LOGINMotorku mogok di desa perkebunan teh yang hampir tak memiliki pria, hanya janda-janda matang dan wanita kesepian. Sebagai dokter yang tahu cara “menyembuhkan” kebutuhan mereka, aku mulai sadar malam-malam di desa ini mungkin akan jauh lebih panas dari yang pernah kubayangkan.
View MoreSebuah motor klasik hitam yang nilainya di pasar barang antik mencapai ratusan juta, membelah jalanan tanah berbatu. Debu tebal mengepul liar di belakangnya, menutupi pandangan.
Namun tiba-tiba saja, motor yang dikendarai oleh pria tampan bernama Leonardo Xaverius itu mogok. "Sial! Kenapa harus mogok di tempat antah berantah begini?!" umpatnya sambil menepi. Leo baru saja menyelesaikan pendidikan dokter spesialis bedahnya yang sangat menguras kewarasan. Niat hatinya melakukan solo touring keliling daerah untuk melepas penat dan lari dari rutinitas rumah sakit kota yang serba steril dan membosankan. Namun, GPS-nya mati total sejak dua jam lalu. Kini, ia malah terdampar di tengah hamparan kebun teh yang sepi. "Nggak ada sinyal, nggak ada bengkel, sial!" keluhnya. Satu-satunya benda berharga yang ia bawa hanyalah motor yang kini mogok dan uang tunai seratus juta di dalam tas ranselnya, kebiasaan pria kaya yang tak mau repot-repot mencari ATM jika sedang berada di pelosok. Leo menuntun motornya perlahan, berharap setidaknya bisa menemukan rumah warga. Namun, pendengarannya yang tajam tiba-tiba menangkap sebuah suara dari arah gang sempit, tak jauh dari area yang tampak seperti pasar desa yang terbengkalai. “Tolong! Lepaskan aku!” Terdengar jeritan seorang wanita. Suaranya melengking penuh ketakutan. Leo segera menyandarkan motornya. Dari balik tembok, dia melihat tiga pria berwajah beringas sedang mengerubungi seorang gadis muda. Aroma tajam tuak murahan tercium menyengat hingga ke tempat Leo berada. Mata tajam Leo menyipit. Fokusnya sama sekali bukan pada ketiga preman mabuk itu, melainkan pada sang gadis. Gadis itu tampak baru berusia dua puluhan awal. Kulitnya putih bersih dan mulus, sangat kontras dengan lingkungan sekitarnya yang berdebu. Dia mengenakan kain jarik dan atasan kemben batik yang membalut tubuhnya dengan sangat ketat. Lekuk tubuhnya sempurna bagaikan gitar spanyol, mengundang imajinasi liar siapa pun yang melihatnya. “Ayo main sebentar, Neng. Jangan jual mahal,” goda salah satu preman dengan senyum menjijikkan sambil mencolek bahu gadis itu. “Jangan sentuh aku, Bangsat! Pergi kalian!” maki gadis itu sambil memberontak keras. Leo mendengus dingin. Sebagai seorang dokter, sumpah jabatannya adalah menyelamatkan nyawa. Namun sebagai seorang pria normal, insting primalnya langsung berteriak untuk melindungi wanita secantik dan semenggoda itu dari tangan-tangan kotor sampah masyarakat. Langkah kakinya yang tegap dan terbalut sepatu bot kulit mahal mendarat kokoh mendekati mereka. “Woi, singkirkan tangan kotor kalian darinya!” seru Leo. Ketiga preman itu serempak menoleh. Tatapan aneh sekaligus meremehkan terlihat jelas saat memindai penampilan rapi Leo dari ujung kepala hingga ujung kaki. Jelas sekali dia orang kota yang tersesat. “Siapa kau, hah?! Bocah kota, mending kau balik sebelum muka mulus kau ini, aku hancurin!” bentak preman bertubuh paling besar sambil meludah ke tanah. Leo tidak membalas. Dia benci membuang ludah untuk berbicara dengan orang-orang dari kelas bawah sepertinya. Hanya dalam hitungan detik, tubuh Leo melesat maju. Buuuk! Satu pukulan mentah dan bertenaga bersarang tepat di rahang preman raksasa itu. Gigi-giginya rontok seketika sebelum tubuhnya ambruk ke tanah tanpa ampun. Dua preman lainnya terbelalak kaget. Namun, sebelum otak mabuk mereka sempat mencerna apa yang terjadi, tendangan memutar Leo menyapu telak tulang rusuk mereka berdua. Kraak! Terdengar bunyi tulang patah disusul jeritan kesakitan yang memilukan. Hanya butuh waktu kurang dari sepuluh detik untuk membuat ketiga preman beringas itu bergulingan di tanah dan kalang kabut dalam ketakutan. “Ampun… ampun, Bos!” rintih salah satu dari mereka sambil memegangi perutnya yang mual. “Pergi sebelum aku mematahkan leher kalian,” desis Leo tajam. Sebagai seorang ahli bedah, dia tahu betul letak titik-titik mematikan di anatomi tubuh manusia. Ketiga preman itu tertatih-tatih berdiri. Dengan sisa tenaga, mereka bercerai-berai melarikan diri terbirit-birit. Sambil menahan sakit, preman bertubuh besar itu menyempatkan diri bergumam ke arah Leo. “Awas kau, Bocah! Kami akan balas dendam!” ancamnya dengan suara bergetar sebelum menghilang di tikungan gang. Leo membersihkan debu di jaket kulitnya dengan santai. Lalu, dia membalikkan badan, menatap gadis muda yang masih gemetar ketakutan di sudut tembok. “Kamu nggak apa-apa? Ada yang terluka?” tanya Leo. Suaranya kini melunak, menggemakan nada seorang dokter yang sedang menenangkan pasiennya. “Sa-saya nggak apa-apa. Terima kasih banyak, Tuan,” ucap gadis itu terbata-bata, napasnya masih memburu. Saat gadis itu menundukkan kepalanya sebagai tanda terima kasih, ikatan kemben yang sedari tadi ditarik-tarik secara paksa oleh para preman itu sedikit melonggar. Kain batik yang menutupi bagian atasnya merosot turun hingga nyaris terlepas. Mata Leo refleks tertuju pada pemandangan di depannya. Bagian tubuh yang putih, penuh, dan menggugah itu kini terekspos jelas. Pemandangan itu begitu ranum dan menggoda, seolah sengaja menantangnya untuk menyentuh. Aroma keringat dari tubuh gadis itu justru menguar masuk ke indra penciuman Leo, membangunkan insting lelakinya yang selama ini terkubur oleh padatnya jadwal rumah sakit. Napas Leo seketika menjadi lebih berat. Darahnya berdesir panas mengalir ke seluruh tubuh. Matanya terpukau tanpa bisa dialihkan. Ada dorongan gila yang tiba-tiba meledak di benaknya. Sensasi ini… sangat berbeda dengan kehidupannya di kota. ‘Sialan. Sepertinya tersesat di tempat ini bukan hal yang buruk,’ batin Leo. Sudut bibir Leo melengkung ke atas, membentuk senyuman nakal. Matanya menatap lekat-lekat pada pesona gadis desa di depannya itu, seakan siap menelannya bulat-bulat.Uap putih tebal mengepul dari permukaan kolam belerang panas menutupi area Resor Pemandian VIP desa teh.Lampu taman bernuansa temaram menyinari deretan pagar bambu yang memisahkan area privat tersebut dari lingkungan luar. Tidak ada satu pun pasien, warga desa, atau staf operasional yang diizinkan melintasi batas gerbang kayu pada malam itu.Leo menyandarkan bahu dan kepalanya pada tepian batu kali yang membentuk formasi kolam pemandian tersebut.Pria itu merendam tubuhnya sebatas dada menikmati suhu air empat puluh derajat Celcius yang merelaksasi ototnya. Tidak ada lagi kemeja linen atau jas medis yang menempel pada tubuh kokohnya malam ini.Enam wanita melangkah menuruni anak tangga batu menuju area kolam utama tanpa keraguan sedikit pun.Maya berjalan di posisi paling depan membawa sebuah nampan kayu berisi cangkir teh herbal panas dan handuk bersih. Janda kembang itu telah melucuti blus kerjanya menyisakan balutan kain sutra tipis yang melekat pada kulitnya.Di sebelah kir
