Chapter: 6. Secarik Kertas MisteriusKeira tertawa. “Pak udah tua nggak usah aneh-aneh. Permainan apa coba yang bapak maksud?” Arsen menaruh buku ke atas meja. Lalu memasukkan tangan ke dalam saku celana dan kembali menatap gadis itu. “Apa karena iPad kamu yang rusak?” Keira masih diam dan tak memberi jawaban sepatah kata pun. “Saya sudah memberi anda cukup uang. Tapi anda sendiri yang menolaknya.” Keira terkekeh pelan, lalu menggelengkan kepala. Sorot matanya berubah tidak lagi sekadar santai, tapi mulai tajam. “Bapak pikir semua masalah bisa diselesaikan pakai uang?” ucapnya. “Bapak salah besar.” Gadis itu berdiri. Kali ini, emosinya benar-benar mulai memuncak. “Dengar ya, Pak Arsen yang terhormat,” lanjutnya, suaranya lebih tegas. “Jangan mentang-mentang bapak punya kuasa di sini terus bisa berbuat seenak bapak.” Ruangan terasa lebih sempit. Namun Arsen tidak berubah. Tidak tersinggung dan ti
Última atualização: 2026-04-29
Chapter: 5. Hampir KetahuanKeira kembali mengintip, suaranya nyaris seperti gumaman puas. “Dia mulai sadar ada yang hilang.” Langkah kaki terdengar dari dalam. Arsen berjalan menuju pintu. Refleks, Nisa langsung panik kecil. “Eh, eh, dia keluar!” Keira dengan cepat menariknya lebih rapat ke balik pilar. Keduanya menahan napas. Pintu kelas terbuka. Suara engselnya terdengar pelan. Langkah Arsen keluar ke lorong. Nisa bahkan menutup mulutnya sendiri, menahan suara napasnya. Keira diam tidak bergerak dan tidak panik. Tapi langkah itu berhenti. Hanya beberapa langkah dari tempat mereka bersembunyi. Suasana jadi menegang. Beberapa detik yang terasa lebih lama dari seharusnya. Nisa menatap Keira dengan mata membesar campuran tegang dan bingung.Hari kedua, mulai terasa. Bukan karena Keira melakukan sesuatu. Justru karena ia tidak melakukan apa-apa. Tidak ada komentar iseng, tidak ada jawaban asal dan tidak ada kegaduhan. Nisa menoleh beberapa kali. “Ra, ini lu beneran Keira kan?” “Iya.” “Bukan kembaran lu ya
Última atualização: 2026-04-07
Chapter: 4. Tiba-Tiba jadi RajinHari pertama setelah semua kejadian itu datang dengan cara yang hampir mengecewakan. Keira datang lebih awal hari ini.Langit pagi tidak menunjukkan tanda-tanda akan terjadi sesuatu. Kampus tetap ramai, suara motor bersahutan di parkiran, langkah kaki mahasiswa berkejaran dengan waktu. "Mulai jalankan misi selanjutnya," ucap Keira yang masih duduk di kantin. Aroma kopi dari kantin menguar tipis terbawa angin. Semuanya berjalan seperti biasa, seolah tidak ada yang pernah terjadi. Dan Keira membiarkan semuanya terlihat biasa. Ia datang tepat waktu. Tidak terburu-buru, tidak juga terlambat seperti biasanya saat ia sengaja mencari perhatian. Langkahnya stabil, wajahnya datar. Tidak ada kilat tantangan di matanya hari ini. "Semangat Keira. Lu bukan tipe orang yang pantang menyerah dengan situasi," ucap Keira menyemangati dirinya sendiri. Begitu masuk kelas, beberapa orang sempat melirik. Mungkin menunggu sesuatu komentar tajam, suara kursi diseret keras, atau sekadar sikapnya yang sel
Última atualização: 2026-04-07
