Chapter: Bab 144Adrian melotot tajam ke arah Clara. Matanya hampir keluar karena kaget sekaligus panik dengan celetukan kakak tirinya yang asal ceplos di depan Mama mereka.“Kak, lo apa-apaan, sih?!” tegur Adrian dengan nada tinggi, menatap Clara penuh kejengkelan sambil mengusap mulutnya yang masih basah.“Ya abisnya lo ngeselin! Pintu dikunci segala. Terus ditanya lagi ngapain, malah jawab lagi nonton bokep terus sambil mendesah kenceng! Kan jijik banget!” balas Clara kesal, sama sekali tidak mau kalah.Ia lalu menoleh ke arah Siska yang berdiri membeku di sebelahnya. “Iya kan, Kak Siska? Jijik banget, ya?”Siska terkesiap hebat, matanya membelalak lebar dengan raut wajah panik setengah mati. Suaranya sampai tercekat di tenggorokan. “Heuh! I-iya, Clar! Jijik gue juga,” sahut Siska patah-patah sambil memalingkan wajah, menyembunyikan rona merah yang mendadak membakar pipinya.Maya yang sedang mengaduk masakan di atas kompor menggeleng-gelengkan kepala. Namun, bukannya marah besar atau memarahi Adria
Terakhir Diperbarui: 2026-10-16
Chapter: Bab 143Di dalam kamar yang terkunci rapat itu, keheningan malam hanya dihiasi oleh gesekan halus kulit dan embusan napas hangat yang saling beradu. Setiap pergerakan Siska di atas tubuh Adrian terasa begitu terukur, menyeimbangkan antara puncaknya hasrat dan rasa takut yang mendalam jika Clara di kamar lain sampai terbangun kembali.“Yan... uuhhh! Ini... ini berasa banget,” bisik Siska terbata-bata, keringat dingin mulai merembes halus di pelipis dan leher mulusnya. Tangannya yang tadinya mencengkeram bahu Adrian kini berpindah mencengkeram erat lututnya sendiri.“Tahan suaranya, Kak! Nanti si Clara denger beneran!” Adrian berbisik, sambil mengimbangi pacuan gerakan dari bawah untuk membantu Siska mencapai puncak kepuasannya.“Gue... gue usahain... tapi lo jangan makin kenceng nyodok dari bawah, bego!” umpat Siska penuh pasrah. Pipinya membakar merah padam di balik keremangan lampu tidur.Sensasi di antara mereka kian memuncak ketika irama pergerakan makin cepat dan kompak. Adrian mencengker
Terakhir Diperbarui: 2026-10-16
Chapter: Bab 142Gerakan Siska seketika terhenti total. Ia membeku kaku di tempatnya, matanya membelalak lebar menatap Adrian dengan kepanikan luar biasa. Adrian pun menyentak napasnya, menahan tubuh Siska agar tetap tenang.“Yaelah, si Clara beneran bangun! Gimana nih, Yan?! Kalo dia tau gue di dalem kamar lo, mampus kita!” bisik Siska sangat pelan, sambil menjulurkan lidahnya.Slurpp!“Ahhhh.... Kak! Diem dulu, Kak! Jangan dijilat!” bisik Adrian meringis, berusaha mengatur napasnya yang masih memburu agar terdengar sewajar mungkin.Dari balik pintu, gedoran Clara makin menjadi-jadi. “Adrian! Buka gak pintunya?! Gue panggil Kak Siska nih kalo lo gak nyaut!”Adrian dan Siska saling melempar pandangan. Siska hampir saja menjerit panik mendengar Clara yang berniat memanggil namanya sendiri di luar sana.“Yan, buruan jawab!” desik Siska panik setengah mati sambil hendak mengambil baju dan merapikan rambutnya yang acak-acakan.Adrian menarik napas dalam-dalam, mencoba mengubah intonasi suaranya seolah-ola
Terakhir Diperbarui: 2026-10-16
Chapter: Bab 141Siska tidak menjawab sepatah kata pun. Namun, binar matanya yang redup dan embusan napasnya yang tertahan secara tidak langsung menunjukkan kepasrahan total. Ia membiarkan Adrian mengikis jarak di antara mereka.“Eumph! Eumph!”Lidah Adrian dan Siska saling bertautan, sentuhan lembut jemari di rahang memandu pergerakan mereka. Bibir mereka bertemu dalam belaian yang halus, beriringan dengan irama kehangatan yang perlahan mengalir.Ciuman itu berlangsung tenang dan penuh perasaan. Seolah waktu berhenti sejenak untuk membiarkan mereka larut dalam momen kebersamaan yang sunyi dan intim.Keheningan yang melingkupi ruangan akhirnya membuat mereka berdua berada di atas tempat tidur empuk milik Adrian, tanpa sehelai benang pun. Udara di kamar terasa kian hangat, menyerap setiap detik ketegangan yang tercipta tanpa perlu banyak kata-kata vulgar.“Eumphh! Adrian, udahh... ahhh! Jangan jilatin ketek gue terus, geli tau! Uungghh!” keluh Siska dengan deru napas terengah-engah, mencoba menggeser b
Terakhir Diperbarui: 2026-10-15
Chapter: Bab 140“Lo mau juga, Kak?” tanya Adrian, tersenyum usil menatap Clara.“Adrian!” tegur Siska, melotot tajam. Jantungnya serasa mau copot karena khawatir adik tirinya itu nekat melakukan hal serupa pada adik kandungnya sendiri.“Ya biarin kalo Kak Clara mau, Kak Siska. Kan kasian kalo dia dicuekin doang,” ucap Adrian santai tanpa beban.“Apaan sih, Kak? Bikin penasaran banget dari tadi!” tanya Clara bingung sambil memicingkan mata.“Jangan, Clar! Pokoknya jangan mau!” Siska menggelengkan kepalanya keras-keras, menatap Clara dengan raut panik setengah mati.“Dih, apaan sih? Kalau emang enak dan seru, ya gue mau lah!” ucap Clara tak mau kalah.“Ya udah sini maju, Kak!” ucap Adrian sambil menepuk area kosong di sebelahnya.“Adrian! Lo udah gila, ya?!” bentak Siska emosi, dengan napas memburu hendak menahan lengan Adrian.Namun sebelum Siska sempat bertindak, Adrian justru melompat maju dan langsung merangkul tubuh Clara, lalu menyergap rusuknya dengan jemari yang bergerak cepat menggelitiki ping
Terakhir Diperbarui: 2026-10-15
Chapter: Bab 139“Itu lho... serem banget, Clar!” elak Siska cepat dengan nada suara bergetar menahan napas, berusaha keras menyembunyikan getaran hebat di tubuhnya.“Yaelah, Kak! Masa kayak gitu aja lo takut? Cemen banget!” cibir Clara sambil memutar bola matanya malas, tidak menyadari kebohongan besar yang baru saja terlontar.“Iya nih, Kak Siska payah banget,” timpal Adrian ikut-ikutan mencibir dengan raut wajah paling polos dan tanpa dosa, padahal jemarinya di balik kegelapan selimut masih begitu berani menempel rapat di bagian dalam Siska.Siska seketika memelototi adik tirinya itu dengan tatapan membunuh. Rasanya ia ingin sekali melayangkan cubitan maut ke perut Adrian saat itu juga untuk memberi pelajaran, tetapi tangannya sama sekali tak berkutik karena jemari Adrian masih mengunci pergerakannya dari balik selimut tebal tersebut.Siska hanya bisa menggigit bibir bawahnya rapat-rapat, mencoba mengatur napasnya yang naik-turun tak beraturan. “Hish! Awas lo, ya?” gumamnya.Saat situasi kembali me
Terakhir Diperbarui: 2026-10-15