INICIAR SESIÓNSetelah Ibunya meninggal, Ayah Adrian menikah lagi dengan seorang wanita bernama Maya yang merupakan mantan sekretarisnya. Maya memiliki dua anak perempuan yang tidak kalah cantik dan seksi dengan dirinya, membuat Adrian tampak canggung tinggal di rumah itu. Setelah beberapa waktu hidup bersama dengan ibu dan saudari tirinya, kedua saudari tiri Adrian tampaknya tidak suka dengan Adrian. Mereka kerap kali bersikap dan berkata kasar pada Adrian. Sampai akhirnya Adrian bisa menaklukkan kedua saudari tirinya itu, tanpa diketahui oleh Ayah ataupun ibu tirinya.
Ver más"Ahhh ... pelan-pelan, Kak ... jangan terlalu kasar, ah ...." Suara manja itu mengalun, bergetar di sela-sela desahan yang panjang.
Di atas ranjang yang berderit, seorang wanita polos tanpa busana tengah tenggelam dalam dekapan seorang pria matang dengan tubuh kekar sempurna. Tangan besar milik sang pria menyusuri lekuk tubuh gadis di bawahnya yang mulai berkeringat, membuat kulit putih mulusnya mengilap di bawah bias cahaya lampu tidur yang temaram. Gadis itu menggeliat, memejamkan mata sambil menggigit bibir bawahnya yang merah, seakan menahan gelombang kenikmatan yang tak kuat ditampung tubuh berisinya. "Kamu suka kalau Kakak nakal begini, hm?" bisik suara bariton itu rendah, tepat di depan telinganya. Gadis itu tidak menjawab dengan kata-kata, hanya erangan tertahan yang kembali lolos dari belahan bibirnya. Jemari sang pria kini merambat perlahan menuruni perut ratanya, menelusuri batas pakaian yang sudah setengah terlepas. Sentuhan yang berani itu membuat napas si gadis semakin liar. Pinggulnya terangkat pelan, mencari-cari kehangatan yang lebih dalam. "Terus, Kak ... ahhh ... di situ ... iya ...." Gerakan membuai itu semakin cepat. Hasrat mereka perlahan memuncak, menggulung kewarasan keduanya. Namun .… BRAK! BRAK! BRAK! Gedoran brutal itu seketika membuat Adrian terlempar ke kenyataan kembali. Ia tersentak hebat hingga kursinya nyaris terjengkang, menyisakan suara desahan panas yang kini hanya terdengar dari TWS di telinga kanan. Jantungnya berdetak gila-gilaan, seperti baru saja ketahuan melakukan hal tidak senonoh. Tapi, Adrian kan memang sedang menonton .… Dengan napas tertahan dan tangan gemetar, Adrian buru-buru menekan tombol spasi dan membanting layar laptopnya hingga tertutup rapat. Ia mengusap wajahnya yang memanas, menarik napas panjang, dan berusaha merapikan duduknya. Berlagak senormal mungkin. Saat Adrian membuka pintu, Siska Wijaya berdiri di sana. Seketika, tenggorokannya terasa kering kerontang. Kakak tiri dari pernikahan kedua ayahnya itu mengenakan kaus ketat yang dengan jelas mencetak bentuk gunung kembarnya yang bulat dan berisi. Kaus itu sedikit terangkat, memamerkan pusarnya di atas perut putih yang rata. Celana pendek yang ia kenakan mengekspos sepasang kaki jenjangnya yang berkilau diterpa cahaya lampu lorong. Sepertinya ia baru saja mengoleskan lotion. Wajah Siska tampak garang dengan alis yang terangkat tajam. Namun, entah kenapa, kegalakannya justru membuat Adrian menelan ludah. Apalagi, otaknya masih merekam jelas adegan video yang baru saja membuyarkan kewarasan. Adrian buru-buru membuang pikiran sialan itu. "Ngapain aja lo di dalam? Cepat turun, sarapan! Jangan bikin orang nunggu!" bentak Siska, ketus. Daripada memperpanjang urusan dan memancing kecurigaannya, Adrian hanya mengangguk patuh dan bergegas menuju ruang makan, membiarkan TWS masih terpasang rapi di kedua telinganya. Di ruang makan, pemandangan lain sudah menunggu. Maya Wijaya, ibu tiri Adrian menyambut dengan senyum ramahnya. Namun, pakaiannya tak kalah membuat matanya memanas. Maya mengenakan daster kedodoran yang ujung lehernya merosot, tertopang oleh bukit kembarnya yang penuh. Pinggulnya yang lebar membuat lekuk tubuhnya tetap kentara meski