Chapter: Kerinduan Masa LaluKarina berdiri mematung di pelataran parkir minimarket yang terik. Kantong plastik belanjaan di tangannya terasa kian berat, seberat debaran halus yang kembali mengetuk dadanya. Ia menyapu pandangan ke sekeliling, merasa cemas jika ada ibu-ibu komplek perumahan dinas atau prajurit Arkan yang mengenali dirinya sedang berdiri berdua dengan pria asing. "Dion... kamu tidak seharusnya ke sini," ujar Karina setengah berbisik, suaranya sarat akan nada peringatan. "Ini area dekat komplek rumah dinas suamiku." Dion menghentikan langkahnya tepat dua meter dari Karina. Pria itu mengusap tengkuknya—kebiasaan lama yang terlalu dihafal Karina—menampilkan raut raut serba salah. "Aku tahu, Karina. Maaf," sahut Dion pelan, menatap Karina dengan binar tulus yang jernih. "Aku enggak bermaksud mengganggu rumah tanggamu. Tapi... jujur, setelah kemarin kita ketemu di kafe, pikiran aku enggak bisa tenang." "Soal apa lagi, Dion? Semuanya sudah lewat lima tahun lalu," potong Karina, berusaha menguatkan be
Last Updated: 2026-09-04
Chapter: Debaran JantungPagi datang membawa kabut tipis yang menggantung di pekarangan rumah dinas. Suasana di dalam rumah terasa terlalu sunyi, hanya dihiasi denting sendok yang bertabrakan dengan cangkir keramik di meja makan. Arkan duduk dengan kemeja dinasnya yang rapi, menyesap kopi hitam tanpa gula seperti biasa, sementara matanya membaca dokumen di hadapannya. Karina meletakkan piring berisi piring piring sarapan di meja. Gerakannya pelan dan teratur, namun pikirannya jelas tidak sepenuhnya berada di sana. Lingkaran hitam tipis di bawah matanya menjadi bukti bahwa bayangan Dion dan kenangan masa lalu benar-benar merenggut tidur nyenyaknya semalam. "Kamu kurang tidur," ujar Arkan tanpa mendongak dari dokumennya. Suaranya datar, namun tegas. Karina tersentak kecil, membetulkan letak taplak meja. "Hanya sedikit gelisah, Mas. Mungkin karena udaranya dingin semalam." Arkan menurunkan dokumen di tangannya, lalu menatap Karina lurus-lurus. Pandangan matanya yang tajam seolah mampu menembus setiap lapis
Last Updated: 2026-09-04
Chapter: Kenangan Masa ItuLampu kamar utama sudah diredupkan sejak setengah jam yang lalu. Di luar, suara gerimis tipis menyiram dedaunan di pekarangan rumah dinas, menciptakan ritme konstan yang seharusnya menenangkan. Namun, bagi Karina, keheningan malam itu justru terasa terlalu bising. Di sampingnya, Arkan sudah berbaring miring membelakanginya. Deru napas suaminya terdengar teratur dan halus, tanda pria itu telah lelap setelah seharian menguras energi di markas. Karina menatap punggung tegap Arkan yang tertutup selimut abu-abu. Ada rasa bersalah yang pelan-pelan merayap di dadanya, karena di tempat tidur yang sama, pikirannya justru berkelana ke tempat lain. Bayangan wajah Dion sore tadi terus berputar di benaknya. Bukan sosok Dion yang penuh emosi atau menuntut penjelasan, melainkan Dion yang bicara dengan nada tenang, sedikit canggung, dan mengusap tengkuknya persis seperti yang selalu pria itu lakukan lima tahun lalu ketika mereka masih bersama. Cara Dion menatapnya—tatapan yang jujur, tanpa intimid
Last Updated: 2026-09-02
Chapter: Bertemu DionMatahari sore membias temaram di balik jendela kaca kafe modern di pusat kota. Karina duduk sendirian di sudut ruangan yang agak terpencil, menunggu Arkan yang berjanji akan menjemputnya usai rapat di Markas Besar. Ia menyesap teh kamomilnya pelan, menikmati ketenangan yang belakangan ini menghiasi hidupnya. Langkah kaki seseorang mendekati mejanya, lalu terhenti. "Karina...?" Karina mendongak. Cangkir di tangannya mendadak bergetar tipis hingga air di dalamnya bergoyang. Sosok pria berjas rapi berdiri di hadapannya dengan tatapan mata tak percaya, campur aduk antara rindu dan luka lama yang belum sembuh. "Dion...?" bisik Karina parau, tenggorokannya mendadak kaku. Dion menatap cangkir kopi di mejanya sebelum kembali memandang Karina. Matanya menyiratkan keterkejutan yang nyata, namun tidak ada emosi berlebihan di sana—hanya rasa tidak percaya yang mengendap pelan. "Aku cuma kaget bisa ketemu kamu di sini, Karina," ujar Dion pelan. Suaranya terdengar biasa, tanpa nada puiti
Last Updated: 2026-09-02
