LOGINDi rumah keluarga Mahesa terjadi keributan besar setelah Divya ‘diculik paksa’ oleh Xavier, Killa dan Sabhira hanya duduk sambil menikmati potongan buah, menonton Dahayu dan Arya Mahesa berteriak-teriak marah. Keduanya saling berpandangan lalu tertawa geli tanpa suara.
”Kenapa kalian malah di sini dan bukannya mengejar adik kalian?!”Jagar mencomot potongan buah dari piring istrinya sementara Abhimanyu menerima suapan dari Sabhira. Kivandra duduk paling jauh sambil makan roti.”WeJagar ikut berdiri dan mengulurkan tangan pada istrinya, tanpa berkata-kata dia menyusul Kivandra menuju pintu keluar.Abhimanyu berdiri, menarik istrinya dengan lembut, kemudian menatap eyang, ayah dan ibunya. “Kalau ada dari kalian yang berani mengusik Divya, akan saya hancurkan kalian tanpa sisa. Saya diam karena Divya lah yang bersikeras ingin menerima perjodohan meskipun dia tidak menginginkannya. Sekarang dia sudah bebas. Jadi jangan pernah usik adik saya lagi atau saya akan dengan senang hati mengurus tiga pemakaman sekaligus untuk kalian.” Sambil memeluk pinggang istrinya, Abhimanyu membawa Sabhira meninggalkan rumah mewah yang terasa begitu dingin dan kelam. “Aku baru pertama kali ini melihat Kivandra mengamuk,” bisik Sabhira saat berjalan menuju mobil.”Dia berhak melakukannya. Dia sudah dewasa,” Abhimanyu tersenyum, melihat Kivandra menunggunya di mobil. Pria itu memegangi tangan istrinya yang masuk ke mobil lebih dulu dan dia masuk ke dalamnya. Satu mobil la
Di rumah keluarga Mahesa terjadi keributan besar setelah Divya ‘diculik paksa’ oleh Xavier, Killa dan Sabhira hanya duduk sambil menikmati potongan buah, menonton Dahayu dan Arya Mahesa berteriak-teriak marah. Keduanya saling berpandangan lalu tertawa geli tanpa suara.”Kenapa kalian malah di sini dan bukannya mengejar adik kalian?!”Jagar mencomot potongan buah dari piring istrinya sementara Abhimanyu menerima suapan dari Sabhira. Kivandra duduk paling jauh sambil makan roti.”Well, menurutku—“‘Tidak ada yang meminta pendapat kamu, Kivandra. Jadi diam!” bentak sang ibu.Kivandra melotot. “Fuck!” makinya dengan lantang hingga para tetua menoleh dengan tatapan tajam, terlebih Arya Mahesa yang menggenggam erat tongkatnya seakan ingin melayangkan tongkat itu ke kepala Kivandra, anak bungsu keluarga Mahesa itu melempar rotinya ke lantai. “Kalian semua idiot! Bodoh! Egois! Tidak tahu diri! Manusia biadab! Jahanam—“”KIVANDRA!””Apa?!” Untuk pertama kalinya Ki
Divya terdiam sesaat, menatap Xavier yang kini berdiri di depannya tanpa alas kaki, tangannya memegang payung yang melindungi mereka berdua dari hujan. Sepatu hitam pria itu kini melindungi kakinya, meskipun terasa kebesaran dan sedikit sulit untuk berjalan. Ia menunduk, menatap sepatunya yang patah di tangan Xavier. Perasaan aneh menjalar di dadanya—sesuatu yang ia coba tahan, sesuatu yang seharusnya sudah tidak ada lagi tapi ternyata rasa itu masih sama besarnya.Xavier hanya tersenyum kecil, seolah tidak peduli bahwa dirinya sekarang bertelanjang kaki di tengah jalan yang basah. “Ayo,” katanya ringan, melangkah lebih dulu dengan sepatu Divya masih tergenggam di satu tangan, sementara tangan lainnya tetap memegang payung. Divya mengikutinya dalam diam, mencoba berjalan sebaik mungkin dengan sepatu yang kebesaran. Sesekali, Divya melirik ke bawah, melihat kaki telanjang pria itu melangkah di aspal yang basah. Hatinya terasa sesak, tapi ia tetap membisu.Mereka terus berjala
Sudah beberapa hari lamanya Xavier terus mengikuti Divya ke mana-mana meskipun wanita itu mengabaikannya. Hari ini Divya lembur di kantornya, belum makan malam dan tidak menyentuh sedikit pun makanan yang Xavier bawakan untuknya. Usaha Xavier untuk mendapatkan maaf dari wanita itu belum membuahkan hasil meskipun Xavier tidak akan menyerah.”Princess, kamu belum makan malam, makanlah.”Divya tidak menjawab, hanya terus menatap layar laptop dan sibuk bekerja. Divya bersikap seolah-olah keberadaan Xavier tidak pernah ada.Xavier menghela napas pelan, duduk di sofa dengan tatapan lekat pada wanita yang tak kunjung menoleh ke arahnya. Kopi dan makan malam yang dia bawa masih tergeletak di meja, tak tersentuh. Tapi Xavier tahu lebih baik dari siapa pun—Divya tidak sekuat itu meskipun Divya berusaha berakting bahwa wanita itu tidak terpengaruh dengan keberadaan Xavier. Dia melihat bagaimana bahu wanita itu menegang saat pertama kali menyadari kehadiran malam ini, bagaimana
Divya menggigit bibirnya, menahan perasaan yang mengancam untuk pecah. Dengan tangan gemetar, dia berjalan lebih dalam, menuju dapur. Tempat di mana dulu Xavier selalu duduk setiap malam begitu sibuk dengan laptop dan pekerjaannya. Dia bisa membayangkan dengan jelas bagaimana pria itu menatapnya saat Divya tidak bisa tidur dan masuk ke dapur, membuatkannya secangkir teh chamomile dan mereka akan berbicara tentang apa saja, tentang trauma Divya, tentang masa lalu bahkan tentang hal-hal remeh lainnya. Percakapan yang sangat disukai Divya karena pada saat itu Divya merasa memiliki seseorang yang benar-benar mau mendengarkan seluruh ceritanya. Memiliki seseorang yang akan selalu berkata ‘Ya, Princess, aku setuju denganmu’ dan kini—meskipun Divya tidak mau mengakuinya—tapi dia merindukan panggilan itu, merindukan cara pria itu memanggilnya, cara pria itu menatapnya dan cara pria itu bicara padanya. Semua hal di rumah ini mengingatkan Divya kepada Xavier meskipun pria itu hanya sepuluh bu
Kembali ke beberapa hari sebelum Divya ‘diculik’ oleh Xavier.”Mau ke mana?” Abhimanyu bertanya saat melihat adiknya turun dari lantai dua dengan menggenggam kunci mobil. “Sudah malam.””Aku … mau pulang sebentar.””Pulang?””Ya,” Divya mengangguk, “aku mau menginap di rumah sehari saja, Mas.””Tidak, kamu di—“”Kalau mau pulang, jangan sendirian, ya,” suara Sabhira menyela dengan lembut, membuat Abhimanyu menoleh kepada istrinya dengan satu alis terangkat sementara perhatian Sabhira sepenuhnya tertuju kepada Divya, menatap adik iparnya dengan senyum yang teduh. “Kamu diantar Sadewa, ya. Mbak khawatir kalau kamu nyetir sendiri, sekarang lagi musim hujan, jadi amannya diantar Sadewa aja.””Iya, Mbak.”Sabhira menoleh kepada Sadewa dan pengawalnya itu dengan segera mendekati Divya, Divya menyerahkan kunci mobilnya dan berpamitan sebelum mengikuti langkah Sadewa menuju pintu utama.”Kenapa kamu biarkan dia pergi?” Abhimanyu bertanya kepada istrinya s
Sepanjang perjalanan menuju kantor Divya, Xavier bernapas dengan perlahan-lahan, berusaha untuk tidak memasukkan terlalu banyak oksigen ke dalam paru-parunya karena oksigen itu telah tercemar oleh parfum Divya. Setiap kali dia menarik napas, rasanya seperti tercekik dan itu membuat Xavier merasa ba
”Tembok di belakang harus dipasang kawat pelindung,” ucap Xavier saat masuk ke dalam ruang makan. Divya sedang sarapan dan Bu Ani melayaninya. Kepala pelayan rumah itu juga menyiapkan sarapan dan secangkir kopi untuk Xavier. Namun Xavier hanya berdiri dan bersandar di dekat meja hias. Bersedekap me
“Pengawal kamu bakal datang pagi ini.” Divya mengangkat wajah menatap Jagar yang pagi-pagi sekali memutuskan untuk mampir ke rumahnya. ”Siapa?” ”Kamu tahu dia.” ”Namanya?” ”Tunggu saja dia datang.” ”Mas nggak mau kasih tahu namanya?” ”Dia akan datang lima belas menit lagi. Aku pergi d
Xavier masuk ke dalam Litera. Langsung menuju lantai tiga yang merupakan ruang VVIP. Ruangan yang tidak akan seberisik lantai dasar maupun lantai dua. Pria itu menyapa Rainer yang malah ini menyibukkan diri di balik meja bar. ”Sendirian?” Xavier menggeleng sambil memilih-milih minuman, pilihannya