bajunya longgar. Adrian sering kali merasa ibu dan anaknya ini memiliki kelebihan hormon estrogen. Tubuh mereka begitu padat dan berisi, terutama di bagian atas dan bawah. Hanya saja, berbeda dengan Siska yang galak, Maya selalu murah senyum. Kadang saking ramahnya, Adrian sampai salah mengartikan ke mana arah senyumannya itu. “Sadarlah, Adrian. Mereka keluarga barumu,” batin Adrian, berusaha keras menyingkirkan pikiran kotor yang sedari tadi menyusupi. Adrian menarik kursi dan duduk. Di seberangnya, Siska sedang makan dengan cepat dan santai. Cara makannya sedikit berantakan. Ada sisa saus dan mayones yang menempel di sudut bibir dan dagunya. Pemandangan itu, anehnya justru membangkitkan sisi laki-laki Adrian. Melihat bibirnya yang belepotan itu membuatnya punya dorongan gila untuk membersihkannya secara langsung. "Adrian," suara lembut Maya memecah keheningan. "Kuliahmu lancar? Kegiatan di kampus lagi sibuk, ya?" "Lancar, Tante. Cuma banyak tugas saja," jawabku sopan, meski mataku harus berjuang keras untuk tidak terus-terusan melirik ke arah belahan bukit kembarnya yang mengintip dari balik daster. "Syukurlah kalau begitu. Oh ya, kamu ini kan sudah semester tua. Sudah punya pacar belum?" Belum sempat aku menjawab, Siska langsung mendengus sinis. Mulutnya masih penuh dengan makanan saat ia memotong obrolan. "Pacar? Yang benar aja, Ma," cibir Siska. Ia mengunyah cepat, lalu menatap Adrian remeh. "Mana mungkin pria kutu buku, berkacamata, dan kurang gaul kayak dia bisa dapat pacar sampai wisuda nanti. Wajah tampannya itu gak ada gunanya kalau kelakuannya cupu." Alih-alih tersinggung, dada Adrian malah berdesir. Benar, dia baru saja mengakui kalau Adrian tampan. Sikap judes Siska dengan mulut penuh makanan itu justru terlihat luar biasa menggoda di mata Adrian. "Siska, jangan bicara begitu sama adikmu," tegur Maya halus. "Gak apa-apa, Tante. Kak Siska bener kok," timpal Adrian cepat, memasang senyum andalannya. "Aku memang belum punya pacar, dan kebetulan belum berniat untuk cari juga. Masih mau fokus kuliah." Adrian harus mempertahankan image anak baik di rumah ini. Sarapannya hampir habis. Suasana meja makan perlahan tenang. Namun, tiba-tiba, sayup-sayup terdengar suara desahan dari TWS yang masih menempel di telinganya. "Ahhh ... iya Kak ... enak banget ... terus yang kenceng ...." Mata Adrian terbelalak. “Sialan. Audionya masih nyala lagi. Berarti videonya berputar. Kalau videonya nyala ... siapa yang mbuka laptopku?!” Tanpa pikir panjang, Adrian langsung menggeser kursi dengan kasar hingga berderit nyaring. “Eh … Adrian .…” Ibu tiri Adrian menatapnya aneh, sementara Siska sama sekali tak bergerak dan terus melahap sarapannya. "Aku udah selesai!" ujar Adrian panik, lalu lari terbirit-birit menaiki tangga menuju kamar. Pikirannya kacau. “Jangan sampai ada yang masuk ke kamarku. Kalau sampai ketahuan, mau ditaruh di mana mukaku?” Adrian menabrak pintunya sendiri, memutar kenopnya dengan terburu-buru, dan mendorongnya terbuka. Napasnya tertahan di tenggorokan karena terlambat. Di depan meja belajar Adrian, berdiri seorang perempuan dengan wajah cantik dan kulit putih mulus. Pipinya memerah padam. Bentuk tubuhnya yang berisi dan menggoda itu hanya dibalut oleh sport tank top putih ketat yang tampak kewalahan menampung ukuran gundukan kembarnya yang tak wajar. Gadis itu menatap tajam ke arah Adrian. Alisnya berkerut dalam, sementara laptop di sana menyala terang di belakangnya. Jantung Adrian serasa ingin copot. "Adrian," desisnya tajam. "Kamu nonton film begini?!""E-enggak usah, Ma! Gak usah diliat! Fotonya parah banget, Ma! Aku beneran malu,” tolak Adrian panik, tangannya bergerak refleks hendak menarik ponselnya jauh-jauh. Maya perlahan mengurai pelukannya. Wanita itu menatap Adrian dengan raut wajah yang luar