Chapter: BAB 23 : Malam pertamaBegitu pintu rumah terbuka, Bella langsung mengintip ke dalam. Suasana rumah tampak gelap dan sunyi. Ia melepas sepatu dengan hati-hati, lalu masuk sambil berharap Arvin sudah beristirahat di kamar.Baru beberapa langkah, lampu ruang tengah mendadak menyala.Bella tersentak.Arvin berdiri di dekat tangga dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Tatapannya lurus tertuju pada Bella.Jantung Bella seketika berdegup kencang.Dia beneran marah nggak ya? batin Bella cemas.Tanpa banyak bicara, pria itu mengambil tas dari tangannya, meletakkannya di sofa, lalu menggenggam pergelangan tangannya.“Mas..”Namun, Arvin tetap diam dan terus membawanya menuju kamarnya.Begitu masuk, pintu langsung dikunci dari dalam.Klik!Bella menoleh cepat. “Mas, kenapa dikunci?”Arvin tidak menjawab. Ia justru mendekat hingga Bella mundur beberapa langkah. Gerakannya membuat Bella kehilangan keseimbangan dan jatuh terduduk di atas kasur.Sebelum sempat bangkit, Arvin sudah menahan kedua tangannya di atas ba
Última actualización: 2026-11-04
Chapter: BAB 22 : Apa dia tidak cemburu?Hari sidang tiba..Bella meletakkan barang-barangnya di meja yang telah disediakan, lalu memeriksa kembali laptopnya. Ia berusaha menenangkan diri meski telapak tangannya mulai berkeringat.Tak lama kemudian, satu per satu dosen memasuki ruangan. Bella segera berdiri dan menyambut mereka dengan sopan.Pak Hendra dan Bu Ratna datang lebih dulu sebagai dosen penguji. Beberapa saat kemudian, Arvin muncul dari balik pintu.Bella sempat tertegun. Wajahnya datar seperti biasa, tanpa sedikit pun menunjukkan status mereka. Tatapan mereka sempat bertemu.Bella berusaha tersenyum tipis, tetapi Arvin hanya mengangguk singkat sebelum mengambil tempat sebagai dosen pembimbing.Setidaknya senyum bisa nggak sih!Setelah semua dosen mengambil tempat, Arvin membuka berkas proposal di hadapannya."Baik, kita mulai seminar proposal Saudari Arabella Salsabila. Silakan lakukan presentasi," ujarnya dengan nada formal.Bella berdiri di depan layar proyektor. Sebelum berbicara, matanya sempat kembali mencari
Última actualización: 2026-11-04
Chapter: BAB 21 : Persiapan SEMPROBella mendengus kesal sebelum akhirnya keluar dari kamar. Begitu pintu tertutup, ia langsung mengembuskan napas panjang.Wajahnya masih terasa panas. Ia bergegas menuju dapur dan mengambil segelas air dingin untuk menenangkan diri.Bi Yanti yang sedang merapikan bahan makanan langsung menoleh. "Lho, kenapa muka Mbak Bella merah sekali?"Bella hampir tersedak saat meneguk airnya."Kepanasan, Bi. Cuacanya panas banget."Bi Yanti meliriknya heran. "Padahal AC di dalam rumah dingin."Bella terdiam. Ia buru-buru menghabiskan airnya.Mana mungkin aku bilang baru saja melihat pemandangan yang sangat indah di kamar suamiku sendiri?"Mbak Bella tidak enak badan?" tanya Bi Yanti lagi."Enggak, Bi. Saya baik-baik saja."Belum sempat Bi Yanti bertanya lebih jauh, langkah kaki terdengar dari arah lorong. Bella spontan menoleh.Arvin muncul dengan kemeja hitam dan celana panjang senada. Rambutnya sudah tertata rapi, membuat penampilannya kembali seperti dosen dingin yang biasa ditemui Bella di kamp
Última actualización: 2026-11-03
Chapter: BAB 20 :Jangan Geer, Mas Dosen!Arkana berdiri di hadapan ibunya dengan wajah serius. Tas ranselnya bahkan belum sempat ia letakkan sejak pulang."Mama sengaja mengundang Bella?"Bu Dian meletakkan cangkir tehnya. "Mama hanya ingin makan siang bersama menantu mamaa. Apa salahnya?"“Terus kenapa ada Tante Luna? Mam tau kan, kalo Tante Luna tidak menyukai Mas Arvin.""Jangan ikut campur, Arkana!" tegur Luna."Aku tidak akan tinggal diam kalau Mama atau Tante mencoba menyakiti Bella lagi."Arkana meraih tas ranselnya. Sebelum beranjak, ia kembali menegaskan bahwa Bella tidak boleh dijadikan alat untuk membalas dendam kepada Arvin. Perempuan itu tidak ada hubungannya dengan perkara Dicky dan tidak pantas menerima perlakuan seperti tadi.Namun, langkahnya terhenti ketika Luna melontarkan pertanyaan yang membuat Bu Dian ikut menoleh."Jangan-jangan kamu menyukai perempuan itu?"Arkana terdiam sesaat. Senyum tipis muncul di bibirnya sebelum ia menjawab santai, "Memangnya kenapa kalau iya?""Kamu sudah tidak waras? Dia mas
Última actualización: 2026-11-03
Chapter: BAB 19 : Undangan Bu DianPonsel Bella bergetar saat ia sedang mengoleskan selai ke atas roti. Nama yang muncul di layar membuat tangannya berhenti sejenak.Bu Dian."Halo, Ma?""Bella, Sayang!" Suara Bu Dian terdengar begitu ramah, jauh berbeda dari nada tajam yang biasa Bella dengar."Mama masak banyak hari ini. Datang makan siang ke rumah utama, ya? Kita belum pernah ngobrol santai."Bella melirik Bi Yanti yang mendadak sibuk mengelap meja."Eh ... iya, Ma. Nanti Bella usahakan.""Jangan cuma diusahakan. Mama tunggu jam dua belas, ya."Belum sempat Bella menjawab, sambungan sudah terputus.Ia menatap layar ponselnya beberapa saat. Aneh. Mertua yang dulu terang-terangan menganggapnya anak manja tiba-tiba mengundangnya makan siang. Pasti ada sesuatu di balik keramahan itu. Bella segera mengirim pesan kepada suaminya.[Mas, Mama Dian mengundang aku makan siang di rumah utama. Boleh?]Balasan Arvin masuk tak sampai semenit.[Boleh. Kabari saya kalau sudah sampai dan kalau mau pulang. Ardi yang antar.]###### B
Última actualización: 2026-11-02
Chapter: BAB 18 : Musuh Arvin mulai beraksiMalam yang sama, Luna duduk termenung di depan meja rias dengan mata sembap. Dicky telah mendekam di balik jeruji besi akibat ulah Arvin, sementara harta dan jabatan keluarga mereka ikut hancur.Luna tidak bisa tinggal diam. Ia harus membuat Arvin membayar semuanya.Ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Bu Dian masuk, seolah memberikan dukungan atas rencana yang mulai disusunnya. Luna tahu, menyerang Arvin secara langsung sama saja mencari masalah. Ia membutuhkan bantuan pihak luar yang bisa menyelesaikan semuanya tanpa meninggalkan jejak.Tanpa membuang waktu, Luna menghubungi sepupu jauhnya di luar kota, seorang pimpinan kelompok eksekutor bayaran yang terkenal kejam."Halo, Luna? Ada apa menelepon selarut ini?" Suara berat terdengar dari seberang."Aku butuh bantuanmu, Kak. Ada seseorang yang harus disingkirkan untuk selamanya.""Siapa targetnya?""Arvin Narendra. Wakil Direktur Utama Narendra Group."Pria itu terdiam sesaat. "Arvin Narendra? Itu target besar. Biayanya tentu tida
Última actualización: 2026-11-01