LOGIN"Ssstt! Pelan-pelan, Ma! Nanti Papa bangun!" Tak sengaja memergoki ibu tirinya di saat yang tidak tepat, Adrian kini harus berhadapan hukuman 'gila' dari istri baru papanya itu!
View More"Ahhh ... pelan-pelan, Kak! Jangan terlalu kasar, ahh!!" Suara manja itu mengalun, bergetar di sela-sela desahan yang panjang.
Di atas ranjang yang berderit, seorang wanita polos tanpa busana tengah tenggelam dalam dekapan seorang pria dengan tubuh kekar sempurna. Tangan besar milik sang pria menyusuri lekuk tubuh gadis di bawahnya yang mulai berkeringat, membuat kulit putih mulusnya mengilap di bawah bias cahaya lampu tidur yang temaram. Gadis itu menggeliat, memejamkan mata sambil menggigit bibir bawahnya yang merah, seakan menahan gelombang kenikmatan yang tak kuat ditampung tubuh berisinya. "Kakak suka kalo aku nakal begini, hm?" bisik suara nakal itu rendah, tepat di depan telinganya. Gadis itu tidak menjawab dengan kata-kata, hanya erangan tertahan yang kembali lolos dari belahan bibirnya. Jemari sang pria kini merambat perlahan menuruni perut rata gadis itu, menelusuri batas pakaian yang sudah setengah terlepas. Sentuhan yang berani itu membuat napas si gadis semakin liar. Pinggulnya terangkat pelan, mencari-cari kehangatan yang lebih dalam. "Terus, yang kenceng ... ahhh ... di situ, iya begitu ...." Gerakan membuai itu semakin cepat. Hasrat mereka perlahan memuncak, menggulung kewarasan keduanya. Namun .… BRAK! BRAK! BRAK! Gedoran brutal itu seketika membuat Adrian terlempar ke kenyataan kembali. Ia tersentak hebat hingga kursinya nyaris terjengkang, menyisakan suara desahan panas yang kini hanya terdengar dari TWS di telinga kanan. Jantungnya berdetak gila-gilaan, seperti baru saja ketahuan melakukan hal tidak senonoh. Tapi, Adrian kan memang sedang menonton .… Dengan napas tertahan dan tangan gemetar, Adrian buru-buru menekan tombol spasi dan membanting layar laptopnya hingga tertutup rapat. Ia mengusap wajahnya yang memanas, menarik napas panjang, dan berusaha merapikan duduknya. Berlagak senormal mungkin. Saat Adrian membuka pintu, Siska Wijaya berdiri di sana. Seketika, tenggorokannya terasa kering kerontang. Kakak tiri dari pernikahan kedua ayahnya itu mengenakan kaus ketat yang dengan jelas mencetak bentuk gunung kembarnya yang bulat dan berisi. Kaus itu sedikit terangkat, memamerkan pusarnya di atas perut putih yang rata. Celana pendek yang ia kenakan mengekspos sepasang kaki jenjangnya yang berkilau diterpa cahaya lampu lorong. Sepertinya ia baru saja mengoleskan lotion. Wajah Siska tampak garang dengan alis yang terangkat tajam. Namun, entah kenapa, kegalakannya justru membuat Adrian menelan ludah. Apalagi, otaknya masih merekam jelas adegan video yang baru saja membuyarkan kewarasan. Adrian buru-buru membuang pikiran sialan itu. "Ngapain aja lo di dalam? Cepet turun, sarapan! Jangan bikin orang nunggu!" bentak Siska, ketus. Daripada memperpanjang urusan dan memancing kecurigaannya, Adrian hanya mengangguk patuh dan bergegas menuju ruang makan, membiarkan TWS masih terpasang rapi di kedua telinganya. Di ruang makan, pemandangan lain sudah menunggu. Maya Wijaya, ibu tiri Adrian menyambut dengan senyum ramahnya. Namun, pakaiannya tak kalah membuat matanya memanas. Maya mengenakan daster kedodoran yang ujung lehernya merosot, tertopang oleh bukit kembarnya yang penuh. Pinggulnya yang lebar membuat lekuk tubuhnya tetap kentara meski bajunya longgar. Adrian sering kali merasa ibu dan anaknya ini memiliki kelebihan hormon estrogen. Tubuh mereka begitu padat dan berisi, terutama di bagian atas dan bawah. Hanya saja, berbeda dengan Siska yang galak, Maya selalu murah senyum. Kadang saking ramahnya, Adrian sampai salah