Share

Chapter 83

last update publish date: 2026-07-16 19:47:03

Pertanyaan yang kerap dilayangkan Valerie hanya terus dibalas dengan kata ‘nanti’ oleh Maverick. Pria itu tak memiliki pilihan lain. Perasaan gelisah yang sering kali datang, seolah terus meminta Maverick menghentikan niatnya untuk menikahi Valerie.

Selain itu, kegelisahan yang selalu hadir dalam sepinya malam sering kali membuat Maverick kesulitan untuk memejamkan mata.

Seperti malam ini, Maverick diam terduduk di tepi ranjang. Jarum jam sudah menunjukkan angka dua belas, tapi hingga kini mat
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 107

    Tiga hari kemarin Maverick menghabiskan waktunya di Zurich. Cukup banyak pengalaman dan hal baru yang dia dapatkan. Dan hari ini untuk dua hari ke depan, dia akan menghabiskan waktu di Basel. Dia datang ke sebuah kompleks bangunan modern. Dinding-inding kaca, baja dan beton membentuk garis-garis tegak yang tampak sederhana tapi memiliki karekter kuat. Bangunan unik berbentuk geometris.Di sana, Maverick mempelajari inovasi salah satunya bentuk bangunan. Selain itu Maverick juga mempelajari efisiensi yang dapat dia lihat dari hampir tidak ada lampu yang menyala karena pencahayaan alami dari skylight di langit-langit.Maverick tak sendirian, dia di sana bersama dengan Felix, seorang CEO perusahaan konstruksi yang sudah banyak membangun bangunan-bangunan unik dan mewah di Swiss.Ketiganya akhirnya tiba di atap gedung yang hampir dipenuhi dengan panel surya."Tidak salah aku datang ke sini. Terima kasih atas bantuanmu. Aku harap aku tidak merepotkanmu," ucap Maverick."Tentu saja tidak.

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 106

    Setelah lima tahun berlalu, persaingan pasar properti belakangan menjadi semakin ketat. Banyak perusahaan properti baru yang sudah berkembang pesat.Banyaknya karyawan muda di perusahaan tersebut membuat Ashbourne Holdings sedikit tertinggal karena sebagian besar desain dan konsep yang mereka miliki bisa dibilang kuno dan tidak kekinian.Beberapa minggu ini Maverick memutar otak untuk mengubah konsep mereka menjadi lebih unik namun tetap memiliki identitas sebagai Ashbourne Holdings. Berulang kali dia menulis konsep baru, kemudian menghapusnya lagi saat dirasa tidak sesuai. Terus seperti itu hingga dia berkunjung ke Atelier De Rosélia.Salah satu lukisan milik Rosélia berhasil mendatangkan ide pada Maverick. Sebuah lukisan bangunan klasik yang bersanding dengan panorama senja di sebuah padang rumput hijau."Mungkin aku harus bepergian agar bisa mendapatkan inspirasi lebih banyak," desisnya. "Bangunan klasik…" sambungnya. Matanya berbinar seolah dia mendapatkan ide. Pria itu bergegas

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 105

    “Elodie ganti bajunya ya. Mom akan siapkan makan siang,” ucap Rosélia begitu mereka tiba di rumah.Gadis kecil itu tak banyak membantah. Dia berjalan menuju kamarnya dengan tas kecil di gendongannya.Sesekali dia berbalik mengkhawatirkan sang ibu. Namun tak ingin membantah, Elodie memilih mengganti bajunya dulu sebelum nanti menghampiri Rosélia.Sementara itu, sepeninggalan Elodie, tubuh Rosélia luruh. Dia mendudukkan dirinya di kursi yang terletak di depan jendela. Rasanya dia tak sanggup berjalan lebih jauh. Tangannya meraih pitcher kaca dan menuangkan air ke dalam gelas yang ada di atas meja di hadapannya.Tangannya begitu gemetar saat melakukannya. Ingatannya kembali ke masa lalu. Dia pernah merasakannya. Kekerasan yang bukan hanya secara verbal tapi juga fisik.“Maverick,” desisnya.Nama yang sudah lama tidak dia panggil, sudah lama tidak keluar dari mulutnta dan nama yang berhasil menghancurkan hidupnya dengan sempurna, akhirnya detik ini dia kembali mengucapkannya setelah meli

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 104

    “Siapa Ayah Elodie, Mom?” Pertanyaan itu terus saja terngiang dalam ingatannya. Saat itu, Rosélia sama sekali tak bisa menjawab, dia hanya diam seribu bahasa.Beruntung, Cordelia cepat mengalihkan perhatian anak itu dan mengajaknya untuk segera pergi ke sekolah.“Jangan terlalu di pikirkan. Dia juga akan lupa nanti,” ucap Bastian. Dia tahu jika Rosélia tak fokus karena pertanyaan anaknya beberapa jam lalu.Saat ini, Rosélia tengah duduk menghadap kanvas dan pemandangan pegunungan di balik jendela. Indah, namun keindahan itu sempat teralihkan sesaat oleh pikirannya Rosélia tersadar oleh ucapan Bastian. Lantas dia tersenyum simpul dan mengangguk sebagai balasan.“Mau jalan-jalan hari ini? Mumpung aku libur?” ajak Bastian.“Boleh, mau ke mana?” Rosélia sangat beruntung. Bastian selalu ada di sisinya sejak dulu. Tak pernah pergi meski beberapa kali Rosélia menolak ajakannya untuk menjalin kasih.“Kita cari galeri yang belum pernah kita kunjungi,” jawab Bastian. Dan Bastian selalu tahu

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 103

    Beberapa bulan terakhir, perasaan Rosélia terasa begitu tak enak. Hubungannya yang baru seumur jagung dengan Bastian entah mengapa membuat Rosélia merasa begitu bersalah pada pria itu.Sekitar empat bulan lalu, akhirnya Rosélia mengiyakan ajakan Bastian untuk menjalin kasih, setelah permintaan itu datang dari Bastian bertahun-tahun lamanya. Saat itu Bastian bahagia bukan main karena akhirnya Rosélia bisa menjadi miliknya. Belum seutuhnya, tapi setidaknya mereka sudah satu langkah lebih maju dari sebelumnya.Rosélia berusaha, berusaha memberikan hatinya seutuhnya hanya untuk Bastian.Setelah lamunan singkat dibersamai dengan suasana sejuk di pagi hari, Rosélia kembali fokus pada kegiatannya. Dia kembali menyiapkan sarapan untuk Bastian dan Elodie."Selamat pagi," sapa Bastian. Seperti biasa, pria itu sudah mandi. Namun kali ini dia tidak mengenakan snelly dan pakaian kerjanya. Dia hanya berpakaian santai."Pagi," jawab Rosélia menoleh sejenak sebelum kemudian dia kembali pada sarapanny

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 102

    Lima tahun kemudian…Interlaken menyambut dengan ketenangan yang terasa asing bagi siapapun yang terbiasa hidup dalam hiruk-pikuk kota. Hamparan padang rumput hijau membentang disela bangunan yang didominasi oleh kayu berwarna coklat. Di kejauhan, puncak Jungfrau yang diselimuti salju berdiri anggun.Sungai dengan air sebening kristal. Permukaannya memantulkan langit Swiss yang bersih tanpa cela. Denting lonceng yang berpadu dengan suara kereta yang melintas seolah lagu yang berbisik syahdu di telinga.Orang-orang berjalan santai, beberapa menggayuh sepeda dan sebagian duduk di kafe atau di teras rumah ditemani dengan secangkir kopi hangat.Seperti seorang wanita yang tersenyum manis dengan secangkir kopi di tangannya, sementara itu tatapan hangatnya begitu fokus pada seorang gadis kecil dengan rambut terurai. Gadis kecil itu berlarian mengejar seekor kupu-kupu di halaman rumah. Di bagian sudut kanan rumah terdapat pohon cukup besar dilengkapi dengan ayunan tempat lain gadis itu berm

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 06

    Mbok Rumi benar-benar menyiapkan semuanya di kamar ini. Semua keperluannya ada, hanya beberapa barang miliknya saja yang harus Rosélia bawa ke sana. Ditariknya selimut sampai sebatas dada. Tubuhnya terlentang, matanya menatap lurus ke arah langit-langit kamar dengan pencahayaan samar. Baru saja he

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 05

    Tangis Rosélia pecah, telinganya berdengung, dadanya sesak sampai dia memukul-mukulnya berharap sesak itu hilang meski hanya sesaat. Semua mata tertuju padanya. Melihatnya dengan tatapan jijik, kecewa yang menuh amarah. Perlahan, raungan terdengar semakin keras. Bersamaan dengan itu, Viviane berjal

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 04

    Tangis Rosélia pecah, telinganya berdengung, dadanya sesak sampai dia memukul-mukulnya berharap sesak itu hilang meski hanya sesaat. Semua mata tertuju padanya. Melihatnya dengan tatapan jijik, kecewa yang menuh amarah. Perlahan, raungan terdengar semakin keras. Bersamaan dengan itu, Viviane berjal

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 03

    Venue yang Rosélia dekor selama kurang lebih satu bulan lamanya ditambah dengan berbagai drama menjelang hari-H, nyatanya hanya dipakai untuk beberapa jam saja. Kini, ruangan megah nan mewah itu sudah mulai kembali sepi. Para tamu undangan, kolega bisnis, petinggi perusahaan dan juga para pimpinan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status