
150 Hari Menjadi Pacar si Playboy
Demi biaya operasi darurat adiknya, Aletta terpaksa menjual kebebasannya selama 150 hari kepada Devan Raditya—seorang miliarder playboy paling arogan dan red flag di Jakarta. Aturan kontrak mereka sangat sederhana: dilarang melibatkan perasaan, dilarang ikut campur urusan pribadi, dan Aletta harus siap menjadi tameng Devan untuk menghindari perjodohan keluarga.
Namun, sandiwara yang semula mereka kira mudah, berubah menjadi neraka yang sesungguhnya. Mantan tunangan Devan yang manipulatif, Selena Radenka, mulai melancarkan teror kejam untuk menyingkirkan Aletta. Di tengah badai tersebut, Devan yang semula dingin justru berubah menjadi sangat protektif dan posesif, membuat batasan kontrak di antara mereka perlahan-lahan mulai kabur.
Keadaan semakin rumit ketika sebuah rahasia besar dari masa lalu terbongkar. Kasus kebangkrutan tragis yang menewaskan ayah Aletta lima tahun lalu ternyata didalangi oleh keluarga Selena—dan Devan telah mengetahuinya sejak awal. Di saat Aletta mulai goyah antara dendam dan rasa cintanya pada Devan, sebuah teror misterius dari seorang penguntit posesif tiba-tiba muncul di ponselnya, mengirimkan peringatan berdarah: "Jauhi Devan Raditya. Kamu hanya milikku."
Siapakah pria misterius tersebut? Dan mampukah Aletta bertahan di samping sang miliarder saat kontrak mereka berubah menjadi pertaruhan nyawa?
Read
Chapter: Bab 10: Asisten Pribadi BaruRuangan VIP nomor 302 yang semula terasa hangat dan menenangkan itu mendadak berubah menjadi sedingin es kutub. Kalimat yang baru saja diucapkan oleh suster tersebut terasa seperti hantaman palu godam raksasa yang seketika menghancurkan seluruh sisa rasa lega di dalam dadaku. Aku berdiri mematung di samping ranjang, menatap suster itu dengan tatapan mata yang dipenuhi rasa tidak percaya, sementara sekujur tubuhku mulai gemetar hebat menahan gelombang kepanikan. Selena Radenka. Nama cewek ular itu langsung berteriak kencang dengan dengungan yang memekakkan di dalam isi kepalaku. Dia benar-benar gila. Dia bahkan tidak sudi menunggu sampai batas waktu tiga hari yang dia berikan sendiri semalam berakhir. Cewek itu langsung menggunakan kekuasaan dan tumpukan saham keluarganya malam ini juga untuk menendang adikku yang baru saja selesai melewati operasi besar. Jiwaku menjerit terluka, meratapi betapa murahnya harga nyawa orang miskin di mata penguasa kota. "P-pindah ke bangsal umum, Suste
Last Updated: 2026-07-10
Chapter: Bab 9: Topeng Arogansi DevanAcara peluncuran proyek bisnis berskala raksasa itu akhirnya selesai setelah dua jam yang terasa seperti dua abad bagiku. Begitu kami kembali ke dalam kabin mobil mewah Rolls-Royce milik Devan, seluruh pertahanan tubuhku runtuh seketika. Aku langsung menyandarkan kepala ke kaca jendela yang dingin, memejamkan mata yang lelah akibat kilatan lampu kamera wartawan yang brutal tadi. Di dalam kegelapan benakku, bayangan Selena Radenka yang menunjuk jam tangannya dari atas balkon terus berputar-putar tanpa henti bagai lingkaran setan. Waktu tiga hari yang tersisa dari ancaman mautnya. 'Gue bener-bener nggak tahu harus gimana lagi menghadapi situasi gila ini. Di satu sisi, Devan baru aja pasang badan di depan kejaran media demi ngelindungin harga diri gue. Di sisi lain, Selena punya kuasa mutlak yang mengerikan buat ngehancurin masa depan dan menyabotase kesembuhan Arsen di rumah sakit itu. Jiwa gue rasanya robek, tercabik oleh ketakutan yang kian mengganas di dalam dada.' Batin kecil
Last Updated: 2026-07-09
