MasukSemua berawal karena di jual dan dipaksa menjadi Istri dari pria dingin tak tersentuh, hidup Liona begitu dibuat menyedihkan, hanya karena Tantenya terlilit hutang, Liona di jual pada Ganendra-seorang pewaris lumpuh yang enggan menikah karena trauma ditinggal oleh mendiang Istrinya. Liona, bagai Istri diatas kertas tanpa harga diri, Ganendra tak sedikitpun menatapnya selayaknya pasangan hidup, namun ibaratkan musuh yang ia benci. Perlakuan Ganendra amat kejam pada Liona, Ganendra menyiksa Liona dengan sikap angkuh juga dinginnya, ingin rasanya menyerah namun Liona di hadapkan dengan pilihan sulit, ia terikat dengan perjanjian pra nikah karena terpaksa. Disisi lain, ada seorang pria yang mengagumi Liona sejak lama, ia mampu mempertaruhkan segalanya demi mendapatkan Liona. Bagaimana kisah Liona? Baca hingga tuntas!
Lihat lebih banyakLiona berkedip tak percaya, mulutnya terbuka, apa kupingnya tidak salah dengar? “M-Menari?”“Ya,apa kau tuli?”“Aku tidak Bisa,Tuan!”“Aku tidak bertanya kau bisa atau tidak, aku hanya menyuruhmu untuk menari untukku, sekarang lep4s pakaiannmu,” bentak Ganendra, bukan bernafsu, namun sengaja melakukan itu untuk mempermalukan Liona, Ganendra ingin Liona sadar bahwa ia tidak memiliki harga diri dirumah itu. Kepala Liona seketika menggeleng lemah, ia menutup tubuh bagian atasnya, mana mungkin ia berani membuka pakaian di depan mata pria asing, bagian tubuhnya selalu terjaga sejak ia mulai tumbuh menjadi seorang gadis, jadi ia tidak mungkin dengan sukarela membiarkannya terlihat oleh orang lain, termasuk pada Ganendra, pria yang katanya adalah calon suaminya.“Aku tidak mau Tuan!” Mohon Liona.Mata Ganendra yang setajam elang menyisir Liona dari ujung kepala hingga kaki, entah apa yang ada dalam otaknya tapi sejurus kemudian tangannya mencengkram dagu Liona.“Gadis tak tahu malu, kau sud
Ganendra menatap Liona dengan mata yang membara, kemarahannya terpancar jelas di wajahnya yang biasanya dingin dan tak tersentuh. "Apa yang kamu lakukan?" dia menggertakkan gigi, suaranya rendah dan bergetar.Liona terkejut oleh reaksi Ganendra, dia mundur beberapa langkah sambil memandang bingkai foto yang masih tergenggam di tangannya. "M-maaf tuan, a-aku hanya melihat-lihat saja," sambil gugup, Liona berusaha menjelaskan.“Omong kosong!” “Benar tuan!” “Selain tuli, kau benar-benar lancang!” Ganendra tidak peduli dengan penjelasannya. Ia merasa seperti telah dilanggar, seperti privasinya telah diusik. Sejak awal, Ganendra sama sekali tidak suka Liona masuk ke dalam kamar pribadinya "Kamu tidak berhak menyentuh ini!" Emosi kian meledak, suaranya menggema di ruangan. Dahlia pun seketika berdiri dengan harap-harap cemas, menatap Tuan majikannya penuh ketakutan. Ganendra kemudian mengarahkan kursi rodanya ke arah Liona, mata mereka bertemu dalam perbedaan, satu dengan kemarahan dan
*“Atas dasar apa kamu menerima pernikahan ini, nona?” Dengan tatapan tajam bak pedang yang menghunus pada Liona, Ganendra bertanya datar, tak ada ekspresi apapun yang ditujukan pria matang itu kecuali rasa benci, sementara Liona ia bingung, namun belum sempat Liona menjawab, suara Ganendra kembali terdengar terkesan seolah meremehkan. “Uang? Oh atau semua hartaku?” Ketika mendengarnya, sontak Liona membelalak. “A-apa m-maksud Tuan?” “Jangan pura-pura bodoh, aku tahu tipikal perempuan sepertimu, kau tidak jauh berbeda dengan perempuan lainnya, atas dasar harta, kau sukarela menyerahkan dirimu untuk menikahi seorang yang lumpuh seperti ku, benar begitu bukan?!” Kata-kata Ganendra begitu sadis, ia berhasil membuat Liona sakit hati untuk pertama kali, rasanya Liona ingin sekali membantah ucapan tersebut, tapi mana bisa? Liona tidak memiliki keberanian, terlebih ketika menatap tajamnya sorot manik kelabu milik Ganendra. “Jangan kau pikir, hanya karena kau adalah perempuan pilihan Papa
* Mobil yang ditumpangi oleh Liona mulai berdecit, berhenti di sebuah rumah mewah. Tubuh Liona pun dibawa paksa keluar dari mobil namun masih dengan mata yang tertutup kain. Menyedihkan, gadis itu berjalan sambil terseok didampingi oleh dua pengawal. “Bawa dia ke atas, Tuan besar sudah menunggu!” ucap seseorang sama tinggi besarnya dengan jajaran bodyguard didalam rumah mewah tersebut. “Bagaimana dengan tuan muda?” tanya Oskar. “Belum, tuan muda masih dalam perjalanan!” Tak ada lagi yang Oskar tanyakan, ia gegas menuju lift bersamaan dengan bodyguard yang membawa Liona, mereka menuju lantai teratas dimana tuan besar pemilik rumah itu berada. Sesampainya di lantai tujuan, Oskar berjalan tergesa menuju satu pintu besar berwarna coklat, dibukanya secara pelan lalu Oskar berdiri dengan tegap menghadap satu kursi kebesaran yang tengah di duduki seseorang. “Selamat siang tuan Liam, saya sudah membawa gadis ini!” ucap Oskar memberitahu, Liona hanya menunduk ia mendengarkan apapu
*Pagi harinya ketika Liona terbangun dari tidurnya, hal yang ia lakukan adalah membereskan segudang pekerjaan rumah, termasuk menyiapkan sarapan pagi untuk penghuni rumah tersebut. “Liona, mana susu nya?” tanya Nanda sambil menguap, wajahnya kusut karena baru saja bangun tidur. “Sebentar, aku am
“Mahar 500 juta untuk keponakanku!" suara wanita berambut merah itu terdengar begitu lantang menyebutkan angka fantastis. “500 juta? apa kau yakin?," tanya lawan bicara wanita berambut merah tersebut memastikan diiringi dengan mata yang menatap serius. “Ya, apa kau keberatan?" “Tentu saja t
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.