Share

3. Misi Pertama

Author: Dewi Raa
last update Petsa ng paglalathala: 2026-04-07 10:19:02

Keesokan paginya. Keira berdiri di depan cermin, menatap dirinya sendiri dengan ekspresi serius. Tangannya membenahi rambut yang dikucir tinggi. Lalu mengambil lipstik di dalam tas kemudian mengoles lembut di bibirnya. “Ini bukan sekadar gaya, tapi ini strategi."

Di belakangnya, Nisa bersandar di tembok sambil melipat tangan dan melihat Keira yang sibuk bercermin sedari tadi “Gue masih gak percaya lu beneran mau godain Pak Arsen.”

Selesai merapikan rambutnya, Keira lalu berbalik dengan senyum percaya diri. “Kapan gue bercanda sih, Nis? Dan gue mau bikin dosen killer itu menyesal karena sudah bikin iPad gue rusak."

“Lebih tepatnya kegilaan, sih. Lagian lu tinggal beli aja iPad yang baru semua selesai,” balas Nisa datar.

Keira mengabaikan. Ia mengambil tasnya, merapikan baju lalu berkata santainya.“Hari ini gue mulai.”

“Mulai apaan?”

Keira menyeringai. Senyumnya tampak berani dan misterius. Membuat Nisa semakin penasaran apa yang akan dilakukan sahabatnya itu. Apakah Keira akan membuat masalah baru?

“Menaklukkan dosen arogan.”

“Kalau kata gue, lu terlalu nekat sih.”

Keira menyeringai. Tatapannya kembali ke cermin di depannya. “Dan gue bakal tambahin rumor Pak Arsen di kampus lebih seru lagi.” 

“Gue aja yang dengar cerita rumor di kampus tentang Pak Arsen, bulu kuduk gue berdiri semua. Nah, lu malah mau bikin rumor di kampus?”

“Biar dia tahu siapa orang yang dia hadapi sekarang!” Keira tersenyum sengit. 

Nisa hanya bisa menggelengkan kepala dan menghela napas berat. Dia tahu sekali kalau Keira tidak akan mundur sebelum mendapatkan apa yang dia mau. “Lu beneran udah nggak waras, sih.” 

Kelas dimulai pukul 08.00. Dan untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupnya, Keira datang lebih awal. Ia duduk di bangku paling depan tepat di tengah.

Nisa yang duduk di sebelahnya hanya bisa geleng-geleng. “Ini serem sih.”

“Apanya?”

“Lu yang biasanya telat, sekarang paling depan.”

Keira santai membuka buku. “Citra itu penting.”

Dan tak lama, pintu kelas terdorong terbuka. Sang dosen yang ditunggu-tunggu melangkah masuk. Tanpa basa-basi, buku di tangannya dijatuhkan keras ke meja. Suara hantamannya memecah suasana dan seketika seluruh ruangan membeku dalam diam.

“Siapa yang merasa proposalnya sudah layak?” suara itu terdengar dingin, tegas dan tanpa emosi.

Tak satu pun tangan terangkat. Dosen di depan sana terlalu menyeramkan untuk diabaikan. Namun berbeda dengan Keira yang bertopang dagu santai, ia menatap dosen itu bukan takut melainkan penasaran.

Keira memang lebih sering tertawa daripada serius. Yang selalu punya cara untuk membuat suasana canggung jadi kacau. Dan hari ini, dia menemukan “mainan baru."

“Kalau tidak ada,” lanjut Arsen, menatap seluruh ruangan dengan sorot mata tajam, “berarti kalian sadar diri. Bagus!"

Ini kelima kalinya Arsen masuk ke kelas ekonomi. Semua menunduk dan ada yang pura-pura mencatat. Tidak ada yang berani berkata sepatah kata pun, semua menegang.

“Buka halaman 32,” katanya datar.

Kelas langsung bergerak cepat membuka halaman yang disebutkan. Namun tidak dengan Keira yang tiba-tiba mengangkat tangan. Tatapannya lurus ke depan, seolah siap menantang sesuatu yang belum dimulai.

Arsen menghela napas tipis. “Ya?”

Keira tersenyum. “Pak, sebelum mulai saya mau nanya.”

“Kalau tidak penting, simpan.”

“Penting kok.”

Arsen menatap tajam. “Silakan.”

Keira menopang dagu, pura-pura berpikir. “Bapak selalu seserius ini, atau cuma ke kami aja?”

Suasana berubah jadi hening, kelas semakin menegang. Nisa sudah hampir jatuh dari kursinya melihat kegilaan Keira yang baru saja dimulai. Bahkan detak jam di dinding terdengar lebih keras, seakan ikut menandai awal kekacauan itu.

“Keluar!" Satu kata dingin, tegas, dan arogan. Namun entah kenapa, perintah itu justru terdengar seperti awal dari sesuatu yang lebih berbahaya.

Nisa langsung bisik panik, “Udah gue bilang jangan cari masalah!”

Tapi Keira malah mengangkat alis dan tak menghiraukan Nisa yang jelas sangat mengkhawatirkan dirinya. “Serius, Pak?”

Keira berdiri pelan lalu mengambil tasnya. Seluruh kelas memperhatikan Keira. Mereka mengakui kegilaannya yang bukan main-main baru saja terjadi.

Tapi sebelum benar-benar keluar, Keira berhenti di depan pintu, menoleh ke arah Arsen, dan mengedipkan matanya. Lalu ia menutup pintu. 

“Gila itu dosen! Susah banget digodain,” gumanya.

Keira tidak langsung kembali ke kelas. 

Ia justru berjalan menyusuri koridor yang mulai sepi sepatu flat-nya beradu pelan dengan lantai. Seirama dengan pikirannya yang bekerja cepat. 

“Diusir dari kelas. Ini awal yang buruk sih,” gumamnya pelan lalu tersenyum miring.

Ia berhenti di dekat jendela. Dari sana terlihat halaman kampus yang mulai rame dengan mahasiswa lain. Namun fokusnya bukan ke luar sana melainkan ke dalam kelas. Ke Dosen Arsen. 

“Dia bukan tipe orang yang gampang dipancing. Apalagi dipancing sama hal receh kayak tadi.” 

Keira menyandarkan bahu ke dinding, melipat tangan. Matanya sedikit menyipit. Seperti sedang merangkai puzzle.

Langkah kaki mendekat. Nisa muncul dengan wajah panik. Dia berpura-pura izin ke toilet agar bisa ketemu dengan Keira. 

“Gila lu, Ra. Itu tadi udah kelewatan banget! bisiknya cepat. 

Keira menoleh santai. “Reaksinya sesuai prediksi.” 

“Sesuai prediksi apaan? Lu diusir!” 

“Justru itu. Artinya gue udah masuk radar dia.” 

Nisa menghela napas kasar. “Dan itu hal buruk!” 

Keira menggeleng kepala. “Nggak selalu. Pak Arsen emang beda dari cowok pada umumnya.”

Nisa menghela napas berat. 

Ia mendorong tubuhnya dari dinding lalu mengambil ponselnya. Jarinya bergerak cepat. Membuka sesuatu yang entah apa. “Gue butuh pendekatan yang beda. Bukan frontal.”

Nisa mengernyit. “Terus?” 

“Kalau dia nggak suka diganggu. Berarti gue bakal bikin dia nyari gue.” 

Nisa menatapnya curiga. “Gimana caranya?” 

Keira tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap layar ponsel lalu terkekeh pelan seperti baru saja menemukan sesuatu yang baru. “Mulai sekarang gue nggak bakal ganggu dia sama sekali.” 

Nisa menggaruk kepala semakin bingung. “Itu kebalikan dari rencana lu, Ra?” 

Keira memasukkan ponselnya ke dalam tas. Lalu ia berjalan melewati Nisa begitu saja. Meninggalkannya dengan tanda tanya besar. 

Beberapa langkah kemudian Keira berhenti. Lalu menoleh, ia berkata pelan. “Karena kadang cara efektif buat menarik perhatian orang adalah dengan cara pura-pura nggak peduli.” 

