LOGINAku adalah selingkuhan. Tepat setelah dua bulan pertunangan kami, aku baru tau kalau Mas Arga punya anak dan istri di Jakarta. --- Adelia, gadis desa berusia dua puluh satu tahun itu tak menyangka kalau selama ini dia adalah selingkuhan. Arga, tunangannya itu sudah memiliki istri dan anak di Jakarta. Sebuah kecelakaan menimpa Lia, dan mengharuskannya dirawat di rumah sakit, tapi justru dari sana dia mengetahui statusnya yang selama ini disembunyikan sang nenek. Pertemuannya dengan Elang Franco, perlahan mulai meruntuhkan sisi dingin laki-laki itu. Akankah Lia bisa membuat Elang, calon pewaris keluarga Franco itu akan jatuh cinta?
View MoreDua bulan berlalu sejak hari pertunangan kami. Pikiranku masih diisi bayangan kedatangan calon suamiku, tapi kenyataan berbanding terbalik. Mas Arga tak pernah pulang dari Jakarta barang sebentar untuk menengok keadaanku.
Sibuk, katanya. Pesanku hanya dibalas singkat. Bahkan, pernah satu minggu dia sama sekali tak membalas pesanku yang hanya berisi kata-kata penyemangat kerja.
Hingga hari ini, aku memutuskan menyusulnya ke kota orang. Kota yang katanya lebih kejam daripada ibu tiri: Jakarta.
"Lia, Uti mau bawain bekal untuk di jalan. Masih muat apa ndak tasmu?" tanya Mbah Utiku.
Mbah Uti, orang tua sekaligus satu-satunya keluarga yang aku punya. Aku anak yatim piatu yang tinggal di desa, sekolah hanya sampai SMA. Sehari-harinya aku membantu Uti membuka warung makan di dekat kebun perusahaan, dan Mas Arga adalah salah satu pekerja di sana.
Perkenalan kami singkat. Tahu-tahu Mas Arga datang dan memintaku menjadi istrinya tanpa kami berpacaran. Uti tampak senang cucunya akan dipinang orang baik.
"Penuh sama baju Lia, Ti. Sama... ini bawakan oleh-oleh buat Mas Arga," ucapku malu-malu.
Uti hanya tersenyum, lalu masuk ke kamar untuk mengambil sesuatu.
Tas besarku sudah siap di depan pintu. Secarik kertas bertuliskan alamat Mas Arga yang pernah ditinggalkannya sebelum berangkat ke Jakarta terakhir kali, jadi satu-satunya petunjuk yang bisa aku telusuri.
Becak Pakde Yanto tak lama datang. Wajah yang sudah mulai layu termakan usia itu masih tersenyum cerah saat mengayuh becak tuanya.
"Mau ngopi dulu apa ndak, Pakde?" tanyaku.
"Ndak usah. Perutku kembung. Kamu cuma ketemu sama Arga to, Nduk?"
"Nggih, Pakde. Lia cuma sehari di sana, langsung pulang lagi."
Ada perasaan lega yang tersirat di wajah Pakde Yanto, tapi aku tak mau ambil pusing. Mungkin dia tak tega melihat Utiku ditinggal lama-lama cucunya.
"Barangnya Lia sudah dinaikin ke becak, To?" tanya Uti pada Pakde Yanto. Dua manusia yang sudah sama-sama tua itu lantas berbincang sebentar.
"Lia, ini. Buat pegangan di jalan. Hati-hati sama tasmu," pesan Uti seraya memberiku uang sangu.
Setelah berpamitan, entah kenapa aku benar-benar sedih dibuat Uti. Wanita tua yang sudah seperti ibu bagiku itu melambaikan tangan terus sampai becak yang aku tumpangi hilang dari pandangannya.
Satu jam lagi aku akan sampai di Jakarta, dan satu yang aku sesalkan, Mas Arga belum juga membalas pesan yang aku kirim. Akhirnya, aku tiba di Jakarta.
["Mas Arga, aku sudah sampai di Jakarta. Apa bisa jemput aku di stasiun?"]
Tak ada balasan. Seperti pesan-pesanku yang lain.
Tiba-tiba saja perasaanku mulai berubah tak enak. Setelah menginjak tanah Jakarta, entah mengapa aku jadi takut.
Selepas keluar dari stasiun, aku berjalan sambil menenteng tas lusuhku. Beberapa kendaraan umum menawarkan tumpangan, tapi aku menolak. Suara klakson mobil berkali-kali mengejutkanku. Cacian, bahkan umpatan orang-orang bermata sangar, benar-benar membuat aku gemetar.
"Maaf! Maaf!" Kata-kata itu terus keluar dari mulutku, sampai tanganku tiba-tiba diraih seseorang. Ia menarikku minggir ke tepian trotoar dengan kasar.
"Maaf-maaf! Lanjut, Pak!" bentak seorang pemuda yang kelihatan seusia denganku. Dia memakai tas selempang berwarna putih, kemeja, dan celana jeans, serta mengalungkan headset di lehernya. "Lo kalau mau nyebrang liat lampu merah dong. Emang mau mati konyol?!"
"Sepurane, Mas. Saya ndak tau. Maaf," ucapku gelagapan, jantungku berdegup kencang.
Pemuda itu menghela napas, nada bicaranya melunak sedikit meski wajahnya masih datar. "Ya udah, gak apa-apa. Gue duluan ya! Fokus!"
Aku mengangguk sambil memegangi tasku erat. Tiba-tiba aku sadar, kenapa aku tak bertanya soal rumah Mas Arga pada orang ini? Dia kelihatan tahu jalan.
"Mas! Mas! Tunggu!" seruku sambil mengejarnya.
"Kenapa?"
"Saya mau tanya alamat ini. Apa Mas tau?"
Ia meraih kertas yang aku pegang, lalu alisnya mengernyit seketika.
"Tau. Lo mau ke sini?" tanyanya. "Emang alamat siapa?"
"Tunangan saya," sahutku.
"Calon suami? Kenapa gak suruh jemput aja?" nadanya meragukan.
Aku hanya mendengarkan laki-laki itu mengoceh, tapi dia justru yang membantuku menunjuk arah. Entah mengapa hatiku rasanya tenang.
"Ini jalannya. Kalau nomor rumahnya gue gak tau, tapi biasanya kontrakan di ujung jalan," jelasnya.
"Wah, terima kasih banyak, Mas."
"Gak usah. Gue duluan ya, masih mau ke kampus. Oh ya, undang gue kalau nikahan. Bye!"
"Terima kasih banyak, Mas!" seruku senang. Tapi tiba-tiba senyumku jadi datar. "Ngundang piye? Nama, alamat sama nomornya aja ndak dikasih."
Semangatku naik karena akan bertemu Mas Arga sebentar lagi. Karena orang baik tadi, aku jadi mengubah pandangan kalau tidak semua orang kota itu judes dan jahat.
Sama seperti orang kedua yang aku tanyai alamat Mas Arga. Dia ibu-ibu yang habis berbelanja di toko kelontong.
"Ini sih kontrakannya Haji Samin," ucap si ibu. "Neng cari siapa?"
"Arga namanya, Bu. Calon suami saya."
"Biasanya yang tinggal di sini pada berkeluarga. Gak tau ada yang bujang apa enggak. Ayo saya anterin."
Berkeluarga? Mendengar kalimat itu, tiba-tiba perasaanku tak enak.
Tak butuh waktu lama untuk sampai ke alamat itu. Ibu-ibu tadi yang namanya Bu Kemala menunjuk kontrakan yang berjejer. Dia memintaku memilih kontrakan mana yang ditempati calon suamiku itu. Tentu saja aku menggeleng tak tahu.
Bu Kemala mengetuk salah satu pintu dan bertanya pada tetangga sebelah.
"Arga? Yang suaminya si Dewi, bukan? Dia udah pindah setahun lalu. Katanya Arga dipindah kerja ke Jawa Tengah, terus anak istrinya dibawa ke rumah mertua."
Bu Kemala menoleh padaku. "Kata si Neng ini Arga itu calon suaminya."
Tetangga itu tertawa meremehkan. "Ah, gila tuh orang. Orang waktu tinggal di sini aja sering ribut sama bininya karena selingkuh. Mbak ini pasti mau dijadiin istri kedua, apa ketiga, keempat. Miskin aja sok punya istri banyak."
Aku masih tak percaya dengan apa yang aku dengar. Otakku membeku. Dunia serasa berputar. Satu-satunya cara untuk meyakinkan diri adalah menunjukkan foto Mas Arga di ponselku dengan tangan gemetar.
"Nah iya ini orangnya! Arga, suaminya si Dewi! Anaknya udah ada dua!"
Duniaku runtuh.
Tepat setelah kalimat itu muncul, pesan baru masuk ke ponselku. Itu dari Mas Arga. Bukan permintaan maaf, bukan penjelasan.
["Kamu di Jakarta?! Gila kamu! Sama siapa?! Sekarang di mana?!"]
*** "Ahahaha! Seru ya, Papi. Kita jadi ada Kakak Lia lagi. Apa kita langsung pulang ke rumah ya, Papi? Enggak main sama Kakak?" tanya Adel, bocah kecil itu duduknya saja memepet ke arah Lia. Dia benar-benar fans Lia garis keras. Katanya kalau sudah besar, mau secantik Kakak Lia yang punya rambut panjang. Padahal Lia sendiri saja minder karena dia tidak seperti gadis kota yang berpenampilan menarik. "Iya, Lang? Kamu masih sibuk hari ini?" tanya Anita. "Enggak sih, Ma. Semua kerjaan bisa dihandle Ari," jelas Elang. "Bagus kalau gitu," sahut Anita. "Rud, gimana kalau kita pergi belanja? Boleh aku bawa Lia pergi belanja?" Rudi jelas setuju, hitung-hitung supaya putrinya itu tau kota Jakarta. Karena sebentar lagi dia akan resmi jadi penduduk tetap. "Belanja, Tante?" tanya Lia. "Uangku dari Uti kalo dibelanjain di Jakarta dapet apa, ya?" batinnya, yang malah memikirkan uang. "Tapi sepertinya aku gak bisa ikut, Kak. Harus ada yang aku selesaikan," jawab Rudi. "Kamu nan
***Makan siang bersama antara keluarga Franco dan Hartono membuat Adel sangat senang. Kali ini dia mau duduk antara Papi Elang dan Kakak Lia. Katanya itu dua orang favoritnya sekarang. "Kakak suka ikan, ya? Adel sukanya ayam," ucap Adel seraya makan ayam goreng yang sudah dipisah-pisah Elang. Mulutnya sekarang penuh dengan nasi. "Suka buanget. Ikan itu nanyak gizinya. Adel ndak ma'em ikan?" tanya Lia. "Ahaha. Kakak lucu deh bicaranya. Buanget, sama ma'em," kekeh bocah yang sekarang duduk sambil menyenderkan tubuh di kursi. Celotehannya jadi hiburan makan siang para orang dewasa hari ini. "Hahaha. Lucu, ya? Dah biasa ngomongnya begitu, nanti tak belajar ngomongnya kayak orang Jakarta ya. Adel mau ngajarin, ndak?" tanya Lia. "Mau. Adel bisa kok, Kakak. Itu ikannya enak, ya?" "Mau coba, ndak?" tanya Lia. "Biar nanti Adel saya pesankan yang lain, kamu makan aja," timpal Elang yang sejak tadi itu hanya diam saja mendengarkan obrolan dua manusia yang m
"Kamu jangan sok mahal gitu dong, Cia. Nanti malam pergi sama aku bisa?" tanya Aksa, laki-laki yang getol sekali mendekati Cia, karena gadis itu anak orang terpandang. "Terimakasih banyak atas tawarannya ya, Buaya Buntung. Alicia malam ini mau pergi sama Papanya." Terang saja Aksa yang kaget dengan kedatangan Aldo, langsung mengalihkan pandangannya dari Cia. Wajahnya kelihatan muak. "Hai," sapa Aldo. Senyum tengil khas putra bungsu keluarga Franco itu muncul lagi. "Lo lagi!" sentak Aksa. "Ya emang gue lagi. Lo berharap siapa yang dateng? Malaikat? Hiii! Serem! Takutnya Lo digeret ke neraka, karena tampang Lo kayak setan. Minggat dari meja ini!" "Gue masih sabar sama Lo, ya!" sentak Aksa, sampai bangkit dari kursinya dan menatap tajam ke arah adik Elang Franco itu, tapi respon Aldo justru sangat santai. Mata pemuda itu memutar, pertanda dia menganggap remeh lawan di depannya. "Kak Aldo. Jangan," ucap Cia. "Jangan apa? Maksudnya jangan nonjok dia, Cia? Begini?"
*** "Omaa!" seru seorang bocah yang baru saja keluar dari sekolah, diantar wali kelasnya. Adelia Franco, memang tak pernah gagal membuat sekitarnya ikut tertawa melihat tingkah gemas bocah satu itu. "Halo, Bu Anita. Adel hari ini pintar sekali membuat gambarnya. Katanya mau diberikan ke Kakak Lia," ucap Miss Dian, wali kelas Adel di taman kanak-kanak. "Ahaha. Oh ya, Adel? Mau dikasih kek Kakak Lia?" sahut Anita, wanita dengan tas mahalnya itu langsung mendapat pelukan dari sang cucu. "Adel malu," kekehnya. "Makasi ya, Miss Dian. Sampai jumpa besok," ucap Anita mewakili cucunya. "Salim dulu sama Miss, Sayang." "Dadah, Miss," ucap Adel. "Dah, Adel!" Sepasang nenek dan cucu itu lalu berjalan bersama sambil melempar senyum satu sama lain, Adelia rupanya sudah tak sabar ingin pulang dan menunjukkan gambar miliknya ke Papi Elang dan Kakak Lia nya. "Oma, ayo kita ketemu Papi Elang, Oma. Papi Elang sudah di rumah sama Kakak?" tanya Adel, sambil la






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews