author-banner
Junelvi Pello
Author

Junelvi Pelloの小説

Mantan Dokter Jenius Menikahi CEO Beracun

Mantan Dokter Jenius Menikahi CEO Beracun

Nikah KontrakBos / CEODokterMafiaActionWanita KuatPOV 3PengkhianatanPembalasan Dendam
Dituduh melakukan malapraktik hingga kehilangan lisensi dokter bedah saraf, Elina Vania dikhianati tunangan dan adik tirinya hingga hidupnya hancur. Demi membalas dendam, ia menawarkan kesepakatan gila kepada Gideon Vance, CEO yang dijuluki monster kota dan hanya memiliki enam bulan untuk hidup akibat neurotoksin misterius. Sebagai imbalan serum yang memperpanjang nyawanya tiga puluh hari setiap bulan, Gideon harus menjadi senjata Elina—dan menikahinya. Namun ketika rahasia di balik racun Gideon mulai terungkap, mereka sadar bahwa musuh yang mereka hadapi jauh lebih mengerikan daripada pengkhianatan, dan kontrak tanpa cinta itu perlahan berubah menjadi pertaruhan hati.
読む
Chapter: Bab 10—Aliansi Dua Keras Kepala
"Dan kamu masih mau pulang?" Elina tidak menjawab. Matanya masih tertuju pada map hitam yang di atas meja. Laporan-laporan semuanya memiliki satu kesamaan: Data yang sengaja dihapus. Namun pikirannya bukan itu, tapi di dada Gideon. Di lebam yang menjalar serta panas saat disentuh. Racunnya bermutasi. Dan aku tidak tahu kenapa. "Seseorang tidak ingin dokter menemukan sumber racunnya." jawab Elina akhirnya. “Aku memang sudah menduganya,” ujar Gideon. Tatapannya masih tertuju pada Elina. “Tapi ada satu hal yang belum kupastikan.” Elina mengangkat wajah. “Apa?” “Kamu akan pulang malam ini atau tinggal?” Elina menutup mata, menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Ia tidak suka cara tatapan Gideon membuat keputusan sederhana terasa seperti sesuatu yang harus dipertimbangkan dua kali. "Sebelum aku menjawab, aku mau pastikan satu hal." Elina menatap balik mata Gideon. "Apakah ada alasan selain racun itu?" "Ada." Gideon menarik laci atas meja kerjanya, lalu mengelua
最終更新日: 2026-08-10
Chapter: Bab 9—Malam Ini, Jangan Pulang
"Malam ini, jangan pulang." Elina berhenti tepat di depan pintu. Tas medisnya masih di bahu. "Alasannya?" Gideon tidak langsung menjawab. Matanya masih menatap punggung Elina. Elina menoleh pelan, sudut bibirnya yang tadi hangat itu kini berubah bentuk. "Jadwal kencan buta Senin sampai Minggu itu termasuk aku?" Ruangan yang baru saja terasa bernyawa itu sunyi lagi. Hanya suara jam dinding dan napas Elina yang tersendat menahan tawa. Gideon menyipitkan mata. "Kau mendengar, ternyata." "Toilet ini kedap suara," jawab Elina cepat, berusaha polos. "Tapi sepertinya dinding marmer hitam itu tidak se-kedap yang aku kira." Gideon menghela napas pelan. Ia berjalan mendekati mejanya, mengambil sebuah map hitam tebal dan meletakkannya kembali dengan suara agak keras. "Bukan untukmu." “Wah, sayang sekali,” gumam Elina seraya merapatkan dekapan pada tas medisnya. “Padahal aku sudah siap mengosongkan jadwal dari Senin sampai Minggu.” Gideon hanya diam, tidak menanggapi. Ia
最終更新日: 2026-08-10
Chapter: Bab 8—Pencabut Nyawa
Bzzt. Bzzt. Bzzt. PENCABUT NYAWA. Gideon menatap layar ponsel itu sesaat sebelum dimasukkan ke saku jas. "Lanjutkan." Elina melirik saku jas Gideon, lalu kembali menatap wajahnya. "Kamu tidak akan menjawabnya?" "Tidak." Elina hanya mengangkat bahu, lalu mengeluarkan penlight dari tas medisnya. Bzzt. Bzzt. Bzzt. Ponsel itu kembali bergetar, tetapi Gideon sama sekali tidak bergerak. Elina menatapnya sebentar. "Kalau begitu, mungkin aku bisa keluar sebentar." "Lanjutkan." Elina mengembuskan napasnya pelan. Gideon jelas tidak berniat memberinya ruang untuk menghindar, jadi ia menyalakan penlight dan mengarahkannya ke mata pria itu. "Ikuti arah cahayanya." Gideon mengikuti gerakan cahaya itu tanpa mengalihkan pandangan dari Elina. "Kamu bahkan belum meminta izin." "Kalau aku sibuk meminta izin, pupil matamu keburu berubah." Elina memperhatikan respons pupilnya dengan saksama sebelum menurunkan cahaya. Jemarinya kemudian menyentuh pergelangan tangan Gideon d
最終更新日: 2026-08-08
Chapter: Bab 7—Lima Belas Menit yang Ditunggu
Sedan Lexus hitam melaju membelah jalanan kota. Di dalam kabin, hanya deru wiper yang menyapu guratan hujan.Leon melirik spion tengah, menangkap bayangan wajah penumpangnya yang dingin. "Tuan Gideon tidak pernah mengetuk pintu yang sama sampai dua kali."Elina tidak menoleh. Ia tetap memandang ke luar jendela, mengikuti jalannya bulir-bulir air yang pecah tersapu angin di permukaan kaca. "Kalau begitu, aku harus mengirimkan kartu ucapan terima kasih karena telah dikecualikan.""Ini bukan lelucon, Nona," sela Leon. Ketukan jemarinya di atas kulit setir mendadak melambat. "Seseorang yang dipanggil untuk kedua kalinya... biasanya berakhir dengan komitmen seumur hidup.""Atau..." Elina menengok sedikit, memaksakan senyum hingga pipinya berlesung. "...berakhir di dalam kantong mayat sebelum fajar.”Leon tak membantah sama sekali. Pandangannya kembali lurus ke depan.Beberapa lampu merah terlewati dalam diam sebelum Leon akhirnya menarik napas dalam-dalam. "Kamu benar-benar yakin serum
最終更新日: 2026-08-08
Chapter: Bab 6—Dua Menit yang Terbuang
Moncong pistol itu berhenti tepat di antara alis Elina. "Jawab satu pertanyaan," ucap Leon datar. "Kenapa mereka ingin membunuhmu?" Elina tidak menjawab, tetapi berjongkok di samping salah satu tubuh penyerang. Ia mengenakan sarung tangan nitril baru yang diambil dari saku mantelnya. Leon mengernyit "Apa yang kamu lakukan?" "Tetap bekerja," jawab Elina singkat. Dengan jemari yang sudah tenang, Elina menarik kelopak mata penyerang itu perlahan. Pupil mata penyerang itu sudah membesar, tidak lagi bereaksi terhadap cahaya. Ia menekan sisi lehernya — tak ada denyut sedikit pun. Namun, saat mengamati area wajah, ia mendapati bibir mayat itu berwarna biru keunguan yang aneh. Dengan pinset medis dari tasnya, Elina membuka paksa geraham belakang mayat tersebut dan menarik serpihan kapsul hitam yang sudah hancur. "Kapsul bunuh diri," gumam Elina. Leon menurunkan pistolnya, lalu mendekat. "Sianida?" "Bukan cuma sianida. Lidah dan mukosanya membiru hanya dalam hitungan det
最終更新日: 2026-08-04
Chapter: Bab 5 — Harga Serum dan Penguntit
Malam semakin turun tanpa permisi. Laboratorium mini di apartemen Elina sunyi senyap. Hanya terdengar detak jam dinding yang beradu dengan gerimis di luar. Lebih dari satu minggu, hujan mengguyur kota. Di Laboratorium mini itu Elina berdiri di meja kerja. Tangannya stabil memegang pipet tetes. Tetes. Cairan bening itu jatuh perlahan ke dalam tabung reaksi. Warna cairan dalam tabung mulai berubah—ungu tua pekat, lalu perlahan menjadi keruh dan mendung. Jari-jari Elina mengepal di tepi meja. Napasnya tertahan sejenak sebelum ia menghela panjang. "Gagal lagi." Tabung reaksi itu berpindah ke wadah limbah medis berlabel bahaya. Sudah dua puluh tiga kali ia mencoba menyempurnakan ulang formula serumnya. Dua puluh tiga kali pula ia menghantam jalan buntu. "Serum tujuh belas hanya mampu menahan reaksi neurotoksin selama empat jam," gumamnya pelan, kemudian mencatat di buku lab yang sudah lusuh. "Dua puluh satu justru melisiskan sel darah merah." Ia menatap tabung ke dua puluh tiga
最終更新日: 2026-07-31
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status