Chapter: BAB 30Ketika aku bangun, Rainer masih tidur dengan posisi tengkurap memeluk bantal. Tapi salah satu tangannya berada di kepalaku seolah ia mengusapnya sampai ia terlelap. Dengan perlahan aku bangkit dari ranjang untuk mandi. Bahkan setelah aku selesai mandi dan bersiap-siap, dia belum juga bangun. Jadi aku tinggalkan saja pria itu di kamar untuk pergi sarapan.Sebenarnya aku bisa memesan layanan kamar, tapi lebih baik aku sarapan di restoran. Setelah sarapan, aku berencana berjalan-jalan di tepi pantai menikmati keindahan.“Flo!”Tante Luna melambai padaku ketika aku bingung mencari tempat duduk. Ia menunjuk kursi kosong di hadapannya. Dengan senyum sopan, aku menghampiri meja mereka.”Duduk di sini aja,” ucapnya sebelum aku sempat bicara.”Iya, makasih, Tante.” Aku meletakkan piring dan duduk di sana, bergabung dengan keluarga inti Rainer. “Kemarin gimana spa-nya? Enak?””Enak banget, tidurku nyenyak setelah spa.””Masih banyak layanan yang bisa kamu paka
Last Updated: 2026-10-10
Chapter: BAB 29Ada kalanya aku merindukannya sampai rasanya begitu sakit untuk ditahan. Namun ketika mengingat bahwa ia pergi demi perempuan lain dan mencampakkan istri dan anak-anaknya begitu saja, rasa rindu itu berubah menjadi kemarahan yang sulit dihapuskan. Rasa benciku mengakar kuat sampai rasanya jika bertemu dengannya lagi suatu saat nanti, aku mungkin akan memakinya dengan semua kata-kata kasar yang kutahu. Luka yang ia torehkan kepada kami bahkan masih bernanah sampai detik ini. Aku tidak tahu cara menyembuhkannya. Bahkan setelah hampir dua puluh tahun berlalu, waktu pun tidak mampu untuk meredakan sakitnya. Orang bilang waktu akan menyembuhkan luka. Itu bohong. Waktu hanya mengajarkan kita untuk terbiasa dengan luka itu, mengajarkan kita untuk terbiasa hidup berdampingan dengannya. Luka tidak akan sembuh begitu saja tanpa diobati. Hingga kini, aku belum menemukan obatnya. Akankah suatu saat nanti aku dapat menatap diriku di depan cermin tanpa mengasihani diriku sendiri? Dapatkah aku men
Last Updated: 2026-10-10
Chapter: BAB 28“Lo mau gue tabok?” Aku berujar sambil menatap kedua matanya.”Nggak.” Rainer menjawab sambil tersenyum lebar. “Jauh-jauh dari gue sekarang sebelum gue tabok kepala lo.”Pria itu mengacak rambutku sambil bergeser ke ujung sofa. Karena aku tidak ingin berlama-lama di tempat ini, aku pun memilih bangkit berdiri.”Mau ke mana?” Ia menangkap tanganku sebelum aku menjauh.”Gue ngantuk, mau tidur.””Baru jam sebelas.””Kayak nggak tahu gue aja. Jam segini udah tepar kalau di Jakarta. Mau tidur aja, deh. Gue nggak mau kurang tidur. Nanti kulit gue jadi kusam dan bawah mata gue jadi hitam waktu acara pernikahan Aurel. Gue mau tampil cantik.””Ya udah, gue juga tidur deh.” Ia pun ikut berdiri.”Hah? Nggak salah? Seorang Rainer tidur jam sebelas malam?””Karena gue nggak perlu kerja, gue bisa perbaiki waktu tidur setidaknya selama di sini.” Tangannya merangkul bahuku untuk menarikku melangkah bersama menuju pintu keluar. Sempat kulirik para gadis
Last Updated: 2026-10-09
Chapter: BAB 27”Manajer baru udah mulai kerja, Flo?” ”Hah? I-iya, Pak.” Jadi dia tahu aku bekerja di Menara Zahid? Dan dia tahu namaku? “Nggak usah panggil bapak juga kali. Ini bukan di kantor.” ”Tapi Bapak kan atasan saya—“ ”Nggak usah formal banget sama manusia plenger satu itu,” ujar Rainer yang duduk di sampingku. “Panggil aja dia Melvin.” ”Nggak bisa, gimana mungkin gue panggil atasan gue cuma nama doang?” ”Nama aja, nggak usah formal banget sama gue. Gue nggak gila hormat.” ”Ini serius? Emang boleh?” ”Boleh, kenapa nggak?” Melvin meneguk birnya dengan santai. “Kalau lo manggil gue bapak, kuping gue jadi gatel.” ”Okay, kalau itu yang lo mau. Karena kebanyakan atasan di kantor minta dipanggil bapak atau ibu, udah jadi kebiasaan manggil begitu.” ”Buat lo, nggak perlu.” Melvin tersenyum miring menatap aku dan Rainer bergantian. ”Woaaa, jangan salah paham.” Aku segera menyadari arti tata
