LOGINSetelah ayahnya terkena stroke, Ica terpaksa menikah dengan kawan sang kakak, Rey, sebelum dia pergi menempuh pendidikan S2-nya ke German, sebagai syarat keluarga itu mau membiayai pengobatan sang ayah, kuliah Ica dan membantu modal usaha sang kakak. Rupanya usul itu berasal dari Rey sendiri karena dia sudah lama menaruh hati pada Ica sejak lama.
View MoreSeorang pemuda melepas lumatan bibirnya dari gadis lugu di rengkuhannya yang menatap sendu.
“Besok aku harus pergi! Kamu baik-baik, ya!”
“Tapi aku gak mau sendirian. Aku maunya sama kamu.”
“Ssst, aku tahu.” Ditariknya gadis itu ke dalam pelukannya. Sekali lagi ia menciumi rambut hitam wangi gadis yang kini tengah sesenggukan di dadanya.
Sebuah keputusan berat harus mereka lewati setelah acara pesta yang berlangsung beberapa hari lalu. Keduanya baru saja dipersatukan dalam sebuah ikatan sakral dalam sebuah pernikahan yang sederhana. Namun kebersamaan mereka hanya singkat, karena esok hari mereka harus hidup saling berjauhan.
"Rey, kenapa kamu ngajak nikah, tapi terus aku ditinggal pergi?"
Reyhan, nama pemuda itu, hanya bisa merengkuh erat gadis itu. Ia tak bisa mengatakan alasan sebenarnya kenapa ia memutuskan menikahi kawan masa kecilnya itu.
"Ca, itu karena aku gak mau kamu diambil orang!" Tuturnya singkat.
Gadis bernama Ica itu mencubit dada Rey gemas. Ia memang menyukai Rey dari ia sejak kanak-kanak. Rey adalah anak dari kawan dekat mama papanya yang juga kawan main kakaknya semasa di komplek.
Ica masih tak percaya kalau Rey juga ternyata menyukainya dan pernikahan mereka menjadi bukti bahwa perasaan mereka laksana gayung bersambut.
Malam itu, mereka saling berpandangan lama di atas bantal di kamar hotel bintang empat di pusat kota Jakarta. Keduanya baru saja tiba sore tadi dari Bandung setelah menyelesaikan segala administrasi dan dokumen penting sebelum Reyhan berangkat esok hari untuk melanjutkan studinya ke luar negeri.
“Sebelum aku pergi, aku ingin menjadikan kamu milikku sepenuhnya, Ca!” Ujar lelaki itu sambil membelai pipi gadis di sampingnya pelan. Sang gadis hanya balas menatapnya sayu tanpa mengerti apa yang akan terjadi berikutnya.
Ia baru sadar maksud Rey, tatkala bibir lelaki itu kembali bermain di bibirnya dengan ritme yang lebih dalam dan intens. Tak hanya itu, dengan nafasnya yang menderu tangan Rey sudah merambah ke area tubuhnya yang tersembunyi, membuatnya meremang seketika.
"Rey! Arg!" Rasa asing itu membuat Ica kaget dan mulai meronta, namun juga tak mengelak. Apalagi Rey terus menghujani lehernya dengan ciuman basah yang membabi buta sambil mencengkeram kedua tangannya.
Ini kali pertama Ica tidur bersama seorang lelaki dan Rey sudah menyentuhnya seperti itu. Jangankan tidur bersama dan melakukan kontak fisik sedekat ini, berpacaran pun belum pernah ia lakukan sebelumnya.
'Ingat, Ca! Rey sudah jadi suami kamu, bukan teman main kamu lagi. Jadi jangan bertingkah seperti anak kecil!'
Begitu peringatan Faisal kemarin-kemarin sebelum ia berangkat ke Jakarta.
"Rey! Tunggu, kamu mau apa?" Ica menahan dada Rey yang mulai membuka kancing piyamanya.
"Aku mau kamu, Ca!" Ujar Rey serak dan tatapan seolah mendapatkan hewan buruan.
