author-banner
Ani Safanina
Author

Novels by Ani Safanina

Mencintaimu Untuk Kedua Kalinya

Mencintaimu Untuk Kedua Kalinya

Suami pengangguran. Mertua yang membencinya. Dan seorang bos duda yang diam-diam mencintainya. Karin rela mengorbankan segalanya demi keluarga. Namun ketika cinta dibalas dengan kecurigaan dan pengkhianatan, apakah seorang istri masih punya alasan untuk tetap bertahan?
Read
Chapter: Bab 16 - Perhatian khusus dikantor Baru
Aku berdiri beberapa detik di depan lobi kantor baruku.Gedung ini hampir mirip bangunannya dengan kantor lamaku yang sudah delapan tahun menjadi tempatku bekerja. Namun memang masih lebih luas kantor lama.Dan pagi ini rasanya seperti hari pertama aku diterima sebagai karyawan.Tanganku menggenggam tali tas sedikit lebih erat."Semangat, Karin," gumamku pelan.Begitu pintu kubuka, deretan meja kerja langsung menyambut pandanganku. Suara ketikan keyboard, dering telepon, dan percakapan pelan memenuhi ruangan.Di sini hampir semua wajah masih asing.Beberapa orang hanya melirik sekilas sebelum kembali sibuk.Ada pula yang memperhatikanku lebih lama.Seolah sedang menebak-nebak siapa aku."Selamat pagi. Mbak Karin, ya?"Aku menoleh.Seorang perempuan berusia sekitar tiga puluh tahun menghampiriku dengan senyum ramah."Perkenalkan. Aku Vira. Nanti mejanya di sebelah aku."Aku membalas senyumnya dengan lega."Terima kasih."Setidaknya... ada satu orang yang membuat langkahku terasa sedi
Last Updated: 2026-07-16
Chapter: Bab 15 - Siapa satu orang Klien?
Pagi itu, aku terbangun agak kesiangan dari biasanya. Sholat shubuh pun di jam setengah enam. Entah karena semalam tidurku tak pernah benar-benar lelap, atau karena bayangan yang kulihat di kafe terus berulang di kepalaku. Alka masih tertidur pulas. Sedangkan ibu mertuaku sudah pulang kerumahnya setelah aku bangun tidur tadi. Teringat pak Franky sempat menawarkan dirinya untuk mengantarkan aku pulang semalam. Namun aku menolak dengan senyum. Beliau beralasan tak ingin membiarkan wanita hamil pulang seorang diri. Akhirnya dia beliau berinisiatif untuk meminta sopirnya mengantarku pulang lebih dulu. Sementara beliau pulang bersama Pak Irwan Asisten pribadinya. Akhirnya aku menyetujuinya. Karena kulihat masa Aldo dan Sherly sudah tidak lagi berada di mejanya. Entah sejak kapan. Sekarangpun Mas Aldo belum pulang. Aku melirik jam dinding. Hampir pukul enam.Biasanya, kalau pulang larut karena pekerjaan, setidaknya ia akan mengirim pesan. Sekadar memberi tahu bahwa ia baik-baik s
Last Updated: 2026-07-16
Chapter: Bab 14 - Pesta perpisahan di kafe
Malam Minggu itu, aku tiba paling akhir. Sengaja aku biarkan Alka tertidur lebih dulu dan ada ibu mertuaku yang hari ini menginap dirumah. Sedangkan Mas Aldo sejak sore sudah keluar rumah. Dia bilang ada urusan yang menyangkut proyeknya. Mas Aldo keluar dengan pakaian rapih tapi santai. Kaos berwarna gelap dan bawahan celana jeans dengan sobekan di kedua lututnya. Apapun yang di kenakannya tidak pernah mengurangi kegagahannya.Sampai saat ini aku selalu bangga bila berjalan disampingnya. Begitu membuka pintu kafe, suara tawa teman-teman langsung menyambutku. Aroma kopi yang baru diseduh bercampur wangi makanan memenuhi ruangan, membuat suasana terasa hangat."Nah, bintang tamunya datang!" seru Kiki sambil melambaikan tangan.Semua mata langsung beralih kepadaku.Aku tersenyum kecil lalu menghampiri meja panjang yang sudah mereka pesan sejak tadi."Maaf ya, agak telat. Tadi Alka susah ditinggal.""Nggak apa-apa." sahut Rani sambil menarik kursi di sampingnya.Aku duduk di antara mer
Last Updated: 2026-07-16
Chapter: Bab 13. - Jelang perpisahan dikantor
Aku datang ke kantor lebih pagi dari biasanya.Entah karena ingin segera menyelesaikan semua urusan sebelum mutasi, atau karena aku memang tidak sanggup berlama-lama berada di rumah setelah melihat Sherly berdiri di sana pagi tadi.Bayangan senyum perempuan itu terus mengusik pikiranku.Kenapa dia bisa berada di rumahku?Kenapa Mas Aldo tidak pernah menceritakan apa pun?Aku mengembuskan napas pelan sebelum turun dari mobil."Bu Karin!"Suara beberapa rekan kerja langsung menyambutku."Wah, bentar lagi pindah, ya?""Iya, Bu. Jangan lupain kita ya.. nanti jangan lupa main ke sini.""Kita bakal kehilangan orang paling cantik dan sabar di tim."Aku memaksakan seulas senyum."Ah, paling juga cuma pindah ruangan."Padahal hatiku sama sekali tidak seringan ucapanku.Belum selesai menjawab pertanyaan mereka, staf HRD menghampiriku."Bu Karin, nanti jam sepuluh diminta ke ruang Pak Franky. Sekalian penjelasan mengenai penempatan baru.""Terimakasih."Aku mengangguk pelan.Tepat pukul sepuluh
Last Updated: 2026-07-16
Chapter: Bab 12 - Tatapan dan senyum untuk Sherly
"Sherly...?" Mas Aldo yang baru keluar dari kamar mendadak menghentikan langkahnya. Wajahnya jelas memperlihatkan keterkejutan. Matanya membelalak sesaat, seolah tidak percaya perempuan yang berdiri di hadapannya benar-benar Sherly. Beberapa detik kemudian, bibirnya membentuk senyum tipis. "Sudah lama sekali..." Ibu langsung menyambung dengan nada sengaja dibuat hangat. "Kaget ya? Ibu juga nggak nyangka Sherly mau mampir. Untung masih inget sama keluarga ini." Kalimat itu sederhana, tetapi menusuk. Sherly tersenyum. "Aku cuma kangen sama Ibu." Ku lihat Alka keluar menyusul ayahnya. Aku melangkah mundur sedikit agar Alka tidak melihatku sudah siap berangkat. Aku tidak ingin merusak suasana reuni kecil ini dengan teriakan Alka. Sherly berjongkok. "Hallo... Kamu Alka, ya?" Alka malah memeluk kaki Aldo. "Ayah..." Sherly tetap tersenyum. "Malu ya?" Ia mengeluarkan cokelat dari tasnya. Alka menerimanya dengan malu-malu dan langsung tersenyum. "Terimakasih Tante." ucap
Last Updated: 2026-07-08
Chapter: Bab 11 - Masa lalu didepan pintu
Pagi itu aku agak kesiangan. Ku sadari Mas Aldo yang sudah tidak berada di sampingku. Biasanya jam seperti ini ia masih tertidur karena hampir selalu pulang larut malam. Aku mengira ia sudah berangkat lagi. Namun ketika membuka pintu kamar, langkahku justru terhenti. Dari ruang makan terdengar suara tawa kecil. "Mulutnya dibuka dulu." "Itu... pintar." Aku mengintip pelan. Mas Aldo sedang duduk bersila di lantai. Tubuhnya tampak sedikit lebih kurus dibanding beberapa bulan lalu. Namun bahunya tetap tegap. Lengannya yang terbuka saat menggulung lengan kaus masih memperlihatkan otot yang padat. WWajahnya memang tampak lelah, tetapi ketampanannya yang pernah membuatku jatuh hati, masih belum hilang. Alka berada di pangkuannya sambil memainkan sendok plastik. Bubur di mangkuknya lebih banyak menempel di pipi daripada masuk ke mulut. Mas Aldo tertawa kecil. "Ternyata nyuapin anak ayah lebih susah daripada cari uang." Dia menggumam sambil tersenyum. Alka ikut tertawa. Seolah
Last Updated: 2026-07-07
You may also like
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status