Chapter: Bab 129: Luluhnya Hati sang PutriAroma gurih sop buntut dan sate ayam bakar menguar hangat di ruang makan rumah Alena. Di atas meja kayu, deretan piring dan cangkir teh sudah tertata rapi. Kanaya duduk di kursi tinggi ujung meja, sibuk mewarnai buku gambar dengan krayon warna-warni.Pak Bramantyo berdiri di dekat jendela, tertawa kecil sambil menggendong Kanaya sebentar sebelum menaruhnya kembali. Wajah pria paruh baya itu tampak segar, rona merah di pipinya kembali terlihat, dan langkah kakinya jauh lebih ringan dibanding beberapa minggu lalu.Kaelandra keluar dari dapur membawa wadah nasi hangat, meletakkannya tepat di tengah meja. "Waduh ayah sekarang kelihatan tambah seger ya. Mukanya gak sekusam waktu di Pengadilan minggu lalu."Pak Bramantyo menoleh, terkekeh pelan seraya menepuk dadanya. "Iya, Kael.
Last Updated: 2026-10-01
Chapter: Bab 128: Pengakuan Sang IbuGavin duduk di balik meja kerjanya yang luas, menatap layar laptop tanpa kedipan. Jemarinya mengetik cepat, ritmis, dan mekanis seperti mesin yang diprogram tanpa rasa lelah.Ibu Siska berdiri di ambang pintu, mematung. Matanya menatap sosok putranya yang kini tampak begitu asing. Wajah Gavin tirus, lingkaran hitam tebal menggantung di bawah matanya, dan setelan jas hitamnya melekat melonggar di tubuh yang kian mengurus."Gavin..." panggil Ibu Siska pelan. Suaranya bergetar di tengah keheningan ruangan.Jemari Gavin di atas papan ketik terhenti sejenak, namun matanya tetap menatap lurus ke layar. "Ada apa, Bu? Gavin lagi sibuk. Berkas revisi anggaran harus kelar sebelum jam lima."Ibu Siska melangkah masuk, menutup
Last Updated: 2026-10-01
Chapter: Bab 127: Skakmat di Meja Hijau"Sidang perkara perdata nomor 1042 dengan agenda pembacaan putusan dan pembuktian akhir dibuka dan dinyatakan terbuka untuk umum," tegas Hakim Ketua.Gavin duduk di kursi penggugat, meremas jemarinya yang gemetar tipis. Jas hitam mewahnya tampak sedikit longgar, menyamarkan tubuhnya yang kian kurus. Di sebelahnya, Henry Wijaya tampak sibuk membolak-balik berkas dengan raut tegang.Di seberang meja, Alena duduk tenang. Blazer krem yang dikenakannya membungkus tubuhnya dengan anggun dan tegap. Kaelandra duduk tepat di sampingnya, mengelus pelan punggung tangan Alena sebelum Alena berdiri melangkah ke depan meja majelis."Izin Yang Mulia," Farhan, pengacara Alena, membuka suara seraya berdiri. "Pihak tergugat ingin menyerahkan bukti tambahan terkait kelayakan emosional dan kesehatan mental Saudara Gavin selaku pihak penggugat."Henry Wijaya langsung bangkit berdiri, tangannya terangkat tegak. "Objection, Yang Mulia! Ini tuduhan tidak berdasar yang mencoba membuang fokus dari hak dasar se
Last Updated: 2026-09-30
Chapter: Bab 126: Permintaan Maaf MayaMaya duduk kaku di pinggir sofa, meremas jemarinya sendiri yang bertautan di pangkuan.Kaelandra melangkah dari dapur, membawa dua cangkir teh hangat yang masih berasap. Ia meletakkannya pelan, lalu mengambil posisi duduk di sebelah Alena."Minum dulu, May. Santai aja," kata Kaelandra lembut, memecah kecanggokan di antara mereka.Maya mendongak, tersenyum tipis nan canggung. "Makasih Kael."Alena menatap kotak dus di meja, lalu beralih menatap wajah Maya. "Ini lu sendiri yang bikin? sejak kapan bisa bikin kue sendiri, May?""Iya, Len," sahut Maya cepat, suaranya agak bergetar. "Bolu pisang kesukaan lu waktu kita masih sering ngerjain tugas kuliah bareng dulu. Gua... gua cuma bingung mau bawa apa buat nemuin lu."Hening sejenak menyelimuti ruang tamu. Alena menyandarkan punggungnya, menarik napas panjang lalu mengeluarkannya perlahan."Lu ke sini sendirian?" tanya Alena pelan."Sendirian," jawab Maya lugas. Ia menatap Alena lurus-lurus, matanya berkaca-kaca. "Gua tahu lu masih marah ba
Last Updated: 2026-09-30
Chapter: Bab 125: Persidangan Perdana yang PanasAlena duduk tegap di kursi penggugat, mengenakan blazer hitam terpotong rapi dengan kemeja putih di dalamnya. Di sebelahnya, Kaelandra duduk menggenggam jemari Alena pelan sebelum sidang resmi dibuka."Tenang ya," bisik Kaelandra pelan, mengusap punggung tangan Alena. "Aku di sini."Alena menoleh, mengangguk tipis. "Aku gak takut lagi, Kael. Beda sama dulu."Di seberang meja, Gavin duduk kaku berdampingan dengan Henry Wijaya. Matanya yang dingin menatap lurus ke depan, mengabaikan tatapan Farhan, pengacara Alena, yang tengah menyusun berkas di atas meja.Palu hakim diketuk tiga kali. Bunyinya menggema keras di dalam ruangan."Sidang perkara perdata hak akses anak dengan nomor register 1042 resmi dibuka dan dinyatakan terbuka untuk umum," ucap Hakim Ketua dengan nada tegas.Henry Wijaya langsung berdiri, merapikan jas mewahnya, lalu melangkah dua tindak mendekati tengah ruangan."Izin Yang Mulia," buka Henry dengan suara berat bernada intimidatif. "Pihak kami mengajukan gugatan ini dem
Last Updated: 2026-09-29
Chapter: Bab 124: Aliansi Tiga Srikandi"Pegang sebentar, Kael. Masih panas," kata Alena seraya menyodorkan cangkir mug berisi kopi hitam yang baru diseduhnya.Kaelandra menerima cangkir itu, lalu menarik napas panjang menikmati aromanya. Ia duduk di sofa ruang tamu rumah Alena dengan satu kaki ditumpangkan ke lutut. "Kamu udah siap ketemu Aurelia?"Alena mengangguk pelan, mendudukkan dirinya di samping Kaelandra. "Siap gak siap, dia sendiri yang maksa mau datang malam ini. Katanya ada hal krusial soal Gavin yang harus aku tau.""Aurelia itu adiknya kandungnya Gavin kan," Kaelandra menoleh, menatap Alena lekat-lekat. "Kamu yakin dia beneran mau bantu kamu? Gimana kalau dia cuma mau jadi mata-mata abangnya?""Nggak," jawab Alena mantap. Tangannya meraba jari manis Kaelandra, mengelus cincin tunangan yang kini melingkar rapi di sana. "Aurelia beda sama dulu. Sejak masalah kemarin dan kita saling memaafkan, dia beneran mau berubah. Lagian dia sayang banget sama Kanaya."Kaelandra tersenyum tipis, meremas lembut jemari Alena. "
Last Updated: 2026-09-29