MasukUntuk menghindari perjodohannya dengan Alexa Housten, Lucas berencana membunuh perempuan itu. Namun, belum sempat Lucas menjalankan rencananya, tiba-tiba takdir mempermainkan mereka: tubuh mereka tertukar! Apa yang harus keduanya lakukan?
Lihat lebih banyak“Ahh, enak, Gus. Lebih keras lagi, Gus. Hnghh.…”
“Tante yakin? Mau lebih keras lagi?”
“Iya, Gus. Ahhh… makin keras makin enak… uhhh…”
Walaupun ragu, aku tetap menuruti permintaan Tante Miya. Aku tekan punggungnya lebih kuat dengan tangan kasarku yang biasa kerja kasar di desa.
Sebenarnya aku takut tenaga dalamku ini akan menyakitinya, tapi melihat Tante Miya yang malah makin mendesah keenakan, sepertinya dia sangat menikmati servis gratis ini.
Akhir-akhir ini Tante Miya memang sering mengeluh badannya gampang pegal. Sebagai keponakan yang menumpang hidup, aku cukup tahu diri. Menawarkan jasa pijat adalah bentuk balas budi paling minimal yang bisa kulakukan.
“Harusnya kamu buka jasa pijat aja, Gus. Soalnya pijatanmu enak banget. Bikin badan Tante yang awalnya tegang jadi rileks,” puji Tante Miya sambil tiba-tiba berbalik posisi, berbaring menghadapku.
Tante Miya baru saja selesai mandi. Tubuhnya hanya dibalut handuk putih yang lilitannya sengaja dilonggarkan— katanya sih, supaya kulitnya bisa bernapas. Tapi aku yang justru sesak napas melihat belahan dan gundukan yang menyembul di balik kain itu.
Aku menelan ludah susah payah melihat pemandangan ini.
Perlu kuakui, di usia 40 tahun, tubuh Tante Miya masih seperti gadis 20 tahunan. Semok, mulus, dan wangi bunga semerbak yang bikin otak mungilku ini mendadak korsleting.
Aku yakin pria manapun tidak akan sanggup menolak pesona Tante Miya.
“Saya nggak ahli mijet, Tan. Lagian kerjaan yang sekarang juga sudah enak, gajinya UMR. Lumayanlah buat ditabung,” balasku, berusaha mengalihkan pandangan agar pikiranku tidak makin liar. Tanganku mulai bergerak perlahan, memijati bahu Tante Miya yang kaku.
“Eh, jangan salah, Gus. Penghasilan jadi terapis pijat juga gak sedikit loh. Apalagi kalau pelanggan puas sama pelayanan kamu, kemungkinan bisa dapat tip banyak. Tapi ya terserah kamu saja, toh kamu yang menjalani.”
Minggu lalu, aku diterima jadi Office Boy di perusahaan ternama. Walaupun cuma jadi OB, gaji UMR Jakarta bagiku yang orang desa ini sudah terasa sangat tinggi.
Maklum, sejak lulus SMA aku cuma kerja serabutan di kampung. Orang tuaku meninggal karena kecelakaan saat aku masih SMP, membuatku hidup tanpa dukungan materi.
Beruntung, Paman Karyo, saudara almarhum ayahku, mau menampungku di rumah mewahnya ini. Aku jadi bisa menghemat uang kos dan makan. Ditambah lagi, aku bisa masuk ke perusahaan itu berkat rekomendasi langsung Paman Karyo. Jalur orang dalam. Itulah sebabnya aku merasa sangat berutang budi padanya.
Dan di sinilah aku sekarang, duduk di pinggir kasur memijati istri pamanku sendiri.
Paman Karyo sedang di luar kota dan ketiga sepupuku juga ada urusan di luar. Rumah ini benar-benar sunyi, kecuali suara desahan Tante Miya yang makin lama makin terdengar aneh.
Saat aku sedang fokus memijat bahunya, tiba-tiba tangan lembut Tante Miya memegang tanganku, lalu menariknya ke atas bagian paling kenyal menawan tubuhnya.
“Ehh??”
Aku tersentak. Ini kali pertama aku memegang bukit wanita. Meski terhalang kain handuk, sensasi kenyalnya terasa sangat nyata di telapak tanganku.
“Pijat di bagian sini juga, Gus...” bisiknya serak. Tangannya menuntun tanganku untuk meremas bagian kenyal itu.
Aku benar-benar tak berkutik. Otakku mendadak lumpuh, dan tanganku bergerak mengikuti kemauan Tante Miya, mulai meremas bukit itu dengan perlahan.