Entah kenapa, setelah memutuskan menikah dan kini berduaan dalam satu kamar bersama Ica, dadanya selalu berdesir hangat dan jantungnya berdetak kencang. Padahal selama ini gadis mungil bernama Ica itu adalah sosok yang selalu ia anggap adik kecilnya yang menggemaskan. Namun kini setelah merasakan manisnya bibir Ica usai prosesi akad, keinginannya untuk mencicipi tubuh polos gadis itu makin menjadi.
Ica hanya menelan ludahnya saat Rey terus melucuti bajunya menyisakan dua gunung miliknya yang hanya terbalut pakaian yang minim.
“Rey!” Ica mencoba menutupi tubuhnya, namun tenaganya tak sebanding tubuh kekar Rey dengan hasratnya yang tengah bergemuruh.
“Aaahg!” Pekik gadis itu meremas sprei karena menahan sakit tak terperi di bawah tubuhnya. Butir bening di ujung matanya yang sedari tadi menumpuk kini telah tumpah ruah. Ia tak menyangka jika malam pertamanya harus diwarnai rasa sakit dan juga rasa takut kehilangan di saat bersamaan.
“Maafin aku, Ca!” Ucap Rey sambil terus mengecup leher Ica yang menegang.
Meski tahu gadis itu kesakitan karena ulahnya, ia tak berniat berhenti menembus pertahanan gadis itu demi menjadi miliknya seutuhnya.
Ica hanya berbaring pasrah dan memandang sayu Rey yang terus melakukan gerakan-gerakan asing di atas tubuhnya hingga ia sendiri mulai merasakan kenyamanan dan kenikmatan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Tak berapa lama, mereka melenguh bersamaan hingga suara mereka memenuhi seluruh isi ruangan.
"Ca, aku cinta sama kamu!" Ucap Rey di sela nafasnya yang terengah sembari mengecup pelan kening Ica yang terbaring lemas di dadanya. Gadis itu hanya diam memeluk pinggang pria yang baru saja menyetubuhinya malam itu.
Suara derasnya shower membangunkan Ica dini harinya. Rey rupanya sudah bergegas merapikan semua perlengkapan dan kopernya. Mata Ica kembali berkaca-kaca.
Sepanjang perjalanan menuju bandara, Ica masih terlihat sesenggukan dalam pelukan Rey. Meski kini mereka telah dipersatukan dalam ikatan pernikahan, ternyata mereka juga tak bisa langsung bersatu. Dua tahun ke depan akan menjadi sebuah perjuangan bagi keduanya. Ica harus melepas kepergian Rey demi melanjutkan kuliahnya di German.
“Jaga diri baik-baik, ya, sayang! Tunggu aku pulang. Kita akan bersama nanti!” Ujar lelaki itu sembari mencium kening dan bibir gadis tercintanya sesaat sebelum ia memasuki embarkasi keberangkatan di bandara Soeta pagi itu.
Mata Ica menatap kosong di sepanjang perjalanan pulangnya menuju Bandung. Pikirannya menerawang kembali pada peristiwa beberapa bulan lalu.
Waktu itu, papanya sudah tak bisa bekerja lagi seperti biasa. Kesehatannya menurun drastis akibat stroke yang dideritanya. Bahkan mereka harus menjual rumah di kawasan komplek dan membeli rumah yang lebih kecil demi bisa membiayai pengobatan sang papa.
Namun ujian keluarga mereka tak berhenti sampai disitu. Usai pindahan sang papa dipanggil yang Maha Kuasa. Kehidupan keluarga Ica pun berubah 180 derajat. Mamanya yang mengelola salon kecil, hanya bisa membantu membiayai kebutuhan sehari-hari dan juga kuliah kakaknya Faisal yang hampir lulus.
“Mama nggak tau Ca, apa kamu bisa meneruskan sekolah sampai ke perguruan tinggi! Mungkin, kalau kalau kakak kamu Ical berhasil dapat pekerjaan yang bagus, dia bisa membantu kamu untuk bisa sekolah lagi!” Curahan hati mamanya satu hari setelah kelulusan SMA membuat Ica terpaksa mengurungkan niatnya untuk meminta biaya pendaftaran UMPTN yang seminggu lagi ditutup.
Gadis itu hanya bisa menangis di pojokan kamarnya yang kecil, tanpa bisa mengeluh pada siapa-siapa.
Biasanya Faisal akan menemaninya jika ia sedih. Tapi sejak papanya sakit dan Faisal mulai menjalankan usaha, waktu bersamanya berkurang. Mungkin karena bertambahnya tanggung jawab, hubungan kakak beradik itu pun mulai renggang. Faisal jarang pulang karena disibukkan dengan skripsinya.
Sosok Ica mulai menjalani kehidupannya dengan menyendiri di kamarnya, meski ia tak bisa menutupi kerinduannya pada sosok-sosok yang sebelumnya ia jadikan sandaran.
“Papa, kakak, apa yang harus kulakukan!” keluhnya seorang diri.
"Bunda!" Ica menyapa ibu mertuanya dengan wajah ceria di rooftop."Eh, sayang, kamu udah bangun. Sini-sini!" Sherly menyambut menantunya dengan senang hati. "Wah, indah banget suasananya! Di atas sini laut berasa luas banget, ya, Bun!" Seru Ica duduk dan langsung menikmati suasanana di sekeliling kapal yang merupakan lautan biru luas yang beriak tenang. "Untung saja, pas kita berangkat, laut tenang dan anginnya gak kencang. Jadi kapal juga gak terlalu goyang. Kamu gak mabuk laut, kan, Ca?" tanya Yoga mengingatkan. "Enggak, yah!" Ica menggeleng mantap sambil tersenyum. Rey yang ikut senang membelai rambut Ica yang diterpa angin. "Papa pikir kamu mabuk laut, soalnya langsung tidur pules banget." Timpal Sherly yang diiringi tawa Yoga dan juga Rey. "Tidurnya kayak batu, lho, Ma! Berat banget di bahu aku." Keluh Rey sengaja menyindir. "Dih, kamu!" Ica mencubit perut cowok itu gemas, namun ikut tertawa geli.Mau bagaimana lagi, aktivitas outdoor seharian kemarin dan waktu istirahatn
"3, 2, 1!" Rey menghitung mundur di luar toilet setelah menyodorkan baju ganti. "Reyhan, apa ini?" Teriakan Ica dari dalam toilet menggema seisi kamar. Rey hanya tertawa geli."Rey, ini gak bisa dipakai. Ayo, dong! Ambilin baju yang benar!" pinta Ica dari balik pintu. Ia merasa gaun yang muncul tiba-tiba itu memang ulah Rey, dan ia tak berani keluar dari toilet. "Udah, ayo coba keluar!""Ambilin bathrobe-nya dulu! Aku malu," rengek Ica."Ayo, keluar! Aku kan suami kamu. Masa gitu aja malu." Ujar Rey sambil sesekali tertawa geli. Beberapa menit berlalu, pintu toilet terbuka perlahan. Hanya saja, Ica masih berusaha menyembunyikan tubuhnya di balik pintu. Ia mengintip takut dari sisi pintu sebelum keluar. "Rey, tutup mata dulu!" Pekik Ica. "Iya, iya. Aku tutup mata, nih! Ayo, cepet keluar. Aku juga kan mau mandi." Rey pura-pura menutup matanya, meski ia masih bisa melihat sosok Ica yang ragu-ragu keluar dari toilet. "Rey, iiiih, kamu bohong!" Ica terkejut saat tiba-tiba Rey menarik