Last Updated: 2026-10-09
Chapter: BAB 26”Lo bikin gue kaget, bilang kek kalo ada fotografer. Untung aja nggak langsung difoto. Kebayang kalau foto gue terpampang dengan wajah panik?”Pria itu menyeringai lebar sambil terus mengunyah permen karetnya. Sama sekali tidak merasa bersalah karena sudah mengerjai aku barusan.”Setidaknya ada satu foto aib lo yang tersebar.”Aku ikut bersandar pada pagar pembatas, kali ini memperhatikan para gadis yang duduk melingkar di sebuah meja sambil mencuri-curi pandang ke arah kami—ke arah Rainer tepatnya.”Yang mana yang lo suka?” Aku bertanya santai. Mereka tidak akan bisa melihat bahwa aku sedang memperhatikan mereka dari balik kacamata hitam ini. “Yang pirang?””Nope, gue nggak suka. Suaranya cempreng kalau ketawa. Dan itu artinya bakal berisik banget kalau di ranjang.”Kulirik biawak darat satu ini lalu menginjak kakinya dengan sepatu. Tawanya meluncur pelan tanpa beban.”Yang brunette?””Her smile’s too wide for my taste.”“Keterlaluan banget lo.”
Last Updated: 2026-10-08
Chapter: BAB 25”Sakit!” Kedua kepalan tanganku memukul bahunya. Tapi biawak darat ini tidak melepaskan gigitannya. Pada akhirnya yang bisa kulakukan hanyalah balas menggigit bahunya yang keras sekuat tenaga.”Ugh!” Rainer menjauh sambil mengusap bahunya. “Sakit, Flo.””Lo duluan yang gigit gue. Sakit, nih!” Tanganku menarik kerah leher kaos untuk menunjukkan bahuku yang tadi ia gigit, bekas giginya tercetak jelas dan berwarna kemerahan. “Nih, berdarah.” Giliran Rainer yang menunjukkan bahunya yang sedikit berdarah karena aku menggigitnya seperti paus kelaparan. “Gigi taring lo tajam banget.””Lo duluan!” Kutendang kakinya dengan kuat.Rainer tentu saja tidak tinggal diam, ia menangkap kedua kakiku lalu mulai menggelitikku lagi sampai aku menjerit dan tertawa terbahak-bahak di saat bersamaan.Hampir dua menit kami bergelut di atas sofa sampai akhirnya aku berhasil menendang pria besar itu ke lantai. Ia mengaduh kesakitan dengan pantat menghantam lantai lebih dulu.”Coba
Last Updated: 2026-10-08
Chapter: BOSS WITH BENEFIT - TAMATAgus tertawa, membayangkan perempuan sunda satu itu mengucapkan satu kata dalam bahasa jawa dengan wajah menggemaskan, membuat Agus yang tadinya masih bisa menahan rindu, kini sulit menahannya lagi. Ia menghela napas panjang, memeluk bantal. Ia harus bertahan paling tidak sampai besok sore. Ternyata berjauhan dengan pacar rasanya tidak enak. Pantas saja Devan tidak mau pergi tanpa membawa istri dan anaknya ikut serta. “Woi, ngapain lo tidur? Kerja!” panggil Gabriel dari sofa. ”Capek, ngantuk.” ”Lo dibayar ke sini bukan buat tidur, gue laporin Pak Dev, nih.” ”Laporin aja sana!” ”Idih, mentang-mentang sekarang iparan sama bos, ngelunjak lo ya.” ”Gue mau tidur bentar, ngantuk banget. Selesaikan aja kerjaan lo habis itu balik ke kamar lo sendiri.” Agus menutup kepalanya dengan bantal saat Gabriel terus memanggil-manggilnya dari sofa. Besok sorenya Agus melangkah cepat keluar dari Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta, Ma
Last Updated: 2026-07-25
Chapter: BOSS WITH BENEFIT - 149”Tunggu, kita nggak pake kondom, kalau kamu hamil, gimana?””Kamu mau tanggung jawab, nggak?””Pasti.””Ya udah, kalau aku hamil, kamu tanggung jawab.””Tapi yang aku pikirin, apa kamu siap jadi ibu?””Kamu siap nggak jadi ayah?””Siap. Umurku juga udah matang banget, aku siap jadi ayah. Aku siap nikahin kamu. Tapi takutnya kamu yang belum siap jadi ibu dan belum siap nikah sama aku.”Maya berbalik, menatap Agus dengan tatapan lembut.”Kalau aku hamil, kita nikah, punya anak. Aku siap.” Ia menaiki tubuh pria itu dan duduk di atas paha Agus. “Kamu juga udah kenal banget sama Papa dan aku juga udah kenal sama mama kamu. Aku juga udah kenal sama papa kamu dan Tante Mulan. Yang belum kenal cuma sama adik-adik kamu aja.””Nanti aku kenalin sama Naila dan Memei.””Ya udah, kalau gitu, kita khawatirin apa lagi?””Nggak hamil pun aku mau nikahin kamu.””Kebelet nikah, Mas? Takut jomblo sampai tua?”Agus tertawa, “nggak, udah ketemu yang ak
Last Updated: 2026-07-24
Chapter: BOSS WITH BENEFIT - 148”Takut kamunya nggak suka.” Jari-jari Agus membelai pipi Maya. “Nggak mau dibilang memanfaatkan kamu yang masih patah hati—“”Idih, siapa juga yang masih patah hati,” Maya berjinjit untuk mencium Agus lagi, “udah nggak patah hati, tuh.”Agus tersenyum lebar, mereka terus berciuman tanpa henti, tubuh yang awalnya menggigil dingin kini terasa begitu hangat. Maya menyusupkan tangannya ke dalam baju Agus, merasai perut kotak-kotak pria itu dengan kedua tangannya. Keduanya terus saja saling menyentuh dan berciuman untuk menghangatkan diri.”Udah reda, apartemen aku lebih dekat,” ujar Agus memakaikan helm di kepala Maya. Mereka meninggalkan bengkel dan pulang ke apartemen Agus. “Mandi aja di dalam, aku mandi di luar,” ujar Agus mendorong Maya dengan lembut ke kamar mandi yang ada di kamar. Ia mengambilkan handuk dan juga sikat gigit baru untuk wanita itu.Maya tersenyum kecil, melihat pantulan dirinya di kaca, bibirnya bengkak, wajahnya merona dan dadanya berdebar keras. I
Last Updated: 2026-07-24
Chapter: BOSS WITH BENEFIT - 147Aldi menatap Agus yang memang lebih tinggi darinya. Dari fisik, jelas Aldi kalah. Agus memiliki tubuh berotot, rahang yang tegas dan ketampanan khas yang sangat cocok dengan kulit tan-nya. Sementara Aldi hanya pria kurus kering yang penampilannya urakan.”Gue nggak butuh duit lo!” geram Aldi.”Terima saja, Maya memberinya bukan buat kamu. Tapi buat anak kamu.”Agus menarik Maya menjauh, wanita itu tersenyum lebar sambil menatap Aldi dengan senyum kemenangan. Aldi lagi-lagi mengejar dan menyentak tangan Maya.”Aw!”Punggung Aldi membentur dinding dengan sangat kuat, satu tangan Agus mencengkeram lehernya begitu kuat.”Sekali lagi kamu kasari pacar saya. Saya bikin kamu sekarat.” Agus bicara dengan nada yang begitu tenang namun penuh ancaman. “Kamu ngerti?” Ia menguatkan cengkeramannya hingga Aldi kesulitan bernapas, pria kurus itu segera mengangguk, Agus melepaskannya dan kali ini merangkul pinggang Maya untuk membawanya menjauh.”Thanks,” bisik Maya memel
Last Updated: 2026-07-23
Chapter: BOSS WITH BENEFIT - 146”Heh, gue aduin Robert kalau lo godain cowok lain.””Si Aa ganteng soalnya, bikin gue kesemsem. Kulit tan-nya itu loh, mana kayaknya berotot—“”Gue telepon Robert, nih?” ancam Maya.Esti tertawa, “si Aa kalem banget kayak mas-mas jawa impiannya si Maya.””Gue tabok juga nih,” geram Maya.”Mau adat jawa atau sunda, A? Pilih aja. Maya pasti ngikut aja.””Halo, Bert, bini lo di sini—“ ucapan Maya terhenti saat teleponnya direbut Esti. Ia menatap layarnya yang benar-benar terhubung dengan suaminya, “halo, Sayang, ini aku sama Maya di resto, Maya bawa cowoknya, kamu nggak usah cemburu, ya. Nanti kita ketemu di rumah. Dah, Sayang.”Maya menghela napas, menerima ponselnya. “Lo pilihin aja makanan yang enak buat gue dan Agus, asal jangan diracun.”Esti tertawa, “Aa suka makan pedes, nggak?””Nggak bisa,” jawab Agus pelan.”Ah, kalo si Teteh ini juaranya pedes, aku bikinin makanan yang nggak pedes, ya, A.””Iya, terima kasih.””Lanjut aja ngobr
Last Updated: 2026-07-23
Chapter: BOSS WITH BENEFIT - 145“Kamu hebat, udah tiga tahun aku nggak ngelakuin ini.””Hah?” Maya menopang tubuh dengan kedua siku, menatap Agus yang sedang membuang kondom ke tong sampah yang pria itu temukan di sudut kamar, “serius? Emang kamu bisa nahan sampe selama itu?””Aku nggak aktif-aktif banget ngelakuin ini,” Agus mengancing celananya dan duduk di tepi ranjang, menatap Maya yang masih telanjang, tangan Agus bergerak menarik selimut menutupi tubuh wanita itu.Maya tersenyum dengan cara pria itu menutupi tubuhnya, padahal mereka tadi menyatu dengan begitu liar dan sekarang Agus malah bersikap begitu sopan.”Mau pulang?” Maya menoleh pada Agus yang meraih kemejanya.”Iya.””Gus,” Maya menarik tangan Agus sambil menyibak selimutnya, “aku masih punya satu kondom lagi, kamu nggak mau pake?”Kemeja terlepas dari tangan Agus saat Maya menarik pria itu ke atas ranjang, tanpa membuang kesempatan, Agus membuka kembali celananya, bibir mereka saling bertaut, ciuman mereka sama liarnya,
Last Updated: 2026-07-22
Chapter: BAB 76 - TAMATSetelah satu malam menginap di vila pribadi Xavier, keduanya memutuskan untuk pergi ke Bali, menginap di vila keluarga pria itu. Divya sedang menikmati pantai yang indah saat Xavier memeluknya dari belakang.”Apa yang kamu pikirkan sekarang?””Kita,” Divya menoleh dan tersenyum, “aku memikirkan kita.” Dagu Xavier bertumpu di bahu wanita itu, mengecup bahu itu dengan lembut dan menarik tubuh Divya merapat ke dadanya. “Apa ini nyata, X?””Sangat nyata, Sayang.””Kita benar akan menikah?” Divya mengangkat tangan ke atas, menatap cincin berlian yang diselipkan Xavier di jarinya pada pagi hari dia terbangun di pelukan pria itu dengan perasaan yang luar biasa. Seolah luka yang menghimpit dadanya selama satu bulan belakangan menghilang begitu saja. Divya merasa tubuhnya begitu ringan seolah dia melayang.”Ya. Kita akan menikah.” Xavier meraih tangan itu dan menggenggamnya, membawanya ke mulut untuk dicium. “Kamu akan menjadi Nyonya Xavier Frederick.”Bahagia tidak p
Last Updated: 2026-07-13
Chapter: BAB 75Divya tidak mau menunggu lagi, Xavier harus memasukinya sekarang atau dia akan mati. Tangan Xavier membelai payudaranya, mencubit putingnya yang menegang. Sementara vibrator masih mengguncang vagina Divya di bawah sana, Xavier mengangkangi Divya dan menyelipkan kejantanannya di antara payudara wanita itu, pria itu mulai menggerakkan pinggulnya.Divya tidak pernah membiarkan seorang pria melakukan ini padanya tapi—astaga, melihat kejantanan itu terselip di antara payudaranya, membuatnya semakin terangsang. Napasnya terengah-engah ketika Xavier menambah kecepatannya, bercinta dengan kedua payudara Divya lebih cepat hingga kepala kejantanan itu sesekali mengenai dagu Divya.”Sialan, Sayang, payudaramu begitu lembut,” erangnya. Xavier terus menggerakkan kejantanannya sampai sperma pria itu tumpah membasahi dada Divya.Divya hampir tidak dapat mengatur napasnya ketika orgasme membuatnya terbakar, belum cukup itu semua, Xavier mendorong kejantanannya yang masih mengeluarkan sp
Last Updated: 2026-07-12
