Chapter: Bab 6 Meja Kerja yang BerdebuKeputusan Kaelen mengguncang seluruh isi rumah. Sang Duke yang biasanya menghabiskan 18 jam sehari untuk urusan wilayah, kini justru mengurung diri di rumah. Namun, bagi Thalassa, ini adalah surga yang selama ini ia impikan.Kaelen tidak membiarkan Thalassa berada jauh darinya. Saat Kaelen membaca buku di perpustakaan pribadi yang luas, Thalassa harus duduk di sebelahnya, bersandar pada bahu suaminya sambil merajut atau sekadar memperhatikan wajah pria itu. Jika Thalassa mencoba berdiri untuk mengambil air, tangan Kaelen akan segera menahan bahunya dengan posesif."Biarkan pelayan yang mengambilnya. Tetaplah di sini," gumam Kaelen tanpa mengalihkan pandangan dari bukunya, meski jemarinya kini asyik membelai rambut cokelat Thalassa yang terurai panjang.Thalassa mendongak, memberikan tatapan manja yang membuat jantung Kaelen berdebar tidak keruan. "Kau terlalu protektif, Kaelen. Aku hanya ingin mengambilkanmu teh hangat.""Aku tidak butuh teh. Aku hanya butuh kau tidak menghilang dari
Last Updated: 2026-05-20
Chapter: Bab 5 Obsesi yang tak TerbendungThalassa tidak membalas dengan amarah. Sebaliknya, ia meletakkan pisau dan garpunya dengan anggun, sebuah kebiasaan dari kehidupannya yang lalu yang kini muncul secara alami. Ia menumpukan dagu di atas tautan tangannya, menatap Kaelen dengan binar yang tulus, sesuatu yang belum pernah dilihat Kaelen sebelumnya."Kehidupan yang penuh amarah itu sangat melelahkan, Kaelen," jawab Thalassa lembut. "Aku hanya menyadari bahwa tidak ada gunanya melawan pria yang memegang kunci duniaku. Lagipula..." Ia menjeda, membiarkan jemarinya merayap di atas meja, menyentuh punggung tangan Kaelen yang kokoh. "Dulu aku merasa sesak karena pengawasanmu. Tapi sekarang, aku merasa hangat karena kau memperhatikanku."Cengkeraman tangan Kaelen pada kursinya mengeras. Ia tidak menyangka jawaban itu akan keluar dari bibir wanita yang biasanya mengutuk namanya di setiap napas. Hasrat posesif yang selama ini ia kunci rapat kini bergejolak hebat. Baginya, Thalassa adalah sebuah teka-teki yang baru saja berubah bah
Last Updated: 2026-05-13
Chapter: Bab 4 Pembersihan Kediaman AristhosPagi hari di kediaman Aristhos biasanya dimulai dengan bisik-bisik sinis dari para pelayan di lorong-lorong gelap. Namun, pagi ini berbeda. Thalassa terbangun lebih awal, memastikan dirinya tampil sempurna sebelum Kaelen meninggalkan ranjang.Setelah Kaelen berangkat dengan pesan posesif seperti biasa, Thalassa memanggil seluruh staf rumah tangga ke aula utama.Aula utama kediaman Aristhos yang biasanya terasa mencekam karena amarah, kini terasa dingin karena otoritas. Thalassa berdiri dari kursi beludrunya, berjalan perlahan mengitari barisan pelayan yang menunduk dalam. Suara tumit sepatunya yang beradu dengan lantai marmer menciptakan irama yang menekan mental siapapun yang mendengarnya."Martha," panggil Thalassa pelan. Seorang pelayan senior dengan wajah pucat melangkah maju, tubuhnya bergetar hebat. "Aku tahu kau menerima koin emas dari keluarga Viscount setiap minggu hanya untuk melaporkan jam berapa Duke Kaelen pulang dan apa saja yang ia makan. Apakah kesetiaanmu semurah itu?
Last Updated: 2026-05-13
Chapter: Bab 3 Pesta yang MenyesakkanSuasana aula perjamuan kerajaan begitu berkilauan. Ratusan lilin kristal menggantung di langit-langit, memantulkan cahaya pada gaun-gaun sutra dan lencana militer para bangsawan. Namun, bagi Thalassa, kemewahan ini terasa asing. Ia melangkah dengan anggun di samping Kaelen, tangan mungilnya terselip dengan patuh di lengan kokoh suaminya. Thalassa mengenakan gaun beludru berwarna hijau zamrud yang tertutup hingga ke leher, namun sangat pas membentuk tubuhnya. Rambutnya terurai indah, hanya dijepit oleh bros kecil pemberian Kaelen. Di lehernya, kalung permata yang berat seolah menjadi pengingat permanen bahwa ia adalah milik pria di sampingnya. Kaelen berjalan dengan dagu terangkat, aura otoritasnya membuat orang-orang menyingkir secara otomatis. Matanya yang tajam terus memindai sekeliling, tidak membiarkan satu detail pun luput dari pengawasannya. Saat Kaelen sedang berbincang singkat dengan seorang Duke dari wilayah lain, seorang pria muda dengan pakaian yang sedikit mencolok mend
Last Updated: 2026-05-13
Chapter: Bab 2 Istri yang BerubahSinar matahari pagi menembus celah gorden beludru, namun atmosfer di dalam kamar utama kediaman Aristhos terasa jauh lebih panas. Kaelen Aristhos masih berdiri di posisi yang sama sejak semalam, duduk di tepi ranjang dengan jemari yang masih mengunci pergelangan tangan Thalassa. Ia tidak tidur. Pria itu menghabiskan sepanjang malam hanya untuk memperhatikan napas teratur istrinya, mencari celah kebohongan dari ketenangan yang tidak wajar ini.Ketika kelopak mata Thalassa bergerak terbuka, hal pertama yang ia lihat adalah wajah Kaelen yang sangat dekat. Tidak ada lagi teriakan histeris. Thalassa justru mengerjapkan mata dengan lembut, lalu memberikan senyuman tipis yang membuat jantung Kaelen berdenyut aneh."Selamat pagi, suamiku," bisik Thalassa pelan.Kaelen melepaskan cengkeramannya seolah baru saja tersengat listrik. "Berhenti bersikap menjijikkan, Thalassa. Apa yang kau inginkan kali ini? Perhiasan baru? Atau kau ingin aku membebaskan kekasih gelapmu itu?"Thalassa tertegun s
Last Updated: 2026-05-13
Chapter: Bab 1 Napas Kedua Setelah KematianEmbun beku menusuk tulang di malam musim dingin, sama seperti rasa dingin yang telah lama bersarang di dada Thalassa. Di ranjang yang luas, ia terbaring sendirian, matanya menatap langit-langit yang dihiasi ukiran mewah. Sebuah ukiran yang tak pernah ia perhatikan di tahun-tahun pernikahannya.Tangannya yang pucat meraba selimut sutra dingin, berharap sentuhan hangat suaminya akan datang, seperti yang selalu ia harapkan di setiap malam yang sunyi. Namun seperti biasa, ranjang di sebelahnya tetap kosong, dan hatinya tetap hampa.Sepanjang hidupnya, ia telah menjadi istri yang sempurna. Setia, penurut, dan sabar. Ia mencintai pria itu dengan seluruh jiwanya, membenarkan setiap pengabaiannya sebagai bentuk kesibukan, setiap tatapan kosongnya sebagai kelelahan.Tapi kini, saat napasnya semakin memburu dan tubuhnya meredup, ia tahu. Itu bukan kesibukan. Itu bukan kelelahan. Itu adalah ketiadaan cinta. Ia mati, bukan karena penyakit yang menggerogoti fisiknya, melainkan karena luka hati yan
Last Updated: 2026-05-13