Masuk
"Jangan pernah bilang aku nggak menghargai kamu, Al.” Tatapan mata Bara begitu sinis ke arah Alya.
“Kamu apa-apa nggak bisa. Nggak ada yang bener kerjaan kamu, Al. Buang-buang waktu aja tau nggak?” "Aku minta maaf ya, Mas," lirih Alya tanpa berani membalas sorot nyalang mata suaminya. "Justru itu masalahnya! Maaf, maaf, maaf terus. Nyesel aku tuh nikahin kamu. Tau gini mending aku tolak aja perjodohan kita dulu." Bara bangkit dari kursinya. Suara nyaring dari kursi berhasil membuat Alya menegakkan punggungnya. Hatinya seperti disayat sembilu kala mendengar kata-kata itu meluncur dari bibir suaminya sendiri. "Kamu tuh nggak pernah becus ngurus suami!" Bara mengarahkan jari telunjuknya tepat pada wajah pasi Alya. "Kamu cuma bisa pasang muka sedih, seolah-olah aku ini suami paling jahat sedunia. Ngomong aja mau kamu apa sekarang?" Remasan tangan Alya pada gelas semakin menguat. Di dalam kepala, isi pikirannya begitu semrawut dan susah untuk dijelaskan. Sebagai orang yang suka berpikiran buruk, otaknya otomatis berputar seribu kali lebih cepat untuk menyusun pembelaan diri. Ratusan alibi dan kalimat logis sebenarnya sudah mengantre di ujung lidah. Tapi anehnya, begitu ia membuka mulut, semua kata itu menguar begitu saja. Hanya menyisakan kalimat yang patah dan berbelit. "Mas... aku cuma mau bilang kalau supnya—" "Tuh, kan! Muter-muter lagi ngomongnya," potong Bara cepat dengan nada frustrasi. "Aku cuma tanya makanan ini dibuat jam berapa, tapi drama kamu ke mana-mana. Bawa perasaanlah, bawa capeknyalah. Bisa nggak, sih, kalau ngomong itu langsung ke intinya? Jangan lemot!" "Aku nggak lemot. Aku cuma mencoba menjelaskan, Mas." Suara Alya hampir tenggelam oleh perasaan cemasnya sendiri. “Capek aku denger penjelasan kamu, Al," sela Bara lagi. Suaranya merendah dan terkesan dingin. Tapi hal itu jauh lebih meremukkan dada Alya daripada sebuah bentakan keras. "Kamu tuh terlalu lemot buat paham hal-hal simpel tanpa harus dijelasin satu per satu. Makanan ini nggak apa-apa. Yang bikin capek itu cara kamu merespons sesuatu.” Bara bangkit dari kursinya dan merapikan jas yang tersangkut di sandaran kursi dengan gerakan cepat . Tanpa melirik Alya sedikit pun, ia memutar tubuhnya membelakangi Alya. Ia melangkah menuju ruangan kerja di ujung koridor. BAM! Pintu kayu itu tertutup rapat, menyisakan gema keras yang memantul di dinding-dinding rumah yang sepi. Alya tersenyum kecut saat menyadari kesunyian di sekitarnya. Di depannya, semangkuk sup ayam yang tadi ia tata dengan sangat hati-hati perlahan berubah dingin. Uap tipisnya menguap ke udara, persis seperti sisa-sisa rasa percaya dirinya yang hancur berkeping-keping. Lagi-lagi kata itu keluar dari bibir suaminya—lemot. Bagi Bara, dunia ini hanya seperti warna hitam dan putih, cepat atau lambat, berguna atau tidak. Tapi Alya selalu hati-hati dalam menjaga perasaan orang lain dan itu dibaca Bara sebagai ketidakmampuannya untuk berpikir jernih. Bara tidak pernah mau tahu jikalau di balik sikap diam istrinya, ada banyak pertimbangan yang sedang Alya pikirkan. Namun meski dadanya terasa amat sesak, Alya menolak untuk menangis. Sebagai anak pertama yang dididik untuk tidak merepotkan, mengeluh, dan wajib membereskan kekacauannya sendiri, Alya sudah terlatih mengendalikan emosinya di balik dinding pertahanan yang kokoh. Lagi pula, Alya juga tahu persis risikonya. Jika air matanya jatuh sekarang dan Bara melihatnya, itu hanya akan membuatnya terlihat sebagai bentuk manipulasi emosi yang menyebalkan. Alya berdiri meski jemarinya masih sedikit gemetar. Ia membereskan meja makan dengan gerakan yang kaku sembari mengangkat piring. Ia menghela napas berat ketika membuang makanan yang sama sekali tidak tersentuh tersebut. Suara gemercik air menjadi satu-satunya bunyi yang mengisi kehampaan malam itu. Setiap usapan busa pada porselen seolah menjadi ritual Alya untuk menyapu sisa-sisa rasa hina yang menempel di dadanya. Setelah dapur kembali bersih, Alya mematikan lampu utama ruang tengah. Rumah itu tenggelam dalam kegelapan dan juga kehampaan. Dalam senyap, Alya menyeret langkahnya menuju sudut paling belakang rumah melewati lorong gelap di balik dapur. Di sanalah sebuah ruangan sempit berukuran tiga kali tiga meter. Ruangan yang oleh Bara hanya dianggap sebagai gudang penyimpanan kardus bekas dan barang-barang tak terpakai. Namun bagi Alya, ruangan ini adalah satu-satunya tempat ia diizinkan bernapas tanpa rasa takut sedikit pun. Alya memutar kenop pintu kayu dan melangkah masuk, lalu memutar kunci dari dalam. Bunyi logam yang saling mengunci itu seketika mengalirkan rasa aman pada dirinya. Alya sengaja mengabaikan sakelar lampu gantung yang terlalu terang. Ia memilih melangkah ke sudut ruangan untuk menyalakan lampu meja kecil bergaya warm white yang memancarkan kuning keemasan yang lembut. Cahaya itu menyinari sebuah meja kayu tua yang sudah Alya amplas dan bersihkan sendiri beberapa minggu lalu. Tempat inilah yang menjadi tempat perlindungannya. Sebuah sudut yang Alya beri nama: Batas Jeda. Di dalam ruangan ini, Alya tidak perlu lagi berkejaran dengan kecepatan bicara orang lain. Tidak ada tuntutan untuk buru-buru, tidak ada cemas yang membuat lidahnya mendadak kaku. Di sini, otak yang kerap dihina lambat dan berbelit-belit itu justru menjelma menjadi bahan bakar utama untuk menciptakan sesuatu yang luar biasa. Alya menarik kursi kayu dan duduk perlahan. Ia membuka layar laptopnya. Lampu cahaya layar seketika memantul di sepasang matanya. Mata yang kini tampak tenang, meski masih menyimpan sisa badai dari ruang makan tadi. Jemarinya sempat melayang di atas keyboard karena merasa ragu selama beberapa detik. Alya memejamkan mata dan menarik napas panjang. Ia mengembuskannya perlahan lewat mulut. Begitu matanya terbuka, keraguan itu mulai menghilang. Jemari lentiknya pun mulai menari di atas keyboard. Suara ketikan mulai memecah keheningan malam. Dalam diam, kata-kata