‘Anjrit... kenyal banget woiii!’ batinku menjerit histeris.
Aku pun meremas untuk kedua kalinya, hendak memastikan bahwa ini bukan mimpi.
“Argus…” panggilnya lagi. Suaranya kian serak, sementara matanya yang sayu menatapku cukup dalam.
Aku bukan anak kecil lagi. Aku pria 25 tahun yang normal. Kalau dilihat dari tatapannya, Tante Miya mungkin ‘kepengen’ main denganku. Tapi aku buru-buru menepis pikiran jorok itu.
Aku menghormati Tante Miya sama seperti aku menghormati almarhum ibuku. Apalagi Paman Karyo sudah sangat baik. Tidak mungkin kan aku 'pagar makan tanaman'?
Buru-buru aku menarik tanganku.
“Kenapa, Gus? Capek?” tanya Tante Miya lembut.
“Eng-enggak, Tan... tapi anu... saya kebelet! Perut saya mendadak mules, permisi!” alibiku sambil ngibrit keluar kamar.
Aku kabur dari kamar itu seolah dikejar setan. Bisa gila aku kalau lama-lama di sana.
Di balik celana, 'adik kecilku' sudah bangun sepenuhnya, bahkan sudah di ujung tanduk.
“Aduh, duhhh, jangan keluar sekarang dong! Masa baru pegang yang kenyal-kenyal aja sudah mau muncrat!” bisikku pada diriku sendiri sambil memegangi selangkangan yang menegang hebat.
Aku memang punya penyakit aneh: burungku gampang sekali terangsang kalau melihat cewek cantik. Dan gara-gara memegang 'bukit' Tante Miya tadi, si LUKMAN— begitu kunamai burungku yang artinya LUcu, Kuat, dan MANja— sudah tidak bisa diajak kompromi lagi.
Aku harus mengeluarkannya sekarang juga!
Karena mengira para sepupuku masih di luar, aku tanpa ragu membuka ritsleting celana bahkan sebelum sampai di toilet belakang.
Sambil berjalan, tanganku sudah mulai bekerja mengelus-elus si Lukman.
Tepat di depan toilet, tanganku sudah siap membuka pintu. Namun, pintu itu terbuka sendiri sebelum sempat kusentuh. Seseorang membukanya dari dalam dengan cepat.
“Akhhh!!”
Aku teriak kaget, tapi orang di dalam jauh lebih kaget.
Mbak Masha, sepupuku berdiri di sana dengan wajah syok.
Dan si Lukman? Dia berdiri dengan gagah tepat di depan mata Mbak Masha yang membelalak sempurna.
Suara roda ranjang yang dorong berderak melewati setiap lorong rumah sakit, genggaman tangan Lucas mengerat memandangan Alexa yang terbaring kesakitan.Seorang dokter menahan langkah Lucas yang akan ikut memasuki ruangan bersalin, "Maaf Tuan, silahkan tunggu."“Aku ingin menemani isteriku, dia membutuhkan aku!” Geram Lucas tidak suka dengan siapapun yang mengahalangi keinginannya.“Anda ikuti prosedurnya, dengan begitu semuanya akan berjalan lebih cepat,” ucap dokter tersebut masih dengan ketanangan.“Tuan, sebaiknya ikuti apa yang di katakan Dokter. Biar Nyonya Alexa lebih cepat di tangani,” usul Shwan mengusap bahu Lucas agar tuannya bisa lebih tenang.Kemarahan Lucas sedikit berkurang, dengan terpaksa dia mundur dan memberi jalan dokter tersebut. Ketegangan dibahu Lucs mengedur, perlahan Lucas terduduk di kursi, memandang daun pintu yang masih tertutup rapat. Ledua tangannya saling bertautan memanjatkan do'a dan berusaha meredakan kecemasan juga rasa takutnya. “Nyonya Alexa akan
Kemurungan hati Lucas tampak jelas di raut wajahnya, Julian adalah sahabat satu-satunya yang dia miliki di muka bumi ini.Lucas mengerti, Julian telah jatuh cinta kepada kekasih Armin. Pria itu benci di usik karena kedatangan Armin dalam kebahagiannya.Kebingungan Lucas bertambah, dia tidak dapat menjauhkan Armin sedikit pun. Pria itu sama kuatnya dengan Julian.Suara deringan telepon masuk menjeda Lucas yang sempat akan membuka pintu mobil. “Shwan.”“Tuan,” suara napas Shwan memburu dan kasar, “nyonay Alexa kabur.”“Sialan!” maki Lucas murka. “Dapatkan dia sebelum membuat ulah!”“Iya, Tuan.”Decitan kasar suara mobil yang meninggalkan tempat sangat terdengar keras. Hati Lucas bergemuruh kesal dengan sikap manja Alexa yang tidak pernah berubah, bahkan dengan perut besarnya yang sekarang pun Alexa masih gemar membuat ulah.***Sorak suara penonton baseball bergemuruh penuh semangat, mereka menyanyikan lagu kebagsaan Neydish setelah pertarungan usai.Alexa berteriak merasakan euforia pe