Chapter: Bab 8: Sisi Lain Sang Playboy Pintu mobil mewah itu dibuka dari luar oleh petugas keamanan berbadan tegap. Begitu telapak kaki yang terbalut sepatu mahal ini menyentuh lantai lobi gedung, kilatan lampu kilat dari puluhan kamera langsung menyambar brutal tanpa henti dari segala arah. Cahayanya yang putih menyengat sangat menyilaukan, membuat mataku terasa perih dan pandanganku kabur sesaat. "Mbak Aletta! Benarkah Anda memanfaatkan posisi sebagai staf hotel untuk menjebak Devan Raditya?!" teriak seorang wartawan pria bertubuh gempal dari sisi kanan, menyodorkan mikrofon dengan agresif. "Bagaimana tanggapan Anda tentang perbedaan status sosial kalian yang seperti langit dan bumi?!" tanya wartawan lain dengan nada merendahkan, sambil merangsek maju menyodorkan alat perekam suara ke arah wajahku yang mulai memucat. "Apakah hubungan ini cuma rekayasa kontrak untuk menaikkan pamor bisnis semata?!" cecar suara melengking lain dari arah belakang yang semakin mendesak maju. Rentetan pertanyaan kejam itu terus m
Last Updated: 2026-07-08
Chapter: Bab 7: Detak Jarum Jam Iblis Jantungku berdegup kencang, berpacu liar menggedor rongga dada hingga rasanya mau copot. Haruskah aku jujur sekarang? Haruskah aku memberi tahu dia soal Selena yang mendatangiku di koridor, melempar map, dan membawa semua berkas hitam masa lalu keluargaku? Tapi kalau aku jujur, bagaimana kalau Devan justru menganggapku sebagai beban masa lalu yang merepotkan reputasinya? Bagaimana kalau dia memilih mematikan kontrak ini secara sepihak dan membuangku kembali ke jalanan? Kalau kontrak ini batal, dari mana aku bisa membiayai perawatan intensif Arsen selanjutnya? Aku mengepalkan tangan erat-erat di bawah meja, merasakan kuku-kukuku menusuk telapak tangan yang terluka. Aku harus menguatkan hati untuk memendam rahasia berdarah ini sendirian. Aku tidak boleh terlihat rapuh. "Nggak ada apa-apa, Tuan Devan. Gue cuma... cuma masih syok aja karena kejadian mengejutkan semalam," jawabku pelan. Aku memaksa mataku menatap lurus ke dalam manik mata elangnya yang kelam, mencoba me
Last Updated: 2026-07-07
Chapter: Bab 6: Sarapan Pagi dan Mata-Mata KakekMalam itu, aku tidak bisa memejamkan mata. Kamar rawat rumah sakit yang sunyi terasa begitu mencekik. Ucapan kejam Selena terus terngiang di kepalaku bagaikan kaset rusak. Bayangan lembaran dokumen hitam kebangkrutan keluarga kami seolah menari-nari di atas dinding kamar. Aku menatap Arsen yang masih tertidur pulas. Pemandangan kecil itu sedikit menenangkan badai keputusasaan di dalam dadaku. Demi anak ini, aku harus bertahan. Demi dia, aku akan merangkak di dalam neraka sekalipun. Tepat jam dua pagi, ponsel kusamku bergetar hebat menampilkan deretan angka asing. Dengan jemari gemetar, aku menjawab panggilan itu. "Halo?" bisikku pelan karena takut membangunkan Arsen. "Besok pagi jam tujuh, lo harus udah ada di apartemen gue. Jangan terlambat semenit pun." Suaranya dingin dan memerintah itu langsung merayap di indra pendengaranku. Dia Devan Raditya. "Tuan Devan? Tapi adik gue baru selesai operasi, gue nggak bisa—" "Gue nggak menerima penolakan, Aletta," potong Devan
Last Updated: 2026-07-06
Chapter: Bab 5: Teror Pertama Selena Radenka Keesokan harinya, jarum jam di dinding lorong rumah sakit bergerak lambat. Operasi darurat Arsen berlangsung selama empat jam yang menegangkan, terasa seperti prosesi hukuman mati bagiku. Aku duduk sendirian di bangsal tunggu yang dingin, meremas jemariku hingga memutih. Pikiranku terus melayang pada kemungkinan terburuk. Hingga akhirnya, lampu merah di atas pintu ruang operasi padam. Pintu ganda terbuka, memunculkan sosok dokter spesialis senior yang dijanjikan oleh Devan. Begitu beliau melepas masker medisnya dan menyatakan dengan senyuman tipis bahwa operasi Arsen sukses besar, seluruh pertahananku runtuh. Aku langsung terduduk lemas, menutup wajahku, dan menangis sejadi-jadinya. Itu adalah tangis haru dan lega yang memuntahkan seluruh beban raksasa yang menyumbat di dadaku selama berminggu-minggu. Adik kecilku selamat melewati masa kritis yang paling mematikan. 'Gue bener-bener bersyukur kepada Tuhan. Nggak peduli seberapa berat 150 hari ke depan bersama Devan, gue b
Last Updated: 2026-07-05