Jubah sutranya berkibar tajam di belakangnya, seakan cambuk yang m
Bab 132 Transformasinya sempurna dan teliti. Sutra merah tua yang berat dan mewah menyelimuti tubuhku, sulaman benang emas berbentuk burung phoenix menangkap setiap kilatan cahaya lilin dan sinar matahari yang masuk, berkilauan di setiap gerakanku. Jepit rambut giok ditempatkan dengan presisi, menyusun rambutku menjadi gaya anggun yang memanjangkan leher dan membingkai wajahku dengan sempurna. Akhirnya, pelayan yang memegang kalung mutiara berjalan maju. Ia mengalungkannya di leherku — batu-batu dingin dan halus itu bertumpu di tulang selangka, ringan namun terasa seperti beban yang penuh makna. "Anda tampak seperti Permaisuri, Nyonya Lianhua," pelayan yang lebih tua menghela napas kagum, mundur selangkah untuk mengagumi hasil kerja mereka. Suaranya tulus dan penuh hormat. Pelayan yang lebih muda menyerahkan cermin perunggu kecil yang dipoles hingga berkilau. "Yang Mulia pasti akan sangat senang." Di luar pintu, suara istana mulai te







