Chapter: Bab. 7 Bukan Karena Ibu, tapi Mau!Mata Shela terpejam saat menatap pantulan dirinya di cermin. Mencoba mengubur kenangan kelam itu. Saat ia harus menjual kue sepulang sekolah. Kepanasan, kedinginan terkena hujan. Dicemooh dan dihina teman sebayanya. Namun, semakin Shela ingin melupakan. Kenangan itu justru semakin menajam dan begitu juga kepalan tangannya semakin kuat. Shela menghembuskan napas, lalu membuka matanya, tersenyum pada pantulan dirinya di cermin. Senyum penuh dengan kegetiran. “Sayang, Ayah sudah mau pulang!”Suara teriakan Revan melebarkan mata Shela, tatapannya bergeser pada gelang yang melingkar manis di pergelangan tangan. Hadiah dari ayahnya semalam. Berat, seperti membawa beban dan kebencian. “Sayang?” panggil Revan dengan disusul Ketulan pintu. Shela berbalik badan. “Iya, Mas! Sebentar!”Sebelum keluar dari kamar mandi, Shela kembali memeriksa penampilannya di cermin. Lalu, membuka pintu kamar mandi. “Kamu lama banget.”“Maaf, Mas. Aku sedikit mulas,” jawab Shela dan disertai cengiran kecil.
Terakhir Diperbarui: 2026-10-02
Chapter: Bab. 6 Anak KesayanganShela menarik napas dalam-dalam. Situasi seperti ini membuat dirinya tidak nyaman. Ia beringsut bangkit, meraih gaunnya yang ada di lantai. Dia memang lolos dari Revan, tetapi bertemu ayahnya? Shela menarik napas dalam-dalam. “Sayang, ayah menunggu kita di bawah.” Wajah Revan tampak kusut. Malamnya kembali terganggu. Shela mengangguk. Ia merapikan rambutnya yang berantakan dengan jari, lalu menatap pantulan wajahnya di cermin. Ia dan Shela memang sama persis, hanya gaya mereka yang berbeda. “Ayo!” Revan mengecup pucuk kepala Shela, lalu menggandengnya keluar kamar. Shela diam saja. Jujur, ia tak siap bertemu dengan Henry. Pria yang sama sekali tidak pernah menayangkan tentang kabarnya. “Darling, Sheli!”Wajah sumringah itu mengingatkannya pada air mata sang Ibu. Betapa ibunya terisak saat ditinggal pergi dan memilih bersama wanita lain. Ia turut susah dengan keadaan, menyaksikan Damayanti banting tulang demi kehidupannya. Shela benci itu, tetapi ia tak berdaya. “Ayah!” Shela b
Terakhir Diperbarui: 2026-10-02
Chapter: Bab. 5 Nikmati Malam ini BerduaShela merasa senang, setidaknya Revan berada di luar kota untuk beberapa hari ini. Ia akan mencoba baju baru yang tadi dipilihkan Hilda untuknya. Ia menatap pantulan dirinya di cermin. Seksi dan sangat pas di tubuh rampingnya. Namun, mendengar suara pintu yang dibuka, ia langsung menoleh dengan cepat. Matanya mendelik saat melihat siapa yang datang. Spontan, Shela langsung menutupi dadanya yang menonjol. “Mas … kamu pulang?”Revan tersentak melihat ekspresi kaget Shela. “Sayang?” Ia maju usai menutup pintu kamar, menghampiri Shela. “Kamu cantik sekali pakai gaun itu.”Shela kelabakan. Ia pikir, ia akan bebas hari ini. Tetapi, kehadiran Revan mengacaukan segalanya. Pria itu memeluknya, mengecup bahunya singkat. “Mas ….” Shela memejamkan mata, merasakan gelenyar aneh dalam dirinya. Sudah lama ia tidak disentuh. Hanya saja, kewarasan mulai menguasai ia sedikit menjauh. “Mas, aku buatkan teh hangat dulu. “Revan menggelengkan kepala. Tangannya menahan lengan Shela. “Aku gak mau t
Terakhir Diperbarui: 2026-09-13
Chapter: Bab. 4 Jangan Menunda KehamilanTubuh Shela menegang, saat sebuah tangan memeluknya dari belakang. Ia harus terbiasa disentuh oleh pria yang tak memiliki ikatan pernikahan dengannya itu. “Sayang, apa sudah?” ucap Revan dengan suara berat, pria itu perlahan mengecup pundak Shela, napas hangatnya menyapu leher jenjang Shela. “Sudah, Mas,” jawab Shela dengan suara tertahan. Sudah lama tak disentuh, ia merasa ada gelenyar aneh di dadanya. Dengan cepat, Revan memutar tubuh Shela, hingga tubuh mungil itu membentur dada bidangnya. “Aku harus pergi dua hari, tapi rasanya kaya lama banget.” Shela mencoba untuk tidak gugup, jemari lentiknya menyusuri dada bidang Revan, gerakannya lembut, nyaris membuat Revan putus asa. “Mas, cuma dua hari loh.” Revan mengangkat Shela, mendudukkan wanita yang ia anggap istri itu dalam pangkuan, mata sayunya menatap bibir ranum Shela. “Dia pasti kangen banget.” Tatapan Shela turun kebawah, tepat pada benda keras yang menggelitik pantatnya. Ia menahan napas, pipinya pasti sudah merona
Terakhir Diperbarui: 2026-09-13
Chapter: Bab. 3 Nikmati saja PeranmuMenjadi orang kaya, tak sepenuhnya menyenangkan. Shela tidak bisa melakukan hal-hal kecil seperti sebelumnya. Misalnya belanja di pasar tradisional dengan leluasa. Ia harus diantar supir dan ART hanya untuk membeli keperluan memasak. Setidaknya, tadi ia sudah meyakinkan Revan atas perubahan sikap istrinya.Ia berjalan santai. Tidak ada rasa jijik, Susi yang ada di dekatnya tanpa sadar bergumam. “Tumben sekali Nyonya mau ke tempat seperti ini? Bukankah biasanya urusan belanja aku dan Bik Nuri?”Shela dengar itu. Tetapi ia tidak ingin mempermasalahkan, justru sibuk memilih ikan segar. “Yang ini, ya. Tiga kilo,'' ucap Shela pada penjual ikan mujair. “Baik, Nyonya.”Shela hendak mengeluarkan uang dari dompet, tetapi ponselnya terdengar nyaring, mendesak. Lalu, ia menyerahkan uang itu pada Susi untuk transaksi. “Mbak, urus ini ya. Aku mau angkat telpon.”“Baik, Nyonya.”Shela menjauh dari Mbak Susi, tepat berada di pojok pasar yang banyak akan tumpukan kardus dan karung dengan aroma
Terakhir Diperbarui: 2026-09-13
Chapter: Bab. 2 Membangun CitraSaat Shela mengetuk pintu, wajah tegang Revan perlahan mengendur. Pria itu menoleh dengan cepat. “Kopinya, Mas.”Revan tampak bingung, apalagi saat Shela meletakkan secangkir kopi dan dan kue cokelat di meja kerja. “Kamu kenapa ngeliatin aku seperti itu?” Reflek, Shela merapikan rambutnya menggunakan jari. Lalu, mengoreksi pakaian yang ia kenakan. “Kamu yang buat?” tanya Revan dan dijawab anggukan oleh Shela. “Aku tidak menyangka!”Kini giliran Shela yang bingung. “Maksudnya?”Wajah Revan menjadi semringah, tangannya beralih mengusap pucuk kepala Shela. “Sayang, kamu manis sekali. Biasanya mana pernah kamu buatin kopi buat aku.”Shela melongo. Apa ia kembali kebablasan? Oh, tidak. Jangan sampai Revan curiga. “Aku coba ya!”Shela hanya mengangguk, menikmati euforia pria di hadapannya itu. Revan yang tampan dengan lesung pipit di sebelah kiri. Ah, andai pria itu beneran suaminya. Shela menggeleng pelan, mencoba menepis pikiran kotornya. Ia harus ingat, jangan terlalu terbawa oleh pe
Terakhir Diperbarui: 2026-09-13