Tumpukan map kulit tebal mendarat di atas permukaan meja bundar berbahan kayu jati.Suara benturan tumpukan dokumen itu menggema di dalam ruang rapat utama Rumah Sakit Terpadu. Cahaya matahari pagi menembus celah kerai jendela menyinari debu yang beterbangan di udara.Leo menarik kursi kulit di ujung meja dan duduk menyandarkan punggungnya secara perlahan.Kemeja linen pria itu bergerak menyesuaikan postur tubuhnya tanpa menyisakan satu pun lipatan kusut. Pria itu menyilangkan kaki kanannya dan menyesap kopi hitam dari cangkir porselen di tangan kirinya."Duduk di kursimu masing-masing," perintah Leo menatap deretan kursi baja yang mengelilingi meja.Sembilan wanita berseragam kerja menempati posisi mereka tanpa menimbulkan suara gesekan kursi yang berisik. Nida, Ratih, Ayu, Sekar, Karina, Sisca, Rika, Wina, dan Laras duduk tegak merapatkan lutut mereka.Mereka meletakkan buku catatan dan pena logam di atas meja secara serentak."Seluruh sertifikat lahan dan dokumen legal perpi
Ujung sepatu pantofel Leo menghantam keras daun pintu kayu ek gudang anggur dari arah dalam. Engsel baja tebal itu patah seketika menciptakan bunyi dentuman keras yang menggema memekakkan telinga di ruang bawah tanah.Pintu gudang terlempar terbuka menabrak rak penyimpanan hingga puluhan botol kaca mahal jatuh berserakan menghantam lantai.Leo melangkah keluar menembus udara ruangan yang dipenuhi bau alkohol menyengat hidung. Kemeja linennya tidak memiliki satu pun lipatan kusut. Taipan Harun terkesiap memundurkan langkah kakinya merespons suara benturan kayu tersebut."Mati kau, Dokter kampungan!" bentak Harun mengangkat laras pistol revolvernya lurus ke arah dada Leo.Pria tua itu menarik pelatuk senjatanya tanpa keraguan sedikit pun di kedua matanya. Suara letusan mesiu memantul di dinding beton ruang bawah tanah tersebut menghasilkan gema yang sangat tajam.Leo sama sekali tidak memundurkan pijakan kakinya untuk menghindari terjangan proyektil peluru mematikan itu. Pria itu me
Sepatu pantofel Leo menginjak rumput sintetis di halaman belakang kediaman mewah Harun pada larut malam.Lampu taman memancarkan cahaya kekuningan menyinari dinding marmer mansion di lereng bukit tersebut. Pria itu menyusup melewati sensor inframerah tanpa memicu bunyi peringatan pada sistem keamanan.Leo membuka pintu kaca geser dan melangkah masuk ke ruang keluarga utama bangunan itu.Di dekat perapian elektrik, Kirana duduk bersimpuh di atas karpet bulu dengan rambut berantakan. Istri muda konglomerat itu menangis sesenggukan memegangi bahu kirinya yang memar akibat siksaan fisik.Dua pengawal pribadi berseragam loreng berdiri mengapit wanita itu membawa tongkat rotan tebal."Tuan Harun memerintahkan kami untuk mendisiplinkanmu malam ini, Nyonya Kirana," ucap pengawal pertama mengetukkan rotan ke telapak tangannya."Aku tidak melakukan kesalahan apa pun pada suamiku!" tolak Kirana dengan suara bergetar menahan tangis."Kau menatap dokter kampung itu terlalu lama siang tadi,"
Sementara itu, rahang Leonardo mengeras. Urat-urat di lehernya menonjol. Gairah yang tadi terpaksa padam kini tersulut kembali, berubah wujud menjadi amarah yang sangat pekat dan mematikan. Matanya menatap tajam ke arah ruang tamu.Siapa yang berani membuat keributan di tengah malam buta seperti in
Bibir sang dokter langsung meraup bibir ranum Maya yang sudah bergetar menantinya. Erangan tertahan lolos dari tenggorokan wanita matang itu saat sentuhan bibir yang awalnya lembut berubah menjadi lumatan liar dan rakus. Rasa haus akan sentuhan pria yang sudah bertahun-tahun terpendam, akhirnya m
Leonardo masih terpaku memandangi lekuk tubuh Maya, berusaha keras menyembunyikan kilat gairah di matanya di balik ekspresi wajah yang tenang.Otaknya yang sedang merangkai imajinasi liar tiba-tiba terhenti saat suara Kania memecah lamunan."Ibu!" Kania setengah berlari menghampiri ibunya yang masi
Senyuman nakal di bibir Leonardo Xaverius belum sempat memudar saat Kania akhirnya tersadar dari rasa syoknya. Gadis desa itu tiba-tiba menunduk, dan matanya membelalak panik melihat ikatan kemben batiknya yang merosot tajam, mengekspos belahan dadanya yang putih dan penuh di bawah cahaya remang bu






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews