
Istri Yang Kau Anggap Bodoh
Sebagai anak sulung, Alya terbiasa berjuang sendirian tanpa mengeluh. Tetapi setelah menikah dengan Bara, pria yang setia tetapi high-maintenance, dominan dan gemar menuntut, membuat jiwa Alya perlahan meredup.
Cara bicara Alya yang sering berbelit dan ragu-ragu diartikan Bara sebagai tanda bahwa istrinya "lemot" dan tidak punya kapasitas untuk berkembang.
Bara menuntut dipahami tanpa mau bicara jujur, selalu melontarkan sindiran halus atau silent treatment yang mematahkan rasa percaya diri Alya.
Lelah terjebak dalam rasa bersalah dan tekanan emosional tanpa kekerasan fisik, Alya memilih diam.
Di sebuah sudut kamar sempit di rumah yang ia namai Batas Jeda, Alya mulai berkarya secara anonim. Di balik layar, pikiran rumit dan karya Alya yang sering dianggap "lemot" justru menjadi mahakarya yang dicari banyak orang, bahkan dipuji oleh suaminya sendiri yang tak tahu siapa sosok di balik karya tersebut.
Akankah Bara menyadari betapa bernilainya wanita yang selama ini ia sepelekan? Ataukah Alya akan memilih melangkah berdiri di atas kakinya sendiri begitu ia menemukan kembali identitasnya?
Baca
Chapter: BAB 5: Senyumanku yang Mulai Kembali Tumbuh"Punya otak tuh dipakai, Al! Kamu mikir nggak sih pas nyiapin kemeja kerjaku pagi ini?!" bentak Bara keras. Ia melempar jasnya ke atas meja makan sampai cangkir beling berdenting nyaring.Alya tersentak, tangannya refleks memegang teko air hangat kuat-kuat. "Ada apa, Mas? Kemejanya kenapa?" tanya Alya."Kancing lengannya lepas satu!" desis Bara dengan sorotan mata tajam yang penuh amarah. "Di depan Pak Raga dan para petinggi klien, aku harus nahan malu gara-gara kecerobohan sepele kamu. Hal sekecil ini aja kamu nggak becus! Gimana mau diandalkan urus hal besar?”"Maaf, Mas, tadi malam aku—""Halah, alasan terus!" potong Bara jengah. Pria itu menghempaskan tubuhnya ke kursi makan dengan kasar. Ia menaruh sendoknya agak keras ke atas piring porselen. Suasana ruangan langsung berubah tegang."Bisa kamu bantu aku rekap pengeluaran minggu ini, Al?" tanya Bara ketus setelah sempat terdiam sebentar.Alya menarik napas dalam-dalam sebelum menjawab, "Bisa, Mas. Nanti aku buatkan catatannya.”
Terakhir Diperbarui: 2026-09-23
Chapter: BAB 4: Kamu Nggak Pernah Tahu Perasaanku, Mas"Kopi panasnya, Mas. Diminum dulu sebelum kamu mulai marah-marah lagi pagi ini," ucap Alya lembut sambil tersenyum. Alya meletakkan cangkir itu di sebelah tablet suaminya. Sekuat tenaga ia berusaha meredam sisa emosi yang masih mengganjal sejak semalam. "Al, kamu sadar nggak ini udah jam tujuh pagi?” potong Bara tanpa menoleh sedikit pun. Dengan mata sendu karena kurang tidur dan kelelahan, Bara terus menggeser layar tabletnya. Dokumen di depannya bukan laporan biasa, melainkan analisis pasar dari Batas Jeda—akun anonim yang belakangan ini sedang mengguncang industri mereka. Sembari merapikan kemeja kerjanya, Bara menarik napas panjang merasa kagum sekaligus stres berat. "Luar biasa," gumam Bara pelan pada diri sendiri. Ia menyandarkan punggung ke kursi dengan menggeleng-geleng tak percaya. "Aku baru selesai baca draf analisis dari Batas Jeda. Orang di balik akun ini benar-benar jenius.” "Jenius?" tanya Alya mencoba memastikan apa yang baru saja diterima oleh indera
Terakhir Diperbarui: 2026-09-23
Chapter: BAB 3: Jangan Menyerah Dulu, Al!"Kalian semua nggak becus kerja! Masa analisis sampah kayak gitu bisa lolos ke meja klien?!" bentak Bara pada timnya lewat sambungan telepon."Aku nggak mau tahu! Cepat temukan siapa orang dalam yang udah bocorinn draft kita ke vendor lain! Nggak mungkin klien mendadak pindah haluan kalau nggak ada yang main belakang!" Suara lantang Bara menembus hingga keluar ruangan.Alya yang tengah membersihkan meja dapur refleks menghentikan gerakannya dan membatu."Udah, diam! Besok pagi jam 09.00 WIB kumpulkan semua tim di ruangan saya!" Bara membentak lawan bicaranya sebelum mematikan sambungan teleponnya secara sepihak.Brak!Pintu utama digebrak dengan sangat keras. Malam baru saja tiba, Bara sudah melangkah masuk ke rumah dengan napas ngos-ngosan karena emosi.Jalannya lambat dan berat. Wajahnya pun terlihat kusut menahan amarah. Jangan lupakan jas kerjanya yang sudah tergantung lesu di bahu.Dengan kasar Bara melempar HP dan tas kerjanya ke sofa ruang tamu. Ia ambruk di sana sembari mengh
Terakhir Diperbarui: 2026-09-23
Chapter: BAB 2: Kenapa Semuanya Harus Aku yang Tanggung?Drrt... drrt... drrt!Suara notifikasi ponsel berhasil memecah keheningan pagi ini. Hal itu sukses membuat Alya menghentikan pergerakan tangannya. Begitu melihat nama yang tertera di layar ponselnya, jantung Alya seketika berdegup kencang karena cemas.“Ibu?” gumam Alya pelan sembari menarik napas dalam-dalam untuk sekadar menenangkan diri.Alya menggeser tombol berwarna hijau di layar. Ia berdehem agar suaranya terdengar biasa saja."Halo, Bu? Selamat pagi—" "Al, uang kuliah adikmu kurang dua juta lagi semester ini," potong sang ibunda tanpa basa-basi. Jangankan tanya kabar, salam pun tidak ada."Bisa transfer pagi ini? Bapakmu belum cair uang borongannya. Kata pihak kampus, batas akhirnya cuma sampai jam sepuluh."Tanpa sadar tangan Alya mencengkeram erat pinggiran ponselnya. "Pagi ini banget ya, Bu? Alya harus cek tabungan dulu soalnya.""Kamu ini kan anak pertama, Al. Siapa lagi yang bisa bantu adikmu kalau bukan kamu?" sela sang ibunda cepat. Nadanya terdengar seolah beban itu
Terakhir Diperbarui: 2026-09-23
Chapter: BAB 1: Jangan Rendahkan Aku, Mas"Jangan pernah bilang aku nggak menghargai kamu, Al.” Tatapan mata Bara begitu sinis ke arah Alya. “Kamu apa-apa nggak bisa. Nggak ada yang bener kerjaan kamu, Al. Buang-buang waktu aja tau nggak?”"Aku minta maaf ya, Mas," lirih Alya tanpa berani membalas sorot nyalang mata suaminya. "Justru itu masalahnya! Maaf, maaf, maaf terus. Nyesel aku tuh nikahin kamu. Tau gini mending aku tolak aja perjodohan kita dulu." Bara bangkit dari kursinya. Suara nyaring dari kursi berhasil membuat Alya menegakkan punggungnya. Hatinya seperti disayat sembilu kala mendengar kata-kata itu meluncur dari bibir suaminya sendiri. "Kamu tuh nggak pernah becus ngurus suami!" Bara mengarahkan jari telunjuknya tepat pada wajah pasi Alya. "Kamu cuma bisa pasang muka sedih, seolah-olah aku ini suami paling jahat sedunia. Ngomong aja mau kamu apa sekarang?"Remasan tangan Alya pada gelas semakin menguat. Di dalam kepala, isi pikirannya begitu semrawut dan susah untuk dijelaskan. Sebagai orang yang suka berpi
Terakhir Diperbarui: 2026-09-23