Ia melangkah lagi. “Dan gue penasaran seberapa cepat dia akan kehilangan kontrol.” 

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Dosen Arogan itu Milikku!   6. Secarik Kertas Misterius

    Keira tertawa. “Pak udah tua nggak usah aneh-aneh. Permainan apa coba yang bapak maksud?” Arsen menaruh buku ke atas meja. Lalu memasukkan tangan ke dalam saku celana dan kembali menatap gadis itu. “Apa karena iPad kamu yang rusak?” Keira masih diam dan tak memberi jawaban sepatah kata pun. “Saya sudah memberi anda cukup uang. Tapi anda sendiri yang menolaknya.” Keira terkekeh pelan, lalu menggelengkan kepala. Sorot matanya berubah tidak lagi sekadar santai, tapi mulai tajam. “Bapak pikir semua masalah bisa diselesaikan pakai uang?” ucapnya. “Bapak salah besar.” Gadis itu berdiri. Kali ini, emosinya benar-benar mulai memuncak. “Dengar ya, Pak Arsen yang terhormat,” lanjutnya, suaranya lebih tegas. “Jangan mentang-mentang bapak punya kuasa di sini terus bisa berbuat seenak bapak.” Ruangan terasa lebih sempit. Namun Arsen tidak berubah. Tidak tersinggung dan ti

  • Dosen Arogan itu Milikku!   5. Hampir Ketahuan

    Keira kembali mengintip, suaranya nyaris seperti gumaman puas. “Dia mulai sadar ada yang hilang.” Langkah kaki terdengar dari dalam. Arsen berjalan menuju pintu. Refleks, Nisa langsung panik kecil. “Eh, eh, dia keluar!” Keira dengan cepat menariknya lebih rapat ke balik pilar. Keduanya menahan napas. Pintu kelas terbuka. Suara engselnya terdengar pelan. Langkah Arsen keluar ke lorong. Nisa bahkan menutup mulutnya sendiri, menahan suara napasnya. Keira diam tidak bergerak dan tidak panik. Tapi langkah itu berhenti. Hanya beberapa langkah dari tempat mereka bersembunyi. Suasana jadi menegang. Beberapa detik yang terasa lebih lama dari seharusnya. Nisa menatap Keira dengan mata membesar campuran tegang dan bingung.Hari kedua, mulai terasa. Bukan karena Keira melakukan sesuatu. Justru karena ia tidak melakukan apa-apa. Tidak ada komentar iseng, tidak ada jawaban asal dan tidak ada kegaduhan. Nisa menoleh beberapa kali. “Ra, ini lu beneran Keira kan?” “Iya.” “Bukan kembaran lu ya

  • Dosen Arogan itu Milikku!   4. Tiba-Tiba jadi Rajin

    Hari pertama setelah semua kejadian itu datang dengan cara yang hampir mengecewakan. Keira datang lebih awal hari ini.Langit pagi tidak menunjukkan tanda-tanda akan terjadi sesuatu. Kampus tetap ramai, suara motor bersahutan di parkiran, langkah kaki mahasiswa berkejaran dengan waktu. "Mulai jalankan misi selanjutnya," ucap Keira yang masih duduk di kantin. Aroma kopi dari kantin menguar tipis terbawa angin. Semuanya berjalan seperti biasa, seolah tidak ada yang pernah terjadi. Dan Keira membiarkan semuanya terlihat biasa. Ia datang tepat waktu. Tidak terburu-buru, tidak juga terlambat seperti biasanya saat ia sengaja mencari perhatian. Langkahnya stabil, wajahnya datar. Tidak ada kilat tantangan di matanya hari ini. "Semangat Keira. Lu bukan tipe orang yang pantang menyerah dengan situasi," ucap Keira menyemangati dirinya sendiri. Begitu masuk kelas, beberapa orang sempat melirik. Mungkin menunggu sesuatu komentar tajam, suara kursi diseret keras, atau sekadar sikapnya yang sel

  • Dosen Arogan itu Milikku!   3. Misi Pertama

    Keesokan paginya. Keira berdiri di depan cermin, menatap dirinya sendiri dengan ekspresi serius. Tangannya membenahi rambut yang dikucir tinggi. Lalu mengambil lipstik di dalam tas kemudian mengoles lembut di bibirnya. “Ini bukan sekadar gaya, tapi ini strategi."Di belakangnya, Nisa bersandar di tembok sambil melipat tangan dan melihat Keira yang sibuk bercermin sedari tadi “Gue masih gak percaya lu beneran mau godain Pak Arsen.”Selesai merapikan rambutnya, Keira lalu berbalik dengan senyum percaya diri. “Kapan gue bercanda sih, Nis? Dan gue mau bikin dosen killer itu menyesal karena sudah bikin iPad gue rusak."“Lebih tepatnya kegilaan, sih. Lagian lu tinggal beli aja iPad yang baru semua selesai,” balas Nisa datar.Keira mengabaikan. Ia mengambil tasnya, merapikan baju lalu berkata santainya.“Hari ini gue mulai.”“Mulai apaan?”Keira menyeringai. Senyumnya tampak berani dan misterius. Membuat Nisa semakin penasaran apa yang akan dilakukan sahabatnya itu. Apakah Keira akan membuat

  • Dosen Arogan itu Milikku!   2. Dosen Arogan

    “Wah gue nggak mau ikut-ikutan, sih.” Nisa mengangkat satu tangan sebagai tanda menyerah. Tapi Keira justru tersenyum dengan misterius. Sedangkan Nisa kembali mengambil pulpen lalu menulis lagi. Bel tanda berakhirnya kelas berbunyi. Suara kursi yang bergeser, tas yang diseret dan obrolan mahasiswa memenuhi ruangan yang tadi terasa tegang.“Akhirnya selesai juga.” Nisa menghela napas panjang.Keira hanya mengangkat alis. Di sana, arsen masih berdiri tenang. Memasukkan beberapa dokumen ke dalam tasnya. Wajahnya datar sulit ditebak. “Keira.” Suara itu datang begitu saja, tegas tanpa perlu ditinggikan. Tapi cukup membuat suasana di sekitar seolah membeku. Keira menoleh. Arsen berdiri tak jauh dari mejanya sekarang, menatap lurus ke arahnya. “Iya?” jawab Keira santai.“Ke ruangan saya, sekarang!” ucap Arsen lalu pergi. Nisa langsung menarik lengan Keira pelan. “Kalau saran gue lu jangan bikin masalah baru!” Keira justru menyeringai tipis. “Tenang aja.” Ia berdiri, menyampirkan ta

  • Dosen Arogan itu Milikku!   1. Hari yang Sial

    “Aw!"Benda kecil itu menghantam meja tepat di kepala Keira, memantul sedikit sebelum jatuh ke lantai. Suaranya keras, cukup untuk bikin satu kelas langsung membeku. Semua mata otomatis tertuju ke satu arah.Keira membelalak saat melihat benda kecil itu. Penghapus papan tulis…Kiera langsung mendongak cepat.Dan di sana berdiri seorang pria dengan wajahnya dingin dan matanya jelas penuh amarah yang ditahan. “Kalian berdua merasa kelas ini tempat ngobrol santai?” suaranya rendah, tapi tajamnya kayak pisauNisa langsung kaku. Tangannya refleks berhenti di udara. Sedangkan Keira hanya diam tapi sorot matanya langsung berubah. Tidak takut, tidak kesal sama sekali.“Tadi saya jelasin apa?” lanjut Arsen, melangkah pelan mendekat, “atau memang tidak ada niat untuk mendengarkan dari awal?”Suasana makin tegang. Beberapa mahasiswa bahkan pura-pura fokus ke buku, padahal jelas-jelas nguping.Nisa menunduk dalam. “Maaf, Pak."Tapi Keira tetap diam. Sedangkan langkah Arsen berhenti tepat di sampi

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status