LOGINArra harus menelan pil pahit, saat mertuanya meminta dia untuk mengikhlaskan suaminya menikah lagi dengan seorang janda beranak satu. Hanya karena Arra belum bisa memberikan ssorang cucu dan juga keturunan untuk keluarga mereka. Setelah melakukan banyak sekali pertimbangan, akhirnya Arra setuju agar Arya menikah lagi. Tetapi lambat laun, semua kebohongan dan rahasia yang Arya dan keluarganya sembunyikan terkuak ke permukaan. Mampukah Arra menghadapi semuanya? Ikuti terus kisahnya di, MADU, YANG DIBELI OLEH MERTUAKU
View MoreIt's time to go. And yet, I'm hesitating.
I tighten my grip on the handle of my suitcase, staring at the massive door of Mycroft Manor before me. One word from me, and it will open so I can leave. Months ago, when I first arrived here, I thought I would be looking forward to this moment. I thought spending all this time around the man who had broken my heart would only make me suffer.
I’m so stupid. It took seeing him every day again, hearing his voice and touching him, just like when we were married, for me to realize that my feelings for him never really died. My ex-husband was the one who destroyed everything that was between us with such ease. Just because of one lie.
And yet, I'm hesitating.
“Are you okay, Eden?” I hear Mae’s worried murmur behind me, which makes me struggle to put a smile on my face. I know it breaks her heart to see me go, but I know I can’t make a scene and put her in an awkward position as the Mycroft's’ housekeeper.
“Yes.” I swallowed as quietly as I could “It’s time to go. Just… Read my letter to him, will you? I want him to know that we’re still best friends.” Tears began to burn my eyes, but I refused to let them fall “It doesn’t matter what happened between me and his father, and it doesn’t matter if my job here is done… He’s an amazing kid and I love him.”
“Oh, Eden…” Mae sobbed, and I would have loved to hug her right then, but I knew it would probably break me “You don’t deserve this… Not you and not that poor little boy…”
“This is how it has to be.” I muttered, trying not to sound as heartbroken as I felt. “We all knew this was only temporary. Now this family can go back to treating me like I’m just a stain on their past, and eventually, even he’ll forget about me… Just like his father did.” I reached out, touching the cold wood of the door. “It’s time to go.”
“Eden!” a tearful voice cried out, causing my arm to lose strength instead of opening the door.
“Theo!” I gasped, turning to see him running down the stairs so fast his little legs almost tripped him, while one of his nannies ran after him “Watch out! You could get hurt…!”
“Why are you leaving?!” He finally reached me, wrapping his arms around my leg and lifting his head to show me his tear-filled blue eyes “You promised me you’d never abandon me! You promised you’d take care of me! Why are you leaving?! Was Dad or Grandpa mean to you again?” Theo sobbed, the sadness on his face making my chest ache “I hate them! They’re making you abandon me…!”
“Oh, Theo…” I sniffed, leaning down to hug him, trying not to think this would probably be the last hug I would give him “Don’t cry. I’m not abandoning you. I… I just need to go back to my house.” I tried to smile, wanting to calm him down “You’re better now. You don’t need hospitals or needles anymore… Or me.”
“No! I’m still sick! My chest still hurts!” He hugged me even tighter, his tears wetting my arm “You can’t go! You can’t!”
"Theodore…"
“I want you to be my mommy!” he cries, making me freeze “I’ll be good. I’ll eat all my vegetables and never complain about taking my medicine again, I promise! Please, don’t leave.” his small body shook with sobs. “Please…”
This time, I wasn't strong enough to stop the tears from flowing, so I just hugged him back, letting my heart break all over again. What was I supposed to tell this little angel? That I loved him too and would love to be his mother, but that wasn't enough?
He already had a family and, sadly, I wasn't part of it.
“Eden!” another voice called out to me and for a moment, I just closed my eyes tightly, hugging Theo closer “What are you doing?”
I needed all the little strength I had left, but I still stood up with Theo still in my arms, raising my eyes again towards the stairs. And, there he was. The father of that little boy I loved as if he were my own, even though we didn't have a single drop of blood in common. The owner of that dark mansion, which always seemed to try to swallow me.
The man who had once been my husband.
“Connor…” my voice was cracking, but I still tried to keep it together “I… I tried to make this as painless as possible for him. I didn’t expect Theo to find out…”
“That’s not what I’m talking about!” Connor growled, stepping closer to me and his son, though his eyes were on my forgotten suitcase on the floor “You can’t…” His teeth were clenched, but he looked more disturbed than angry “You can’t just run away! Come on, bring your stuff back to the room. Let’s talk about this…”
“I’m not running away.” I grumbled “You saw the examinations. Theo is fine now. I did my duty, so there’s nothing more to do here. You said so yourself.” I lowered my voice as much as possible, not wanting Theodore to hear this.
“Things were different back then, Eden. You know that…” he ran his fingers through his hair, frustrated “Listen to me…”
“This is going too far, Connor.” I took a step away, even though Theo was still in my arms “There’s no reason for me to keep living here…”
“No!” suddenly, his hand was on my arm, pulling me close again “You don’t understand.” His arms wrapped around me, as tightly as his son’s “I can’t let you go! Not again.”
MADU, YANG DIBELI OLEH MERTUAKUBab 37 Tamat“Berulah apa sih, Mas. Jelas-jelas makanannya gak enak, makanan murahan.”“Gak enak tapi abis, Mbak,” ujar karyawan katering.“Betul tuh, habis dua piring bilangnya gak enak,” ujar tamu undangan yang lain.“Iya nih, buat gaduh aja. Baru nemu mkanan enak yah, Mbak, jadinya norak.”“Eh, jaga moncongmu!”“Halah, ibu-ibu miskin tukang bikin sensasi. Ayok, bubar-bubar!” “Mel, ayok pergi!”“Awas kalian!”Mas Arya kelihatan menahan malu sekaligus kesal, pipinya memerah. Dia langsung menarik Melati pulang. Aku kasihan melihatnya, sudah diberi banyak peringatan, tetap saja belum sadar. Semoga suatu saat nanti Melati mendapat hidayah, agar bisa menjadi istri dan ibu yang baik.“Mereka sudah pergi, kamu jangan cemas lagi, Sayang. Orang yang hatinya jahat, akan memakan kejahatannya sendiri.”Aku tersenyum sambil menggenggam tangan suami. Kerusuhan yang dibuat Melati tak bearti apa-apa, diibandingkan kebahagianku yang tak ternilai ini. Mulai saat ini,
MADU, YANG DIBELI OLEH MERTUAKUBab 36 Akad Nikah"Jangan mulut Anda," bentak Mas Andra. Dia memang paling emosi kalau ada orang yang berbicara buruk kepadaku. Wajahnya langsung berubah menyeramkan."Melati, kamu pulang saja. Bikin rusuh.""Ih, emang kenyataan." Dengan wajah kesal karena dibentak dua pria sekaligus, Melati pergi sambil menutup sebagain wajahnya dengan selendang. "Andra, Ara, maafkan Melati.""Iya, tapi ajarin istri kamu, biar mulutnya tidak menyakiti orang terus.""Sudah, Mas, ayok kita pulang. Banyak yang harus diurus untuk pernikahan kita.""Sekali lagi maaf."Aku mengangguk, dan pamit pulang. Kasihan Mas Arya, kondisi sedang berduka, malah harus menanggung malu karena sikap istrinya yang tidak punya tata krama.“Jangan emosi, Sayang.” Aku genggam tangan Mas Andra saat kami di dalam mobil. Calon suamiku tersenyum sambil mencium tanganku.Hidup memang penuh misteri, dan kejutan indah. Dulunya aku yang selalu memperlakukan Mas Arya dan keluarga bak raja. Sementara ak
MADU, YANG DIBELI OLEH MERTUAKUBab 35 MeninggalPov Ara"Ya, sudah, ayok, Mas."Aku merasakan firasat tak enak. Pantas saja kemarin-kemarin gelisah, mendadak teringat mantan ibu mertua. Sejahat apapun dia, aku harus memaafkannya. Allah saja maha pemaaf, maka tak pantas jika hambanya sombong dan tak mau memaafkan kesalahan sesama manusia. "Pakde, aku izin mau menengok Bu Lastri di rumah sakit." Sebelum berangkat aku izin dulu kepada orang rumah. "Jangan diizinin, Pak. Lagian ngapain sih, Ra, kamu ke sana. Ingat perbuatan buruk mereka dulu. Udah, kamu fokus sama kebahagian kamu saja. Anggap mereka gak ada di muak bumi," ujar Mbak Yuli emosi. Dia melirik sinis ke arah Mas Arya yang sedang menunggu di teras. "Aku cuman mau nengok Bu Lastri, Mbak. Itu permintaan dia, takutnya ...," ucapanku menggantung, tak tega membayangkan kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi."Pergi, Nak," ujar Pakde Ahmad. Aku tersenyum senang, lalu mencium tangannya. Aku dan Mas Arya berangkat ke rumah sakit.
MADU, YANG DIBELI OLEH MERTUAKUBab 34 Melati Kena Batunya"Apa istri saya kecelakaan, Sus?""Betul, Pak. Silakan datang ke rumah sakit Medika.""Iya, Sus, saya segera ke sana."Astaga ada-ada saja, kenapa Melati bisa ada di kabupaten sebelah. Sebenarnya dia mau ke mana, sampai kecelakaan. Aku memberitahu kabar ini pada ibu, dan menitipkan anak-anak. Lalu, bersiap menggunakan motor menuju alamat rumah sakit. Perjalanan sekitar satu jam setengah. Akhirnya sampai juga, aku di arahkan masuk ke ruang rawat Delima. Di sana Melati sedang terbaring lemah dengan kondisi wajah dipenuhi perban. "Melati, sadar, Mel.""Ma-mas, akhirnya kamu datang. Wajahku perih, Mas.""Mangkanya jangan bertingkah, Mel. Kenapa segala kabur, rasakan akibatnya. Wajahmu rusak kaya gini."Melati terdiam sambil menangis. Lalu, ada seorang perempuan seumuranku masuk. Ternyata dia yang menabrak. Diceritakan kronologi kecelakaan, bahwa Melati lengah di jalanan, dan pelaku kaget, tapi untungnya menyenggol tubuh melati t












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.