author-banner
J. P Graline
J. P Graline
Author

Novels by J. P Graline

Mantan Dokter Jenius Menikahi CEO Beracun

Mantan Dokter Jenius Menikahi CEO Beracun

Dituduh melakukan malapraktik hingga kehilangan lisensi dokter bedah saraf, Elina Vania dikhianati tunangan dan adik tirinya hingga hidupnya hancur. Demi membalas dendam, ia menawarkan kesepakatan gila kepada Gideon Vance, CEO yang dijuluki monster kota dan hanya memiliki enam bulan untuk hidup akibat neurotoksin misterius. Sebagai imbalan serum yang memperpanjang nyawanya tiga puluh hari setiap bulan, Gideon harus menjadi senjata Elina—dan menikahinya. Namun ketika rahasia di balik racun Gideon mulai terungkap, mereka sadar bahwa musuh yang mereka hadapi jauh lebih mengerikan daripada pengkhianatan, dan kontrak tanpa cinta itu perlahan berubah menjadi pertaruhan hati.
Read
Chapter: Bab 46—Bukan Kapsul
"Dokter!" Petugas medis berteriak. Elina mulai melakukan kompresi lagi. "Leon," ujar Gideon tanpa mengalihkan pandangan dari pasien. "Ya, Bos." "Jangan periksa tiga tersangka tadi." Leon terdiam. "Bos?" "Periksa semua orang yang mendengar kalimat terakhirnya." Elina menekan dada pasien lebih dalam. Satu. Dua. Tiga. Di tengah kerumunan, pria berkacamata emas tiba-tiba mengangkat tangannya ke telinga. Gerakannya kecil. Hampir tidak terlihat. Namun Elina melihatnya. "Gideon," katanya tanpa berhenti bekerja. "Aku tahu." Pria itu tidak sedang menerima panggilan. Ia sedang menunggu instruksi berikutnya. "Jangan dekati dia." Perintah Gideon terdengar tenang, tetapi Leon langsung menghentikan dua petugas yang baru saja bergerak ke arah pria berkacamata emas. "Kenapa?" tanya Leon melalui earpiece. "Karena dia ingin kita melakukannya." Pria berkacamata emas menurunkan tangannya dari telinga. Senyum di wajahnya tidak berubah, tetapi matanya bergerak cepat
Last Updated: 2026-11-05
Chapter: Bab 45—Sisa yang Tidak Bergerak
"Tidak!"Elina menekan dada pria itu lebih dalam.Satu. Dua. Tiga.Tulang rusuknya menahan tekanan pertama, lalu terdengar bunyi retak yang tumpul. Beberapa tamu menjerit. Tidak satu pun suara berhasil mengalihkan perhatian Elina dari ujung jarinya yang mulai kehilangan denyut."Jangan berhenti!" teriak seseorang."Kalau kau tidak bisa membantu, diam!"Suara Elina memotong kerumunan.Ia kembali menghitung kompresi. Napasnya teratur, tetapi keringat dingin mulai mengumpul di pelipisnya. Pria itu tidak lagi kejang. Tubuhnya terlalu diam.Gideon menatap wajah pria tersebut, lalu mengangkat kepala."Leon.""Ya, Bos.""Singkirkan semua orang dari area ini. Tidak ada yang meninggalkan lantai ini tanpa pemeriksaan.""Bos, ada empat puluh tiga tamu yang—""Sekarang."Nada Gideon tidak meninggi. Justru itu yang membuat perintahnya terdengar lebih mengerikan.Para petugas keamanan segera bergerak. Mereka membentuk garis di antara para tamu dan tubuh yang terbaring di lantai. Pintu kaca utama di
Last Updated: 2026-11-05
Chapter: Bab 44—Di Antara Kita
Teriakan belum sepenuhnya padam, tapi di tengah keributan itu, Gideon sudah menemukan pola yang tidak dilihat siapa pun.Ponsel Gideon bergetar."Persempit," kata Gideon, suaranya berubah—dingin, cepat, tanpa ruang untuk emosi. "Radius sinyal. Berapa meter?""Sedang dihitung ulang," jawab Leon, jarinya bergerak cepat di layar tablet. "Tunggu... radius maksimal lima belas meter dari titik pancar."Elina menghitung dalam kepala. Lima belas meter dari mana kotak logam itu diletakkan—itu mencakup hampir separuh area taman terbuka, termasuk meja tempat nenek Gideon masih duduk, termasuk area dekat pintu kaca tempat tiga orang yang tadi ia curigai berdiri."Terlalu luas," gumamnya."Aku tahu." Gideon menatap kerumunan, rahangnya mengeras. "Leon, siapa saja yang berada dalam radius itu saat sinyal pertama terdeteksi?""Menghitung... total dua puluh enam orang.""Persempit lagi. Siapa yang bergerak keluar radius dalam sepuluh detik pertama setelah hologram muncul?"Hening sesaat. Leon mengeti
Last Updated: 2026-09-15
Chapter: Bab 43—Titik Merah
Teriakan pertama pecah. Seorang wanita menjatuhkan gelasnya, mundur cepat saat melihat titik merah kecil berkedip di antara bunga panggung.Dalam detik, kepanikan menjalar seperti api menyambar kain kering."Semua orang, tetap tenang! Menuju pintu keluar terdekat!" Suara petugas keamanan Vance Group berteriak dari segala arah. Tamu yang menyamar kini bergerak terbuka, membentuk barisan mengarahkan kerumunan menjauh.Elina tidak bergerak ke pintu keluar. Ia bergerak berlawanan."Nyonya Vance!" Leon di earpiece, nyaris berteriak. "Menjauh dari panggung! Sekarang!""Apa itu bom?""Belum dipastikan—""Kalau belum dipastikan, aku harus melihatnya.""Elina." Suara Gideon — tajam, penuh perintah. "Jangan mendekat.""Aku dokter, Gideon. Kalau ada yang terluka sebelum tim jinak tiba, aku yang akan menanganinya."Hening beberapa detik."Dua puluh meter," kata Gideon akhirnya, suaranya berat. "Tidak lebih."Elina menyelip di antara tamu yang berlarian. Sebelum memegang gelas wine, sebagian lain
Last Updated: 2026-09-13
Chapter: Bab 42—Kartu di Bawah Serbet
Kursi di seberang nenek Gideon terasa lebih dingin dari yang seharusnya, meski udara malam Hotel Arthera cukup hangat."Duduk, duduk." Nenek Gideon melambaikan tangan, gelangnya berdenting pelan. "Jangan berdiri seperti sedang menunggu vonis dokter."Elina duduk, menjaga punggungnya tetap tegak. "Terima kasih sudah mengundang saya, Bu.""Bu?" Nenek itu mendengus, meraih gelas tehnya. "Panggil saya Oma. 'Bu' terdengar seperti aku sedang wawancara kerja denganmu.""Baik, Oma.""Nah, begitu lebih baik." Ia menyipitkan mata, menatap Elina dari ujung rambut sampai ujung sepatu—penilaian yang jauh lebih teliti daripada obrolan basa-basi biasanya. "Kamu bukan salah satu yang kupilihkan untuk Gideon malam ini.""Bukan, Oma.""Kupikir juga begitu. Anak-anak pilihanku biasanya sudah gemetar duluan kalau kupanggil dua kali." Ia terkekeh, suaranya renyah. "Kamu malah jalan santai seperti mau makan siang.""Saya tidak tahu harus takut pada apa.""Itu masalahnya." Nenek Gideon mencondongkan tubuh,
Last Updated: 2026-09-12
Chapter: Bab 41—Undangan dari Bayang
"Elina."Suara Gideon terdengar lagi, kali ini jauh lebih rendah — serak, penuh peringatan."Letakkan."Elina tidak menjawab. Matanya turun pada amplop itu. Tidak ada nama di sana. Tidak ada alamat juga. Hanya satu lambang kecil di bagian belakang, nyaris tak terlihat di bawah cahaya taman — seekor ular yang menggigit ekornya sendiri.Elina pernah melihat simbol itu. Bukan di rumah sakit. Bukan di arsip keluarga Vance. Melainkan pada salah satu kartu yang terselip pada buku milik Profesor Broto."Leon.""Ya?""Periksa semua kamera di area taman.""Sedang dilakukan.""Jangan hanya cari pria berjas abu-abu."Hening sejenak."Kenapa?""Karena orang yang menyerahkan amplop ini mungkin bukan orang yang membawanya."Leon langsung memahami. "Dimengerti."Elina mengangkat wajah. Pelayan yang membawa amplop masih berdiri di depannya. Terlalu tenang. Seorang pelayan hotel biasanya akan menunduk, meminta tanda terima, lalu pergi. Pria ini tidak. Ia justru menatap Elina dengan ekspresi yang sulit
Last Updated: 2026-09-06
You May Also Like
Gadis Polos Incaran Tuan Mafia
Gadis Polos Incaran Tuan Mafia
Mafia · Callista_ Ivan
54.2K views
Dua Kakak Tiriku Yang Posesif
Dua Kakak Tiriku Yang Posesif
Mafia · Za_dibah
20.3K views
Di Bawah Kuasa Tiga Majikan Tampan
Di Bawah Kuasa Tiga Majikan Tampan
Mafia · Leona Valeska
17.6K views
Menjadi Tawanan Tuan Mafia
Menjadi Tawanan Tuan Mafia
Mafia · Miss Wang
15.6K views
Obsesi Cinta Sang Mafia
Obsesi Cinta Sang Mafia
Mafia · Fit Tree Fitri
15.2K views
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status