biasa lembut. Kedua tangannya terulur, menangkup pipi Adrian yang terasa panas membara."Adrian, dengar Mama ya! Kenapa harus malu sama Mama? Mama ini ibu kamu. Mama sudah menganggap kamu seperti anak kandung Mama sendiri. Gak ada hal di dunia ini yang perlu kamu sembunyiin dari Mama,” ucap Maya halus, suaranya mengalun hangat menembus pendengaran Adrian."Tapi, Ma. Ini benar-benar memalukan. Di foto itu, bagian bawah aku keliatan jelas banget.” Adrian menelan ludah, suaranya tercekat di tenggorokan."Terus kenapa kalau keliatan? Di rumah ini cuma ada keluarga. Kamu gak perlu merasa canggung atau takut dihakimi. Coba tunjukin ke Mama, biar Mama yang menilai. Siapa tau anak-anak di kampus kamu itu cuma berlebihan,” balas Maya sambil te
Adrian berlari kencang menyusuri koridor kampus. Sepanjang jalan, pandangan mata dari para mahasiswa dan mahasiswi tertuju padanya. Suara bisik-bisik yang diiringi tawa tertahan menggema di sekelilingnya, menembus lorong-lorong fakultas."Eh, itu Adrian kan? Yang fotonya rame di grup?""Iya, asli! Gak nyangka gue, kelihatannya polos kacamataan tapi ternyata ....""Aduh, gue yang cewek aja malu liatnya, jelas banget keliatan!"Adrian menelan ludah, wajahnya merah padam seperti terbakar. Suasana koridor terasa begitu mencekam dan mempermalukan. Saat lari tadi ia terburu-buru dan belum sempat mencerna detail foto dari HP Viktor, Adrian akhirnya menghentikan langkahnya di dekat kamar mandi kampus yang sepi.Dengan tangan gemetar hebat, Adrian merogoh saku celananya dan meraba ponselnya sendiri. Ia membuka aplikasi percakapan grup kampus yang sedari tadi berdering tanpa henti. “Sialan, sialan!”Begitu foto itu terbuka sempurna di layarnya, mata Adrian terbelalak lebar. Jantungnya serasa be
Maya terkekeh pelan, sebuah suara yang terdengar sangat manis tetapi menakutkan bagi Adrian. Tangan Maya yang ada di pahanya kini menekan sedikit lebih keras, memutar-mutar kulit paha Adrian dengan ujung jarinya yang sensitif. "Tikus tidak punya kaki dan tidak bernapas seberat itu, Adrian. Suara itu terdengar sangat... ketakutan. Atau mungkin, sangat terkejut dengan apa yang didengarnya?" bisik Maya, mendekatkan wajahnya ke telinga Adrian hingga Adrian bisa merasakan embusan napas hangat sang ibu tiri di lehernya. Adrian mencoba memundurkan posisi duduknya, tetapi tangan Maya di paha bagian dalamnya justru menahan, seolah tidak membiarkannya pergi. "Aku... aku gak tau apa yang Mama bicarakan. Aku tidur nyenyak banget semalam." Maya menatap Adrian tepat di mata, senyumnya kini terlihat lebih misterius dan berbahaya. "Beneran? Padahal Mama merasa ada sepasang mata yang diam-diam menyaksikan kebahagiaan Mama dan Papa dari balik celah pintu." Tubuh Adrian membeku. Keringat dingin m
Adrian tersentak hebat, seolah baru saja disengat listrik ribuan volt. Mukanya seketika merah padam hingga ke ujung telinga. "E-eh! Ma-Maaf! Maaf banget, Ma!" gagap Adrian setengah histeris.Pandangannya panik liar ke segala arah, tetapi matanya seolah memiliki gravitasinya sendiri untuk kembali melirik bentuk tubuh ibu tirinya sebelum akhirnya ia menarik pintu dengan tangan bergetar hebat.BRAK!Pintu kamar mandi itu tertutup rapat. Adrian menyandarkan punggungnya di pintu luar, menepuk dahinya keras-keras dengan telapak tangan. Jantungnya berdetak begitu gila, seolah hendak melompat keluar dari rongga dadanya."Gila! Bego banget lo, Adrian! Kenapa gak ketuk pintu dulu?!" gumam Adrian penuh penyesalan, memegangi dadanya yang kembang-kempis.Di dalam kamar mandi, suara air shower mendadak dimatikan. Hanya ada keheningan mencekam selama beberapa detik, sebelum terdengar gesekan handuk dan langkah kaki perlahan mendekati pintu.KLIK!Gagang pintu bergerak turun. Adrian refleks mundur du






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.