Chapter: Aku MencintaimuHari-hari penuh ketenangan di Lembang akhirnya harus usai. Setelah dua hari menikmati masa cuti yang singkat namun berharga, Arkan dan Karina berkemas untuk kembali ke kota. Perjalanan pulang sore itu terasa sangat berbeda dibanding perjalanan Arkan yang dipenuhi kepanikan beberapa hari lalu.Di dalam SUV hitam yang membelah jalan tol menuju pusat kota, suasana begitu hangat. Tangan kiri Arkan tak pernah lepas menggenggam jemari Karina di atas konsol tengah, sementara lagu berirama lembut mengalun pelan dari pemutar musik mobil.Karina menatap pemandangan gedung-gedung tinggi yang mulai menyambut kedatangan mereka. "Mas... rasanya aneh ya, balik ke rumah dinas lagi setelah semua hal yang terjadi."Arkan menoleh sekilas, menyunggingkan senyum tipis sebelum kembali fokus ke jalan raya. "Aneh bagaimana, sayang?""Ya... dulu waktu tinggal di sana, aku selalu merasa seperti tamu. Setiap sudut rumah rasanya dingin," bisik Karina pelan, lalu menatap Arkan dengan pendar mata yang hangat. "Tap
Last Updated: 2026-08-27
Chapter: Semakin PosesifSesampainya di pasar tradisional Lembang yang ramai, Arkan tetap menggenggam jemari Karina dengan erat. Sikap posesif sang jenderal sama sekali tak berkurang. Setiap kali ada pedagang atau pengunjung pria yang tak sengaja melirik ke arah istrinya, Arkan akan serta-merta menegakkan dada bidangnya dan melempar tatapan menajam yang membuat orang-orang refleks menepi.Karina yang menyadari hal itu hanya bisa menahan senyum sepanjang menyusuri lorong pasar. Ia menarik lengan baju Arkan, membawanya berhenti di depan sebuah lapak sayuran segar."Mas, tolong jangan menatap Paman Penjual Sayur seperti mau mengajak perang," bisik Karina jenaka di samping telinga suaminya. "Kasihan pamannya sampai gemetaran memegang timbangan."Arkan berdeham pelan, berusaha menetralkan raut wajahnya yang kaku. "Aku hanya memastikan tidak ada yang bertindak tidak sopan padamu.""Siapa juga yang mau bertindak tidak sopan di depan pria sebesar ini?" goda Karina seraya terkekeh pelan. Ia lalu menunjuk seikat kangku
Last Updated: 2026-08-27
Chapter: Mencari Titik LemahDukungan yang mengalir melalui media sosial ternyata membawa dampak yang jauh lebih besar daripada dugaan Elian. Selama dua hari berikutnya, jumlah pesanan justru meningkat. Banyak pelanggan lama sengaja mengunggah foto tanaman yang mereka beli dari Surya Flora Nusantara disertai cerita tentang kualitas bibit dan pelayanan yang mereka terima. Beberapa bahkan menulis bahwa mereka akan tetap membeli dari pembibitan itu apa pun yang terjadi. Melihat semua itu, semangat para pegawai kembali bangkit. Mereka bekerja sambil tersenyum, seolah ingin membuktikan bahwa tempat kecil itu tidak akan mudah dikalahkan.Namun ketenangan itu hanya bertahan sampai sore hari.Rio yang baru kembali dari mengantar pesanan masuk ke ruang administrasi dengan wajah kusut. Kemejanya basah oleh keringat, sementara tangannya masih menggenggam surat jalan."Pak Elian, tadi ada masalah."Elian yang sedang memeriksa laporan penjualan langsung mengangkat kepala. "Ada apa?""Jalan utama menuju pembibitan mulai ditutu
Last Updated: 2026-07-21
Chapter: Melawan Badai"Kalau kita memang harus menghadapi badai, kita akan menghadapinya bersama."Kalimat Elian masih terngiang di benak Vior ketika keesokan harinya seluruh pegawai berkumpul di halaman depan pembibitan. Biasanya pertemuan pagi hanya berlangsung beberapa menit untuk membagi tugas, tetapi kali ini suasananya berbeda. Semua orang dapat merasakan bahwa ada sesuatu yang penting akan disampaikan.Elian berdiri di depan mereka tanpa mengenakan pakaian formal. Ia hanya memakai kemeja lengan panjang yang digulung hingga siku. Wajahnya tetap tenang, meski semalaman ia hampir tidak bisa tidur memikirkan langkah berikutnya."Ada satu hal yang harus kalian ketahui," ucapnya sambil memandang satu per satu wajah para pegawai. "Beberapa hari terakhir ada perusahaan properti yang berusaha membeli Surya Flora Nusantara. Kalian mungkin akan melihat aktivitas pembangunan di sekitar pembibitan ini. Aku tidak ingin kalian mendengar kabar itu dari orang lain, jadi lebih baik aku yang menjelaskannya langsung."
Last Updated: 2026-07-21
Chapter: Bukan Sekedar Aset"Aku tidak akan menyerahkan tempat ini begitu saja."Ucapan Elian membuat suasana di ruang kantor menjadi hening. Vior menatap suaminya dengan sorot mata penuh keyakinan. Ia tahu, pria yang berdiri di hadapannya bukan lagi Elian yang dulu mudah terbakar emosi ketika menghadapi lawan bisnis. Setelah kehilangan segalanya, Elian berubah menjadi jauh lebih tenang. Justru ketenangan itulah yang membuatnya terlihat lebih berbahaya.Pak Hadi meletakkan secangkir kopi di hadapan Elian sebelum duduk perlahan. "Saya sudah bekerja di sini hampir tiga puluh tahun. Selama itu pula saya melihat banyak orang datang menawarkan uang dalam jumlah besar untuk membeli tempat ini. Almarhum Pak Surya selalu menjawab dengan kalimat yang sama, 'Selama tanah ini masih bisa ditanami, saya tidak akan menjualnya.'"Elian tersenyum tipis. "Sepertinya aku mulai mengerti alasan Kakek.""Beliau pernah berkata bahwa tanah ini bukan sekadar aset. Tempat ini memberi makan puluhan keluarga."Belum sempat percakapan mere
Last Updated: 2026-07-21
Chapter: Amplop Misterius"Mas, coba lihat ini."Suara Vior membuat Elian mengalihkan perhatiannya dari tumpukan bibit yang sedang ia rapikan. Wanita itu berjalan tergesa-gesa dari ruang administrasi sambil membawa sebuah amplop cokelat tanpa identitas pengirim. Wajahnya tidak sepenuhnya panik, tetapi jelas menyimpan kebingungan."Ada apa?""Kurir tadi mengantar surat ini. Katanya harus diberikan langsung kepadamu."Elian menerima amplop tersebut. Tidak ada logo perusahaan maupun nama pengirim. Hanya tertulis namanya dengan huruf cetak yang rapi. Entah mengapa, perasaannya mendadak tidak enak.Ia membuka amplop itu perlahan. Di dalamnya hanya ada selembar surat dan beberapa lembar foto.Senyum di wajah Elian perlahan menghilang."Ada apa, Mas?" tanya Vior yang mulai ikut cemas.Elian tidak langsung menjawab. Ia justru menyerahkan salah satu foto kepada istrinya.Vior membelalak.Foto itu memperlihatkan beberapa pria berpakaian formal sedang berdiri di atas sebuah bukit yang berbatasan langsung dengan Surya Flo
Last Updated: 2026-07-21
Chapter: Salah HitungPagi itu Surya Flora Nusantara diselimuti udara sejuk khas pegunungan. Matahari baru saja muncul di balik perbukitan ketika para pegawai mulai berdatangan. Sebagian langsung menuju rumah kaca untuk memeriksa bibit yang baru disemai, sementara yang lain sibuk menyiapkan pesanan yang harus dikirim sebelum siang. Suasana pembibitan kini jauh berbeda dibandingkan beberapa minggu lalu. Tidak hanya semakin ramai karena jumlah pesanan yang meningkat, tetapi juga terasa lebih hangat karena hampir setiap hari terdengar tawa para pegawai.Elian berjalan menyusuri area pembibitan sambil membawa buku catatan kecil. Ia sesekali berhenti untuk memperhatikan pertumbuhan tanaman, bertanya kepada Pak Hadi mengenai proses perawatan, lalu mencatat hal-hal baru yang belum diketahuinya. Meski secara hukum ia sudah menjadi pemilik perusahaan, Elian tetap bersikeras mempelajari semuanya dari dasar. Sikap itu membuat para pegawai semakin menghormatinya. Mereka tidak lagi melihat Elian sebagai mantan CEO peru
Last Updated: 2026-07-21
Chapter: Bukan Lagi CEOPagi berikutnya, Vior sudah terbangun bahkan sebelum alarm di ponselnya berbunyi. Ia melirik ke samping, mendapati Elian masih tertidur lelap dengan satu tangan masih melingkar di pinggangnya. Selama beberapa detik, Vior hanya memandang wajah suaminya. Dulu, pria itu selalu tidur dengan dahi berkerut, seolah bahkan saat terlelap pun masih memikirkan rapat dan laporan perusahaan. Kini, meski tubuhnya lebih lelah karena bekerja langsung di lapangan, wajahnya justru terlihat jauh lebih damai.Vior mengusap pelan rambut Elian yang mulai sedikit berantakan. "Selamat pagi, Pak Direktur Pembibitan," bisiknya sambil tersenyum.Elian mengerutkan hidung, lalu perlahan membuka mata. Begitu melihat Vior sudah tersenyum di hadapannya, ia ikut tersenyum tanpa sadar."Jam berapa?""Baru setengah enam.""Kok sudah bangun?""Karena hari ini kita punya banyak pekerjaan."Elian menghela napas panjang, lalu kembali merebahkan kepalanya di bantal."Lima menit lagi."Vior terkekeh pelan."Dulu waktu masih
Last Updated: 2026-07-21