ログインSetelah ayahnya terkena stroke, Ica terpaksa menikah dengan kawan sang kakak, Rey, sebelum dia pergi menempuh pendidikan S2-nya ke German, sebagai syarat keluarga itu mau membiayai pengobatan sang ayah, kuliah Ica dan membantu modal usaha sang kakak. Rupanya usul itu berasal dari Rey sendiri karena dia sudah lama menaruh hati pada Ica sejak lama.
もっと見るSeorang pemuda melepas lumatan bibirnya dari gadis lugu di rengkuhannya yang menatap sendu.
“Besok aku harus pergi! Kamu baik-baik, ya!”
“Tapi aku gak mau sendirian. Aku mau sama kamu.”
“Ssst, aku tahu.” Ditariknya gadis itu ke dalam pelukannya. Sekali lagi ia menciumi rambut hitam wangi gadis yang kini tengah sesenggukan di dadanya.
Sebuah keputusan berat harus mereka lewati setelah acara pesta yang berlangsung beberapa hari lalu. Meski empat hari ini mereka bersama, namun tetap saja, esok adalah hari dimana mereka harus hidup saling berjauhan.
Mereka saling berpandangan lama di atas bantal di kamar hotel bintang empat di pusat kota Jakarta.
“Sebelum aku pergi, aku ingin menjadikan kamu milikku sepenuhnya!” Ujar lelaki itu. Sang gadis hanya balas menatapnya sayu. Begitu pula saat bibir lelaki itu kembali bermain di bibirnya dan merambah ke leher hingga bagian tubuh lainnya, gadis itu hanya diam tak mengelak.
“Aaahg!” Pekik gadis itu sambil menahan sakit tak terperi di bawah sana. Butir bening di ujung matanya yang sedari tadi menumpuk kini tumpah ruah membasahi pipinya.
“Maafkan aku!” Meski mengucap maaf, namun lelaki itu tak juga berhenti menembus pertahanan gadis di hadapannya. Tak berapa lama, mereka melenguh bersamaan hingga memenuhi seluruh isi ruangan.
Bandara
“Jaga diri baik-baik, ya, sayang! Tunggu aku pulang. Kita akan bersama nanti!” Ungkap lelaki itu sembari mencium kening dan bibir gadis tercintanya sesaat sebelum ia memasuki embarkasi keberangkatan di bandara Soeta. Dilihatnya sosok itu masih sesenggukan melepas kepergiannya.
Kampus
Siang begitu teriknya, seolah mentari hendak mengeluarkan pijar api dari tiap sisinya. Ica baru saja keluar dengan binder dan beberapa buah buku di tangannya. Sambil menghapus keringat di lehernya, ia berjalan menuju kantin yang jaraknya tinggal beberapa meter di depannya.
“Caaa, tunggu!” Seruan itu memaksanya untuk berhenti sejenak memastikan sosok yang memanggilnya barusan. Tapi ia terus berlalu menuju salah satu meja kosong yang baru ditinggalkan sekerumunan mahasiswa.
“Ica… elu tuh yah!” Gadis itu tergopoh-gopoh mendekati meja Ica dengan wajah kesal.
“Gua panggilin dari tadi tau, nengok kek dikit! Dasar! Elu rada-rada kali ya?” Sosok yang menurut Ica centil itu sewot dan langsung membanting tasnya ke atas meja.
“Sorry Gi, aku pikir kamu pergi sama cowok baru itu, sapa sih namanya ya?” Ica pura-pura mengingat sesuatu, padahal ia sibuk melihat menu makanan yang akan dipesannya.
“Yaa… Ca, masa lo lupa sih?? Leo..Leo!” Cewek bernama Anggi itu melotot sewot.
“Iya…itu!! Eh…mo pesen nggak??” Seolah tak peduli dengan sahutan temannya itu, Ica beranjak.
“Gua baso ma jus tomat!” Seru Anggi hampir memekakkan telinga orang-orang di sekitarnya.
“Eh…Gi, aku pikir kamu pergi sama pacar baru kamu!! Sapa tadi? Tadi juga aku nggak liat kamu di kelas? Makanya aku tinggal, habis keburu laper!” Ica berusaha menjelaskan ketika melihat wajah di hadapannya masih memberengut kesal.
“Leo, Ca, Namanya Leo!! Kenapa sih nyebutin nama dia aja susah amat? Elu lupa apa napa?!Baru juga dibilangin barusan?” Sungut gadis itu. Ica tersenyum menyeringai.
“Iya..emang aku lupa! Habisnya…baru juga kemaren jalan ama Bobby…trus kemarennya lagi ama Jito atau Jitak ya…?’
“Sebelum Leo itu sama Ivan, sebelumnya baru sama Bobby…..aahhh, udah ah…males ngingetin lu, bawaannya lupa melulu sih lu!” Gadis itu kini terlihat makin senewen apalagi ditambah perutnya yang meraung-raung. "Mana sih ini pesenannya gak datang-datang?" Pekiknya seolah ditujukan pada seluruh penjuru kantin.
“Udah...udah jangan sewot gitu, kamunya juga sih, gonta-ganti pacar mulu. Mana aku apal." Sanggah Ica tak mau kalah. Untungnya seorang pelayan segera datang mengantar pesanan mereka.
"Nih basonya. Udah makan dulu, biar otak kamu gak ngehank. Aku laper banget, nih!” Ica segera melahap makanannya.
“Eh, ngomong-ngomong, kalo elu, kapan dong bawa gacoan lu ke muka gue! Gue jadi penasaran deh!” Tanya Anggi di sela-sela suapannya.
“Gacoan apa? Aku nggak punya gacoan! Kalo maksud kamu orang yang aku taksir, banyak siiih, tapi...!”Ica menghentikan ucapannya ketika melahap sendok terakhir, membuat Anggi makin penasaran.
“Tapi apaa, Ca! Jangan sepotong-sepotong dong ceritanya. Atau elu udah punya cowok diluaran sana, ya!"
'Tepat sekali!' jawab Ica dalam hati. Namun ia tetap diam, tak mau temannya itu tahu.
"Ya, elu mah, masa gitu ama sobat sendiri, nggak mau terbuka, atau elu takut dia naksir gua kali ye!” Anggi mengeluarkan jurus terakhirnya untuk membuka rahasia. Yang ditanya malah asyik menyeruput teh botol ditangannya hingga tandas.
“Ca…Ca…Ica!! Wah, bener nih, kamu kayaknya ada masalah sama yang satu ini, atau elu sebenernya pernah disakitin trus trauma gitu ya!” Tebak Anggi asal.
“Hus…kamu ngomong apaan sih Gi, ngelantur sama ngehalunya kebangetan.” Ica segera memotong ucapan Anggi yang tampaknya tidak jelas arahnya itu.
“Habisnya, masa tiap gue tanyain masalah cowok, pasti elu diem, ato ngelamun!! “Anggi memberengut kembali.
“Enggak kok, siapa yang ngelamun, aku lagi minnnuuum, ya diem doong, ntar keselek!” Jawaban Ica itu malah membuat Anggi memicingkan matanya tak percaya.
“Iya…nggak ngelamun banyak sih…cuma dikit kok..!” Aku Ica kemudian sebelum gadis di hadapannya membuatnya benar-benar terpojok. Jujur saja, pertanyaan-pertanyaan yang mengarah pada hubungan pribadi seperti itu memang membuat Ica tak nyaman.
“Tuh kan…Lu tuh kalo ngelamun keliatan. Makanya jangan suka nyembunyiin sesuatu di hati, terkecuali…C..I..N..T..A.” Anggi sengaja mencibir, tapi kemudian tersenyum merasa dirinya menang. Keduanya lalu bangkit sambil memegangi perut yang kekenyangan.
“Eh, Ca! Ntar sore kita ke Bandung yuk, maen ama nonton. Bosen nih di sini, kayak kodok di bawah tempurung aja gua, kagak bisa kemana-mana, seneng-seneng dikit kan boleh Ca? Lagian baru kelaran UAS ini. Mau ya, Ca?” Anggi tiba-tiba berubah menjadi seseorang yang siap menjilat siapa saja, terutama Ica yang dokunya nggak pernah pelit.
“Sorry, Gi! Nggak tau kenapa, aku lagi nggak pengen kemana-mana hari ini. Mungkin besok malem Minggu aku baru ada rencana ke Bandung, tapi malem ini aku pengen tiduran, rasanya kok capek banget ya badan ini!" Ujar Ica sambil mengurut-ngurut lehernya yang sudah pegal sejak dari kelas tadi.
“Yaah, elu, pura-pura ya! Masa di Jatinangor mulu sih. Nggak bosen lu ngungkep di sini mulu! Ayo doong, lagian pake mobilnya si Leo. Rubicon, lho!” Anggi merajuk. Tapi Ica bersikeras untuk tidak ikut, dan sambil melengos pergi ia hanya melambaikan tangannya ke Anggi yang makin menekuk mukanya.
