LOGINDituduh melakukan malapraktik hingga kehilangan lisensi dokter bedah saraf, Elina Vania dikhianati tunangan dan adik tirinya hingga hidupnya hancur. Demi membalas dendam, ia menawarkan kesepakatan gila kepada Gideon Vance, CEO yang dijuluki monster kota dan hanya memiliki enam bulan untuk hidup akibat neurotoksin misterius. Sebagai imbalan serum yang memperpanjang nyawanya tiga puluh hari setiap bulan, Gideon harus menjadi senjata Elina—dan menikahinya. Namun ketika rahasia di balik racun Gideon mulai terungkap, mereka sadar bahwa musuh yang mereka hadapi jauh lebih mengerikan daripada pengkhianatan, dan kontrak tanpa cinta itu perlahan berubah menjadi pertaruhan hati.
View MoreBip... bip... bip...
Itu bukan sekadar suara. Bagi Elina Vania, itu adalah metronom. Metronom yang mengatur napas, mengatur hidup dan matinya seseorang di atas meja ini. 18 derajat celcius. Ruang Operasi Tiga, RS Harapan Sentosa. Bau antiseptik bau darah yang samar, dan dingin yang menggigit tulang. Semua mata tertuju pada ujung pisau bedah nomor 15 di tangan Elina yang dibungkus sarung tangan lateks. Di atas meja, seorang pria 45 tahun dengan tumor seperti akar beringin yang melilit fondasi rumah. Satu tarikan napas salah, satu getaran 1 milimeter saja, pasien ini bisa lumpuh total atau mati. "Suction," ucap Elina. Pelan. Tidak perlu berteriak. Asisten bedah di sebelahnya, dr. Yuni, langsung bergerak. Selang suction mendesis, menyedot cairan serebrospinal yang bening. Area operasi menjadi bersih, memperlihatkan pembuluh darah yang berdenyut. Dari seberang meja, tunangannya, dr. Rendra Pratama, mengawasi dengan kening berkerut. Rendra adalah dokter bedah umum yang ambisius, yang dua bulan lalu melamar Elina di taman rumah sakit. "El, nempelnya dalam," bisik Rendra, suaranya tegang. "Kamu yakin mau pakai teknik itu?" Teknik Broto. Itu yang akan ia pakai. Teknik yang hanya diajarkan mendiang Profesor Broto padanya di lab tengah malam, teknik yang tidak ada di satu buku teks pun di perpustakaan kedokteran. Sret. Bukan memotong. Mengupas. Ujung pisau Elina bergerak dengan lihai. Ia mengupas selaput arachnoid yang membungkus tumor itu setipis kulit bawang. Perlahan dan sabar. Di ruang observasi kaca di lantai dua, belasan dokter residen dan koas menahan napas. "Gila... dia benar-benar misahin tumornya dari arterinya," gumam salah satu residen senior, pelan. Klek. Suara kecil yang memuaskan. Tumor sebesar biji kenari itu akhirnya terangkat utuh, bersih, tanpa merobek pembuluh darah di bawahnya. Tidak ada pendarahan masif ataupun pembengkakan otak mendadak. Sempurna. Operasi ini sempurna. Elina menghembuskan napas yang ia tahan sejak tadi. Keringat dingin membasahi pelipisnya di balik masker bedah. Tapi matanya berbinar. Puas. "Bagus. Tutup," kata Rendra lega, senyumnya mengembang. "Kita berhasil, El." Elina mengangguk. Ia baru saja akan melepas sarung tangannya ketika semuanya hancur. BIP BIP BIP BIP Bukan lagi bip pelan yang teratur. Ini adalah jeritan. Jeritan melengking dari monitor detak jantung yang memecah keheningan ruang operasi. Semua kepala menoleh ke monitor. "Tekanan darah drop! 70 per 40! Turun terus!" teriak perawat anestesi, panik. Tangannya menekan-nekan tombol infus. "Tidak mungkin!" Elina menoleh cepat ke area operasi. "Pendarahan sudah berhenti total! Aku sudah cek!" "Pupil! Pupil mengecil!" Rendra menyambar penlight, menyorot mata pasien. "Miosis bilateral! 1 milimeter! Kedua matanya!" Elina melompat ke sisi pasien, menyambar pergelangan tangannya yang terpasang infus. Kulitnya dingin, basah, lengket oleh keringat dingin. Bibir pasien mulai membiru. Kuku-kukunya biru. Sianosis. Miosis. Hipotensi. Takikardi. Elina menganalisis dengan kecepatan 1000 kilometer per jam, mencocokkan semua gejala itu dalam satu detik. Ini bukan komplikasi bedah. Ini bukan syok pendarahan. Pola ini... pola ini adalah... "Ini keracunan! Seseorang meracuni pasien ini!" desis Elina, suaranya tajam. "Berikan atropin 1 miligram sekarang!" "Atropin untuk apa? Daftar obatnya tidak ada!" bantah Rendra, bingung. "BERIKAN! INI PERINTAH!" bentak Elina. Atropin disuntikkan ke selang IV. Tidak ada reaksi. Tekanan darah tetap 60 per 30. "Epinefrin! 