yang selalu tersendat dan tercekik di tenggorokannya saat berhadapan dengan Bara kini mengalir bagai air bah yang meluap dari bendungan. Setiap kalimat yang lahir begitu rapi, tajam, dan berbobot. Isi kepala Alya yang selalu dianggap Bara sebagai beban tak berguna, di atas layar ini justru berubah menjadi untaian analisis mendalam yang memikat. Alya tidak menulis dengan amarah yang meledak-ledak, tapi dengan ketenangan seorang pejuang yang sedang menyusun strategi besar-besaran. Alya menuangkan seluruh pengamatan, ide-ide besar, dan analisis pasarnya ke dalam draf karya anonim yang selama ini ia bangun secara sembunyi-sembunyi dari balik pintu gudang rumah. Ketika jam digital di sudut layar laptop menunjukkan pukul satu malam, Alya akhirnya menyelesaikan paragraf terakhirnya. Alya menyandarkan punggungnya sembari membaca ulang tulisannya dari atas ke bawah. Tidak ada kalimat yang berbelit atau keraguan. Semuanya mengalir begitu saja tanpa ada kendala. Seketika rasa sesak yang sempat mengimpit dadanya di meja makan perlahan menyusut dan digantikan oleh percikan rasa percaya diri yang sudah lama padam. Alya mengusap permukaan meja kayunya dengan kedua mata menatap lurus ke arah layar. Di sana tertera bukti nyata kalau ia tidak sebodoh itu. “Lihat aja, Mas. Kamu boleh anggap aku lemot, berbelit-belit bahkan dianggap lambat merespons.” Seringaian tipis tergambar di wajah cantik Alya. “Dan kamu boleh mikir kalau kamu pemenangnya hanya karena suaramu lebih keras,” inner Alya seolah sedang menantang bayangan Bara yang baru saja menginjak-injak harga dirinya. Di luar ruangan ini, Bara memang berhasil membungkamnya dan mencapnya tidak berguna. Tapi di dalam, kebenarannya terlihat jelas. Otaknya tidak seperti yang selalu dikatakan oleh suaminya. “Aku cuma butuh waktu. Tunggu sampai proyek ini rilis, dan kita lihat siapa yang sebenarnya tertinggal di belakang,” ucap Alya dalam hati dengan penuh ketegasan, keyakinan dan percaya diri."Punya otak tuh dipakai, Al! Kamu mikir nggak sih pas nyiapin kemeja kerjaku pagi ini?!" bentak Bara keras. Ia melempar jasnya ke atas meja makan sampai cangkir beling berdenting nyaring.Alya tersentak, tangannya refleks memegang teko air hangat kuat-kuat. "Ada apa, Mas? Kemejanya kenapa?" tanya Alya."Kancing lengannya lepas satu!" desis Bara dengan sorotan mata tajam yang penuh amarah. "Di depan Pak Raga dan para petinggi klien, aku harus nahan malu gara-gara kecerobohan sepele kamu. Hal sekecil ini aja kamu nggak becus! Gimana mau diandalkan urus hal besar?”"Maaf, Mas, tadi malam aku—""Halah, alasan terus!" potong Bara jengah. Pria itu menghempaskan tubuhnya ke kursi makan dengan kasar. Ia menaruh sendoknya agak keras ke atas piring porselen. Suasana ruangan langsung berubah tegang."Bisa kamu bantu aku rekap pengeluaran minggu ini, Al?" tanya Bara ketus setelah sempat terdiam sebentar.Alya menarik napas dalam-dalam sebelum menjawab, "Bisa, Mas. Nanti aku buatkan catatannya.”
"Kopi panasnya, Mas. Diminum dulu sebelum kamu mulai marah-marah lagi pagi ini," ucap Alya lembut sambil tersenyum. Alya meletakkan cangkir itu di sebelah tablet suaminya. Sekuat tenaga ia berusaha meredam sisa emosi yang masih mengganjal sejak semalam. "Al, kamu sadar nggak ini udah jam tujuh pagi?” potong Bara tanpa menoleh sedikit pun. Dengan mata sendu karena kurang tidur dan kelelahan, Bara terus menggeser layar tabletnya. Dokumen di depannya bukan laporan biasa, melainkan analisis pasar dari Batas Jeda—akun anonim yang belakangan ini sedang mengguncang industri mereka. Sembari merapikan kemeja kerjanya, Bara menarik napas panjang merasa kagum sekaligus stres berat. "Luar biasa," gumam Bara pelan pada diri sendiri. Ia menyandarkan punggung ke kursi dengan menggeleng-geleng tak percaya. "Aku baru selesai baca draf analisis dari Batas Jeda. Orang di balik akun ini benar-benar jenius.” "Jenius?" tanya Alya mencoba memastikan apa yang baru saja diterima oleh indera
"Kalian semua nggak becus kerja! Masa analisis sampah kayak gitu bisa lolos ke meja klien?!" bentak Bara pada timnya lewat sambungan telepon."Aku nggak mau tahu! Cepat temukan siapa orang dalam yang udah bocorinn draft kita ke vendor lain! Nggak mungkin klien mendadak pindah haluan kalau nggak ada yang main belakang!" Suara lantang Bara menembus hingga keluar ruangan.Alya yang tengah membersihkan meja dapur refleks menghentikan gerakannya dan membatu."Udah, diam! Besok pagi jam 09.00 WIB kumpulkan semua tim di ruangan saya!" Bara membentak lawan bicaranya sebelum mematikan sambungan teleponnya secara sepihak.Brak!Pintu utama digebrak dengan sangat keras. Malam baru saja tiba, Bara sudah melangkah masuk ke rumah dengan napas ngos-ngosan karena emosi.Jalannya lambat dan berat. Wajahnya pun terlihat kusut menahan amarah. Jangan lupakan jas kerjanya yang sudah tergantung lesu di bahu.Dengan kasar Bara melempar HP dan tas kerjanya ke sofa ruang tamu. Ia ambruk di sana sembari mengh
Drrt... drrt... drrt!Suara notifikasi ponsel berhasil memecah keheningan pagi ini. Hal itu sukses membuat Alya menghentikan pergerakan tangannya. Begitu melihat nama yang tertera di layar ponselnya, jantung Alya seketika berdegup kencang karena cemas.“Ibu?” gumam Alya pelan sembari menarik napas dalam-dalam untuk sekadar menenangkan diri.Alya menggeser tombol berwarna hijau di layar. Ia berdehem agar suaranya terdengar biasa saja."Halo, Bu? Selamat pagi—" "Al, uang kuliah adikmu kurang dua juta lagi semester ini," potong sang ibunda tanpa basa-basi. Jangankan tanya kabar, salam pun tidak ada."Bisa transfer pagi ini? Bapakmu belum cair uang borongannya. Kata pihak kampus, batas akhirnya cuma sampai jam sepuluh."Tanpa sadar tangan Alya mencengkeram erat pinggiran ponselnya. "Pagi ini banget ya, Bu? Alya harus cek tabungan dulu soalnya.""Kamu ini kan anak pertama, Al. Siapa lagi yang bisa bantu adikmu kalau bukan kamu?" sela sang ibunda cepat. Nadanya terdengar seolah beban itu
"Jangan pernah bilang aku nggak menghargai kamu, Al.” Tatapan mata Bara begitu sinis ke arah Alya. “Kamu apa-apa nggak bisa. Nggak ada yang bener kerjaan kamu, Al. Buang-buang waktu aja tau nggak?”"Aku minta maaf ya, Mas," lirih Alya tanpa berani membalas sorot nyalang mata suaminya. "Justru itu masalahnya! Maaf, maaf, maaf terus. Nyesel aku tuh nikahin kamu. Tau gini mending aku tolak aja perjodohan kita dulu." Bara bangkit dari kursinya. Suara nyaring dari kursi berhasil membuat Alya menegakkan punggungnya. Hatinya seperti disayat sembilu kala mendengar kata-kata itu meluncur dari bibir suaminya sendiri. "Kamu tuh nggak pernah becus ngurus suami!" Bara mengarahkan jari telunjuknya tepat pada wajah pasi Alya. "Kamu cuma bisa pasang muka sedih, seolah-olah aku ini suami paling jahat sedunia. Ngomong aja mau kamu apa sekarang?"Remasan tangan Alya pada gelas semakin menguat. Di dalam kepala, isi pikirannya begitu semrawut dan susah untuk dijelaskan. Sebagai orang yang suka berpi