Ica tak mengelak saat lelaki itu mulai menyentuh area-area sensitif di tubuhnya satu per satu.Setelah ciuman panas yang membuat nafas mereka terengah, Rey tanpa segan menarik kaosnya dan kaos Ica. Keduanya saling memandangi tubuh di hadapannya. Lalu sentuhan demi sentuhan Rey lewat bibir basahnya menari di tiap senti kulit Ica, membuat gadis itu seolah kehilangan kekuatannya, membiarkan Rey menjelajahi tubuhnya sekali lagi, dengan erangan yang tak tertahankan lagi dari mulutnya.Untuk sesaat, Rey berhenti, lalu berbisik lembut.“Aku takut, teriakanmu membangunkan kamar sebelah dan ibu kos.” Ica pun langsung menutup mulutnya disertai Rey yang tersenyum geli. Apalagi gadis itu akan mengerjapkan mata jika gugup.“Padahal aku senang, mendengar desahanmu tadi.” Lanjut Rey membuat wajah Ica langsung merona.“Kamu tidak keberatan kan, kalau aku memasukimu?”Ica termangu sejenak. Ia ingat, waktu itu malam sebelum kepergian Rey, lelaki itu untuk pertama kali mengambil kesuciannya dengan menin
Malam itu, Ica menuju kamar kostnya tanpa membuat kegaduhan. Sebelumnya ia juga mengecek garasi, kalau-kalau ada mobil Rey di sana. Jujur saja, saat ini sebenarnya ia masih belum siap dan canggung jika bertemu Rey. Berbagai dugaan muncul dalam benaknya, bahkan hal terburuk sekalipun.Gadis itu lega ketika mendapati kamarnya terlihat masih gelap, menandakan tak ada seorang pun di dalam. Setelah membuka pintu, ia menarik nafasnya ketika masuk, menggantungkan jaketnya di belakang pintu kemudian melangkah ke arah toilet.Ia membiarkan lampu luar yang menerangi kamarnya yang senyap. Setelah keluar dari toilet, ia menatap ke setiap sudut kamarnya. Tidak ada yang berubah. Namun, matanya tertuju pada sepatu yang tergeletak di pojokan kamar.Penasaran, ia hampiri sepatu yang ia kenali betul sebagai sepatu Rey. Apa mungkin dia meninggalkannya di sini, pikirnya. Lalu ia pun berdiri sambil berpikir.“Darimana saja?”Deg. Ica terbelalak tapi tak berani membalikkan badannya. Suara yang begitu diken
Malam itu begitu kelam dan dingin setelah hujan seharian. Ica menatap langit-langit kamar kostnya yang putih. Untuk sementara, ia bisa kembali tenang tinggal di kost-an ini setelah Rey memberikan penjelasan rinci kepada bu Rita. Rey sendiri harus kembali ke Bandung selepas mengantarnya, karena masih ada dokumen yang harus ia selesaikan.Ica menolak untuk menginap di Bandung, karena kejadian sore tadi di resto. Kepalanya terasa pusing, mungkin karena tadi sempat kehujanan di pelataran parkir dan juga sakit hati memikirkan kata-kata Faisal kakaknya. Hampir pukul 11 malam, dan Rey belum juga kembali.'Rey mungkin tidak kemari' pikirnya.Matanya yang sudah sembab kembali basah. Badannya tiba-tiba menggigil, ditariknya selimut, matanya terpaku pada gitar yang tergeletak di karpet. Terbayang sosok Rey yang sering mendentingkan lagu, meninabobokannya hari-hari kemarin. Hingga kesadarannya pun perlahan hilang.Rey masuk dengan kunci ganda yang dibawanya. Diliriknya jam sudah menun
“Ca...Ica...tunggu!” Rupanya Rey segera menyusul Ica hingga ke pelataran parkir resto yang saat itu mulai dilanda gerimis.“Ca!” Tangan Rey meraih lengan Ica. Gadis itu menghentikan langkahnya meski tak mau mengangkat wajahnya yang memanas. Rey mengerti hal itu dan hanya membukakan pintu mobil."Tunggu aku di mobil, ya!"Tanpa basa-basi, Ica hanya mengangguk menuruti kata-kata Rey dan masuk ke dalam mobil. Dilihatnya Rey meninggalkan dirinya dan masuk kembali ke dalam resto.Mata Ica kosong menatap jalanan di hadapannya. Pikirannya menerawang kembali pada peristiwa 4 tahun yang lalu.*Papa sudah tak bisa bekerja lagi. Kesehatannya tak memungkinkan akibat serangan stroke yang dideritanya. Mama yang mengelola salon kecil, hanya bisa membiayai kebutuhan sehari-hari dan kuliah kakaknya Faisal yang kala itu hampir lulus.“Mama nggak tau Ca, kamu bisa meneruskan sekolah sampai ke perguruan tinggi atau enggak? Mungkin, kalau Ical berhasil dapat pekerjaan yang bagus, dia bisa membantu kamu
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.