تسجيل الدخولSemua berawal karena di jual dan dipaksa menjadi Istri dari pria dingin tak tersentuh, hidup Liona begitu dibuat menyedihkan, hanya karena Tantenya terlilit hutang, Liona di jual pada Ganendra-seorang pewaris lumpuh yang enggan menikah karena trauma ditinggal oleh mendiang Istrinya. Liona, bagai Istri diatas kertas tanpa harga diri, Ganendra tak sedikitpun menatapnya selayaknya pasangan hidup, namun ibaratkan musuh yang ia benci. Perlakuan Ganendra amat kejam pada Liona, Ganendra menyiksa Liona dengan sikap angkuh juga dinginnya, ingin rasanya menyerah namun Liona di hadapkan dengan pilihan sulit, ia terikat dengan perjanjian pra nikah karena terpaksa. Disisi lain, ada seorang pria yang mengagumi Liona sejak lama, ia mampu mempertaruhkan segalanya demi mendapatkan Liona. Bagaimana kisah Liona? Baca hingga tuntas!
عرض المزيد“Mahar 500 juta untuk keponakanku!" suara wanita berambut merah itu terdengar begitu lantang menyebutkan angka fantastis.
“500 juta? apa kau yakin?," tanya lawan bicara wanita berambut merah tersebut memastikan diiringi dengan mata yang menatap serius. “Ya, apa kau keberatan?" “Tentu saja tidak, asalkan dengan satu syarat, dia masih suci!" Imelda-wanita berambut merah tersebut tertawa menyeringai. “Aku jamin 1000% bahwa keponakanku masih suci!" kemudian, Imelda melempar sebuah foto gadis muda tepat ke atas meja restaurant itu, gadis manis yang memiliki wajah begitu cantik dengan kulit putih bersih. Gadis yang mampu memikat mata siapapun yang melihatnya, termasuk Oskar-Pria setengah paruh baya yang sedang mencari gadis bersegel yang akan dipinang oleh anak Tuan majikannya. Ya, Oskar adalah seorang asisten orang terkaya dan terpandang di Kota J.K. Sebulan lalu, Tuan majikannya memintanya untuk mencarikan gadis untuk putra pewarisnya yang tidak pernah ingin menikah setelah sebelumnya ditinggal mati oleh mendiang Istri tercintanya. “Bagaimana? Dia begitu cantik bukan?," tanya Imelda sesaat melihat ekspresi wajah Oskar yang tampak menatap tanpa berkedip. "Bisakah kau bawa gadis itu besok? aku ingin melihatnya secara langsung” Oskar menarik foto yang tergeletak lalu memasukannya ke dalam saku jas. kepala Imelda pun mengangguk mantap, raut wajahnya berbinar, Imelda yakin bahwa Oskar berminat membeli keponakannya. Ya, katakan saja begitu, ini bukanlah sebuah pinangan biasa, namun terkesan bagai transaksi, hanya karena himpitan ekonomi, Imelda suka rela menikahkan keponakannya dengan pria asing yang tidak dikenal sebelumnya. “Tapi tunggu, tuan. Apa setelah aku mempertemukanmu dengan keponakanku, kau tidak akan ingkar janji pada kesepakatan kita?" sekali lagi Imelda memastikan, ia tidak bodoh, tentu saja ia tidak mau Oskar menipunya, bagaimana jika Oskar berbohong? "Apa kau melihatku sebagai manusia pendusta?” tubuh Oskar condong ke depan membuat nyali Imelda menciut, namun meski begitu Imelda tetap tak gentar menatap Oskar, ia berani karena Oskar adalah ladang pundi-pundi uang untuk dirinya. Melihat Oskar bagai melihat gepokan dolar berjalan. "Uang 500 juta bukanlah sesuatu yang besar bagi Tuanku, nyawamu saja bisa dia beli!," lanjut Oskar lagi. alhasil Imelda tersenyum lebar, setelah kesepakatan tadi dan dirasa pertemuan selesai, Imelda maupun Oskar pergi dari restaurant tempat bertransaksi itu. Dengan menaiki mobil taksi online, Imelda sampai dirumah, langkahnya begitu ringan masuk ke dalam rumah sederhana tempat ia tinggal bersama 2 putri dan 1 keponakannya. “Mama dari mana saja sih, ma? Jam segini baru pulang!” "Iya nih, mama nggak tahu apa, perut kita lapar!” Baru saja datang, omelan 2 putri Imelda terdengar berisik, mereka tentu saja sudah menunggu Imelda sejak sore. Sontak saja Imelda menghembuskan nafas kasar, ia letakkan bungkusan ke atas meja. Bola mata Nanda dan Nadin 2 putri Imelda membulat sempurna. Tangannya membuka bungkusan di depannya. "Apa ini–” "Makan itu dan jangan banyak bicara! Mama cape, mau istirahat!" sela Imelda yang kini berlalu pergi menuju kamarnya. "Oh ya, dimana Liona? apa dia sudah pulang?" sebelum merapatkan pintu kamar, Imelda bertanya pada putrinya. "Si kutu buku itu? sudah, dia ada di kamar!" beritahu Nanda. "Suruh dia buatkan Mama teh!" setelah mengatakan itu, pintu kamar Imelda tertutup sempurna, ia segera menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur. Helaan nafas lega terdengar dari mulut Imelda, bukan karena sesak tapi ia merasa beban hidupnya terangkat setelah bertemu Oskar. “Sebentar lagi, aku bisa hidup enak!" monolognya sembari tersenyum penuh arti, menatap foto keluarga di dinding kamar. Manik hitam Imelda tertuju pada gadis muda yang berdiri di sebelah 2 putrinya. Dulu, kehadiran gadis itu bagai sebuah musibah baginya, disaat hidupnya pas-pasan mendiang kakaknya malah menitipkan anak kecil buah hatinya pada Imelda sedang Imelda sendiri hidup menjanda tanpa suami, hal itulah yang membuat Imelda kesal pada mendiang sang kakak karena telah menambah beban hidup dengan menitipkan keponakannya itu. Namun sekarang, semua seolah terbalik, Imelda begitu beruntung karena sebentar lagi ia akan mendapatkan ke untungan. "Liona sayang, kamu harus balas Budi atas apa yang sudah aku berikan selama belasan tahun merawatmu!" ucap Imelda menyeringai. "Hasilkan uang ratusan juta untukku, atau bila perlu miliaran!" sambungnya lagi tertawa terbahak-bahak. Rasa bahagia dalam dadanya tidak bisa di ungkapkan, Imelda terus tertawa dengan otak yang berpikir perihal uang yang akan ia dapatkan. Dan, tawa tersebut terhenti ketika ia mendengar suara ketukan pintu. "Permisi Tante, ini teh nya!," ucap pelan seseorang yang masuk seraya membawa nampan berisi secangkir teh, Gadis yang memakai setelan piyama motif salur tersebut kemudian meletakkan teh pesanan Tantenya diatas meja nakas. Dia adalah-Liona, keponakan Imelda. "Apa ada lagi Tan?" Tanya Liona, ia berdiri tak jauh dari tempat tantenya. "Tidak ada," sahut Imelda. Kepala Liona mengangguk pelan, ia hendak berbalik namun urung saat mendengar Imelda kembali bersuara. "Liona, besok pagi kamu harus ikut Tante!" Alis Liona berkerut, ia heran pada ajakan tersebut. Oleh sebab itu Liona memberanikan diri bertanya. "Kemana tan?" "Menemui seseorang, bersiaplah besok pagi!" imbuhnya. Liona semakin dibuat bertanya-tanya, mulutnya ingin menyahuti lagi tapi Imelda sudah menyela lebih dulu. "Jangan banyak tanya, pergilah dan jangan lupa bersiap pagi nanti!" Mendengar itu Liona mau tidak mau ia menganggukkan kepala lalu memutar tumit dan menutup pintu kamar Tantenya dengan beberapa pertanyaan yang bercokol dalam isi kepala. **“Atas dasar apa kamu menerima pernikahan ini, nona?” Dengan tatapan tajam bak pedang yang menghunus pada Liona, Ganendra bertanya datar, tak ada ekspresi apapun yang ditujukan pria matang itu kecuali rasa benci, sementara Liona ia bingung, namun belum sempat Liona menjawab, suara Ganendra kembali terdengar terkesan seolah meremehkan. “Uang? Oh atau semua hartaku?” Ketika mendengarnya, sontak Liona membelalak. “A-apa m-maksud Tuan?” “Jangan pura-pura bodoh, aku tahu tipikal perempuan sepertimu, kau tidak jauh berbeda dengan perempuan lainnya, atas dasar harta, kau sukarela menyerahkan dirimu untuk menikahi seorang yang lumpuh seperti ku, benar begitu bukan?!” Kata-kata Ganendra begitu sadis, ia berhasil membuat Liona sakit hati untuk pertama kali, rasanya Liona ingin sekali membantah ucapan tersebut, tapi mana bisa? Liona tidak memiliki keberanian, terlebih ketika menatap tajamnya sorot manik kelabu milik Ganendra. “Jangan kau pikir, hanya karena kau adalah perempuan pilihan Papa
* Mobil yang ditumpangi oleh Liona mulai berdecit, berhenti di sebuah rumah mewah. Tubuh Liona pun dibawa paksa keluar dari mobil namun masih dengan mata yang tertutup kain. Menyedihkan, gadis itu berjalan sambil terseok didampingi oleh dua pengawal. “Bawa dia ke atas, Tuan besar sudah menunggu!” ucap seseorang sama tinggi besarnya dengan jajaran bodyguard didalam rumah mewah tersebut. “Bagaimana dengan tuan muda?” tanya Oskar. “Belum, tuan muda masih dalam perjalanan!” Tak ada lagi yang Oskar tanyakan, ia gegas menuju lift bersamaan dengan bodyguard yang membawa Liona, mereka menuju lantai teratas dimana tuan besar pemilik rumah itu berada. Sesampainya di lantai tujuan, Oskar berjalan tergesa menuju satu pintu besar berwarna coklat, dibukanya secara pelan lalu Oskar berdiri dengan tegap menghadap satu kursi kebesaran yang tengah di duduki seseorang. “Selamat siang tuan Liam, saya sudah membawa gadis ini!” ucap Oskar memberitahu, Liona hanya menunduk ia mendengarkan apapu
*Pagi harinya ketika Liona terbangun dari tidurnya, hal yang ia lakukan adalah membereskan segudang pekerjaan rumah, termasuk menyiapkan sarapan pagi untuk penghuni rumah tersebut. “Liona, mana susu nya?” tanya Nanda sambil menguap, wajahnya kusut karena baru saja bangun tidur. “Sebentar, aku ambilkan!” Liona lantas berlari kecil menuju dapur, hari ini adalah hari Senin, kedua anak Imelda akan pergi ke sekolah, mereka duduk di bangku Sekolah menengah atas kelas akhir. “Liona, tugas kemarin sudah diselesaikan kan?” tanya Nindi, kembaran Nanda. “Sudah, bukunya aku simpan di meja sudut,” balas Liona, ia menyimpan satu gelas susu diatas meja makan. Begitulah kelakuan anak Imelda, ia menjadikan Liona tak hanya seperti pembantu, tapi juga gadis serbaguna, karena Liona tak hanya memiliki wajah cantik, namun juga memiliki otak yang pintar, tidak seperti Nanda dan Nindi. Dulu, Liona memiliki cita-cita menjadi Dokter, akan tetapi ketiadaan biaya membuatnya putus sekolah juga sadar diri, da
“Mahar 500 juta untuk keponakanku!" suara wanita berambut merah itu terdengar begitu lantang menyebutkan angka fantastis. “500 juta? apa kau yakin?," tanya lawan bicara wanita berambut merah tersebut memastikan diiringi dengan mata yang menatap serius. “Ya, apa kau keberatan?" “Tentu saja tidak, asalkan dengan satu syarat, dia masih suci!" Imelda-wanita berambut merah tersebut tertawa menyeringai. “Aku jamin 1000% bahwa keponakanku masih suci!" kemudian, Imelda melempar sebuah foto gadis muda tepat ke atas meja restaurant itu, gadis manis yang memiliki wajah begitu cantik dengan kulit putih bersih. Gadis yang mampu memikat mata siapapun yang melihatnya, termasuk Oskar-Pria setengah paruh baya yang sedang mencari gadis bersegel yang akan dipinang oleh anak Tuan majikannya. Ya, Oskar adalah seorang asisten orang terkaya dan terpandang di Kota J.K. Sebulan lalu, Tuan majikannya memintanya untuk mencarikan gadis untuk putra pewarisnya yang tidak pernah ingin menikah setelah seb












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.