Peluh keringat membasahi wajah Alexa, sesekali gadis itu menyekanya dengan punggung tangan dan melanjutkan untuk mendekor kamar untuk calon buah hatinya.Shwan dan para pengawal mengangkut beberapa barang, meletakannya sesuai dengan apa yang Alexa inginkan.Nuansa warna hijau sangat mencolok dengan banyaknya hiasan dinding, beberapa mainan sudah tersedia di dalam kurungan pagar. Sebuah teleskop berdiri kokoh di depan jendela, boneka-boneka pesawat kecil menggantung dan berputar di atas ranjang kecil bayi.Alexa menjatuhkan dirinya ke sofa, menyangga bawah perutnya yang semakin membesar dan membuatnya merasakan beban berat.“Nyonya” Shwan berdiri di hadapan Alexa. “Ada yang bisa saya kerjakan lagi?”Tubuh Alexa meringkuk di sofa, gerakan matanya melambat, ia menguap merasakan kantuk yang menyerang. “Apa aku boleh jalan-jalan?”Shwan tersenyum kaku. “Maaf Nyonya, sebaiknya Anda meminta izin pada Tuan Lucas terlebih dahulu,” jawabnya sebijak mungkin. Semakin bertambahnya usia kandunga
Enam bulan kemudian..Suara angin berhembus lembut menerpa dadaunan dan mejatuhkan ranting keringnya ke permukaan air.Hamparan rumput hijau membentang luas mengelilingi rumah baru Lucas dan Alexa. Rumah itu jauh dari kesan mewah seperti mansionnya di Hong Kong, namun deburan ombak di bawah tebing menjadi menjadi pesona tersendiri.Pemandangan di setiap sudut rumah mengarah pada kekuatan hedonisme, gedung-gedung menjulang kokoh di depan taman hiburan yang langsung mengarah ke laut.Club malam, hotel, dan sebuah kasino yang berkilauan di puncak tertinggi gedung, layaknya sebuah berlian raksasa yang menggambarkan kekayaan.Hekataran kincir berdiri kokoh telah menjadi penerang sebagian pulau itu.Jauh dari keramaian, jalanan yang luas membentang indah menembus, hutan dan kebun lavender yang menghidupi ratusan petani yang hidup di pinggiran sungai.Lucas berdiri di pinggiran tebing, berpegangan pada pagar sambil menikmati segelas anggur.Rambutnya bergerak mengikuti ke mana arah angin men
Alecas (jiwa Alexa dalam tubuh Lucas) LuXa (jiwa Lucas dalam tubuh Alexa) *** Kepergian Selena tidak dipedulikan sama sekali. Alexa berusaha mendorong Lucas yang semakin erat mengurung dan memperdalam ciumannya, tindakan kasar Lucas yang mencumbunya dengan paksa membuat Alexa marah sekaligus takut.
Alecas (jiwa Alexa dalam tubuh Lucas) LuXa (jiwa Lucas dalam tubuh Alexa) *** Alexa berjalan dengan anggun dan percaya diri, gaun musim panasnya yang berwarna merah bercorak bunga-bunga terlihat indah bergoyang di terpa angin di atas pahanya. Rambut panjangnya yang baru mendapatkan perawatan, ki
Tubuh mereka kembali…Alexa dan Lucas terdiam sesaat, kedua kembali saling menatap dan mengerjap kaget karena kini jiwa kembali te tubuh mereka masing-masing.“Ya Tuhan, aku kembali.” Alexa melompat senang bukan main, dengan cepat dia segera mundur menjauh dari tubuh Lucas dan pergi melihat ke cerm
Alecas (jiw Alexa dalam tubuh Lucas)LuXa (jiwa Lucas dalam tubuh Alexa)***“Apa? Mandi? Tidak!” Alecas melarang.LuXa tertawa menggema, jiwa Lucas merasa ironis melihat wajah angkuh dan tatapan tajam mata miliknya kini menjadi melunak, gerakan tubuhnya sudah tidak dia kenal lagi.Diam-diam jiwa L






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan