LOGINSuami pengangguran. Mertua yang membencinya. Dan seorang bos duda yang diam-diam mencintainya. Karin rela mengorbankan segalanya demi keluarga. Namun ketika cinta dibalas dengan kecurigaan dan pengkhianatan, apakah seorang istri masih punya alasan untuk tetap bertahan?
View MoreAku capek, Mas."
Aku berdiri di depan pintu kamar dengan mata sembab. Tubuhku lelah setelah seharian bekerja, sementara beberapa tagihan bulanan yang semakin bertambah nominalnya di setiap bulan membuat semuanya terasa berat. "Capek kerja, capek mikirin biaya sekolah Alka, capek aku pura-pura kuat." Aldo terdiam. "Kalau Mas tetap nggak bisa berubah, lebih baik kita pisah aja." Untuk pertama kalinya selama empat tahun pernikahan kami, kata cerai keluar dari mulutku sendiri. Padahal aku mencintainya. Aku tetap memilih Aldo meski semua orang menganggapku bodoh karena menikahi pria yang belum memiliki pekerjaan tetap. Mereka menjulukinya mokondo. Selama empat tahun pertama pernikahan kami, tak seorang pun pernah melihatnya bekerja. Padahal mereka tidak pernah tahu cerita sebenarnya. Aldo adalah sarjana S2 yang pernah gagal membangun usaha. Kegagalan itu bukan hanya menghancurkan dirinya, tetapi juga menyeret usaha orang tuanya hingga bangkrut. Sejak saat itu, dia seperti kehilangan keberanian untuk mencoba lagi. Aku tahu dia diam-diam mengirim lamaran ke berbagai perusahaan. Aku tahu dia tidak sepenuhnya menyerah. Masalahnya, Aldo terlalu idealis. Dia merasa pendidikan dan kemampuannya terlalu tinggi untuk posisi staf biasa. Ada gengsi yang tak pernah berhasil dia kalahkan. Sementara tagihan terus datang. Dan susu anak kami tidak bisa dibeli dengan gengsi. Di kantor, atasanku selalu memperlakukanku dengan baik. Bahkan ketika aku tidak pernah mengeluh, dia seolah mengerti kesulitan yang sedang kami hadapi. Saat Alka lahir, dialah salah satu orang yang paling banyak membantu keluarga kami. Bahkan Aldo pun ramah padanya. Saat itu aku belum tahu bahwa kebaikan seseorang terkadang bisa menjadi awal dari masalah yang jauh lebih besar. Di tengah luapan emosiku, tiba-tiba kepalaku terasa pusing. Perutku mual. Sensasi itu begitu familiar hingga membuat jantungku berdebar semakin cepat. Tidak. Jangan sekarang. Aku menatap kalender yang tergantung di dinding. Sudah lebih dari dua bulan aku tidak menstruasi. Tanganku gemetar. Aku hamil. Anak kedua. Di saat kami bahkan kesulitan memenuhi kebutuhan anak pertama. Sesak memenuhi dadaku. Air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya pecah. "Aku nggak kuat, Mas... aku nggak kuat..." suaraku bergetar. Tangisku berubah menjadi jeritan. Semua ketakutan, kelelahan, dan kekecewaan yang selama ini kupendam seolah meledak dalam satu waktu. "Karin!" Aldo berlari menghampiriku. "Istighfar, Karin... istighfar..." Aldo menangis, untuk pertama kalinya aku melihat itu. Dia memelukku erat, seolah takut kehilangan aku. Namun pandanganku mulai kabur. Suara Aldo terdengar semakin jauh. "Karin... Karin!" Aku ingin menjawab. Tapi gelap lebih dulu menelanku. —---------- Aku membuka mata perlahan. Langit-langit putih dan aroma obat yang menyengat langsung menyadarkanku bahwa aku tidak lagi berada di rumah. "Alhamdulillah... kamu sadar." Suara Aldo terdengar serak. Aku menoleh. Matanya sembab, seolah belum lama menangis. "Mas..." "Kamu bikin aku takut." Tangannya menggenggam tanganku erat. Refleks aku mencari ponsel yang terletak di meja samping ranjang. Layar ponsel menyala saat kugenggam. 5 panggilan tak terjawab. Namanya membuatku terdiam. Pak Franky. Aku belum sempat berpikir lebih jauh ketika Aldo yang duduk di sampingku ikut melihat layar itu. Rahangnya mengeras. "Pak Franky nelepon?" Aku mengangguk pelan. "Mungkin urusan kantor." Aldo tidak menjawab. Tatapannya tetap tertuju pada layar ponsel di tanganku. Untuk beberapa detik, ruangan itu terasa begitu sunyi. "Ada apa, Mas?" tanyaku. Aldo mengembuskan napas panjang. "Nggak ada." Tapi dari cara dia mengucapkannya, jelas ada sesuatu. "Kita bakal punya anak lagi, Karin." Katanya tiba-tiba setelah lama terdiam Aku berusaha tersenyum meski hati masih dipenuhi ketakutan. Namun Aldo justru terlihat diam. Seperti tidak menginginkan kehamilan ini. "Mas?" Aku mengernyit "Aku boleh tanya sesuatu?" Tapi matanya tidak menatapku "Nanya apa?" Aldo menunduk lebih dulu sebelum menatapku. Tatapan yang membuat dadaku mendadak sesak. "Anak ini..." Suaranya tercekat. "...anak aku, kan?" Aku membeku. Seolah ada sesuatu yang menghantam dadaku keras. "Apa?" Aku sangat bingung dengan pertanyaannya. "Aku cuma mau tahu, Karin." "Mas ngomong apa sih?" Tetiba aku sadar dia mencurigaiku. "Aku lihat sendiri seberapa pedulinya Pak Franky sama kamu." Air mataku langsung menggenang. "Jadi selama ini Mas curiga sama aku?" Suaraku bergetar. "Aku nggak tahu harus mikir apa lagi!" suara Aldo meninggi. "Aku pengangguran. Aku gagal. Aku nggak bisa ngasih apa-apa buat kalian. Tapi atasanmu selalu ada. Selalu bantu. Selalu peduli!" Ada getaran dalam suaranya Aku menatap pria yang kucintai itu dengan perasaan hancur. Ternyata bukan hanya uang yang sedang menghancurkan rumah tangga kami. Kemudian Aldo merengkuh tubuhku. Seperti ada sesal dalam dirinya karena ucapannya itu. Aku meronta dalam erat pelukannya dan akhirnya menangis tersedu didalam sesalnya. Kukira dia hanya tidak menginginkan anakku karena dia belum juga mendapatkan pekerjaan tetap. Ternyata ... Saat semuanya terasa kembali seperti semula, kami saling diam. Aldo masih memelukku. Sementara di atas meja samping ranjang, layar ponselku kembali menyala. Satu pesan baru masuk dari Pak FrankyDan malam itu, tanpa kusadari, sesuatu di dalam diriku mulai berubah.Bukan rasa cintaku kepada Aldo yang tiba-tiba hilang.Aku memang sudah sendiri sejak waktu yang lama. Sejak aku memutuskan membantu suamiku untuk menutupi kebutuhan hidup. Mengapa baru sekarang aku menyadarinya. Ketika ada seseorang yang tepat datang mendampinginya dan membawanya kepada sebuah kesuksesan. Akhirnya aku tak berarti apa-apa dimatanya. Tak terasa airmataku menetes.“Kak, ada Pak Irwan.”Aku segera menghapus air mataku.“Pak Irwan?”Dinda mengangguk.“Beliau datang menjenguk.”Aku sedikit terkejut.Aku tidak menyangka Pak Irwan akan datang langsung ke rumah sakit secepat ini.Aku merapikan posisi dudukku ketika beliau masuk ke ruang rawat bersama Ibu.“Bagaimana keadaan Ibu sekarang?” tanya Pak Irwan.“Sudah lebih baik, Pak.”“Syukurlah.”Pak Irwan menarik kursi dan duduk di dekat tempat tidurku. Kami berbincang sebentar tentang kecelakaan yang kualami dan kondisi kesehatanku."Kemungkinan pak Franky ak
Dinda..!"Jariku mencengkeram baju bagian pinggangnya. Motor oleng.Dalam hitungan detik, keseimbangan kami hilang.Dinda terjatuh ke sisi sawah, sementara tubuhku terlempar ke arah jalan.Kepalaku membentur sesuatu.Masih kudengar suara Dinda memanggil-manggil namaku."Kak Karin..bangun kak.."Setelah itu, semuanya terasa gelap.Aku tidak pernah membayangkan sebuah perjalanan bisa membuat keluargaku panik setengah mati.Semuanya terjadi begitu cepat.Aku hanya mengingat suara rem yang berdecit, tubuhku yang terlempar, lalu rasa nyeri hebat di bagian perut.Setelah itu semuanya gelap.Ketika membuka mata, hal pertama yang kulakukan adalah memegang perutku.“Bayiku...”Suaraku bahkan nyaris tidak terdengar.Dinda yang duduk di samping tempat tidur langsung berdiri.“Kak!”Aku menatapnya dengan pandangan kabur.“Bayiku gimana?”Dinda menggenggam tanganku erat.“Dokter masih memeriksa, Kak. Jangan banyak bergerak dulu.”Aku bisa melihat matanya sembap.Ibu berdiri tidak jauh dari tempat
“Sidang pertama akan dilaksanakan pada hari Senin...”Suara Dinda dari ruang tamu membuat jantungku berdegup.Aku yang sedang melipat pakaian Alka segera meletakkannya, lalu keluar dari kamar.“Siapa, Din?”“Kak...”Suara kami nyaris bersamaan.Dinda menatapku dengan wajah serba salah. Tangannya masih memegang sebuah amplop.“Maaf, Kak. Aku lancang membukanya. Surat ini dari Pengadilan Agama.”Aku langsung mengambil surat itu dari tangannya.Begitu melihat kop surat di bagian atas, langkahku terhenti.Pengadilan Agama.Tanganku mulai terasa dingin.“Mas Aldo?”Dinda hanya mengangguk kaku.Saat itu Ibu keluar dari dapur. Namun, begitu melihatku dan surat di tanganku, langkahnya ikut terhenti. Tangannya masih menggenggam ujung celemek.Aku tidak mengatakan apa-apa.Aku kembali menatap surat itu, lalu duduk di sofa.Mataku jatuh pada nama yang tercetak jelas di sana.Pemohon: Aldo Satria.Termohon: Karin Adelia.Dadaku terasa sesak.Jadi, selama lebih dari tiga bulan tidak ada kabar dari
Ibu menarikku ke dalam pelukannya.“Kalau nanti Mas Aldo benar-benar memilih pergi, kamu tidak harus langsung tahu harus melakukan apa.”Aku menangis di bahunya.“Kalau nanti kamu belum siap memikirkan laki-laki lain, tidak apa-apa.”Tanganku mencengkeram ujung pakaian Ibu.“Kalau kamu masih mencintai suamimu, tidak apa-apa.”Ibu mengusap rambutku.“Dan kalau suatu hari nanti hatimu berubah, itu juga bukan sesuatu yang harus kamu putuskan hari ini.”Aku terisak.“Jadi sekarang aku harus bagaimana, Bu?”Ibu mencium keningku.“Pulanglah dulu kepada dirimu sendiri.”Aku terdiam.“Jangan memilih siapa pun karena sedang terluka,” lanjut Ibu lembut. “Jangan bertahan karena takut sendirian. Dan jangan menerima seseorang hanya karena dia datang ketika orang lain pergi.”Aku memejamkan mata.Untuk pertama kalinya hari itu, dadaku terasa sedikit lebih ringan.Karena mungkin Ibu benar.Aku tidak harus menjawab semuanya hari ini.Malam itu, setelah Ibu dan Dinda meninggalkan kamar, aku masih dudu












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.