Chapter: 3. Misi PertamaKeesokan paginya. Keira berdiri di depan cermin, menatap dirinya sendiri dengan ekspresi serius. Tangannya membenahi rambut yang dikucir tinggi. Lalu mengambil lipstik di dalam tas kemudian mengoles lembut di bibirnya. “Ini bukan sekadar gaya, tapi ini strategi."Di belakangnya, Nisa bersandar di tembok sambil melipat tangan dan melihat Keira yang sibuk bercermin sedari tadi “Gue masih gak percaya lu beneran mau godain Pak Arsen.”Selesai merapikan rambutnya, Keira lalu berbalik dengan senyum percaya diri. “Kapan gue bercanda sih, Nis? Dan gue mau bikin dosen killer itu menyesal karena sudah bikin iPad gue rusak."“Lebih tepatnya kegilaan, sih. Lagian lu tinggal beli aja iPad yang baru semua selesai,” balas Nisa datar.Keira mengabaikan. Ia mengambil tasnya, merapikan baju lalu berkata santainya.“Hari ini gue mulai.”“Mulai apaan?”Keira menyeringai. Senyumnya tampak berani dan misterius. Membuat Nisa semakin penasaran apa yang akan dilakukan sahabatnya itu. Apakah Keira akan membuat
Última atualização: 2026-04-07
Chapter: 2. Dosen Arogan“Wah gue nggak mau ikut-ikutan, sih.” Nisa mengangkat satu tangan sebagai tanda menyerah. Tapi Keira justru tersenyum dengan misterius. Sedangkan Nisa kembali mengambil pulpen lalu menulis lagi. Bel tanda berakhirnya kelas berbunyi. Suara kursi yang bergeser, tas yang diseret dan obrolan mahasiswa memenuhi ruangan yang tadi terasa tegang.“Akhirnya selesai juga.” Nisa menghela napas panjang.Keira hanya mengangkat alis. Di sana, arsen masih berdiri tenang. Memasukkan beberapa dokumen ke dalam tasnya. Wajahnya datar sulit ditebak. “Keira.” Suara itu datang begitu saja, tegas tanpa perlu ditinggikan. Tapi cukup membuat suasana di sekitar seolah membeku. Keira menoleh. Arsen berdiri tak jauh dari mejanya sekarang, menatap lurus ke arahnya. “Iya?” jawab Keira santai.“Ke ruangan saya, sekarang!” ucap Arsen lalu pergi. Nisa langsung menarik lengan Keira pelan. “Kalau saran gue lu jangan bikin masalah baru!” Keira justru menyeringai tipis. “Tenang aja.” Ia berdiri, menyampirkan ta
Última atualização: 2026-04-07
Chapter: 1. Hari yang Sial“Aw!"Benda kecil itu menghantam meja tepat di kepala Keira, memantul sedikit sebelum jatuh ke lantai. Suaranya keras, cukup untuk bikin satu kelas langsung membeku. Semua mata otomatis tertuju ke satu arah.Keira membelalak saat melihat benda kecil itu. Penghapus papan tulis…Kiera langsung mendongak cepat.Dan di sana berdiri seorang pria dengan wajahnya dingin dan matanya jelas penuh amarah yang ditahan. “Kalian berdua merasa kelas ini tempat ngobrol santai?” suaranya rendah, tapi tajamnya kayak pisauNisa langsung kaku. Tangannya refleks berhenti di udara. Sedangkan Keira hanya diam tapi sorot matanya langsung berubah. Tidak takut, tidak kesal sama sekali.“Tadi saya jelasin apa?” lanjut Arsen, melangkah pelan mendekat, “atau memang tidak ada niat untuk mendengarkan dari awal?”Suasana makin tegang. Beberapa mahasiswa bahkan pura-pura fokus ke buku, padahal jelas-jelas nguping.Nisa menunduk dalam. “Maaf, Pak."Tapi Keira tetap diam. Sedangkan langkah Arsen berhenti tepat di sampi
Última atualização: 2026-04-07