mengartikan ke mana arah senyumannya itu. “Sadar, Adrian. Mereka keluarga baru lo,” batin Adrian, berusaha keras menyingkirkan pikiran kotor yang sedari tadi menyusupi. Adrian menarik kursi dan duduk. Di seberangnya, Siska sedang makan dengan cepat dan santai. Cara makannya sedikit berantakan. Ada sisa saus dan mayones yang menempel di sudut bibir dan dagunya. Pemandangan itu, anehnya justru membangkitkan sisi laki-laki Adrian. Melihat bibirnya yang belepotan itu membuatnya punya dorongan gila untuk membersihkannya secara langsung. "Adrian! Kuliah kamu lancar? Kegiatan di kampus lagi sibuk, ya?" Suara lembut Maya memecah keheningan. "Lancar, Tante. Cuma banyak tugas aja," jawab Adrian sopan, meski matanya harus berjuang keras untuk tidak terus-terusan melirik ke arah belahan bukit kembar ibu tirinya yang mengintip dari balik daster. "Syukurlah kalau begitu. Oh ya, kamu ini kan sudah semester tua. Sudah punya pacar belum?" Belum sempat Adrian menjawab, Siska langsung mendengus sinis. Mulutnya masih penuh dengan makanan saat ia memotong obrolan. "Pacar? Yang benar aja, Ma," cibir Siska. Ia mengunyah cepat, lalu menatap Adrian remeh. "Mana mungkin cowok kutu buku, berkacamata, dan kurang gaul kayak dia bisa dapat pacar sampai wisuda nanti. Muka gantengnya itu gak ada gunanya kalo kelakuannya cupu." Alih-alih tersinggung, dada Adrian malah berdesir. Benar, Siska baru saja mengakui kalau Adrian tampan. Sikap judes Siska dengan mulut penuh makanan itu justru terlihat luar biasa menggoda di mata Adrian. "Siska, jangan begitu sama adikmu," tegur Maya halus. "Gak apa-apa, Tante. Kak Siska bener kok," timpal Adrian cepat, memasang senyum andalannya. "Aku memang belum punya pacar, dan kebetulan belum berniat untuk cari juga. Masih mau fokus kuliah," lanjut Adrian, menjelaskan. Adrian harus mempertahankan image anak baik di rumah ini. Sarapannya hampir habis. Suasana meja makan perlahan tenang. Namun, tiba-tiba, sayup-sayup terdengar suara desahan dari TWS yang masih menempel di telinganya. "Ahhh ... iya terus ... enak banget, terus yang kenceng, aahhh!" Mata Adrian terbelalak. “Sialan. Audionya masih nyala lagi. Berarti videonya berputar. Kalo videonya nyala, siapa yang buka laptop gue?!” gumam Adrian, dalam hati. Tanpa pikir panjang, Adrian langsung menggeser kursi dengan kasar hingga berderit nyaring. “Eh, Adrian. Mau ke mana?” Ibu tiri Adrian menatapnya aneh, sementara Siska sama sekali tak bergerak dan terus melahap sarapannya. "Aku udah selesai!" jawab Adrian panik, lalu lari terbirit-birit menaiki tangga menuju kamar. “Jangan sampe ada yang masuk ke kamar gue. Kalo sampe ketahuan, mau ditaruh di mana muka gue?” gumam Adrian, panik. Adrian menabrak pintunya sendiri, memutar kenopnya dengan terburu-buru, dan mendorongnya terbuka. Napasnya tertahan di tenggorokan karena terlambat. Di depan meja belajar Adrian, berdiri seorang gadis dengan wajah cantik dan kulit putih mulus. Pipinya merah padam. Bentuk tubuh gadis yang berisi dan menggoda itu hanya dibalut oleh sport tank top putih ketat yang tampak kewalahan menampung ukuran gundukan kembarnya yang tak wajar. Gadis itu menatap tajam ke arah Adrian. Alisnya berkerut dalam, sementara laptop di sana menyala terang di belakangnya. Jantung Adrian serasa ingin copot. "Adrian! Lo nonton film begini?!" tanya gadis itu, melotot.Adrian melotot tajam ke arah Clara. Matanya hampir keluar karena kaget sekaligus panik dengan celetukan kakak tirinya yang asal ceplos di depan Mama mereka.“Kak, lo apa-apaan, sih?!” tegur Adrian dengan nada tinggi, menatap Clara penuh kejengkelan sambil mengusap mulutnya yang masih basah.“Ya abisnya lo ngeselin! Pintu dikunci segala. Terus ditanya lagi ngapain, malah jawab lagi nonton bokep terus sambil mendesah kenceng! Kan jijik banget!” balas Clara kesal, sama sekali tidak mau kalah.Ia lalu menoleh ke arah Siska yang berdiri membeku di sebelahnya. “Iya kan, Kak Siska? Jijik banget, ya?”Siska terkesiap hebat, matanya membelalak lebar dengan raut wajah panik setengah mati. Suaranya sampai tercekat di tenggorokan. “Heuh! I-iya, Clar! Jijik gue juga,” sahut Siska patah-patah sambil memalingkan wajah, menyembunyikan rona merah yang mendadak membakar pipinya.Maya yang sedang mengaduk masakan di atas kompor menggeleng-gelengkan kepala. Namun, bukannya marah besar atau memarahi Adria
Di dalam kamar yang terkunci rapat itu, keheningan malam hanya dihiasi oleh gesekan halus kulit dan embusan napas hangat yang saling beradu. Setiap pergerakan Siska di atas tubuh Adrian terasa begitu terukur, menyeimbangkan antara puncaknya hasrat dan rasa takut yang mendalam jika Clara di kamar lain sampai terbangun kembali.“Yan... uuhhh! Ini... ini berasa banget,” bisik Siska terbata-bata, keringat dingin mulai merembes halus di pelipis dan leher mulusnya. Tangannya yang tadinya mencengkeram bahu Adrian kini berpindah mencengkeram erat lututnya sendiri.“Tahan suaranya, Kak! Nanti si Clara denger beneran!” Adrian berbisik, sambil mengimbangi pacuan gerakan dari bawah untuk membantu Siska mencapai puncak kepuasannya.“Gue... gue usahain... tapi lo jangan makin kenceng nyodok dari bawah, bego!” umpat Siska penuh pasrah. Pipinya membakar merah padam di balik keremangan lampu tidur.Sensasi di antara mereka kian memuncak ketika irama pergerakan makin cepat dan kompak. Adrian mencengker
Gerakan Siska seketika terhenti total. Ia membeku kaku di tempatnya, matanya membelalak lebar menatap Adrian dengan kepanikan luar biasa. Adrian pun menyentak napasnya, menahan tubuh Siska agar tetap tenang.“Yaelah, si Clara beneran bangun! Gimana nih, Yan?! Kalo dia tau gue di dalem kamar lo, mampus kita!” bisik Siska sangat pelan, sambil menjulurkan lidahnya.Slurpp!“Ahhhh.... Kak! Diem dulu, Kak! Jangan dijilat!” bisik Adrian meringis, berusaha mengatur napasnya yang masih memburu agar terdengar sewajar mungkin.Dari balik pintu, gedoran Clara makin menjadi-jadi. “Adrian! Buka gak pintunya?! Gue panggil Kak Siska nih kalo lo gak nyaut!”Adrian dan Siska saling melempar pandangan. Siska hampir saja menjerit panik mendengar Clara yang berniat memanggil namanya sendiri di luar sana.“Yan, buruan jawab!” desik Siska panik setengah mati sambil hendak mengambil baju dan merapikan rambutnya yang acak-acakan.Adrian menarik napas dalam-dalam, mencoba mengubah intonasi suaranya seolah-ola
Siska tidak menjawab sepatah kata pun. Namun, binar matanya yang redup dan embusan napasnya yang tertahan secara tidak langsung menunjukkan kepasrahan total. Ia membiarkan Adrian mengikis jarak di antara mereka.“Eumph! Eumph!”Lidah Adrian dan Siska saling bertautan, sentuhan lembut jemari di rahang memandu pergerakan mereka. Bibir mereka bertemu dalam belaian yang halus, beriringan dengan irama kehangatan yang perlahan mengalir.Ciuman itu berlangsung tenang dan penuh perasaan. Seolah waktu berhenti sejenak untuk membiarkan mereka larut dalam momen kebersamaan yang sunyi dan intim.Keheningan yang melingkupi ruangan akhirnya membuat mereka berdua berada di atas tempat tidur empuk milik Adrian, tanpa sehelai benang pun. Udara di kamar terasa kian hangat, menyerap setiap detik ketegangan yang tercipta tanpa perlu banyak kata-kata vulgar.“Eumphh! Adrian, udahh... ahhh! Jangan jilatin ketek gue terus, geli tau! Uungghh!” keluh Siska dengan deru napas terengah-engah, mencoba menggeser b






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews