تسجيل الدخولDengan ide gila, Keira bermaksud menaklukan dosen Arsen yang terkenal killer dan arogan. Awalnya Keira hanya mau main-main, namun di tengah permainannya sendiri, dia malah terjebak pada perasaan cinta sesungguhnya. Dan semakin berjalan, semakin terungkap pula siapa sosok Arsen sebenarnya. Ternyata pria itu bukan hanya dosen biasa, melainkan ... Bisakah Keira menuntaskan permainan yang ia buat sendiri? Seperti apa kegilaan Keira saat mencoba menarik perhatian dosen arogan itu? Simak cerita lengkapnya di "Dosen Arogan itu Milikku".
عرض المزيد“Aw!"
Benda kecil itu menghantam meja tepat di kepala Keira, memantul sedikit sebelum jatuh ke lantai. Suaranya keras, cukup untuk bikin satu kelas langsung membeku. Semua mata otomatis tertuju ke satu arah. Keira membelalak saat melihat benda kecil itu. Penghapus papan tulis… Kiera langsung mendongak cepat. Dan di sana berdiri seorang pria dengan wajahnya dingin dan matanya jelas penuh amarah yang ditahan. “Kalian berdua merasa kelas ini tempat ngobrol santai?” suaranya rendah, tapi tajamnya kayak pisau Nisa langsung kaku. Tangannya refleks berhenti di udara. Sedangkan Keira hanya diam tapi sorot matanya langsung berubah. Tidak takut, tidak kesal sama sekali. “Tadi saya jelasin apa?” lanjut Arsen, melangkah pelan mendekat, “atau memang tidak ada niat untuk mendengarkan dari awal?” Suasana makin tegang. Beberapa mahasiswa bahkan pura-pura fokus ke buku, padahal jelas-jelas nguping. Nisa menunduk dalam. “Maaf, Pak." Tapi Keira tetap diam. Sedangkan langkah Arsen berhenti tepat di samping meja mereka. Tatapannya jatuh ke Keira. “Kalau tidak tertarik dengan materi saya, kamu bisa keluar. Saya tidak memaksa.” Kalimat itu bukan sekadar teguran melainkan sindiran. Dan Keira jelas merasakan maksud dosen killer itu. Rahangnya mengeras, tangannya mengepal di bawah meja. Kesal itu langsung naik tanpa rem. Karena ini bukan cuma soal penghapus yang dilempar. Ini soal siapa yang melempar. Dosen Arsen. Orang yang beberapa jam lalu bahkan nggak punya sedikit pun empati. Pria yang menabraknya di koridor pagi tadi hingga iPadnya jatuh dan retak! Namun di tengah kepanikannya, sang dosen hanya bersikap datar, mengucapkan sepatah dua patah kata yang tidak membuat Kiera puas sebelum meninggalkannya begitu saja. Seakan semua itu sudah selesai begitu saja. Dan sekarang orang yang sama berdiri di hadapannya, yang bahkan tidak bisa minta maaf dengan benar. Berani-beraninya lempar penghapus seolah dia paling benar. “Ra?” bisik Nisa pelan, nyaris tanpa suara. “Lu jangan bikin masalah sama Pak Arsen...” Keira tidak menjawab tapi matanya tertuju pada dosen killer yang kini sedang menulis kembali di papan tulis. Dia membuka tasnya. Gerakannya cepat, agak kasar. iPad itu ditarik keluar dan di taruh di meja. Nisa nengok dan langsung melotot. “Astaga, ini bukan retak lagi, Ra. Tapi ini hancur!” bisiknya sedikit lebih keras. Keira senyum tipis, lalu dagunya bergerak sedikit ke arah depan kelas. “Tuh, pelakunya lagi berdiri di depan kelas.” Nisa langsung menoleh ke Arsen. Lalu balik lagi dengan ekspresi nggak percaya. “Serius lu?" Keira angguk kecil. “Dia nabrak gue tadi pagi.” “Terus?" “Terus?” Keira ketawa pendek, sinis. “Cuma ‘sorry’. Suruh ke kantor. Udah, pergi gitu aja nggak merasa bersalah sedikitpun." Nisa terdiam beberapa detik. Lalu pelan dia berbisik, “Parah banget sih…” “Makanya, jangan sok ngajarin orang soal sopan santun. Padahal dia sendiri nggak punya sopan santun," gumam Keira, matanya masih ke depan. Bukan cuma tatapan kesal melainkan tatapan yang jauh lebih berbahaya. “Gue nggak bakal diam,” ucapnya pelan. Nisa langsung tegang. “Ra, jangan aneh-aneh?” Keira sedikit mendekat, mencondongkan tubuhnya dengan gerakan tenang. Bibirnya nyaris menyentuh telinga Nisa saat ia berbisik pelan, tapi jelas. “Gue bakal godain dia.” Nisa langsung tersentak refleks. “Lu gila?" Suara itu keluar tanpa kontrol cukup keras untuk memecah suasana kelas yang semula tegang. Beberapa kepala menoleh. Dan, sialnya Arsen ikut menoleh. Tatapannya kembali mengarah ke mereka, kali ini jauh lebih tajam. Rahangnya mengeras, jelas menunjukkan amarah yang mulai naik. Nisa langsung menutup mulutnya, panik. Sementara Keira hanya menyandarkan punggungnya, seolah tidak terjadi apa-apa meski tatapannya masih menyiratkan tantangan. Arsen akhirnya mengalihkan pandangannya, lalu kembali menulis di papan, seolah memilih mengabaikan keributan kecil itu meski aura kesalnya masih terasa di seluruh ruangan. Begitu suasana sedikit mereda, Nisa mendekat lagi. Kali ini suaranya jauh lebih pelan, nyaris tak terdengar. “Jangan gila, Ra, itu dosen! Bukan kakak tingkat, bukan gebetan kampus biasa!” Arsen merupakan dosen baru di kampus yang kabarnya lulusan luar negeri. Pintar, perfeksionis dan sangat arogan. Yang akhir-akhir ini menjadi perbincangan hangat di kalangan mahasiswa. “Makanya menarik,” jawab Keira santai. “Ra, ini bisa jadi masalah besar!” Keira angkat bahu. “Dia duluan yang bikin masalah.” Nisa frustrasi. “Tujuan lu apa sih?" Keira menatap ke depan. Ke arah Arsen yang kembali menjelaskan materi, seolah nggak terjadi apa-apa. Lalu ia tersenyum tipis. “Bikin dia nyesel udah main-main sama gue.”Keira tertawa. “Pak udah tua nggak usah aneh-aneh. Permainan apa coba yang bapak maksud?” Arsen menaruh buku ke atas meja. Lalu memasukkan tangan ke dalam saku celana dan kembali menatap gadis itu. “Apa karena iPad kamu yang rusak?” Keira masih diam dan tak memberi jawaban sepatah kata pun. “Saya sudah memberi anda cukup uang. Tapi anda sendiri yang menolaknya.” Keira terkekeh pelan, lalu menggelengkan kepala. Sorot matanya berubah tidak lagi sekadar santai, tapi mulai tajam. “Bapak pikir semua masalah bisa diselesaikan pakai uang?” ucapnya. “Bapak salah besar.” Gadis itu berdiri. Kali ini, emosinya benar-benar mulai memuncak. “Dengar ya, Pak Arsen yang terhormat,” lanjutnya, suaranya lebih tegas. “Jangan mentang-mentang bapak punya kuasa di sini terus bisa berbuat seenak bapak.” Ruangan terasa lebih sempit. Namun Arsen tidak berubah. Tidak tersinggung dan ti
Keira kembali mengintip, suaranya nyaris seperti gumaman puas. “Dia mulai sadar ada yang hilang.” Langkah kaki terdengar dari dalam. Arsen berjalan menuju pintu. Refleks, Nisa langsung panik kecil. “Eh, eh, dia keluar!” Keira dengan cepat menariknya lebih rapat ke balik pilar. Keduanya menahan napas. Pintu kelas terbuka. Suara engselnya terdengar pelan. Langkah Arsen keluar ke lorong. Nisa bahkan menutup mulutnya sendiri, menahan suara napasnya. Keira diam tidak bergerak dan tidak panik. Tapi langkah itu berhenti. Hanya beberapa langkah dari tempat mereka bersembunyi. Suasana jadi menegang. Beberapa detik yang terasa lebih lama dari seharusnya. Nisa menatap Keira dengan mata membesar campuran tegang dan bingung.Hari kedua, mulai terasa. Bukan karena Keira melakukan sesuatu. Justru karena ia tidak melakukan apa-apa. Tidak ada komentar iseng, tidak ada jawaban asal dan tidak ada kegaduhan. Nisa menoleh beberapa kali. “Ra, ini lu beneran Keira kan?” “Iya.” “Bukan kembaran lu ya
Hari pertama setelah semua kejadian itu datang dengan cara yang hampir mengecewakan. Keira datang lebih awal hari ini.Langit pagi tidak menunjukkan tanda-tanda akan terjadi sesuatu. Kampus tetap ramai, suara motor bersahutan di parkiran, langkah kaki mahasiswa berkejaran dengan waktu. "Mulai jalankan misi selanjutnya," ucap Keira yang masih duduk di kantin. Aroma kopi dari kantin menguar tipis terbawa angin. Semuanya berjalan seperti biasa, seolah tidak ada yang pernah terjadi. Dan Keira membiarkan semuanya terlihat biasa. Ia datang tepat waktu. Tidak terburu-buru, tidak juga terlambat seperti biasanya saat ia sengaja mencari perhatian. Langkahnya stabil, wajahnya datar. Tidak ada kilat tantangan di matanya hari ini. "Semangat Keira. Lu bukan tipe orang yang pantang menyerah dengan situasi," ucap Keira menyemangati dirinya sendiri. Begitu masuk kelas, beberapa orang sempat melirik. Mungkin menunggu sesuatu komentar tajam, suara kursi diseret keras, atau sekadar sikapnya yang sel
Keesokan paginya. Keira berdiri di depan cermin, menatap dirinya sendiri dengan ekspresi serius. Tangannya membenahi rambut yang dikucir tinggi. Lalu mengambil lipstik di dalam tas kemudian mengoles lembut di bibirnya. “Ini bukan sekadar gaya, tapi ini strategi."Di belakangnya, Nisa bersandar di tembok sambil melipat tangan dan melihat Keira yang sibuk bercermin sedari tadi “Gue masih gak percaya lu beneran mau godain Pak Arsen.”Selesai merapikan rambutnya, Keira lalu berbalik dengan senyum percaya diri. “Kapan gue bercanda sih, Nis? Dan gue mau bikin dosen killer itu menyesal karena sudah bikin iPad gue rusak."“Lebih tepatnya kegilaan, sih. Lagian lu tinggal beli aja iPad yang baru semua selesai,” balas Nisa datar.Keira mengabaikan. Ia mengambil tasnya, merapikan baju lalu berkata santainya.“Hari ini gue mulai.”“Mulai apaan?”Keira menyeringai. Senyumnya tampak berani dan misterius. Membuat Nisa semakin penasaran apa yang akan dilakukan sahabatnya itu. Apakah Keira akan membuat












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.