Istri Yang Kau Anggap Bodoh

Istri Yang Kau Anggap Bodoh

last updateTerakhir Diperbarui : 2026-09-23
Oleh:  Rinandika AlbyraOngoing
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Belum ada penilaian
5Bab
19Dibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

​Sebagai anak sulung, Alya terbiasa berjuang sendirian tanpa mengeluh. Tetapi setelah menikah dengan Bara, pria yang setia tetapi high-maintenance, dominan dan gemar menuntut, membuat jiwa Alya perlahan meredup. Cara bicara Alya yang sering berbelit dan ragu-ragu diartikan Bara sebagai tanda bahwa istrinya "lemot" dan tidak punya kapasitas untuk berkembang. Bara menuntut dipahami tanpa mau bicara jujur, selalu melontarkan sindiran halus atau silent treatment yang mematahkan rasa percaya diri Alya. ​Lelah terjebak dalam rasa bersalah dan tekanan emosional tanpa kekerasan fisik, Alya memilih diam. Di sebuah sudut kamar sempit di rumah yang ia namai Batas Jeda, Alya mulai berkarya secara anonim. Di balik layar, pikiran rumit dan karya Alya yang sering dianggap "lemot" justru menjadi mahakarya yang dicari banyak orang, bahkan dipuji oleh suaminya sendiri yang tak tahu siapa sosok di balik karya tersebut. Akankah Bara menyadari betapa bernilainya wanita yang selama ini ia sepelekan? Ataukah Alya akan memilih melangkah berdiri di atas kakinya sendiri begitu ia menemukan kembali identitasnya?

Lihat lebih banyak

Bab 1

BAB 1: Jangan Rendahkan Aku, Mas

"Jangan pernah bilang aku nggak menghargai kamu, Al.” Tatapan mata Bara begitu sinis ke arah Alya.

“Kamu apa-apa nggak bisa. Nggak ada yang bener kerjaan kamu, Al. Buang-buang waktu aja tau nggak?”

"Aku minta maaf ya, Mas," lirih Alya tanpa berani membalas sorot nyalang mata suaminya.

"Justru itu masalahnya! Maaf, maaf, maaf terus. Nyesel aku tuh nikahin kamu. Tau gini mending aku tolak aja perjodohan kita dulu." Bara bangkit dari kursinya.

Suara nyaring dari kursi berhasil membuat Alya menegakkan punggungnya. Hatinya seperti disayat sembilu kala mendengar kata-kata itu meluncur dari bibir suaminya sendiri.

"Kamu tuh nggak pernah becus ngurus suami!" Bara mengarahkan jari telunjuknya tepat pada wajah pasi Alya.

"Kamu cuma bisa pasang muka sedih, seolah-olah aku ini suami paling jahat sedunia. Ngomong aja mau kamu apa sekarang?"

Remasan tangan Alya pada gelas semakin menguat. Di dalam kepala, isi pikirannya begitu semrawut dan susah untuk dijelaskan.

Sebagai orang yang suka berpikiran buruk, otaknya otomatis berputar seribu kali lebih cepat untuk menyusun pembelaan diri.

Ratusan alibi dan kalimat logis sebenarnya sudah mengantre di ujung lidah. Tapi anehnya, begitu ia membuka mulut, semua kata itu menguar begitu saja. Hanya menyisakan kalimat yang patah dan berbelit.

"Mas... aku cuma mau bilang kalau supnya—"

"Tuh, kan! Muter-muter lagi ngomongnya," potong Bara cepat dengan nada frustrasi. "Aku cuma tanya makanan ini dibuat jam berapa, tapi drama kamu ke mana-mana. Bawa perasaanlah, bawa capeknyalah. Bisa nggak, sih, kalau ngomong itu langsung ke intinya? Jangan lemot!"

"Aku nggak lemot. Aku cuma mencoba menjelaskan, Mas." Suara Alya hampir tenggelam oleh perasaan cemasnya sendiri.

“Capek aku denger penjelasan kamu, Al," sela Bara lagi. Suaranya merendah dan terkesan dingin. Tapi hal itu jauh lebih meremukkan dada Alya daripada sebuah bentakan keras.

"Kamu tuh terlalu lemot buat paham hal-hal simpel tanpa harus dijelasin satu per satu. Makanan ini nggak apa-apa. Yang bikin capek itu cara kamu merespons sesuatu.”

Bara bangkit dari kursinya dan merapikan jas yang tersangkut di sandaran kursi dengan gerakan cepat . Tanpa melirik Alya sedikit pun, ia memutar tubuhnya membelakangi Alya. Ia melangkah menuju ruangan kerja di ujung koridor.

BAM!

Pintu kayu itu tertutup rapat, menyisakan gema keras yang memantul di dinding-dinding rumah yang sepi.

Alya tersenyum kecut saat menyadari kesunyian di sekitarnya. Di depannya, semangkuk sup ayam yang tadi ia tata dengan sangat hati-hati perlahan berubah dingin. Uap tipisnya menguap ke udara, persis seperti sisa-sisa rasa percaya dirinya yang hancur berkeping-keping.

Lagi-lagi kata itu keluar dari bibir suaminya—lemot. Bagi Bara, dunia ini hanya seperti warna hitam dan putih, cepat atau lambat, berguna atau tidak.

Tapi Alya selalu hati-hati dalam menjaga perasaan orang lain dan itu dibaca Bara sebagai ketidakmampuannya untuk berpikir jernih.

Bara tidak pernah mau tahu jikalau di balik sikap diam istrinya, ada banyak pertimbangan yang sedang Alya pikirkan. Namun meski dadanya terasa amat sesak, Alya menolak untuk menangis.

Sebagai anak pertama yang dididik untuk tidak merepotkan, mengeluh, dan wajib membereskan kekacauannya sendiri, Alya sudah terlatih mengendalikan emosinya di balik dinding pertahanan yang kokoh.

Lagi pula, Alya juga tahu persis risikonya. Jika air matanya jatuh sekarang dan Bara melihatnya, itu hanya akan membuatnya terlihat sebagai bentuk manipulasi emosi yang menyebalkan.

Alya berdiri meski jemarinya masih sedikit gemetar. Ia membereskan meja makan dengan gerakan yang kaku sembari mengangkat piring. Ia menghela napas berat ketika membuang makanan yang sama sekali tidak tersentuh tersebut.

Suara gemercik air menjadi satu-satunya bunyi yang mengisi kehampaan malam itu. Setiap usapan busa pada porselen seolah menjadi ritual Alya untuk menyapu sisa-sisa rasa hina yang menempel di dadanya.

Setelah dapur kembali bersih, Alya mematikan lampu utama ruang tengah. Rumah itu tenggelam dalam kegelapan dan juga kehampaan.

Dalam senyap, Alya menyeret langkahnya menuju sudut paling belakang rumah melewati lorong gelap di balik dapur.

Di sanalah sebuah ruangan sempit berukuran tiga kali tiga meter. Ruangan yang oleh Bara hanya dianggap sebagai gudang penyimpanan kardus bekas dan barang-barang tak terpakai.

Namun bagi Alya, ruangan ini adalah satu-satunya tempat ia diizinkan bernapas tanpa rasa takut sedikit pun.

Alya memutar kenop pintu kayu dan melangkah masuk, lalu memutar kunci dari dalam. Bunyi logam yang saling mengunci itu seketika mengalirkan rasa aman pada dirinya.

Alya sengaja mengabaikan sakelar lampu gantung yang terlalu terang. Ia memilih melangkah ke sudut ruangan untuk menyalakan lampu meja kecil bergaya warm white yang memancarkan kuning keemasan yang lembut.

Cahaya itu menyinari sebuah meja kayu tua yang sudah Alya amplas dan bersihkan sendiri beberapa minggu lalu.

Tempat inilah yang menjadi tempat perlindungannya. Sebuah sudut yang Alya beri nama: Batas Jeda.

Di dalam ruangan ini, Alya tidak perlu lagi berkejaran dengan kecepatan bicara orang lain.

Tidak ada tuntutan untuk buru-buru, tidak ada cemas yang membuat lidahnya mendadak kaku. Di sini, otak yang kerap dihina lambat dan berbelit-belit itu justru menjelma menjadi bahan bakar utama untuk menciptakan sesuatu yang luar biasa.

Alya menarik kursi kayu dan duduk perlahan. Ia membuka layar laptopnya. Lampu cahaya layar seketika memantul di sepasang matanya. Mata yang kini tampak tenang, meski masih menyimpan sisa badai dari ruang makan tadi.

Jemarinya sempat melayang di atas keyboard karena merasa ragu selama beberapa detik.

Alya memejamkan mata dan menarik napas panjang. Ia mengembuskannya perlahan lewat mulut. Begitu matanya terbuka, keraguan itu mulai menghilang. Jemari lentiknya pun mulai menari di atas keyboard.

Suara ketikan mulai memecah keheningan malam. Dalam diam, kata-kata yang selalu tersendat dan tercekik di tenggorokannya saat berhadapan dengan Bara kini mengalir bagai air bah yang meluap dari bendungan.

Setiap kalimat yang lahir begitu rapi, tajam, dan berbobot. Isi kepala Alya yang selalu dianggap Bara sebagai beban tak berguna, di atas layar ini justru berubah menjadi untaian analisis mendalam yang memikat.

Alya tidak menulis dengan amarah yang meledak-ledak, tapi dengan ketenangan seorang pejuang yang sedang menyusun strategi besar-besaran.

Alya menuangkan seluruh pengamatan, ide-ide besar, dan analisis pasarnya ke dalam draf karya anonim yang selama ini ia bangun secara sembunyi-sembunyi dari balik pintu gudang rumah.

Ketika jam digital di sudut layar laptop menunjukkan pukul satu malam, Alya akhirnya menyelesaikan paragraf terakhirnya.

Alya menyandarkan punggungnya sembari membaca ulang tulisannya dari atas ke bawah. Tidak ada kalimat yang berbelit atau keraguan. Semuanya mengalir begitu saja tanpa ada kendala.

Seketika rasa sesak yang sempat mengimpit dadanya di meja makan perlahan menyusut dan digantikan oleh percikan rasa percaya diri yang sudah lama padam.

Alya mengusap permukaan meja kayunya dengan kedua mata menatap lurus ke arah layar. Di sana tertera bukti nyata kalau ia tidak sebodoh itu.

“Lihat aja, Mas. Kamu boleh anggap aku lemot, berbelit-belit bahkan dianggap lambat merespons.” Seringaian tipis tergambar di wajah cantik Alya.

“Dan kamu boleh mikir kalau kamu pemenangnya hanya karena suaramu lebih keras,” inner Alya seolah sedang menantang bayangan Bara yang baru saja menginjak-injak harga dirinya.

Di luar ruangan ini, Bara memang berhasil membungkamnya dan mencapnya tidak berguna. Tapi di dalam, kebenarannya terlihat jelas. Otaknya tidak seperti yang selalu dikatakan oleh suaminya.

“Aku cuma butuh waktu. Tunggu sampai proyek ini rilis, dan kita lihat siapa yang sebenarnya tertinggal di belakang,” ucap Alya dalam hati dengan penuh ketegasan, keyakinan dan percaya diri.

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Tidak ada komentar
5 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status