“Jadi kamu yang kasih tahu kakak, kalau Cindy ada di sini?" bisik Ica saat mengambil makanan prasmanan. Rey hanya terlihat menganggukkan kepalanya sambil memilih makanan di depannya."Kakak baru balik ke Batam. Itu pasti merepotkan."Rey hanya tertawa lalu mendorong tubuh Ica menuju konter minuman. “Ya, habis aku bingung. Kamu sepertinya terganggu banget sama cewek itu sampai nggak percaya sama aku. Padahal dia calon kakak ipar kamu, lho!" canda Rey, meski ia juga tak yakin dengan kata-katanya. Ica mengedikkan bahunya sambil memajukan bibirnya, seolah memberi arti bahwa dia tidak setuju dengan pendapat Rey. Rey kembali tertawa geli."Waktu aku bilang ke Faisal, dia juga kaget, lho! Kok, Cindy bisa bareng sama acara kita?”"Masa? Jadi, maksud kamu, dia sengaja ke mari?" tebak Ica sambil celingukan. Rey mengedikkan bahunya, enggan menjelaskan. "Mungkin. Tapi sudahlah! Mereka bukan urusan kita. Besok juga kita berangkat ke Bali." Terang Rey lalu memanggil seorang waiter."Mas, saya mi
"Ca, Ica, tunggu!" Rey berusaha mengejar Ica yang memilih pergi setelah turun dari Banana Boat. "Aku mau ke hotel.""Tunggu bareng, Ca!" panggil Rey lagi, menjajari langkah Ica yang semakin cepat. "Udah sana, kamu temani saja ayah bunda! Aku udah capek!""Ca, jangan seperti ini, dong! Masa gara-gara Cindy, kamu marah gak ada habisnya.""Terserah apa kata kamu. Aku cuma mau ke kamar."Dari arah pantai, sosok Cindy tampak masih melambai-lambaikan tangannya ke arah mereka berdua. Ica makin merasa muak dan langsung berlari meninggalkan Rey yang terus mengekorinya. Setelah mandi dan mengganti pakaiannya, Ica langsung menuju ranjang di mana Rey masih ada di kamar, memperhatikan gerak-geriknya dari sofa. "Kamu gak makan dulu?""Aku gak lapar. Aku capek!""Mau aku beliin makanan atau aku bawain aja makanannya ke kamar?""Gak usah. Udah sana, gak usah peduliin aku!""Jangan seperti ini, dong, Ca! Kita sedang bulan madu dan aku ingin kamu dan aku menikmati semuanya bersama." Ica hanya men
“Ca, bener nih, gak mau ikut ke kota?” Seru Anggi kencang dari pintu villa.Ica yang sejak tadi memperhatikan laut yang berarak sempat terhenyak. Tapi kemudian ia melambaikan tangannya.“Iya, aku agak papa. Aku lagi enjoy nieh! Titip minuman kesukaanku aja ya!” Teriaknya hampir tak terdengar, diliha
Flasback InPrang!! “Huuu…….huwaaaa……!” Suara gelas pecah diikuti erangan seorang gadis mungil membahana di ruang makan. “Udah, Ca! Jangan nangis lagi, sini biar Rey yang beresin kacanya!” Seorang anak remaja berjongkok memunguti pecahan gelas di lantai. Gadis mungil itu memandanginya sambil ses
Ica bersujud sambil memejamkan matanya yang masih sangat mengantuk lepas shalat shubuh. “Ca!”Rey menyentuh pundaknya pelan. Ica bangkit lalu mencium tangan Rey. “Sekalian dong, pipiku dan ini..!”Rey menunjuk bibirnya. Ica melotot tak percaya lalu mendorong cowok itu. “Dasar genit, nggak sopan,
Sejak pernikahan itu terjadi, Ica mencoba meyakinkan diri, bahwa semua itu demi kebaikan dirinya. Dan sebersit perasaan sukanya pada sosok Rey yang dulu pernah ia kesampingkan, menjadi sebuah kekuatan baginya untuk menerima kenyataan di depannya.Sepeninggal Rey, ia kembali harus menjalani hari-hari












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.