Chapter: BAB 74Jagar ikut berdiri dan mengulurkan tangan pada istrinya, tanpa berkata-kata dia menyusul Kivandra menuju pintu keluar.Abhimanyu berdiri, menarik istrinya dengan lembut, kemudian menatap eyang, ayah dan ibunya. “Kalau ada dari kalian yang berani mengusik Divya, akan saya hancurkan kalian tanpa sisa. Saya diam karena Divya lah yang bersikeras ingin menerima perjodohan meskipun dia tidak menginginkannya. Sekarang dia sudah bebas. Jadi jangan pernah usik adik saya lagi atau saya akan dengan senang hati mengurus tiga pemakaman sekaligus untuk kalian.” Sambil memeluk pinggang istrinya, Abhimanyu membawa Sabhira meninggalkan rumah mewah yang terasa begitu dingin dan kelam. “Aku baru pertama kali ini melihat Kivandra mengamuk,” bisik Sabhira saat berjalan menuju mobil.”Dia berhak melakukannya. Dia sudah dewasa,” Abhimanyu tersenyum, melihat Kivandra menunggunya di mobil. Pria itu memegangi tangan istrinya yang masuk ke mobil lebih dulu dan dia masuk ke dalamnya. Satu mobil la
Last Updated: 2026-07-11
Chapter: BAB 73Di rumah keluarga Mahesa terjadi keributan besar setelah Divya ‘diculik paksa’ oleh Xavier, Killa dan Sabhira hanya duduk sambil menikmati potongan buah, menonton Dahayu dan Arya Mahesa berteriak-teriak marah. Keduanya saling berpandangan lalu tertawa geli tanpa suara.”Kenapa kalian malah di sini dan bukannya mengejar adik kalian?!”Jagar mencomot potongan buah dari piring istrinya sementara Abhimanyu menerima suapan dari Sabhira. Kivandra duduk paling jauh sambil makan roti.”Well, menurutku—“‘Tidak ada yang meminta pendapat kamu, Kivandra. Jadi diam!” bentak sang ibu.Kivandra melotot. “Fuck!” makinya dengan lantang hingga para tetua menoleh dengan tatapan tajam, terlebih Arya Mahesa yang menggenggam erat tongkatnya seakan ingin melayangkan tongkat itu ke kepala Kivandra, anak bungsu keluarga Mahesa itu melempar rotinya ke lantai. “Kalian semua idiot! Bodoh! Egois! Tidak tahu diri! Manusia biadab! Jahanam—“”KIVANDRA!””Apa?!” Untuk pertama kalinya Ki
Last Updated: 2026-07-10
Chapter: BAB 72Divya terdiam sesaat, menatap Xavier yang kini berdiri di depannya tanpa alas kaki, tangannya memegang payung yang melindungi mereka berdua dari hujan. Sepatu hitam pria itu kini melindungi kakinya, meskipun terasa kebesaran dan sedikit sulit untuk berjalan. Ia menunduk, menatap sepatunya yang patah di tangan Xavier. Perasaan aneh menjalar di dadanya—sesuatu yang ia coba tahan, sesuatu yang seharusnya sudah tidak ada lagi tapi ternyata rasa itu masih sama besarnya.Xavier hanya tersenyum kecil, seolah tidak peduli bahwa dirinya sekarang bertelanjang kaki di tengah jalan yang basah. “Ayo,” katanya ringan, melangkah lebih dulu dengan sepatu Divya masih tergenggam di satu tangan, sementara tangan lainnya tetap memegang payung. Divya mengikutinya dalam diam, mencoba berjalan sebaik mungkin dengan sepatu yang kebesaran. Sesekali, Divya melirik ke bawah, melihat kaki telanjang pria itu melangkah di aspal yang basah. Hatinya terasa sesak, tapi ia tetap membisu.Mereka terus berjala
Last Updated: 2026-07-09
Chapter: BAB 71Sudah beberapa hari lamanya Xavier terus mengikuti Divya ke mana-mana meskipun wanita itu mengabaikannya. Hari ini Divya lembur di kantornya, belum makan malam dan tidak menyentuh sedikit pun makanan yang Xavier bawakan untuknya. Usaha Xavier untuk mendapatkan maaf dari wanita itu belum membuahkan hasil meskipun Xavier tidak akan menyerah.”Princess, kamu belum makan malam, makanlah.”Divya tidak menjawab, hanya terus menatap layar laptop dan sibuk bekerja. Divya bersikap seolah-olah keberadaan Xavier tidak pernah ada.Xavier menghela napas pelan, duduk di sofa dengan tatapan lekat pada wanita yang tak kunjung menoleh ke arahnya. Kopi dan makan malam yang dia bawa masih tergeletak di meja, tak tersentuh. Tapi Xavier tahu lebih baik dari siapa pun—Divya tidak sekuat itu meskipun Divya berusaha berakting bahwa wanita itu tidak terpengaruh dengan keberadaan Xavier. Dia melihat bagaimana bahu wanita itu menegang saat pertama kali menyadari kehadiran malam ini, bagaimana
Last Updated: 2026-07-08