1 miligram!" Disuntikkan lagi. Tidak ada reaksi. Tubuh pasien menolak semua obat. Tiiiiiiiiit... "Ventrikel fibrilasi! Charge defibrilator 200 joule!" teriak Rendra. Dua paddle ditempelkan di dada pasien. Duk! Tubuh pasien terangkat dari meja. Tiiiiit... tetap lurus. Duk! Kedua kalinya, lebih keras. Tiiiiiiiiit... Hening. "Time of death... 14.37," ucap perawat anestesi dengan suara bergetar. Elina berdiri mematung, pisau bedah masih di tangannya. Pisau yang tadi adalah alat penyelamat, kini terasa seperti pisau pembunuh di tangannya. Pintu ruang operasi tiba-tiba ditendang terbuka dengan kasar. BRAK! Semua orang menoleh. Sisca Vania berdiri di sana. Adik tiri Elina. Seragam perawat magang putihnya masih bersih, wajahnya dibuat polos. Tapi ponsel di tangannya merekam. "Ya ampun, Kak Elina!" suaranya manis, dibuat-buat, tapi matanya menyala puas seperti baru menang lotre. Ia mengarahkan kamera ke wajah Elina yang pucat. "Pasiennya meninggal? Padahal Kakak kan dokter jenius terbaik se-Rumah Sakit? Kok bisa meninggal, Kak?" "Jangan direkam! Matikan HP-mu! Ini ruang steril!" Rendra mencoba menghalangi dengan tubuhnya. Terlambat. Sisca sudah berbalik, berlari keluar sambil berteriak di koridor yang penuh perawat, pasien, dan keluarga pasien yang menunggu. "Dokter Elina gagal operasi! Pasiennya meninggal di meja operasi! Dokter jenius jadi pembunuh!" Video itu hanya 17 detik. Tapi dalam waktu kurang dari 20 menit, video itu sudah ada di grup W******p perawat, grup alumni FK, grup kompleks perumahan dokter, dan I*******m story Sisca dengan filter tangisan. Captionnya sama semua, diketik Sisca dengan huruf kapital: #DokterJeniusJadiPembunuh Ruang operasi itu kosong dalam sekejap. Semua orang keluar, meninggalkan Elina sendiri bersama mayat yang masih hangat. Elina berjalan pelan, kakinya lemas. Matanya jatuh ke tempat sampah medis kuning di sudut ruangan. Di bawah tumpukan kasa dan sarung tangan bekas, sesuatu yang berkilau. Sebuah ampul kaca kecil, pecah di ujungnya. Label kertasnya sudah dilepas paksa, menyisakan bekas lem. Ampul ini tidak ada di daftar obat anestesi yang ia tanda tangani pagi ini. Tidak ada di troli obat. Dengan tangan yang akhirnya mulai gemetar, Elina mengambil pinset dan menjepit ampul itu. Sebelum ia sempat memeriksanya lebih jauh, pintu ruang operasi terbuka lagi. Lebih pelan, tapi lebih mengancam. Direktur RS Harapan Sentosa, dr. Adrian Wijaya, masuk dengan dua petugas keamanan berseragam hitam yang tinggi besar. "Dr. Elina Vania," ujar direktur dengan wajah dingin tanpa emosi. "Dewan Etik memutuskan Anda diskorsing dari semua tindakan medis sampai investigasi malapraktik selesai. Serahkan ID dan pisau bedah Anda. Sekarang." "Aku tidak membunuh pasienku," ucap Elina pelan, namun jelas, menatap mata direktur itu. Direktur tersenyum kasihan, senyum yang lebih kejam dari bentakan. "Semua dokter pembunuh bilang begitu, Dok." Petugas keamanan maju. KLEK. Kartu ID kebanggaannya yang bertuliskan KONSULTAN BEDAH SARAF - dr. Elina Vania, Sp.BS ditarik paksa dari saku dadanya. Lanyard-nya putus. Pintu ruang operasi ditutup dari luar. Lampu operasi yang terang benderang itu dimatikan. Elina ditinggalkan dalam kegelapan total. Di loker pribadinya yang jauh di ruang ganti, ponselnya bergetar tanpa henti, bergetar sampai jatuh ke lantai. Bzzzt... bzzzt... bzzzt... bzzzt... Di layar yang retak itu, dua nama trending bersamaan di T*****r dan TikTok. Trending nomor 1: #DokterJeniusJadiPembunuh Dan trending nomor 2, tepat di bawahnya, dengan foto seorang pria berjas hitam dengan tatapan dingin yang mengerikan: GIDEON VANCE - 150 MILIAR UNTUK PENAWAR RACUN LANGKA.Teriakan belum sepenuhnya padam, tapi di tengah keributan itu, Gideon sudah menemukan pola yang tidak dilihat siapa pun.Ponsel Gideon bergetar."Persempit," kata Gideon, suaranya berubah—dingin, cepat, tanpa ruang untuk emosi. "Radius sinyal. Berapa meter?""Sedang dihitung ulang," jawab Leon, jarinya bergerak cepat di layar tablet. "Tunggu... radius maksimal lima belas meter dari titik pancar."Elina menghitung dalam kepala. Lima belas meter dari mana kotak logam itu diletakkan—itu mencakup hampir separuh area taman terbuka, termasuk meja tempat nenek Gideon masih duduk, termasuk area dekat pintu kaca tempat tiga orang yang tadi ia curigai berdiri."Terlalu luas," gumamnya."Aku tahu." Gideon menatap kerumunan, rahangnya mengeras. "Leon, siapa saja yang berada dalam radius itu saat sinyal pertama terdeteksi?""Menghitung... total dua puluh enam orang.""Persempit lagi. Siapa yang bergerak keluar radius dalam sepuluh detik pertama setelah hologram muncul?"Hening sesaat. Leon mengeti
Teriakan pertama pecah. Seorang wanita menjatuhkan gelasnya, mundur cepat saat melihat titik merah kecil berkedip di antara bunga panggung.Dalam detik, kepanikan menjalar seperti api menyambar kain kering."Semua orang, tetap tenang! Menuju pintu keluar terdekat!" Suara petugas keamanan Vance Group berteriak dari segala arah. Tamu yang menyamar kini bergerak terbuka, membentuk barisan mengarahkan kerumunan menjauh.Elina tidak bergerak ke pintu keluar. Ia bergerak berlawanan."Nyonya Vance!" Leon di earpiece, nyaris berteriak. "Menjauh dari panggung! Sekarang!""Apa itu bom?""Belum dipastikan—""Kalau belum dipastikan, aku harus melihatnya.""Elina." Suara Gideon — tajam, penuh perintah. "Jangan mendekat.""Aku dokter, Gideon. Kalau ada yang terluka sebelum tim jinak tiba, aku yang akan menanganinya."Hening beberapa detik."Dua puluh meter," kata Gideon akhirnya, suaranya berat. "Tidak lebih."Elina menyelip di antara tamu yang berlarian. Sebelum memegang gelas wine, sebagian lain
Kursi di seberang nenek Gideon terasa lebih dingin dari yang seharusnya, meski udara malam Hotel Arthera cukup hangat."Duduk, duduk." Nenek Gideon melambaikan tangan, gelangnya berdenting pelan. "Jangan berdiri seperti sedang menunggu vonis dokter."Elina duduk, menjaga punggungnya tetap tegak. "Terima kasih sudah mengundang saya, Bu.""Bu?" Nenek itu mendengus, meraih gelas tehnya. "Panggil saya Oma. 'Bu' terdengar seperti aku sedang wawancara kerja denganmu.""Baik, Oma.""Nah, begitu lebih baik." Ia menyipitkan mata, menatap Elina dari ujung rambut sampai ujung sepatu—penilaian yang jauh lebih teliti daripada obrolan basa-basi biasanya. "Kamu bukan salah satu yang kupilihkan untuk Gideon malam ini.""Bukan, Oma.""Kupikir juga begitu. Anak-anak pilihanku biasanya sudah gemetar duluan kalau kupanggil dua kali." Ia terkekeh, suaranya renyah. "Kamu malah jalan santai seperti mau makan siang.""Saya tidak tahu harus takut pada apa.""Itu masalahnya." Nenek Gideon mencondongkan tubuh,
"Elina."Suara Gideon terdengar lagi, kali ini jauh lebih rendah — serak, penuh peringatan."Letakkan."Elina tidak menjawab. Matanya turun pada amplop itu. Tidak ada nama di sana. Tidak ada alamat juga. Hanya satu lambang kecil di bagian belakang, nyaris tak terlihat di bawah cahaya taman — seekor ular yang menggigit ekornya sendiri.Elina pernah melihat simbol itu. Bukan di rumah sakit. Bukan di arsip keluarga Vance. Melainkan pada salah satu kartu yang terselip pada buku milik Profesor Broto."Leon.""Ya?""Periksa semua kamera di area taman.""Sedang dilakukan.""Jangan hanya cari pria berjas abu-abu."Hening sejenak."Kenapa?""Karena orang yang menyerahkan amplop ini mungkin bukan orang yang membawanya."Leon langsung memahami. "Dimengerti."Elina mengangkat wajah. Pelayan yang membawa amplop masih berdiri di depannya. Terlalu tenang. Seorang pelayan hotel biasanya akan menunduk, meminta tanda terima, lalu pergi. Pria ini tidak. Ia justru menatap Elina dengan ekspresi yang sulit












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews