Mag-log inDituduh melakukan malapraktik hingga kehilangan lisensi dokter bedah saraf, Elina Vania dikhianati tunangan dan adik tirinya hingga hidupnya hancur. Demi membalas dendam, ia menawarkan kesepakatan gila kepada Gideon Vance, CEO yang dijuluki monster kota dan hanya memiliki enam bulan untuk hidup akibat neurotoksin misterius. Sebagai imbalan serum yang memperpanjang nyawanya tiga puluh hari setiap bulan, Gideon harus menjadi senjata Elina—dan menikahinya. Namun ketika rahasia di balik racun Gideon mulai terungkap, mereka sadar bahwa musuh yang mereka hadapi jauh lebih mengerikan daripada pengkhianatan, dan kontrak tanpa cinta itu perlahan berubah menjadi pertaruhan hati.
view more"Dan kamu masih mau pulang?" Elina tidak menjawab. Matanya masih tertuju pada map hitam yang di atas meja. Laporan-laporan semuanya memiliki satu kesamaan: Data yang sengaja dihapus. Namun pikirannya bukan itu, tapi di dada Gideon. Di lebam yang menjalar serta panas saat disentuh. Racunnya bermutasi. Dan aku tidak tahu kenapa. "Seseorang tidak ingin dokter menemukan sumber racunnya." jawab Elina akhirnya. “Aku memang sudah menduganya,” ujar Gideon. Tatapannya masih tertuju pada Elina. “Tapi ada satu hal yang belum kupastikan.” Elina mengangkat wajah. “Apa?” “Kamu akan pulang malam ini atau tinggal?” Elina menutup mata, menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Ia tidak suka cara tatapan Gideon membuat keputusan sederhana terasa seperti sesuatu yang harus dipertimbangkan dua kali. "Sebelum aku menjawab, aku mau pastikan satu hal." Elina menatap balik mata Gideon. "Apakah ada alasan selain racun itu?" "Ada." Gideon menarik laci atas meja kerjanya, lalu mengelua
"Malam ini, jangan pulang." Elina berhenti tepat di depan pintu. Tas medisnya masih di bahu. "Alasannya?" Gideon tidak langsung menjawab. Matanya masih menatap punggung Elina. Elina menoleh pelan, sudut bibirnya yang tadi hangat itu kini berubah bentuk. "Jadwal kencan buta Senin sampai Minggu itu termasuk aku?" Ruangan yang baru saja terasa bernyawa itu sunyi lagi. Hanya suara jam dinding dan napas Elina yang tersendat menahan tawa. Gideon menyipitkan mata. "Kau mendengar, ternyata." "Toilet ini kedap suara," jawab Elina cepat, berusaha polos. "Tapi sepertinya dinding marmer hitam itu tidak se-kedap yang aku kira." Gideon menghela napas pelan. Ia berjalan mendekati mejanya, mengambil sebuah map hitam tebal dan meletakkannya kembali dengan suara agak keras. "Bukan untukmu." “Wah, sayang sekali,” gumam Elina seraya merapatkan dekapan pada tas medisnya. “Padahal aku sudah siap mengosongkan jadwal dari Senin sampai Minggu.” Gideon hanya diam, tidak menanggapi. Ia
Bzzt. Bzzt. Bzzt. PENCABUT NYAWA. Gideon menatap layar ponsel itu sesaat sebelum dimasukkan ke saku jas. "Lanjutkan." Elina melirik saku jas Gideon, lalu kembali menatap wajahnya. "Kamu tidak akan menjawabnya?" "Tidak." Elina hanya mengangkat bahu, lalu mengeluarkan penlight dari tas medisnya. Bzzt. Bzzt. Bzzt. Ponsel itu kembali bergetar, tetapi Gideon sama sekali tidak bergerak. Elina menatapnya sebentar. "Kalau begitu, mungkin aku bisa keluar sebentar." "Lanjutkan." Elina mengembuskan napasnya pelan. Gideon jelas tidak berniat memberinya ruang untuk menghindar, jadi ia menyalakan penlight dan mengarahkannya ke mata pria itu. "Ikuti arah cahayanya." Gideon mengikuti gerakan cahaya itu tanpa mengalihkan pandangan dari Elina. "Kamu bahkan belum meminta izin." "Kalau aku sibuk meminta izin, pupil matamu keburu berubah." Elina memperhatikan respons pupilnya dengan saksama sebelum menurunkan cahaya. Jemarinya kemudian menyentuh pergelangan tangan Gideon d
Sedan Lexus hitam melaju membelah jalanan kota. Di dalam kabin, hanya deru wiper yang menyapu guratan hujan.Leon melirik spion tengah, menangkap bayangan wajah penumpangnya yang dingin. "Tuan Gideon tidak pernah mengetuk pintu yang sama sampai dua kali."Elina tidak menoleh. Ia tetap memandang ke luar jendela, mengikuti jalannya bulir-bulir air yang pecah tersapu angin di permukaan kaca. "Kalau begitu, aku harus mengirimkan kartu ucapan terima kasih karena telah dikecualikan.""Ini bukan lelucon, Nona," sela Leon. Ketukan jemarinya di atas kulit setir mendadak melambat. "Seseorang yang dipanggil untuk kedua kalinya... biasanya berakhir dengan komitmen seumur hidup.""Atau..." Elina menengok sedikit, memaksakan senyum hingga pipinya berlesung. "...berakhir di dalam kantong mayat sebelum fajar.”Leon tak membantah sama sekali. Pandangannya kembali lurus ke depan.Beberapa lampu merah terlewati dalam diam sebelum Leon akhirnya menarik napas dalam-dalam. "Kamu benar-benar yakin serum
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.