Chapter: Warning 21+ / Gairah Liar #14Vior mendongak, menatap mata Elian yang kini berkabut oleh gairah dan emosi yang tak lagi bisa ia sembunyikan. Pria yang selama ini dingin dan penuh perhitungan itu kini terlihat begitu manusiawi, begitu haus akan dirinya. Saat bibir Elian mulai menelusuri leher jenjangnya dengan sentuhan lembut, Vior merasakan desiran halus yang menjalar ke seluruh saraf tubuhnya. Setiap ciuman Elian terasa seperti api yang membakar sisa-sisa kewarasannya.Elian melingkarkan lengannya dengan posesif di pinggang Vior, merebahkan gadis itu perlahan ke atas sofa yang empuk. Ia menciumi setiap inci kulit Vior, menciptakan jejak kehangatan yang membuat Vior merasa seolah ia adalah satu-satunya hal berharga di dunia ini. "Saya sudah sadar dari dulu, kalau kamu itu... cantik sekali, Vior," bisik Elian di sela ciumannya. Suaranya serak, penuh dengan kekaguman yang tulus. Vior, yang masih terpaku oleh luapan emosi setelah tangisannya tadi, hanya bisa pasrah. Di bawah tatapan Elian, ia merasa tidak lagi menj
Last Updated: 2026-06-12
Chapter: Ketenangan dari Elian #13Kantor yang tadinya tenang mendadak berubah menjadi arena gladiator yang mencekam. Rio, yang saat itu sedang memamerkan video saat ia menampar Vior pada rekan kerjanya—tentu dengan bumbu kebohongan tentang Vior—sama sekali tidak menyadari badai yang sedang datang. Pintu ruangannya terbuka dengan dentuman keras, membentur dinding dengan suara yang membuat seisi ruangan melonjak kaget. Elian berdiri di sana, matanya merah padam, napasnya memburu seperti predator yang baru saja mencium bau darah.Sebelum Rio sempat berdiri, Elian sudah mencengkeram kerah kemejanya dan menyeret pria itu hingga tubuhnya terlempar dari kursi kerja. Tanpa peringatan, Elian mendaratkan tamparan telak yang membuat wajah Rio tertoleh keras. Suara hantaman telapak tangan di kulit itu terdengar sangat menyakitkan, membuat karyawan lain berteriak histeris. Rio terhuyung, matanya nanar, mencoba mencerna apa yang terjadi. Namun, Elian tidak memberi kesempatan bagi Rio untuk bertanya. Ia kembali menerjang, memukulka
Last Updated: 2026-06-12
Chapter: Video yang Viral #12Rasa panas yang menjalar di pipi Vior setelah tamparan keras Rio mendarat seolah membakar sisa-sisa kewarasannya. Ia tidak menyangka Rio akan bertindak sebrutal itu di depan umum. Setelah tamparan balasan itu, Vior tidak berteriak, ia tidak memaki; ia hanya terpaku sejenak, membiarkan rasa perih merambat hingga ke relung hatinya, sebelum akhirnya memutuskan untuk lari. Ia berlari dengan air mata yang membanjiri wajah, meninggalkan kafe yang riuh dengan bisik-bisik orang yang mulai merekam kejadian itu dengan ponsel mereka.Sesampainya di kamar kosnya yang sempit, Vior ambruk di atas tempat tidur. Isak tangis yang tertahan selama berbulan-bulan akhirnya pecah. Rio selalu seperti itu. Pria itu memiliki pola yang mengerikan. kasar, manipulatif, lalu akan datang dengan wajah penuh penyesalan seolah dia adalah pria paling rapuh yang takut kehilangan. Namun, apa yang terjadi sore itu membuktikan bahwa topeng pria itu telah sepenuhnya hancur. Ia tidak peduli bahwa ia sudah memiliki Enzy, ia
Last Updated: 2026-06-12
Chapter: Keributan di KafeVior duduk terdiam di dalam mobil Elian, menatap kosong ke arah lampu jalan yang berbayang di balik kaca. Rasa sesak di dadanya tak kunjung mereda. Setelah kejadian di mansion tadi, ia merasa telah melewati garis batas kewarasannya. Ia bukan lagi sekadar karyawan yang membantu bosnya melakukan aksi balas dendam; ia merasa telah menjadi mainan yang diperebutkan dalam permainan kekuasaan yang kejam."Saya turun di depan saja, Pak," ucap Vior pelan, memecah keheningan yang mencekam di dalam kabin mobil.Elian meliriknya sekilas, rahangnya mengeras. "Saya antar kamu sampai depan rumah, Vior. Ini belum aman.""Tidak perlu, Pak," jawab Vior dengan suara sedikit bergetar. "Saya lanjut naik taksi saja. Dan... sepertinya, saya tidak bisa melanjutkan sandiwara ini lagi."Elian menginjak rem, mobil berhenti mendadak di pinggir jalan yang cukup ramai. Pria itu terdiam, tangannya mencengkeram kemudi dengan begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Ia tidak menoleh, namun Vior bisa merasakan a
Last Updated: 2026-06-12
Chapter: Ingin ChildfreeVior duduk di atas sofa beludru yang harganya mungkin setara dengan seluruh isi kamar kosnya. Ia tidak lagi memiliki keberanian untuk tampil provokatif atau berani seperti malam sebelumnya. Tetapi otaknya tetap memikirkan cara untuk melakukan hal unik yang mungkin akan di benci oleh wanita paruh baya di depannya ini.Nyonya Saraswati duduk tegak di sofa seberang, menyesap teh dari cangkir porselen tipis dengan keanggunan yang intimidatif. Suasana hening, hanya suara denting sendok yang beradu dengan cangkir yang memecah ketegangan. Tiba-tiba, Nyonya Saraswati merogoh ponselnya, menekan sebuah kontak, dan menyalakan mode loudspeaker dengan sengaja."Elian? Kau sudah pulang?" suara wanita itu terdengar lembut, namun ada nada tuntutan yang kental. "Bagaimana meeting-mu? Kau tidak ingin mengunjungi Ibu hari ini? Kenapa betah sekali tinggal sendirian di apartemen sementara di sini Ibumu masih hidup dan merindukan putranya?"Vior menunduk dalam, jari-jemarinya gemetar saat memegang alat
Last Updated: 2026-06-12
Chapter: Pelatihan yang Baru di mulai #9"Ta-tapi Nyonya.." Vior terbata, tenggorokannya tercekat oleh rasa cemas yang mendadak muncul. Ia tidak menyangka permainan sandiwara ini akan menyeretnya ke dalam labirin yang begitu dalam dan menyesakkan. "Tidak ada kata tapi," potong Nyonya Saraswati dengan nada yang lembut namun mengancam, seperti sutra yang menyembunyikan silet tajam. "Bukankah kau mencintai Elian? Maka, jika kau ingin menikah dengannya, kau harus pantas bersanding dengannya. Dan untuk menjadi pantas, kau harus mengikuti aturan yang aku buat. Itu adalah harga yang harus kau bayar." Vior hanya bisa terdiam, membisu. Ia kembali ke kantor dengan langkah gontai, jiwanya terasa hampa. Sepanjang sore, pikirannya berkecamuk. Ia merindukan kehadiran Elian yang biasanya selalu menjadi tamengnya, namun pria itu masih terjebak dalam rapat maraton dengan klien-klien penting di luar kota. Vior merasa seperti pion yang tersesat di papan catur, sementara pemainnya sedang tidak ada di tempat. Keesokan harinya, suasana ka
Last Updated: 2026-06-12